Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Purifikasi

 
Manusia pada dasarnya punya sifat malas. Itu sebabnya dianugerahi kita cara berpikir generalisasi. Kant mengatakan sudah fitrahnya manusia berpikir secara generalisasi. "Jika batu dijatuhkan dua kali dan ia memang jatuh ke bumi, maka sudah pasti manusia akan berpikir bahwa demikian halnya yang ketiga kalinya," begitu kira-kira ujarnya. Cara berpikir semacam ini berlanjut pula ke bagaimana ia memahami lingkungan sosialnya. Tidak banyak manusia yang mau dengan sungguh-sungguh menelaah individu per individu untuk mengetahui kedalamannya. Rata-rata mereka mengambil satu dua sampel saja untuk dijadikan apa yang disebut: stereotip. Ketika misalnya saya pernah mendapati orang Arab yang ramah, saya akan katakan: orang Arab ramah-ramah. Sebaliknya ketika ada orang Arab yang jahil, saya akan bilang: orang Arab jahil-jahil. Begitu pemalasnya saya untuk mengatakan: Ada orang Arab yang jahil, ada orang Arab yang ramah. Rupanya kalimat semacam itu terlalu abu-abu untuk diceritakan pada orang lain -kurang bombastis, kurang bernilai pengetahuan-.

Kita akan mengetahui bahwa kemalasan memahami lingkungan sosial tersebut -jika kebetulan lingkungan sosialnya ditinggali berbagai macam ras- membawa kepada rasisme. Rasisme jelas merupakan suatu kemalasan berpikir seperti Atticus Finch dalam novel To Kill a Mockingbird, "Kita tidak akan pernah paham seseorang sebelum kamu berdiri dari sudut pandangnya." Malcolm X misalnya, pejuang kulit hitam di Amerika Serikat, pernah punya masa dalam hidupnya ketika ia begitu rasis -membalas perlakuan orang kulit putih yang rasis kepada mereka-. Ia memperjuangkan black supremacy dan melakukan stereotip bahwa semua orang kulit putih, dimanapun, adalah iblis. "Pernahkah kalian lihat orang kulit putih yang baik?" begitu tanyanya pada setiap wartawan yang ditemuinya. Ia kemudian bersikap purifikatif secara politis: Malcolm X ingin pemisahan total antara kulit hitam dan kulit putih. Ia justru berkebalikan dengan rata-rata aktivis kulit hitam yang ingin memperjuangkan kesamaan hak-hak dengan orang kulit putih.

Upaya purifikasi seringkali terbentur suatu dilema. Misalnya begini, apakah betul kita bisa melepaskan diri dari pengaruh ras yang kita lawan? Apakah misalnya, perlawanan itu sendiri, seringkali menggunakan elemen-elemen dari ras yang berseberangan sebagai senjatanya? Misalnya di twitter ada akun yang cukup terkenal dengan purifikasi islam (islam bukan sejenis ras tentunya, tapi kita bisa ambil ini sebagai analogi dari purifikasi) bernama @hafidz_ary. Ia terus-terusan berkata Islam adalah eksklusif, Islam adalah agama yang paling benar dan silakan komparasikan kebenarannya dengan agama lain. Ia persis seperti Malcolm X ketika masih aktif di Nation of Islam membela guru spiritualnya, Elijah Muhammad. @hafidz_ary dan Malcolm X sama-sama disayang oleh sebangsanya tapi dianggap oleh di luarnya sebagai sumber hate speech. Mereka disayang oleh sebangsanya karena menawarkan purifikasi. Namun upaya purifikasi itu "ditertawakan" karena menggunakan medium-medium dari lawan-lawannya. @hafidz_ary menggunakan twitter yang notabene merupakan produk dari Barat yang ia jelek-jelekkan peradabannya. Malcolm X? Pertama, secara personal, ia berpakaian seperti orang kulit putih. Lalu ia juga menggunakan media cetak orang-orang kulit putih untuk memperkuat corong aspirasinya. 

Artinya, isu purifikasi adalah juga isu kekuasaan. Kita sering mendapat mereka-mereka yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan sebelumnya, terbentur pada dilema ideologis apakah mereka harus "berdamai" dengan lawan untuk mencapai tujuannya, atau berseberangan sepenuhnya dengan lawan tersebut dalam segala hal? Apakah orang-orang muslim yang ingin membangun negara Khilafah sebagai upaya purifikasi agama, harus melalui jalur demokrasi yang ia benci, atau justru melawan dengan sistemnya sendiri? Maka itu isu purifikasi juga adalah isu utopis. Kita selalu membayangkan apa yang pure itu sebagai hal yang ilusif saja. Misalnya, "Islam murni" adalah sekumpulan orang-orang muslim yang berkumpul mengenakan pakaian Arab dan berbicara bahasa Arab dan shalat bersama-sama sehari lima kali ke masjid. Apakah betul itu yang murni? Bahkan kita bisa curigai orang-orang muslim di Arab sana pun berkutat dengan apa yang dimaksudkan dengan kemurnian. 

