Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Aku jatuh hati
Pada kota yang sempat Nabi singgahi
Jejak pertamaku ada di kala subuh
Adzannya berkumandang
Sayup membelah langit Arab
Speakernya pasti berkualitas dan sadar lingkungan
Tak membangunkan orang yang tengah lelap
Kuberjalan cepat menuju masjidmu, Ya Rasulullah
Masjid yang letaknya ditentukan oleh instingmu via Al-Qishwa
Lalu kulihat megahnya bangunan
Arsitektur Spanyol ala Cordoba
Subhanallah, tak percaya aku ada disini
Shalat berjamaah bersama ribuan entah puluh ribuan Arab
Lalu kudengar imam mengucapkan takbir, fathihah, dan surat pendeknya
Kuingat. Syahdu:
Wailullil muthaffifiin. Alladziina idzak taaluu 'alannaasiyastawfuun.
Kututup shalat dengan salam
Bangun aku menghirup dalam-dalam aroma Madinah
Kulihat langit berwarna keunguan
Tanda matahari siap menyembul dari gunung-gunung tandus
Kukitari kota dan kuamati manusia
Semua sibuk dengan urusannya seperti biasa
Tapi entah perasaanku saja atau memang iya:
Amboi damainya
Tak ada kekhawatiran seperti di alun-alun Bandung
atau di sudut manapun Jakarta
Ini kota yang sulit untuk tidak menanggalkan hatimu
Warga tampak tak punya sindrom alienasi metropolitan
Tidak ada perasaan sendiri di tengah hiruk pikuk
Mereka seolah percaya Muhammad masih hidup
Berkeliling kota setiap hari dengan untanya
Melihat kejujuran takaran timbangan dan tutur ucapan
Mendoakan setiap jengkal Madinah agar senantiasa disinari
Al Munawwarah
Dari Bukit Uhud imajinasiku merekontruksi
Menengok Raudhah kubayangkan Nabi berdiri
Berziarah ke makamnya aku bertanya nakal:
Orang macam apa Muhammad itu
mampu mempunyai pengikut tiada habisnya
Pagi siang malam shalawat dan salam bagi ia
Entah berapa juta orang mati membela ajarannya
Ia hidup hanya enam puluh tiga tahun
Tapi tak ada tanda-tanda namanya akan lenyap
hingga ribuan tahun ke depan
Aku menanggalkan hatiku di Madinah
Jika Rasulullah menemukannya tergeletak di jalan
Lancanglah aku jika meminta Rasul memungutnya
Masih lebih baik baginya memunguti sisa biji kurma untuk ditanam ulang
Assalamu 'alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Pada kota yang sempat Nabi singgahi
Jejak pertamaku ada di kala subuh
Adzannya berkumandang
Sayup membelah langit Arab
Speakernya pasti berkualitas dan sadar lingkungan
Tak membangunkan orang yang tengah lelap
Kuberjalan cepat menuju masjidmu, Ya Rasulullah
Masjid yang letaknya ditentukan oleh instingmu via Al-Qishwa
Lalu kulihat megahnya bangunan
Arsitektur Spanyol ala Cordoba
Subhanallah, tak percaya aku ada disini
Shalat berjamaah bersama ribuan entah puluh ribuan Arab
Lalu kudengar imam mengucapkan takbir, fathihah, dan surat pendeknya
Kuingat. Syahdu:
Wailullil muthaffifiin. Alladziina idzak taaluu 'alannaasiyastawfuun.
Kututup shalat dengan salam
Bangun aku menghirup dalam-dalam aroma Madinah
Kulihat langit berwarna keunguan
Tanda matahari siap menyembul dari gunung-gunung tandus
Kukitari kota dan kuamati manusia
Semua sibuk dengan urusannya seperti biasa
Tapi entah perasaanku saja atau memang iya:
Amboi damainya
Tak ada kekhawatiran seperti di alun-alun Bandung
atau di sudut manapun Jakarta
Ini kota yang sulit untuk tidak menanggalkan hatimu
Warga tampak tak punya sindrom alienasi metropolitan
Tidak ada perasaan sendiri di tengah hiruk pikuk
Mereka seolah percaya Muhammad masih hidup
Berkeliling kota setiap hari dengan untanya
Melihat kejujuran takaran timbangan dan tutur ucapan
Mendoakan setiap jengkal Madinah agar senantiasa disinari
Al Munawwarah
Dari Bukit Uhud imajinasiku merekontruksi
Menengok Raudhah kubayangkan Nabi berdiri
Berziarah ke makamnya aku bertanya nakal:
Orang macam apa Muhammad itu
mampu mempunyai pengikut tiada habisnya
Pagi siang malam shalawat dan salam bagi ia
Entah berapa juta orang mati membela ajarannya
Ia hidup hanya enam puluh tiga tahun
Tapi tak ada tanda-tanda namanya akan lenyap
hingga ribuan tahun ke depan
Aku menanggalkan hatiku di Madinah
Jika Rasulullah menemukannya tergeletak di jalan
Lancanglah aku jika meminta Rasul memungutnya
Masih lebih baik baginya memunguti sisa biji kurma untuk ditanam ulang
Assalamu 'alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Comments
Post a Comment