Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

The Curious Case of Benjamin Button: Memuda itu Biasa

Film ini sungguh absurd, non-sensical, dan menggelitik kesadaran. Alkisah, seorang wanita berumur 81 tahun bernama Daisy sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Nenek itu bercerita lirih pada putrinya yang berusia 37 tahun, bernama Caroline. Flashback pun dimulai. 11 November 1918, di saat bersamaan kala orang-orang di New Orleans merayakan berakhirnya PD I, lahirlah bayi yang digambarkan tak wajar dan buruk rupa. Ayahnya, Thomas Button, enggan mengurusnya dan menyimpannya di sembarang tempat. Akhirnya bayi itu dipungut oleh seorang perawat kulit hitam bernama Queenie. Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi bayi yang kelak dinamai Benjamin itu, persis seperti kakek berusia 85 tahun.

Ketaklaziman pun dimulai, tak seperti makhluk hidup umumnya yang bertumbuh menjadi tua, Benjamin justru tumbuh muda. Baginya, waktu berjalan mundur. Dalam perjalanan menjadi muda itu, ia bertemu dengan seorang pelaut bernama Captain Mike. Oleh Mike, diajarilah Benjamin, orangtua itu, bekerja di kapal, minum alkohol, dan berhubungan seks dengan pelacur. Ada percakapan yang menggelikan disana, kala Mike bertanya, "Ben, berapa kali kau berhubungan dengan wanita sepanjang hidupmu?" Benjamin, yang kala itu berusia sekitar 15 tahun, -tentu saja baginya waktu mundur, sehingga nampak seperti 70 tahun- menjawab, "Belum pernah," "Ben, ini hal yang paling menyedihkan yang pernah saya dengar, kau, seorang kakek, belum pernah berhubungan dengan wanita seorang pun?" Tentu saja ini hanya sebagian kecil keganjilan yang ditampilkan sepanjang film berdurasi dua jam setengah itu. Masih banyak lainnya, terutama kisah cintanya dengan Daisy, yang mana ia temui kala dirinya berusia 73, dan Daisy baru dua belas. Perbedaan alur waktu keduanya menjadikan kisah cinta itu menarik. Ben semakin muda dan gagah perkasa, Daisy bertambah tua lagi renta. Lebih jauh lagi, kala Daisy sudah jadi nenek, Ben adalah seorang anak yang baru jerawatan. Akhirnya, Ben meninggal di ayoman Daisy dalam keadaan bayi. Kesan Daisy kala itu, yang menarik, "Bahkan dalam tatapan seorang bayi, Ben masih mengenalku."

Tulisan ini bukan tentang review film, sebenarnya. Ini bukan persoalan rekomendasi. Karena jujur, alur film itu agak membosankan dan terlalu panjang. Saya sedang mencoba memaknai saja, tidakkah kasus Ben tak seberapa curious? Maksudnya, secara fisik, tentu iya, tapi tidakkah kita semua selalu rindu menjadi muda, rindu untuk grow younger? Tidakkah juga, banyak dari kita yang sesungguhnya takut menjadi tua, meski itu alamiah? Tapi tak hanya soal kerinduan semata, seringkali faktanya, memang banyak unsur dari kita yang selalu dijaga untuk secara konsisten memuda. Mungkin oh mungkin, penuaan justru membuat kita semakin canggih untuk memaknai pemudaan. Seorang kakek akan lebih mudah berlagak bak bocah ingusan ketimbang anak remaja menirukan jompo mengisap cangklong. Persoalannya barangkali cuma etika dan kepantasan. Oh, bayangkan jika itu tiada, menggelegaklah mereka, para kakek. Dirgahayu. Panjang umurmu.

Comments

  1. Untung sekarang produk komestik anti-aging udah banyak y..wkkk

    "I want to Grow Old with the woman I Loved"
    :)

    ReplyDelete
  2. gw malah ngarep2 kapan jadi dewasa dan nggak rindu masa abg gw sama sekali, rif. hahahaha. i'm not afraid to grow older.

    ReplyDelete
  3. @pointlessmind: Kerinduan mungkin bukan dipikirkan, sar, tapi dia akan datang menyelinap tanpa lu sadari. Memuda itu ga selalu ke fase abg kali yah, bisa juga ke fase TK, SD, bayi atau bahkan tak dilahirkan sekalipun!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...