Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Bangunkan aku di Alun-Alun Tahrir
Kala ufuk siap menyingsingkan kebenaran
Sesungguhnya aku dan kau tadinya khaos
Tapi pemberontakan menyatukan kita dalam kosmos
Mari jatuhkan tirani
Cuma Tuhan yang boleh berlama-lama di 'arasy
Anehnya, doa pemberontak dan Mubarak persis sama:
"Ya Allah, hanya Engkaulah yang sanggup mengkudeta pemimpin Mesir!"
Kala ufuk siap menyingsingkan kebenaran
Sesungguhnya aku dan kau tadinya khaos
Tapi pemberontakan menyatukan kita dalam kosmos
Mari jatuhkan tirani
Cuma Tuhan yang boleh berlama-lama di 'arasy
Anehnya, doa pemberontak dan Mubarak persis sama:
"Ya Allah, hanya Engkaulah yang sanggup mengkudeta pemimpin Mesir!"
Klo nyerahin semuanya ke Tuhan kenapa harus repot2 demo, mening sare we sing tibra. biarin ajh Tuhan kerja. Toh dia maha segalanya cenah..heheheh ceuk si aki bari ngalenggut
ReplyDelete