Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Membuang



Orang tua keduanya telah tiada. Meninggalkan barang-barang penuh kenangan di rumah kami yang sepi. Ada perasaan berat melihat benda-benda peninggalan, tetapi mau tidak mau beberapa mesti dibuang juga. Bukan karena tidak berarti lagi, tapi karena hidup adalah tarik menarik antara masa lalu dan masa sekarang. Buku-buku, pakaian, dan barang-barang lain milik Papap dan Mamah begitu mengingatkan kami pada mereka, tetapi kami di sini yang masih hidup, memerlukan ruang lebih. Ruang untuk barang-barang kami juga. Bukan artinya membuang benda-benda peninggalan adalah sama dengan membuang kenangan tentang mereka. Justru kami mengenangnya dengan cara melanjutkan hidup. Menjadikan kenangan tentang mereka sebagai nafas yang menghidupi hari-hari kami ke depan. 

Karena sesungguhnya, barang-barang bukan hanya benda mati. Mereka menyimpan jejak sentuhan, kebiasaan, bahkan aroma yang menempel diam-diam. Cangkir kopi Papap yang retak di bagian gagangnya tetap terasa seperti miliknya, seolah tangannya masih sempat menyentuhnya pagi tadi. Kain daster Mamah yang sudah pudar warnanya menyimpan bentuk tubuhnya, cara jalannya, bahkan suara langkahnya. Barang-barang itu seperti pintu kecil menuju dunia yang telah berlalu, dan membuangnya bukan sekadar urusan logistik, tapi pergulatan emosional: bagaimana melepaskan tanpa merasa mengkhianati? Tapi hidup tidak berjalan mundur. Kita harus menyusun ulang—menyimpan beberapa, merelakan sebagian, dan terus membawa yang tak tampak: cinta, didikan, dan keberadaan mereka yang tak lagi bisa disentuh, tapi tetap hidup dalam ingatan. 

Mungkin itulah yang membedakan manusia dari makhluk lain: kemampuan kita untuk melekatkan makna pada benda. Sebuah kemeja bisa jadi kemeja biasa di mata orang lain, tapi bagi kita, ia bisa menjadi pelindung tubuh terakhir yang pernah dikenakan orang yang kita cintai. Kita menyimpan bukan semata karena butuh, tapi karena merasa ada bagian dari diri kita yang tertinggal di sana. Karena itu pula, membuang bukan hal yang sederhana. Kita tidak sekadar meletakkan sesuatu ke dalam kardus lalu mengantar ke tempat barang bekas—kita sedang menimbang, berdamai, dan menguji seberapa kuat kenangan bisa bertahan tanpa medium fisiknya. Dan kadang-kadang, kita tetap menyisakan satu atau dua benda “tak berguna” hanya karena merasa belum siap untuk benar-benar melepaskan. Kita manusia, dan kita sentimental. Itu bukan kelemahan, tapi justru bukti bahwa kita hidup tak hanya dalam waktu, tapi juga dalam kenangan. 

Begitu pula dengan orang-orang dalam hidup kita. Ada kalanya kita harus meng-cut seseorang—entah karena luka, pengkhianatan, atau sekadar perjalanan yang tak lagi searah. Kita membuangnya dari rutinitas, dari kontak ponsel, dari peta sosial kita. Tapi seperti barang peninggalan yang pernah mengisi rumah, mereka tak pernah benar-benar hilang. Selalu ada sesuatu yang tertinggal: kata-kata, gestur, atau momen kecil yang tak sengaja muncul di tengah obrolan atau tawa. Kenangan buruk sekalipun, suatu hari bisa jadi lelucon bersama. Dan yang baik, tetap menjadi harta diam-diam yang kita peluk dalam hati. Jadi mungkin, membuang bukan berarti menghapus. Ia hanya cara kita memberi batas, sembari tetap mengakui: bahwa yang pernah dekat, akan selalu menyisakan ruang dalam diri kita—meski sekecil lipatan kertas yang tak sengaja tertinggal di saku.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...