Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mendarahi Piala Dunia

 

Sejak partai puncak Euro 1996 di Inggris, saya menjadi sangat menyukai sepakbola. Final yang mempertemukan Jerman versus Rep. Ceko tersebut, sangat tertanggal di hati. Saya sampai ingat sebagian besar pemain yang main: Jerman formasi 3-5-2, ada kiper Andy Koepke, libero Mathias Sammer, bek Jurgen Koehler dan Stefan Reuter, pemain tengah Thomas Haessler, serta duet penyerang Jurgen Klinsmann dan Steffen Freund. Ada juga Rep. Ceko dengan formasi 3-6-1 saya ingat kiper Petr Kouba, bek Michel Hornak, kapten Radoslav Latal dan Jan Suchoparek, pemain tengah Pavel Nedved, Jiri Nemec, Patrik Berger, Karel Poborsky, serta penyerang tunggal Pavel Kuka. Ah, jadi pamer ingatan yah, tapi sungguh saya bahagia bisa mengingat semuanya. Saat itu saya kelas 6 SD dan saat menulis ini saya tak sedikitpun mengintip Wikipedia atau situs UEFA.

Sejak itu, saya tak mau sedikitpun melewatkan momen-momen dalam sepakbola, apalagi turnamen besar. Mesti nyangkut di hati, mesti terasa euforianya, terdarahi dalam nadi, bagaimanapun caranya. Di Piala Dunia 1998, saat itu saya 2 SMP, saya melakukan hal yang menurut pandangan saya sekarang, agak sinting. Saya mencatat statistik per pertandingan, semuanya, mulai dari tendangan penjuru, tendangan ke arah gawang, melenceng, peluang menit per menit, hingga persentase penguasaan pertandingan. Semua partai, tak ada satupun yang terlewat. Di akhir turnamen, statistik tersebut saya print dan bundel jadi semacam buku, dan dijual dua puluh ribu rupiah per eksemplar. Alhamdulillah ada yang beli dua orang. Sekarang data-data itu sudah hilang, karena cuma diabadikan dalam floopy disk, dan komputer yang saya pakai jaman itu entah sudah kemana. Sepertinya rusak.

Piala Dunia 2002, tadinya saya menabung, ingin nonton mumpung di wilayah Asia. Tapi tak tercapai entah kenapa, sepertinya karena saya kurang sungguh-sungguh. Bagaimana mendarahinya? Ada dua cara, mendukung Italia favoritku sepenuh hati (jangan ditiru, ini syirik dan bid'ah: ketika menonton Italia, saya sering shalat tahajjud dulu sebelumnya, dan kemudian mengalungkan bendera Italia di leher, meski itu nonton sendiri di rumah) serta cara satu lagi yang juga jangan ditiru biarpun asyik, yakni dengan cara berjudi. Kala itu saya berjudi cuma di babak penyisihan, dan untungnya lumayan, cukup banyak untuk saya yang masih SMA. Tapi kelucuan euforia saya masih terjaga dengan mengkliping momen-momen Piala Dunia yang didapat dari koran BOLA.

Piala Dunia 2006, judi semakin menjadi. Saya semakin menyukainya, dan menganggap itu penting, karena apa? Karena negara kita tidak pernah dan tidak akan lolos ke Piala Dunia. Jadinya kita bingung mau dukung siapa mau bela siapa? Jadi buatlah permainan, belalah yang kita pegang dalam perjudian. Dari situ kita akan terlibat secara emosional dengan para pemain di atas lapangan. Tengok saja, jika suatu hari nanti di kehidupan entah kapan, Indonesia lolos ke Piala Dunia, maka niscaya perjudian soal Piala Dunia akan menurun drastis di Indonesia. Karena masyarakat tahu ada yang dibela dan didukung di sana, dengan darah dan air mata yang murni tak dibuat-buat. Sebagai tambahan, Piala Dunia 2006, agar semakin mendarahi, saya beli video VHS, dan merekam banyak partai penting.

Masuklah kita ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sebentar lagi, lima hari lagi. Niat saya berhenti judi cukup kuat (mungkin bisa luluh di partai-partai puncak), karena aduh malu, sudah punya rejeki halal hehehe. Tapi saya tetap akan berusaha menyimpan momen tersebut dalam kenangan perjalanan hidup saya. Dengan cara apa? Hmmm saya baru kepikiran, saya akan buat prediksi dan hasil menerawang, tentang siapa yang menang di tiap partai, lolos penyisihan, hingga juara, dan sepertinya akan ditulis di note Facebook hehehe. Mendarahikah? Tentu saja, ini menyenangkan dan mengundang saya berpikir keras setiap hari. Tidak penting? Siapa bilang bersiul itu penting, tapi itu cara untuk menikmati hidup bukan?

Maka simpan filsafat, simpan agama, dalam sebuah laci rapat di kamarmu. Sepakbola tak butuh keduanya, karena seperti halnya Tuhan menciptakan filsafat dan agama yang Ia ridhai, Ia pun menciptakan sepakbola.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...