Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Habis Terang Terbitlah Gelap


Ide tulisan ini bukan ide baru. Saya terinspirasi dari tulisan Kang Ibing menjelang final Piala Dunia 1998 di Harian Umum Pikiran Rakyat, judulnya saya ingat: “Penantian yang berakhir dengan keueung (sunda: =sepi – red)”. Jadi waktu itu, tahun 1998, sedang musim krisis moneter di Indonesia. Piala Dunia sebagai pesta olahraga dunia, sukses menghibur masyarakat Indonesia yang tengah dililit krisis untuk sementara. Indikatornya, dimana-mana banyak terjadi nonton bareng, dan dengan hingar bingar diikuti pelbagai lapisan masyarakat. Tulisan Kang Ibing itu seolah menceritakan bahwa final Piala Dunia, yang waktu itu melibatkan Prancis melawan Brasil, adalah sesuatu yang dinantikan oleh sebagian besar manusia di dunia, khususnya di Indonesia. Tapi berakhirnya final adalah sekaligus juga kesedihan yang mendalam, karena Indonesia akan kembali dalam realitas krisis yang mencekam.

Setelah tahun 1998, Piala Dunia sudah bergulir tiga kali, tepatnya tahun 2002, 2006 dan sekarang 2010. Lagi-lagi perasaan itu tetap ada, dan saya yakin itu terasa bagi penonton Piala Dunia di negara miskin di manapun. Menjelang final, selalu ada perasaan takut jika peluit akhir dibunyikan dan piala telah diserahkan, kita semua akan kehilangan eskapis terbesar dalam sebulan terakhir: Sesuatu yang lebih jarang dari lebaran, sesuatu yang membuat jam tidur manusia Asia berbalik seketika, sesuatu yang membuat jantung berdetak setiap hari bagi mereka yang taruhan atau punya tim yang amat difavoritkan, serta sebuah gegap gempita dan histeria yang melarutkan masing-masing persona dalam lautan massa. Yang menonton Piala Dunia, tak selalu orang yang menyukai sepakbola, tapi mereka terpaksa ikut, karena ikut hanyut dalam demam global. Bagaikan mendadak harus menjadi shaleh karena kau berada di Makkah. Bagaikan seluruh manusia Eropa tenggelam dalam gelegak spirit Renaisans, dan asing rasanya melihat masih ada orang yang teosentrik.

Dan sekarang, eskapis terbesar itu akan segera pergi. Gongnya diawali dari gol Tshabalala, dan akhirnya kita belum tahu akan ditutup oleh gol siapa, dan siapa yang akan hadir di podium sana mengangkat trofi. Kita sudah sama-sama melewatkan ratusan gol dan drama getir dari panggung berwarna hijau itu. Dari mulai heroisme singkat Korut, tumbangnya duo finalis empat tahun lalu, insiden tangan Suarez, kegagalan penalti Cardozo, hingga akhirnya kita akan sama-sama melihat dua calon juara yang akan menorehkan nama negaranya di trofi untuk kali pertama. Habis terang benderang final yang akan ditonton milyaran manusia di seluruh dunia ini, kegelapan siap menyelimuti kita lagi: kembali ke realitas kesibukan manusia yang absurd dan tak berujung. Tapi jika atas dasar itu kemudian FIFA jadi menyelenggarakan Piala Dunia setahun sekali, maka alih-alih jadi solusi, yang demikian malah jadi sumber absurditas yang baru. Jadi empat tahun ini sudah pas sekali nampaknya. Empat kali kita bertemu lebaran dan empat kali itu kita berjuang menghapus dosa. Tapi setelah empat kali, ada satu momen kesempatan kita berganti agama untuk sementara. Agama sepakbola yang tak kalah mulia, karena ia sama-sama menyelamatkan dari krisis, kendati tak permanen. Tapi tidakkah agama kebanyakan juga demikian?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...