Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Jiwa yang Sangat Dalam


"...Janganlah hanya memetiki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan.

Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo dan intensitas membaca. Kedua, tentunya alasan kesibukan. Alasan yang kemudian saya malu dibuatnya karena betapa novel Musashi mengajarkan bahwa derajat kesenggangan lebih tinggi dari kesibukan.

Ceritanya sesungguhnya sederhana. Ini adalah kisah tentang Miyamoto Musashi yang bertekad menjalani Jalan Pedang. Tujuan hidupnya adalah menjadi manusia sejati lewat latihan, disiplin, dan tempaan. Musashi bertindak soliter, ia adalah seorang ronin yang tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa. Ia kemudian menemukan bahwa menjadi samurai hebat tidak bisa hanya dengan mempelajari ilmu pedang. Menjadi samurai sejati adalah juga soal memiliki jiwa yang lengkap dan utuh penuh. Musashi mempelajari seni melukis, mengukir patung, bertani, hingga minum teh. Ia ada pada kedalaman jiwa yang paripurna ketika melawan musuh sejatinya, Sasaki Kojiro.

Novel ini mengajarkan saya begitu banyak. Saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Dulu saya menganggap ada dikotomi serius antara profesionalisme dan hobi. Harus ada satu yang kita jadikan serius ditekuni, lainnya adalah sebagai hiburan yang sifatnya sekunder. Hal semacam ini tentu tidak keliru dan berkembang secara umum di masyarakat. Namun Musashi mengajarkan tentang betapa tidak ada beda, bahwa mempelajari apapun, ujungnya harus satu: Mencapai keluhuran jiwa. Ada dialog menarik antara Otsu dengan Yagyu Sekishusai:

Tanya Otsu, "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga." Kata Sekishusai, "Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang."

Saya berteriak, merasa bodoh, "Oh, selama ini saya berlagak profesional! Menekuni satu bidang agar dipandang ahli! Padahal tujuan hidup ini adalah menjadi manusia sejati!" Saya pun merenung dalam-dalam, melihat bahwa tidak ada beda sama sekali apa-apa yang saya sukai selama ini: musik, filsafat, sepakbola, film, dsb. Asalkan dijalani dengan tekun, disiplin, dan selalu merasa berkekurangan dalam mencapai kesempurnaan, maka disitulah jiwa mendapatkan satu pemurnian. Memisahkan dirinya dari keterbenaman fana dalam "Memetiki dedaunan atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Terlalu jauh bagi saya untuk menjalani disiplin seorang ronin macam Musashi. Tak sanggup saya berjalan kaki melintasi perbatasan Kota Bandung sekalipun, menunggu cinta seorang wanita tanpa melibatkan telepon genggam, mengetuk pintu rumah siapa saja jika butuh makanan atau tempat berteduh, ataupun menantang siapapun yang dianggap terkuat menurut anggapan masyarakat.

Yang bisa saya terapkan dari seorang Musashi adalah ini: Ada satu jalan lurus yang sama antara manusia dan alam semesta. Tidak mudah mengungkapkan hal semacam ini dengan kata-kata. Tapi jika jiwa ini terus menerus diasah dengan disiplin dan rasa haus akan kebijaksanaan, maka jalan lurus itu semakin lama akan terbentang. Gaya dua pedang tidak ada beda dengan satu pedang. Pedang kayu tak akan beda dengan pedang tajam yang panjang. Mengajar di kelas dengan mengandalkan endapan pengalaman tak akan beda dengan mengajarnya orang yang membaca seribu buku. Menjalani kehidupan tak akan beda dengan menyaksikan sepakbola di layar kaca. Mengurusi pernikahan tak akan beda dengan menggarami masakan.
 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...