Skip to main content

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Penonton NBA dan Eurobasket

Sejak langganan TV Kabel, saya jadi rajin nonton saluran NBATV. Karena ya, kita tahu, sudah sejak lama saluran televisi lokal tidak lagi menayangkan pertandingan basket NBA. Saya memang bukan penggemar basket sejati, tapi keberadaan NBATV ini lumayan menghibur (ketika saluran lain sedang tidak seru). Berbeda dengan NBA yang pertandingannya umumnya dilakukan di pagi hari waktu Indonesia, ada juga Eurobasket yang ditayangkan pada saat dini hari (biasanya di saluran Eurosports). Jika bicara kualitas permainan, tentu saja NBA lebih menyenangkan untuk ditonton. Selain karena pemainnya lebih berkualitas (tanpa merendahkan kualitas pemain Eropa), NBA juga sukses mengemas kompetisinya menjadi panggung hiburan besar -alih-alih tayangan olahraga biasa-.

Meski demikian, ada hal menarik yang dapat diperhatikan dari perbedaan antara dua kompetisi ini, yaitu sikap penonton dalam mendukung tim kesayangannya. Penonton NBA tentu saja ramai. Mereka kompak meneriakkan "Defense! Defense!" setiap timnya dalam posisi bertahan; mereka rajin mengganggu lawan yang tengah melakukan free throw dengan beragam cara yang kreatif (termasuk foto Eva Longoria untuk mengganggu Tony Parker); mereka juga kompak berdiri jika pertandingan sedang dalam situasi yang menegangkan; hal tersebut belum termasuk atribut dalam bentuk kaos, syal, topi, dan sebagainya. Penonton Eurobasket juga ramai, tapi dengan cara yang berbeda. Mereka biasanya memasang bendera besar yang tidak cukup dipegang satu orang dan meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan. Berbeda dengan para penonton NBA yang meski ramai, tapi tetap menganggap bahwa tontonan di depannya adalah tontonan (sehingga meski menegangkan, mereka tetap tak lupa melahap popcorn dan memeluk kekasihnya di sampingnya), penonton Eurobasket lebih tampak menghayati dan melihat bahwa lapangan pertandingan adalah penentu segala nasib dalam kehidupannya.

Bertolt Brecht (1896 - 1956), seorang pemain, penulis skenario, dan sutradara teater asal Jerman, mengatakan bahwa teater dramatis -yang dibesarkan oleh Constantin Stanislavsky- bisa jadi terlalu membawa penonton pada sikap-sikap ilusif dan tidak realistis. Harusnya, penonton tak perlu hanyut ke dalam pertunjukkan. Mereka seyogianya bersikap bebas dan mampu mengambil jarak dari apa yang ditampilkan, sehingga menonton teater dapat menjadi sangat santai sebagaimana halnya menonton pertandingan tinju. Itulah mungkin yang dilakukan penonton NBA, yang menyaksikan pertandingan dengan santai, tanpa perlu mengagung-agungkan panggung sebagai sesuatu yang mesti dihayati: "Bolehlah tim kita kalah hari ini, tapi toh esok dunia tidak serta merta runtuh. Ini semua hanyalah hiburan belaka, tidak punya koneksi langsung terhadap kehidupan kita."

Apakah dengan demikian, serta merta pertunjukkan fanatisme dari para penonton Eurobasket adalah keliru? Tidak juga. Memang ada orang yang senang melihat panggung dan segala latarnya, sebagai sesuatu yang menentukan hidup-matinya. Ia dengan sangat bersemangat meneriakkan yel-yel tanpa henti karena panggung tersebut tidak lain adalah juga proyeksi dari kehidupannya (Jika tim basket Barcelona kalah, maka ia merasa bahwa harga diri Catalunya-nya juga turut dinistakan). Pada akhirnya, kita bebas memilih: Mau menjalani hidup seperti penonton NBA, atau penonton Eurobasket?  




Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...