Apa yang murni selalu punya masalah: Apakah murni secara esensi dikatakan sebagai murni seutuhnya, atau murni harus pula secara eksistensi? Apakah seseorang yang berjanggut sudah dikatakan murni mengacu pada syari'at Islam karena secara eksistensi fisik ia menyerupai, atau sesungguhnya janggut itu adalah simbol dari kebijaksanaan maka itu tidak perlu dipahami secara literal? Apakah seorang yang anti-kulit putih itu lebih bagus jika ia anti semuanya yang berbau kulit putih, atau ia boleh berdamai dengan kulit putih selama itu demi kesejahteraan kulit hitam sendiri? Sejarah peradaban, kata Marx, adalah selalu tentang perjuangan kelas. Namun mari menambahkan bahwa sejarah peradaban adalah juga tentang perjuangan mencari kemurnian.

Comments

  1. Menarik banget kang, sama saya juga selalu mikir kenapa manusia selalu ngejar kemurnian suatu ideologi.. tp jdnya kynya ga akan ada suatu hal yg "murni" di dunia ini, karena bakal selalu ada perlawanan dari pihak yg "berbeda". Jadi kehidupan itu ya dialektika terus (singkatnya sih gt kali ya)

    ReplyDelete
  2. Saya sedikit tambahkan, bahwa pihak-pihak yang mengajukan purigikasi di dalam Islam, generalnya (ini kemalasan berfikir juga hihi) tidak menganggap pemanfaatan terhadapa apapun hasil teknologi sebagai sebuah hal yang cela.

    Karena apa? Karena kaum puritan diluar sana, termasuk saya memiliki pemahaman terhadap ijtihad bahwa semua benda baru bisa dimanfaatkan kecuali benda tersebut terkait sebuah pemahaman religius tertentu diluar Islam Misal, menjadi haram ketika seorang yang mengaku muslim mengenakan salib, menggunakan bintang david sebagai pernak-perniknya.

    Atau, ketika dalam penggunaannya ternyata penggunaan hal tersebut secara tidak langsung terkait dengan eksistensi kaum muslim yang tengah tertindas. Boikot produk-produk perusahaan yang mensupport zionis misalnya, meski barang-barang tersebut halal akan tetapi dalam situasi perang yang halal bisa menjadi haram,

    Hal ini sudah dibahas oleh para mujtahid dengan menarik.

    Nah mengenai purifikasi yang Syarif tuliskan saya juga kurang sreg, karena sepemahaman saya (dan segaul-gaulnya saya di kalangan islam yang disebut garis keras selama ini), purifikasi itu maknanya bukan menggunakan gamis, bersongkok, dsb. tetapi lebih pada meneladani Rasulullah, dan...sahabat, thabiin serta thabiuttabiin (Rasulullah, sahabat yang berguru pada Rasulullah, generasi yang berguru pada para sahabat, generasi yang berguru pada generasi yang berguru pada sahabat) diluar tiga generasi itu tidak menjadi rujukan. Diluar generasi itu berarti tidak bisa dimasukan kedalam pihak yang mempurifikasi dien-nya.

    Itulah mengapa, penafsiran bahasa, penafsiran 'nafsu', penafsiran hermeneutika tidak mendapat tempat di kalangan muslim yang dianggap garis keras. Karena apa? karena tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggung jawabkan dalam mengakses jawaban Rasulullah mengenai permasalahan dalam kehidupan.

    Hal itu pun sangat logis, siapapun yang menafsirkan pemikiran seseorang, misal pemikiran Bakunin maka siapakah yang memiliki otoritas lebih?

    1. Orang yang hidup sehari-hari, dan berjuang bersama bakunin sampai akhir hayat
    2. Orang yang hidupnya berada di ruang-ruang kelas, di perpustakaan filsafat, di batu api atau di tobucil atau entah dimana.
    3. Orang yang hidupnya terpaut jauh.

    Hal ini pun banyak terjadi di kalangan pemikir dan penterjemah langkah perjuangannya, tak heran ada banyak penafsiran mengenai ide Marx tapi saya yakin siapapun yang merasa memiliki, memperjuangkan pemikiran tertentu akan memahami 1, 2, 3 point diatas yang saya sampaikan.

    Seperti itulah ide Islam diperjuangkan oleh kalangan yang disebut puritan (ah tapi kalangan puritan ini sebenarnya tidak tepat juga sebab sejarahnya puritan itu dekat dengan kau Luddite)

    Apapun itu, mudah-mudahan Syarif bisa menangkap maksudnya. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...