Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Minggu lalu saya datang ke sebuah pesta. Pesta yang saya sendiri heran mengapa saya bisa menghadirinya. Pesta itu adalah perayaan ulang tahun ketujuhbelas dari Vallerina. Siapa Vallerina? Dia adalah anak sulung dari murid privat gitar saya yang bernama Ibu Elly. Saya datang karena memang tidak ada acara dan juga ingin mendapatkan pengalaman menarik. Bagaimana tidak, dalam sepuluh tahun terakhir, saya sungguh tidak pernah datang lagi ke sebuah pesta sweet seventeenth.
Pesta yang diselenggarakan di Trans Hotel tersebut berlangsung sangat meriah. Ada panggung besar, tata pencahayaan canggih, pemandu acara dan pemusik profesional, makanan berlimpah dalam buffet, hingga kue ulang tahun setinggi manusia. Meski saya merasa bahwa menghadiri acara semacam itu dapat dikatakan "sudah bukan masanya lagi", tapi saya tetap berusaha melebur dan menikmati berbagai sajian yang ada. Ada yang bersuara dalam hati saya, yang mengatakan bahwa, "Iya, kamu masih muda, kok, masih punya taji untuk menikmati acara-acara semacam ini."
Tapi ketahuilah, ada yang berubah dan ada yang tidak berubah. Yang berubah adalah kenyataan bahwa secara fisik, saya bergerak menuju situasi dimana saya tidak bisa dikatakan sama dengan anak-anak berumur tujuh belas tahun yang datang sebagai undangan di sana. Tidak bisa saya katakan lagi dengan lantang bahwa, "Hei, saya seumur kalian loh, saya bisa menari, berjingkrak, dan tertawa lepas seperti tak ada beban yang harus dipikul." Fisik saya berubah, gerak-gerik saya berubah, dan cara saya memandang dunia pun berubah. Di mata anak-anak itu, mereka mulai memanggil dengan panggilan, "Bapak." Dulu saya dongkol dengan panggilan semacam itu dan minta siapapun segera meralat, "Jangan panggil bapak, 'kang' saja." Namun sekarang saya pasrah, berusaha menerima panggilan tersebut sebagai takdir yang harus dijalani.
Yang tidak berubah adalah suatu keinginan besar untuk kembali muda. Untuk selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa iya, menjadi tua adalah suatu hal yang tidak mungkin karena saya adalah orang yang asyik dan menyukai segala kesenangan. Untuk selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak mungkin saya mati dan lenyap dari dunia yang saya selalu sanggup untuk taklukkan. Dalam jiwa saya, suara-suara tersebut datang setiap saat seperti hantu. Namun seperti hantu juga, suara-suara tersebut mendadak lenyap ketika ada anak muda yang memanggil saya, "Bapak," ketika ada yang mengomentari bagaimana saya yang terlalu maceuh dengan, "Pak, sadar umur, Pak." dan tentu saja ketika mendadak saya harus berurusan dengan tetek bengek seperti uang, pekerjaan, cicilan, bahasa-bahasa rumit, sikap yang dibuat-buat, dan segala hal yang saya dulu hanya bisa saya lihat dalam diri orang dewasa.
Masa muda tidak akan pernah kembali. Yang ada hanya pertemuan dengan kenangan akan masa muda itu sendiri. Seperti ketika saya memandangi para remaja pria yang hadir dalam undangan Vallerina. Saya katakan pada mereka, dalam hati saya, "Nak, saya pernah sekeren kalian, sungguh."
.png)
Heuheu... Ikut hanyut dengan tulisan Syarif. Betapa saat kita kecil, kita ingin cepat remaja, dan saat remaja ingin cepat dewasa (sebagian sih). Ironisnya, ketika kita dewasa, ingin kembali remaja :)
ReplyDelete