Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Tadi pagi saya iseng membongkar rak buku untuk menemukan bacaan-bacaan yang sekiranya menyejukkan. Kemudian saya menemukan koleksi buku-buku Gibran yang lama, yang salah satunya berjudul Pasir dan Buih. Buku itu tipis sekali hanya 85 halaman dan ukurannya kecil. Isinya adalah semacam aforisme dari Gibran, seorang penyair asal Lebanon kelahiran 1883, tentang segala renungan mengenai kehidupan. Saya membaca kembali satu per satu dengan teliti setelah lama tidak menyentuh buku tersebut. Ternyata iya, ada beberapa aforisme yang dulu tidak saya mengerti sekarang jadi mengerti (tapi yang dimaksud dengan "mengerti" tentu saja dalam batas pemahaman saya hari ini, sepuluh tahun lagi saya baca aforisme tersebut mungkin akan sadar bahwa dahulu itu saya sebenarnya belum mengerti). Saya tuliskan disini contoh salah satunya:
Setengah tuturku tanpa makna;
namun kuucapkan jua, agar setengahnya lagi mencapai dirimu
Untuk mengetahui bagaimana saya bisa "mengerti" aforisme tersebut, pada akhirnya, saya akan kembali ke masa-masa kemarin ketika saya tengah giat menggumuli hakikat bahasa. Saya menggilai bagaimana Nietzsche berkata tentang "penjara bahasa" dalam aforismenya yang terkenal, "Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama namun apa daya terpenjara bahasa." Pada titik itu saya menganggap bahasa adalah problem dalam hubungan antar manusia. Kita dilingkupi oleh kenyataan bahwa bahasa tidak mungkin sanggup merepresentasikan realitas dengan sebenar-benarnya. Ketika segala sesuatu diucap dalam kata, maka segala sesuatu menjadi tidak persis seperti kenyataannya. Untungnya, kehidupan mengijinkan manusia untuk merepresentasikan kenyataan tidak hanya melalui bahasa, tapi juga seni. Seni, dalam pemahaman saya waktu itu, adalah jalan keluar bagi keterbatasan bahasa. Seni adalah penelikungan terhadap rasionalitas yang kaku, sempit, dan kadang arogan.
Namun suatu hari dalam sebuah chatting dengan seorang dosen bernama Bambang Q-Anees, ia menegur ke-euforia-an saya terhadap "matinya bahasa". Ia bertanya, "Tapi bisakah kita lepas dari bahasa?" Saya lupa apa jawaban saya waktu itu, tapi agaknya saya mengabaikan pertanyaan beliau karena dianggap kurang penting. Pertanyaan yang serupa dengan apa yang dilontarkan oleh Bambang Q-Anees tersebut muncul lagi kemarin-kemarin, di kelas ketika saya mengajar tentang hakikat bahasa di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ada seorang mahasiswa bertanya, "Lantas, kalau tanpa bahasa, dengan apa kita menyampaikan gagasan?" Pada titik itu saya tidak gamblang seperti sebelum-sebelumnya dengan langsung menjawab, "Dengan seni!". Saya sekali lagi tidak menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut secara memuaskan.
Sekarang, setelah membaca aforisme Gibran tersebut, saya sadar akan sesuatu. Bahwa bahasa tetap penting untuk dikemukakan karena pertama, kita tidak punya pilihan. Bahasa adalah satu-satunya jalan sebagaimana saya menyampaikan gagasan tentang "matinya bahasa" juga lewat bahasa. Kedua, Gibran benar, bahwa biarkan bahasa menjadi setengah dari kebenaran, dan setengahnya lagi adalah makna yang kita harus susah payah untuk menemukannya. Seperti halnya kitab suci yang kita kaji, novel yang kita baca, puisi yang kita nikmati, celakalah jika kita menerima kata demi kata yang ditulisnya sebagai representasi dari kebenaran. Kebenaran yang sejati, sebagian lagi, ada pada dirimu.
.png)
Comments
Post a Comment