Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Ujian Oh Ujian


Biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk meng-update blog ini setiap minggunya (bahkan beberapa kali dalam seminggu). Tapi belakangan, saya terbentur fokus pada ujian. Ujian apa gerangan? Ujian gitar tepatnya. Gitar klasik. Sesuatu yang sudah saya geluti sepuluh tahun lamanya. Dan sekarang diujikan seolah-olah dengan itu saya bisa tahu, berapa, angka kemampuan gitar saya selama ini. 
 
Ujian tersebut akan dilaksanakan 19 Oktober. Namanya ujian ABRSM, singkatan dari Association Board of Royal School of Music. Atau orang sini dengan singkat menyebutnya ujian Royal. Inggris punya. Ujian tersebut terdiri dari empat tes. Pertama adalah tes karya. Saya diminta memainkan tiga karya yang berasal dari tiga kelompok berbeda. Kelompok itu sepertinya dibedakan menurut periodisasi. Kelompok pertama adalah jaman Renaisans dan Barok. Kelompok dua adalah jaman Klasik dan Barok. Sedangkan kelompok tiga adalah musik Abad ke-20. Kedua adalah tes tangga nada. Saya diminta menghapal 27 tangga nada, yang mana hanya beberapa nanti yang akan ditanyakan.
 
Ketiga adalah apa yang dinamakan sight reading alias membaca langsung. Ada partitur berisi karya entah darimana, saya langsung baca dan memainkan, tanpa ada perkenalan panjang-panjang. Keempat adalah apa yang dinamakan aural test. Intinya, saya menanggalkan gitar dan kemudian mengaktivasi suara, telinga, dan akal pikiran. Tesnya ada menyanyikan nada, mendengarkan modulasi, progresi, dan kadens, serta berdiskusi soal karya dengan si penguji. Oh iya, pengujinya bule. Orang Inggris. Jadi saya mesti menggunakan bahasa Inggris kala mengobrol.
 
Ujian tersebut sungguh menguras pikiran. Saya mengambil tingkat delapan, atau tingkat terakhir dalam status elementary. Andai saya lulus nanti, statusnya setara SMA.

Ujian ini memusingkan, bukan semata-mata karena saya khawatir tidak lulus atau lulus dengan nilai rendah. Kalau itu, saya akui berkaitan erat dengan biaya pendaftaran keikutsertaan yang menurut saya, sih, mahal sekali. Saya lebih dipusingkan karena kenapa saya mendadak terdampar dalam situasi ujian yang menyebalkan. Yang mana keikutsertaan ini didorong oleh naluriah eksistensi saya yang menggebu-gebu sekira satu setengah tahun lalu. Saat itu, saya tertarik ikut Royal karena sepertinya trendi sekali. Dimana-mana orang membicarakan sertifikatnya. Sepertinya menjadi satu barometer terkini tentang bagaimana musikalitas seseorang dikuantifikasikan. Dan karena diberi angka itulah, maka mudah sekali menunjuk seorang lebih baik dari yang lainnya, sebagaimana peringkat dalam SD.
 
Saya, yang kala itu sudah belajar gitar klasik selama hampir sembilan tahun, merasa tertantang. Merasa perlu mencoba mengukur diri saya lewat ujian paling trendi di bumi pertiwi ini. Ikutlah saya, biayanya kala itu kalau tidak salah 1,25 juta. Saya ikut langsung yang grade delapan, karena merasa buang-buang uang kalau ikut bertahap dari enam atau tujuh. Modalnya, saya mengantongi sertifikasi Royal grade lima jalur teori. Jadi, sebelumnya saya mengenal Royal ini awalnya dari ujian teorinya. Saya ikut, karena saya merasa lemah dalam teori musik. Dan ternyata memang iya, setelah mempelajarinya, nyata sekali banyak hal dalam musik yang saya baru tahu. Untunglah saya lulus. Meski pas-pasan, tapi saya puas. Sertifikasi grade lima teori itu jadi syarat wajib untuk langsung mengambil ujian gitar performa grade delapan, yang saya akan ikuti ini.
Hanya saja, ternyata buruknya pola latihan saya karena sedang berbenturan dengan resital, membuat saya kala itu memutuskan untuk tidak siap mengikuti ujian. Akhirnya ditundalah satu tahun, hingga 19 Oktober yang akan saya hadapi nanti. Sekarang saya relatif lebih siap, meski optimisme dan pesimisme senantiasa bercampur aduk. Karena saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang asing. Ibarat berpetualang di hutan belantara: dalam tas saya sudah tersedia banyak perangkat yang mestinya bisa membantu dalam kondisi apapun. Tapi belantara tetap belantara, ia punya banyak kemungkinan.

Saya sedang dalam kondisi rajin latihan ketika menuliskan ini. Kondisi yang memang semestinya ketika siapapun mau mengikuti ujian. Hanya saja, tidakkah, manusia, dari dulu, menciptakan pelbagai ujian dan tes, adalah semata-mata demi kepentingan praktis. Semata-mata agar ia punya predikat yang melekat, yang memudahkannya bergerak dalam sistem pencipta ujian itu sendiri. Sekolah adalah lembaga yang rajin menciptakan ujian. Ujian yang kemudian didoktrinasi sedemikian rupa agar inilah, tujuan akhir kalian. Inilah, tolok ukur satu-satunya jerih payah kalian. Inilah, yang akan membuat kependidikan kalian tak berarti apa-apa jika gagal melampauinya.
Saya sekarang dalam kondisi serupa. Kondisi yang seolah-olah mempertaruhkan pelajaran musik yang sudah saya terima sepuluh tahun belakangan. Seolah-olah dengan nantinya saya lulus, maka saya akan punya predikat sebagai seorang musisi yang berhasil. Musisi yang di kepalanya penuh dengan akal pikiran brilian dan performa yang menunjang. Dalam sudut pandang tertentu, iya. Iya saya setuju bahwa dengan mudah ujian bisa jadi barometer musikalitas. Tapi jika saya adalah orang yang mencintai proses, maka ujian tak lebih dari sekedar perhentian. Perhentian dimana saya punya waktu untuk merenungi apa-apa yang sudah terjadi. Sesuatu yang jika saya sukses melampauinya, maka itu tak lebih dari pit stop yang membuat saya mesti melaju lebih kencang lagi.

Terima kasih Royal. Saya sungguh mencintai proses dimana saya berlatih semua dan mempelajari semua. Saya akan mengucap terima kasih sekarang, pada semua pihak yang telah membantu saya menghadapi ujian. Karena memang ini, inilah "hasil ujian" yang hakiki bagi saya. Bukan hasil ujian legal nantinya. Berterima kasih atas kenyataan bahwa persiapan ini membuat saya tahu banyak. Tahu bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa (Socrates).

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...