Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Mentransfer Kebijaksanaan


 
Semester ini dapat dikatakan sebagai semester paling ideal untuk saya. Alasannya, pertama, saya diberi kesempatan untuk fokus pada satu mata kuliah saja -dan itu mata kuliah favorit saya- yaitu filsafat komunikasi. Alasan lainnya, saya mengajar filsafat komunikasi dengan berlandaskan silabus yang saya buat sendiri dan buku ajar yang saya tulis sendiri. Dalam arti kata lain, semester ini jadi semester yang benar-benar "saya". 

Ketika menuliskan ini, semester baru saja berlalu setengahnya. Di rumah, saya mengoreksi ujian tengah semester dengan perasaan yang campur aduk. Ada perasaan senang oleh sebab jawaban-jawaban yang rumit, sistematis, dan mengutip kata-kata "filsuf langitan" seperti Nietzsche atau Heidegger; Ada perasaan sedih oleh sebab jawaban-jawaban yang datang dari pengetahuan seadanya dan menganggap bahwa "filsafat itu kebebasan" sehingga bisa dijawab dengan isian apapun; Ada perasaan galau oleh sebab pertanyaan yang terus menggelayuti saya selama membaca kalimat per kalimat yang tertulis dalam lembar jawaban. Pertanyaan itu adalah, "Adakah filsafat itu dapat diajarkan?" 

Mungkin filsafat memang benar bisa diajarkan. Tidak sulit untuk mentransfer pengetahuan tentang siapa mengatakan apa, siapa dilahirkan di zaman apa, hingga mengapa si anu melahirkan pikiran anu. Sejujurnya saya pribadi menikmati jawaban-jawaban akurat dari mahasiswa yang bisa menyebutkan kapan dan dimana Marx atau Schleiermacher dilahirkan, serta apa saja yang beliau-beliau katakan dan dijadikan tagline favorit dalam sejarah pemikiran Barat. Saya sering refleks saja memberi nilai tinggi untuk jawaban yang "benar" semacam itu. Namun sekali lagi saya harus tanyakan pada diri sendiri, "Benarkah dengan demikian, mereka dapat dikatakan paham filsafat?"

Untuk menjawab itu, saya harus mengingat sebuah kalimat yang saya baca dari novelnya Herman Hesse yang berjudul Siddharta. Di buku itu tertulis, "Pengetahuan dapat diajarkan, tapi kebijaksanaan itu tidak. Kebijaksanaan, jika diajarkan, akan terdengar seperti orang bodoh." Berdasarkan kalimat Hesse tersebut, mungkin memang benar bahwa para mahasiswa telah mendapatkan pengetahuan tentang filsafat. Tapi menjadi urusan yang sama sekali lain ketika ditanya apakah mereka betul-betul memahami filsafat atau tidak. Filsafat seharusnya lebih daripada sekadar "benar" di atas selembar kertas. Filsafat adalah kebijaksanaan. Filsafat adalah laku dan tindakan yang menubuh. Filsafat adalah world view. Filsafat adalah seperti kata Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie: Cara agar manusia tidak berjalan di atas lapisan es yang tipis. Tapi jika filsafat adalah seromantis yang saya jabarkan itu, maka masalah menjadi bertambah pelik, "Adakah keseluruhan makna filsafat yang mendalam itu bisa ditransfer dalam satu semester saja?"

Pada pertanyaan terakhir itu, saya memutuskan untuk meletakkan pena yang digunakan untuk mengoreksi jawaban. Saya mundur sejenak dari meja kerja untuk melihat segalanya lebih jernih. Saya berkaca pada diri sendiri: Saya dapat dikatakan sudah belajar filsafat dari sejak kecil, dari petuah Bapak yang tidak saya pahami; saya terbiasa dengan lingkungan pemikir, dimulai dari keluarga inti saya yang semuanya adalah dosen -asumsikan saja bahwa dosen pasti seorang pemikir, walau belum tentu juga-; saya ikut kelas publik filsafat dari tujuh tahun silam dan hingga kini tetap mengikutinya; saya melahap buku filsafat hampir setiap hari dengan rasa antusiasme yang tinggi; saya rajin menuliskan renungan saya ke dalam blog ini hampir setiap muncul perasaan galau. Artinya, jika saya ingin agar mahasiswa memahami filsafat hingga ke sumsumnya, saya tidak hanya harus mentransfer pengetahuan, tapi juga: lingkungan, kesempatan, dan antusiasme. 

Pada akhirnya, aspek-aspek itu menjadi mustahil jika harus ditransfer juga. Pada akhirnya, tidak harus apa yang ada di hati dan kepala saya, menjadi harus ada di hati dan kepala mahasiswa juga. Saya harus mengingat betul kata-kata Bambang Q-Anees yang memberi saya petuah sebelum memulai karir menjadi dosen sekitar lima tahun silam. Katanya, "Mengajarlah seperti hujan. Siramilah seluruh alam tanpa kecuali. Masing-masing dari mereka akan mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Ada tanah kering, ada tanah basah, ada petani, ada pebisnis, ada direktur, ada pepohonan, masing-masing punya kadar sendiri-sendiri dalam menerima hujan." Artinya, biarkan mahasiswa yang menerima kadar filsafat itu sesuai dengan kebutuhan hati dan kepalanya. Saya mengajar saja sepenuh hati, dengan antusiasme yang meledak-ledak seperti biasanya. Toh, tidak semua orang harus berakhir sebagai filsuf.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...