Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Resital, Oh, Resital


Lusa nanti saya resital. Tulisan ini bukan soal promosi, karena lama-lama saya sadar juga, tak cuma info resital itu saja yang mesti dibagi, -agar penonton berdatangan- melainkan perasaan-perasaan menjelang resital. Oh, apa itu resital? Saya sering dengar, tapi juga tak tahu jelas apa artinya. Tapi yang pasti, resital itu pertunjukkan musik, seringnya klasik. Dan katanya, mesti sendiri, serius, pokoknya levelnya diatas istilah "konser". Entahlah mengapa saya menamainya resital, mungkin agar keren saja. Resital nanti formatnya ensembel gitar, ada trio ada kuartet. Kami telah mempersiapkannya sekitar enam bulan. Saya bersama Bilawa, Pak Widjaja dan Royke. Suka duka sudah dilalui, dan tinggal dua hari, saya bertanya: akan berakhir di mana suka duka ini? suka atau duka?

Sombongnya, ini resital saya yang keempat dalam empat tahun terakhir. Kenapa boleh sombong? Karena penyelenggaraan resital sungguh tak mudah. Kau mesti menyiapkan minimal enam tujuh repertoar untuk durasi sekitar satu setengah jam. Butuh mental, stamina, dan konsentrasi yang baik, salah sedikit apalagi banyak, fatal di musik klasik yang mencintai detil. Tapi saya tak mesti sombong juga, karena keempat resitalnya saya lakukan di Bandung, yang mana membuat saya kelihatan bagai jago kandang. Lainnya, pastinya banyak yang telah melakukan resital lebih banyak dari ini -ke berbagai kota pula-, dan memulainya dengan lebih muda. Dan tentunya, kualitas resital yang jauh lebih baik, ketimbang saya yang -saya akui- sebagian besar bermodalkan nekat.
 
Hanya saja, yang mau dicurhatkan, yakni perasaannya, yang ternyata tak berubah meski telah dilalui berulang kali. Ini perasaan yang boleh saya simpulkan, sungguh buruk dan tidak enak. Kau tahu, seperti ketika selesai mengerjakan SPMB, UMPTN atau apalah namanya, lantas ada jeda sebulan sebelum tiba saat pengumuman. Nah begitu, tak ada yang bisa disusahsenangkan, semuanya bimbang bukan kepalang: galau dalam istilah saya. Mau makan, makan apapun, rasanya sama. Mau tidur, jam berapapun, bangun rasanya sama. Punya pacar, seindah apapun, bisa jadi pengisi waktu luang semata.
 
Resital, sebagaimana SPMB dkk, adalah pilihan pribadi. Ini sama saja dengan memilih untuk galau dan bimbang, alih-alih memilih yang nyaman dan bahagia. Kita semua tahu, bahwa di ujung segala pilihan, ada konsekuensi, bahagia-tidak bahagia, bisa sama kuatnya. Namun jangan-jangan, yang terpenting bukanlah hasil dari segala pilihan. Ketika kau memilih, maka memilih sendiri sudah merupakan hal baik, tak terkecuali memilih penderitaan sekalipun. Bahkan tidak memilih itu pilihan juga, kan? Seperti kata Sartre. Jadi, adakah yang buruk di dunia ini? Atau yang ada, hanyalah kebaikan. Atau sekurang-kurangnya, tendensi menuju kebaikan.
 
Tulisan ini mulai melebar kemana-mana. Baiklah, kembali ke resital. Apa yang saya lakukan kala mengatasi konsekuensi atas pilihan ini? Pertama, saya mesti yakin, bahwa apa yang saya pilih adalah baik. Suka dan duka adalah semata-mata bungkus dari segala kebaikan. Kedua, saya mesti jujur. Tegang dan galau, itu pasti, namanya juga akan tampil dan bertanggungjawab memberi kesan pada masyarakat yang melihat. Tapi saya selalu belajar untuk berkata pada diri sendiri, "ya, saya tegang dan galau," demikian berulang-ulang, tanpa sedikitpun mencoba memungkiri, apalagi pura-pura besar hati, "ah, santai aja, begini doank masa tegang." Percaya atau tidak, tapi saya percaya, bahwa tegang dan galau, semakin sering diakui secara jujur, akan mentransformasi dirinya. Kemana? ke apa yang dinamakan pasrah. Oh, pasrah, terdengar seperti menyerah? Tidak, tidak, pasrah bagi saya, adalah momen kebebasan yang hakiki. Gibran berkata, keinginan untuk bebas adalah penjara tersendiri. Dan itu ada benarnya. Kala kita tak ingin bebas lagi, melepaskan hasrat, maka barangkali itulah namanya bebas. Pasrah barangkali semacam menyerahkan diri pada hal-hal "suprakondisi", macam "keadaan", "Tuhan", "nasib", dsb. Ini jelas tak disukai Nietzsche, yang ingin manusia berdiri di atas kakinya sendiri. 
 
Tapi bagi saya, pasrah adalah sepenuhnya bebas, asalkan: pilihan sudah diambil, konsekuensi sudah dijalani. Tahapan bimbang dan galau pun telah diakui berulangkali secara jujur. Kepasrahan memang selalu datang belakangan, biasanya ketika beberapa menit saja sebelum kau naik panggung. Di saat itu, jiwamu hilang terbang, bebas bersama suhu ruangan. Yang tersisa tinggal tubuhmu, ya, tubuhmu, yang telah kau latih dan kau tempa untuk menghadapi konsekuensi pilihan ini. Jiwamu akan kembali secepatnya, bersama bahana sorak sorai penonton yang mengagumi permainan, baju, merem-melekmu, atau apapun yang membuatmu kelihatan keren di atas panggung. Kalaupun tak ada tepuk tangan dan sorak kekaguman, yakinlah, jiwa yang terbang bebas akan tetap menemukan kebahagiannya di luar sana.

Comments

  1. The "Inner Player" dancing smoothly on the sky of melody and rhythm... share the joy of musics to people on trance ecstasy :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...