Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Football Manager dan Eksistensialisme


Meski sudah sepuluh hari berlalu, euforia Piala Dunia kemarin bagi saya masih terasa. Kelanjutan euforia tersebut saya wujudkan dengan instalasi Football Manager (FM) 2010 di komputer (Catat: Saya nyaris shalat istikharah untuk memutuskan membeli game tersebut atau tidak. Terakhir saya memainkannya tahun 2007 dan 2008, kuliah saya terbengkalai dan nyaris gagal!). Saya belum pernah mencoba narkoba, tapi jika katanya itu bikin kecanduan, maka bolehlah saya bilang FM ini semacam narkoba. Isinya, bagi orang yang tak paham, sepertinya cuma berisi teks-teks dan bulatan-bulatan yang tak masuk akal. Tak masuk akal jika dikaitkan dengan adanya orang yang epilepsi karenanya, layar retak oleh sebab FM non-stop dinyalakan seminggu, hingga orang pacaran menjadi putus karenanya. Dan pemutusan itu disimbolisasikan dengan dihancurkannya CD FM oleh pihak wanita.

Saya tahu betul laknatnya efek FM. Maka dengan berhati-hati, saya install game tersebut di komputer kakak saya, agar saya cuma bisa memainkan di kala kakak saya pergi. Tapi alih-alih terhindar dari kecanduan, saya malah dipergoki kakak saya kala bermain FM, dan beliau mengatakan: "Syukurlah komputer saya kepake juga. Sok terusin." Dengan legalitas tersebut, kecanduan menjadi tak tertahankan.

Saya merenung-renung kemudian, kok bisa ya teks-teks begini saja menjadi candu? Jika Marx masih ada, pasti ia tak cuma melarang agama, tapi juga FM. Nalar filsafati saya mengejar: melayang sejenak pada ujaran Kierkegaard, "Siapakah aku? Dari manakah aku? Mau kemanakah aku? Mengapa aku dilahirkan? Dan mengapa kelahiranku tidak dibicarakan dahulu denganku?" Ini ungkapan eksistensial yang cukup terkenal, menggambarkan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya menyedihkan, karena salah satunya: ia berada di dunia tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja, kun fayakuun. Maka itu, jika saya bermain FM, pada dasarnya saya mempertanyakan eksistensi dasar saya (yang setuju dengan Kierkegaard: menyedihkan), sekaligus menginginkan semacam eksistensi yang lain. Seolah-olah jika eksistensiku bisa dibicarakan, maka aku memilih untuk menjadi pelatih bola.

Lalu teringat saya akan pernyataan keras Nietzsche, "Hakekat hidup adalah kehendak untuk berkuasa!" Saya sempat maju mundur memberikan dukungan atas kalimat tersebut, tapi ketika main FM, saya semakin mengarah pada setuju. Dalam artian, tidakkah FM merepresentasikan kehendak untuk berkuasa? Kapan lagi kau, hai para pecandu, punya kesempatan mengatur dengan seenaknya pemain sekaliber Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Wayne Rooney, dan memecatnya kalau kau mau? Kapan lagi kau, jika kau pembenci MU, punya kesempatan mempermalukan MU di Old Trafford, jika bukan di ranah FM? Kapan lagi kau, yang begitu gatal dengan kekomplitan Barcelona, tapi lemah di penjaga gawang, untuk kemudian mengganti Victor Valdes dengan Gianluigi Buffon atau Petr Cech misalnya? Di dunia nyata, Barcelona nyaris tak mungkin mendepak Victor Valdes karena loyalitas dan lokalitasnya. Tapi di FM, persetan dengan semuanya, skill tak bagus silakan keluar. Punya uang mari boyong yang kompeten. Belum lagi FM punya save, reset, quit. Jika kalah, kau bisa mengulang kapanpun sesukamu hingga kau menang. Tidakkah dunia nyata tak punya itu? Tidakkah game sesungguhnya ikut menyadarkan kita bahwa eksistensi manusia sesungguhnya menyedihkan? Tengok betapa nikmatnya bagi kalian yang pernah bermain Grand Thief Auto San Andreas. Menghancurkan kota, mencuri mobil, menembak kepala orang, menikam polisi, rasanya ingin sekali dilakukan di jalanan kota Bandung. Tapi sekali lagi, eksistensi yang terlempar ini, memenjarakan kita.

Maka itu, wahai para pemain FM yang masih aktif, belilah Daniel Aquino. Karena cuma di FM ia jago, di kehidupan nyata ia tak eksis. Dan saya yakin, seorang Aquino yang asli, berperasaan sama seperti kita. Ia menikmati aksinya di FM, tapi sekaligus menyadari bahwa dirinya begitu menyedihkan.

Comments

  1. tulisannya cerdas mas, rasanya bener banget, saya juga penggila fm soalnya, hahaha..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...