Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Madinah Al-Munawwarah

Aku jatuh hati
Pada kota yang sempat Nabi singgahi
Jejak pertamaku ada di kala subuh
Adzannya berkumandang
Sayup membelah langit Arab
Speakernya pasti berkualitas dan sadar lingkungan
Tak membangunkan orang yang tengah lelap

Kuberjalan cepat menuju masjidmu, Ya Rasulullah
Masjid yang letaknya ditentukan oleh instingmu via Al-Qishwa
Lalu kulihat megahnya bangunan
Arsitektur Spanyol ala Cordoba
Subhanallah, tak percaya aku ada disini
Shalat berjamaah bersama ribuan entah puluh ribuan Arab
Lalu kudengar imam mengucapkan takbir, fathihah, dan surat pendeknya
Kuingat. Syahdu:

Wailullil muthaffifiin. Alladziina idzak taaluu 'alannaasiyastawfuun.

Kututup shalat dengan salam
Bangun aku menghirup dalam-dalam aroma Madinah
Kulihat langit berwarna keunguan
Tanda matahari siap menyembul dari gunung-gunung tandus
Kukitari kota dan kuamati manusia
Semua sibuk dengan urusannya seperti biasa
Tapi entah perasaanku saja atau memang iya:
Amboi damainya

Tak ada kekhawatiran seperti di alun-alun Bandung
atau di sudut manapun Jakarta
Ini kota yang sulit untuk tidak menanggalkan hatimu
Warga tampak tak punya sindrom alienasi metropolitan
Tidak ada perasaan sendiri di tengah hiruk pikuk
Mereka seolah percaya Muhammad masih hidup
Berkeliling kota setiap hari dengan untanya
Melihat kejujuran takaran timbangan dan tutur ucapan
Mendoakan setiap jengkal Madinah agar senantiasa disinari

Al Munawwarah

Dari Bukit Uhud imajinasiku merekontruksi
Menengok Raudhah kubayangkan Nabi berdiri
Berziarah ke makamnya aku bertanya nakal:
Orang macam apa Muhammad itu
mampu mempunyai pengikut tiada habisnya
Pagi siang malam shalawat dan salam bagi ia
Entah berapa juta orang mati membela ajarannya
Ia hidup hanya enam puluh tiga tahun
Tapi tak ada tanda-tanda namanya akan lenyap
hingga ribuan tahun ke depan

Aku menanggalkan hatiku di Madinah
Jika Rasulullah menemukannya tergeletak di jalan
Lancanglah aku jika meminta Rasul memungutnya
Masih lebih baik baginya memunguti sisa biji kurma untuk ditanam ulang

Assalamu 'alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...