Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Riwayat yang Membosankan: Intelektualisme dan Menara Gading

 
 
Awal Maret kemarin, saya membaca salah satu cerpen dari Anton Chekhov yang berjudul Riwayat yang Membosankan. Seperti halnya Ruang Inap no. 6 –cerpen Chekhov lain yang kebetulan sudah saya tamatkan-, Riwayat yang Membosankan adalah cerpen yang tidak pendek (sekitar sembilan puluh halaman). Diseling berbagai kesibukan di kampus yang membuat waktu untuk membaca menjadi sedikit, cerpen tersebut berhasil saya tamatkan dengan susah payah ketika bulan berganti menjadi Mei. 

Setelah membaca Riwayat yang Membosankan, ada perasaan hening panjang yang tidak mengenakkan. Alasannya adalah ini: Isi dari cerpen tersebut adalah tentang kisah hidup seorang profesor kedokteran bernama Nikolai Stepanich, yang amat jemu dengan hidupnya, dan memandang segala sesuatu dengan pesimistis. Apa yang membuatnya muak, salah satunya, adalah kehidupan akademik dengan segala intelektualisme (bukan intelektualitas)-nya. Ini tentu saja menjadi teguran untuk saya yang menunda-nunda membaca cerpen ini karena alasan akademik –dan juga segala intelektualismenya-. Apa yang saya lakukan setiap hari kurang lebih adalah seperti apa yang Stepanich pikirkan tentang seorang doktor yang datang ke rumahnya, “Ia menulis karya ilmiah yang tidak berguna bagi siapapun, kemudian lulus lewat perdebatan yang membosankan, untuk mendapatkan gelar sarjana yang tidak ia perlukan.” 

Stepanich sendiri merupakan akademisi yang jauh dari kata gagal. Sebaliknya, justru ia sangat gemilang. Bahkan mungkin dapat dikatakan terlalu gemilang. Kegemilangannya tersebut membawanya pada kedudukan sosial yang luar biasa. Setiap harinya, ia dikunjungi oleh banyak tamu dengan beragam keperluan. Kemanapun ia pergi, ada saja awak media yang mengikutinya. Bahkan Stepanich mengatakan bahwa kegiatan mengajar sudah tidak menarik lagi karena apapun yang ia katakan, selalu memukau bagi orang lain. Sementara di balik itu semua, Stepanich mengalami kehidupan yang ia rasakan buruk, mulai dari istrinya yang ia sebut sebagai “Varya yang membosakan dan tidak lagi secantik dulu” sampai kesehatannya yang terus menerun sehingga detik demi detik ia merasakan bahwa setengah kakinya sudah berada di kuburan. Stepanich, meski berusaha tidak peduli dengan kematiannya, tetap gelisah karena kenyataan bahwa selama ini ia terus menerus memikirkan ilmu –sampai mengatakan bahwa ia sendiri adalah milik ilmu- tanpa tahu absurditas apa yang menanti di balik kematian. 

Riwayat yang Membosankan ditulis dengan gaya yang menarik. Chekhov membuat pembacanya merasa sedang didongengi sebuah cerita sukses yang diulang-ulang sehingga akhirnya malah terasa seperti sebuah kisah yang memuakkan. Terutama bagi saya pribadi, cerpen ini menohok berulang-ulang karena kenyataan bahwa saya, meski tidak segemilang Stepanich, berkubang di lingkungan yang sama. Dunia pikir memikir kadang memang terasa absurd karena apa yang ada di pikiran –yang bersifat abstrak- tidak punya hubungan dengan kenyataan. Hal tersebut diperparah dengan legitimasi institusional dan juga sosial bahwa kaum yang bergerak di dunia abstrak ini, justru adalah kaum yang terpandang dan layak diberi kedudukan tinggi. Walhasil, para intelektual berlomba-lomba menulis karya ilmiah –seperti doktor yang disindir oleh Stepanich-, mengajarkan ilmu-ilmu yang mungkin tidak ia pahami, dan mengabdi pada masyarakat yang ia sendiri tidak tahu apakah dengan demikian, ia betul-betul akan dikenang oleh masyarakat itu atau tidak. Semua itu memperkuat apa yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai intelektual tradisional. Intelektual tradisional adalah kaum yang berkutat di menara gading dan sibuk dengan teori-teorinya sendiri tanpa peduli apakah yang dipikirkannya berkesuaian dengan kenyataan atau tidak. Menjadi intelektual tradisional mungkin adalah hidup yang aman dan nyaman –duduk di ruangan ber-AC, gaji berlimpah, untuk kemudian meneliti tentang masyarakat miskin bermodalkan browsing- karena tidak pernah bersentuhan dengan kondisi yang sebenarnya. Kemudian, ketika perjalanan hidup seorang intelektual tradisional diurai dengan kata-kata, seperti halnya seorang Stepanich, mungkin hasilnya adalah sebuah riwayat yang membosankan.

Comments

  1. Dilihat dari ulasannya, rasa pesimis milik Stephanic juga saya rasakan dalam kehidupan saya sehari-hari sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Melihat banyak orang, terutama teman-teman saya yang lulus terlebih dahulu dan amat sangat bangga dengan apa yang telah mereka capai membuat saya selalu bertanya dan kebingungan akan hal tersebut.

    Saya setuju dengan frase yang disematkan oleh Gramsci, 'intelektual tradisional', kepada banyak orang di kehidupan sosial kita dewasa ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...