Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mbah Maridjan

"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?"

"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak."
(Konfusius dari Analek 13:3)


Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo.

Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan dengan kata-kata, explainable. Konfusius hanya menjelaskan banyak pemikirannya dengan takaran moral yang disebut jen (kata yang kemudian mati-matian ditafsirkan oleh banyak pemikir karena Konfusius sendiri tak pernah menjelaskan artinya). Dalam suatu situs, jen diartikan sebagai: human heartedness; goodness; benevolence, man-to-man-ness; what makes man distinctively human (that which gives human beings their humanity). Maka itu, jika ditanya, apakah yang dinamakan "sikap penguasa"? Konfusius kira-kira akan menjawab, ya mereka yang sesuai dengan jen.

Konfusius tidak asal bicara. Di masanya ia hidup, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi. Situasinya kurang lebih sama dengan negara kita sekarang, carut marutnya. Ia kemudian merumuskan, bahwa keseluruhan penyebab kekacauan negara ini semua, adalah tidak betulnya nama-nama. Seorang menteri tidak bersikap seperti seorang menteri lagi. Karena nama, bagi Konfusius, menggambarkan identitas. Dalam nama, ada batasan bersikap dan jua tanggungjawab. Ketika sebagian besar individu tak lagi melakukan tindak-tanduk sesuai nama yang disematkannya, tunggu waktunya kehancuran terjadi.

Jauh, ribuan tahun pasca wafatnya Konfusius. Ada seorang sepuh bernama Mbah Maridjan. Jabatannya bukan guru besar seperti Konfusius dengan muridnya yang berlimpah serta ajaran yang diikuti sekaligus ditakuti penguasa. Mbah Maridjan posisinya juru kunci, yakni semacam penjaga tempat-tempat keramat. Tempat yang ia jaga adalah Gunung Merapi, sebuah gunung vulkanik aktif di kawasan Yogyakarta. Orangnya bersahaja, sederhana, dan taat pada apa-apa yang dititahkan Sultannya. Pengabdiannya tak main-main, ia menjabat juru kunci sejak tahun 1982, atau 28 tahun lamanya. Dan dalam masa tugasnya yang alamak itu, ia sering dipuji Sultan sebagai abdinya yang setia, dapat dipercaya, dan menunaikan tugas dengan baik. Satu-satunya "dosa" Mbah Maridjan barangkali ketika membintangi iklan extra joss beberapa tahun lalu. Toh, uang hasil iklan itu tetap ia gunakan untuk membangun masjid di desanya di lereng Gunung Merapi.

Sisanya, ia tetap harum dalam statusnya sebagai juru kunci Merapi. Ia tak melakukan tugas itu dengan merasa diri teralienasi. Beda dengan penduduk perkotaan yang kerja kantor tiga bulan saja kadang kesadarannya telah tertimbun rutinitas. Meski situasi Mbah Maridjan jauh lebih robotic, ia tak mengeluh. Ia gembira, besar hati, dan bertanggungjawab. Hal itu juga yang ia tunjukkan kala tempat keramat yang ia jaga, ternyata membebaskan dirinya dari tugas itu selama-lamanya. 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan wafat, di tengah situasi genting letusan Gunung Merapi. Ia tidak turun gunung, bebal seperti biasanya: tak mau turun kecuali dipaksa tim SAR. Mbah tidak mencari heroisme buta, tidak mencari pengikut. Toh ia tetap meminta warga mengevakuasi diri, ikut pemerintah. Mbah sendiri tetap teguh, besar hati, dan tinggal. Jika memang dia juru kunci, tidakkah sesungguhnya ia tahu pertanda letusan itu jauh lebih awal? Entah lewat wangsit atau tanda-tanda alam. Tidakkah, jika ia mau, ia bisa saja mengungsi duluan, bahkan sebelum BMKG mencium sinyal bahaya?

Mbah bisa, tapi kenyataannya ia enggan. Sultan telah memintanya turun, demi keselamatan nyawa, sejenak meninggalkan tugas suci juru kuncinya, dan berlebur bersama manusia umumnya. Mbah bisa, tapi ia tak mau. Ia mengemban amanat, ia mengemban nama, baginya tak ada yang lebih mulia dari itu. Tak ada yang lebih mulia dari meninggal dalam keadaan pengabdian loyal, pada apapun yang ia percaya. Predikat mati konyol bukanlah kata miring yang akan masuk dalam telinganya. Mbah Maridjan merumuskan kematiannya adalah gembira: hanya jika ia secara hakiki melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya.

Meninggalnya Mbah adalah bukti simbolisme keheroikan "pembetulan nama-nama" Konfusianis. Hanya saja, satu Mbah Maridjan saja tak cukup untuk negeri ini. Tidak cuma juru kunci yang betul namanya, tapi juga presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan banyak lainnya. Ketika keseluruhannya telah melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya, maka selamatlah bangsa ini dalam versi Konfusius. Anggota DPR, terutama yang sedang pelesir ke Yunani, pastilah bertanya balik dengan angkuhnya, jika disodori buah pikir Konfusius ini, "Lah, saya sedang menjalankan tugas saya sebagai anggota dewan kok!"

Mereka barangkali betul, tapi mari kembalikan pada konsep jen: Adakah ia berperikemanusiaan? Adakah ia bersikap heartedness? Adakah ia dengan tegas mau membedakan dirinya dengan binatang lewat sikap-sikap manusiawinya?

Saya tak mau menjawabnya. Lebih baik marilah kita sama-sama mengangkat derajat heroisme Mbah. Mendoakan agar ia mendapatkan maqam yang baik di sisi Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Dan ciri derajat luhur Muhammad adalah dia tak pernah secuilpun melenceng dari amanah yang diembankan baginya. Muhammad adalah sebetul-sebetulnya nama yang disematkan baginya. Semoga kelak Mbah dapat diperjumpakan dengan Al-Mustafa.



Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...