Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Pernikahan saya akan berlangsung delapan bulan lagi. Renungan tentang mengapa, bagaimana, akan seperti apa, tentu saja kerap terlintas. Sempat saya membayangkan pernikahan adalah seperti via dolorosa, jalan derita yang dilalui Kristus sebelum disalib. Ia menapaki sesuatu yang berat, susah, berdarah, tapi sesungguhnya demi sesuatu yang lebih tinggi, agung, dan mulia. Dalam keadaan mental yang lebih skeptik, saya membayangkan pernikahan adalah upaya pengerdilan percik-percik api asmara oleh lembaga. Karena cinta barangkali terasa menggairahkan ketika kita mencicipi potongan-potongannya, bukan menelan keseluruhannya.
Pernikahan juga, sempat saya membayangkan, adalah momen batas tegas dimana kita menjadi dewasa. Dewasa adalah impian sebagian orang, tapi sekaligus momok sebagian lainnya. Terkadang menyenangkan melihat segala sesuatu hitam putih tanpa usah dipikirkan dalam-dalam. Terkadang asyik menanggapi banjir sebagai danau yang membuat kita bisa berenang, alih-alih menganggap itu bencana yang menghanyutkan harta benda.
Pernikahan juga berarti potensi untuk mempunyai anak kelak. Anak yang, kata Gibran, dibangun dibina untuk menjadi seseorang yang lepas seperti anak panah. Anak yang barangkali suatu hari nanti akan menjadi Oedipus yang membunuh ayahnya sendiri.
Tidakkah absurd? Tidakkah mengerikan?
Waktu semakin dekat, pemaknaan semakin mengerucut. Pada akhirnya saya tidak mungkin mengatakan suatu apa pun tentang pernikahan tanpa mengalaminya. Tidak fair. Yang mesti dikumpulkan hari demi hari adalah keyakinan. Keyakinan bahwa saya sedang bergerak dari manusia estetis ke etis Kierkegaardian: Hidup demi tanggungjawab, menunda kebahagiaan untuk kebahagiaan yang lebih besar. Bahwa justru karena pernikahan itu absurd, tiada jalan lain kecuali mengimaninya, melakukan leap of faith sehingga yang gelap jadi terang.
Yang terakhir. Menikah barangkali adalah semacam suatu ungkapan optimistik tentang peradaban. Bahwa manusia dan kehidupan di muka bumi masih akan berlangsung untuk waktu yang lama. Jika bukan saya kelak yang menebar benih damai di dunia, maka biar penerus saya kemudian.
Selanjutnya adalah doa, "Ya Tuhanku, semoga pernikahan kami nanti diberkahi layaknya Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Biarkan tubuh kami yang menua, lapuk dimakan usia, tapi jiwa kami memuda bagaikan Alexander Supertramp yang lepas dari kedua orangtua. Amin."
.png)
Amin...
ReplyDelete