Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Pernikahan saya akan berlangsung delapan bulan lagi. Renungan tentang mengapa, bagaimana, akan seperti apa, tentu saja kerap terlintas. Sempat saya membayangkan pernikahan adalah seperti via dolorosa, jalan derita yang dilalui Kristus sebelum disalib. Ia menapaki sesuatu yang berat, susah, berdarah, tapi sesungguhnya demi sesuatu yang lebih tinggi, agung, dan mulia. Dalam keadaan mental yang lebih skeptik, saya membayangkan pernikahan adalah upaya pengerdilan percik-percik api asmara oleh lembaga. Karena cinta barangkali terasa menggairahkan ketika kita mencicipi potongan-potongannya, bukan menelan keseluruhannya.
Pernikahan juga, sempat saya membayangkan, adalah momen batas tegas dimana kita menjadi dewasa. Dewasa adalah impian sebagian orang, tapi sekaligus momok sebagian lainnya. Terkadang menyenangkan melihat segala sesuatu hitam putih tanpa usah dipikirkan dalam-dalam. Terkadang asyik menanggapi banjir sebagai danau yang membuat kita bisa berenang, alih-alih menganggap itu bencana yang menghanyutkan harta benda.
Pernikahan juga berarti potensi untuk mempunyai anak kelak. Anak yang, kata Gibran, dibangun dibina untuk menjadi seseorang yang lepas seperti anak panah. Anak yang barangkali suatu hari nanti akan menjadi Oedipus yang membunuh ayahnya sendiri.
Tidakkah absurd? Tidakkah mengerikan?
Waktu semakin dekat, pemaknaan semakin mengerucut. Pada akhirnya saya tidak mungkin mengatakan suatu apa pun tentang pernikahan tanpa mengalaminya. Tidak fair. Yang mesti dikumpulkan hari demi hari adalah keyakinan. Keyakinan bahwa saya sedang bergerak dari manusia estetis ke etis Kierkegaardian: Hidup demi tanggungjawab, menunda kebahagiaan untuk kebahagiaan yang lebih besar. Bahwa justru karena pernikahan itu absurd, tiada jalan lain kecuali mengimaninya, melakukan leap of faith sehingga yang gelap jadi terang.
Yang terakhir. Menikah barangkali adalah semacam suatu ungkapan optimistik tentang peradaban. Bahwa manusia dan kehidupan di muka bumi masih akan berlangsung untuk waktu yang lama. Jika bukan saya kelak yang menebar benih damai di dunia, maka biar penerus saya kemudian.
Selanjutnya adalah doa, "Ya Tuhanku, semoga pernikahan kami nanti diberkahi layaknya Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Biarkan tubuh kami yang menua, lapuk dimakan usia, tapi jiwa kami memuda bagaikan Alexander Supertramp yang lepas dari kedua orangtua. Amin."
.png)
Amin...
ReplyDelete