Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Sejarah


 
Hari-hari belakangan ini, saya sedang disibukkan dengan menulis biografi seorang sutradara senior bernama Awal Uzhara. Saya datang ke rumahnya seminggu dua atau tiga kali untuk mendengarkan bagaimana beliau bercerita tentang sejarah kehidupannya. Dari pengalaman menuliskan biografi itu, saya belajar sesuatu tentang hakikat sejarah. Pertama, dari kenyataan bahwa Pak Awal sendiri sering memilah mana yang pantas dimasukkan ke dalam sejarah dan mana yang sebaiknya dibuang saja untuk kemudian lenyap bersama semesta. Artinya, mencatat sejarah dari penutur pertama itu belum tentu bisa menggambarkan kejadian sebenarnya. Apalagi penutur yang sudah estafet hingga beberapa generasi. Harus diakui bahwa orang yang mengalami sejarah apapun, ketika itu ditransfer pada orang lain, tidak akan bisa persis akurat dengan kejadian sebenarnya baik secara detail peristiwa maupun perasaan ketika mengalami.

Kang Ghani, seorang sejarawan asal UNPAD pernah berkata sesuatu tentang bagaimana ketidakmungkinan sejarah yang objektif tersebut. "Silakan ulangi apa yang kamu lakukan lima menit yang lalu secara persis sama. Apakah bisa? Sekarang bagaimana kamu bisa mengetahui apa yang orang lakukan beribu-ribu tahun silam jikapun ia sendiri, yang mengalaminya sendiri, tidak mampu mengulanginya?" demikian ujarnya. Jadi adakah peluang bagi kita untuk mengetahui apa yang sudah lampau?

Untuk menjawab itu, saya teringat satu perdebatan menarik antara sejarawan Prancis dan sejarawan lokal bernama Hidayat Suryalaga. Sejarawan Prancis itu memperdebatkan bukti-bukti otentik tentang keberadaan Kerajaan Pajajaran yang menurutnya kurang meyakinkan. Namun Pak Hidayat menjawab singkat saja. Katanya, "Tidak penting dia ada atau tidak, yang penting dia ada dalam benak kami." Seolah-olah bagi Pak Hidayat, secara epistemologis memang mustahil bagi kita untuk mengetahui apa yang lampau. Maka itu perdebatan diakhiri saja dengan kenyataan apakah hal yang lampau itu -terlepas dari benar tidaknya- punya dampak signifikan untuk masyarakat hari ini atau tidak. 

Prof. Dieter Mack, seorang musikolog asal Jerman, dalam suatu kesempatan ceramah pernah memperdebatkan pendapat kawan saya, Diecky, yang mengatakan bahwa sejarah Barat lebih sistematis daripada timur. Pak Dieter menolak keras pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Jangan membandingkan dua hal yang sangat berbeda. Barat sistematis lewat tulisan, Timur sistematis lewat tuturan. Faktanya, orang Timur sampai sekarang masih bisa memainkan musik seperti leluhurnya. Artinya apa yang lampau baginya tidak putus sekali meski tidak lewat tulisan." Senada dengan apa yang dikatakan Pak Dieter, Bambang Q-Anees pun pernah menyindir kebudayaan Barat yang meski canggih dalam mewariskan via tulisan, tapi sambil bergurau ia bertanya, "Mana ada filsuf Yunani yang beken di saat sekarang? Berarti tidak turun temurun itu kehebatan Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Ya kan?"

Artinya, jika secara epistemologis kita mustahil untuk menyelami yang lampau, kita bisa mengandaikan bahwa apa "yang lampau" itu cukup menjadi daya hidup untuk kita hari ini. Ini mungkin jauh lebih baik dan berguna daripada memperdebatkan eksistensi segala sesuatu yang lampau itu ada atau tidak. Barangkali ini yang jadi argumen kuat kenapa banyak orang masih mau bertuhan meski pemikiran ateisme terus menggurita dan semakin mampu memenangkan debat demi debat soal ketiadaan eksistensi Tuhan. Orang masih bertuhan mungkin karena jikapun ternyata Tuhan tidak ada "di-sana", toh setidaknya ia masih ada "di-sini", di dalam benak orang-orang yang mau ia tetap ada tanpa harus punya landasan kemasukakalan. Kedua, jika sejarah yang diturunkan lewat tulisan ataupun tuturan selalu terkena distorsi, maka dari mana sesungguhnya kita mendapatkan kebenaran? Soal ini saya dengar bapak berbicara, "Sejarah yang paling benar, adalah yang tidak dituliskan dan tidak dituturkan." Dalam arti kata lain, kebenaran sejati selalu tersimpan dalam sunyi. 


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...