Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Django Unchained (2012): Tarantino Menggila Lagi

 

Meski mengandalkan estetika film "kelas B", Tarantino jelas bukan sutradara "kelas B". Sejak film pertamanya yang berjudul Reservoir Dogs (1992), Tarantino menunjukkan dirinya bisa membuat film yang terkesan murahan -karena latar yang minimalis, adegan yang dominan berdarah-darah, aktor yang sedikit, musik yang ready-use, dan dialog yang amat keseharian- namun cukup konseptual, berprinsip, dan referensial. Dalam arti kata lain, ia menjadikan estetika "kelas B" ini sebagai pilihan pribadinya, bukan karena desakan dana yang minim.

Walhasil, atas karakteristik filmnya yang khas dan boleh dibilang idealistik, Tarantino mempunyai penggemarnya sendiri. Kita tidak bisa menyamakan popularitas Tarantino ini dengan sutradara Hollywood spesialis box office seperti Steven Spielberg atau Peter Jackson. Namun ia jelas akan dikenang sebagai seseorang yang kokoh memegang teguh gaya estetikanya seperti seorang David Lynch. Maka itu, kemunculan Django Unchained (2012) terang saja ditunggu dengan dahaga yang sudah kering kerontang karena film terakhir Tarantino, Inglorious Basterds (2009) adalah film yang mengesankan. Dalam film Inglorious Basterds, ia sukses melakukan sejumlah hal "gila" mulai dari kesuksesannya mengarahkan Christoph Waltz dari aktor yang hampir gagal menjadi aktor super-brilian dalam memerankan Kolonel Hans Landa, hingga menulis skenario kematian Adolf Hitler di gedung bioskop.

Sebelum menonton filmnya, saya sudah berani menduga bahwa Django Unchained akan menghadirkan kejutan a la Tarantino. Pertama, kita tahu bahwa Tarantino adalah penggemar film koboi. Artinya, ketika tahu bahwa film ini bertajuk Django -Django adalah nama tokoh koboi yang sangat populer diperankan oleh Franco Nero-, maka pastilah Tarantino sedang berupaya memuaskan idealisme masa mudanya ketika sedang rajin mengonsumsi Spaghetti Western. Kedua, pemeran Django sendiri bukanlah seorang kulit putih seperti halnya Nero di masa lalu. Sekarang sang sutradara memilih Jamie Foxx, seorang kulit hitam yang bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan berperan menjadi koboi!

Django Unchained dibuka dengan adegan khas Tarantino: Obrolan panjang yang absurd. Reservoir Dogs punya delapan orang berbincang di restoran riang gembira membahas apakah pantas seorang pelayan diberi tips. Pulp Fiction punya obrolan Pumpkin dan Honey Bunny di restoran sebelum mereka memutuskan untuk merampoknya. Inglorious Basterds? Inilah adegan favorit saya ketika Hans Landa dengan sangat mencekam menanyai Perrier LaPadite tentang keberadaan orang-orang Yahudi di rumahnya. Django Unchained juga tak kalah. Ia punya adegan mencekam ketika Dr. King Schulz hendak membeli seorang budak bernama Django dari majikannya yang bernama Speck Bersaudara. Adegan pembuka ini saya nilai sangat berhasil dan sama sekali mencerminkan satu karakter yang khas dari Tarantino -apalagi ketika adegan pembuka ini diawali dengan kesunyian dan kemudian diakhir dengan desing tembakan yang brutal-.

Django Unchained kemudian lebih banyak diwarnai dialog. Namun dalam dialog ini, Tarantino sedikit kehilangan keabsurdannya. Ia sepertinya ingin lebih banyak membangun emosi penonton lewat bagaimana orang kulit hitam ditindas di masa itu -tidak mau membuang-buang waktu dengan obrolan seperti pijat kaki di film Pulp Fiction-. Walhasil, obrolan-obrolannya cenderung "garing" dan sengaja dibuat sesekali konyol hanya agar penonton tidak terlalu serius dalam menanggapi sejumlah adegan penindasan terhadap orang kulit hitam yang dibuat terang-terangan (jika bukan karena Tarantino yang membuat, mungkin sudah banyak kritik yang disematkan bagi film ini. Kita tahu bahwa Tarantino memang blak-blakan tentang orang kulit hitam, salah satunya dengan tetap menyebutnya "negro" atau "nigger"). Namun tetap dari segi kualitas dialog, saya tidak merasa terkenang oleh satu percakapan. Sangat berbeda dibanding film-film sebelumnya dimana saya bisa hafal sejumlah dialog yang dirasa sangat kuat meski tengah membicarakan sesuatu yang kurang penting. 

Namun Django Unchained seperti menunda orgasme agar klimaks secara enak. Dengan dialog yang panjang dan bertele-tele, ia sukses menjadikan seperempat akhir filmnya penuh aksi brutal-berdarah yang estetik -sekali lagi khas Tarantino-. Ia juga sukses membuat penonton bertepuk tangan riuh pada tokoh Django yang dibuat simpatik sejak awal. Tarantino tidak hendak membuat film filosofis, multi tafsir, dan membuat kening berkerut-kerut. Ia tidak sedang membuat Pulp Fiction atau Kill Bill vol. 2 yang tidak bisa ternikmati dalam sekali lihat. Django Unchained memang film ringan dengan tokoh protagonis dan antagonis yang jelas.

Kematangan sang sutradara terlihat dari hal ini: Selalu ada adegan dialog mencekam dalam filmnya yang lain, namun hampir selalu adegan tersebut diakhiri dengan mexican stand-off dan tembak-tembakan brutal. Django Unchained tidak. Adegan dialog yang penuh ketegangan ini tidak selalu akan berujung pada adu tembak. Penundaan inilah yang justru asyik dan menunjukkan ada kehebatan Tarantino dalam mengatur alur agar penonton menunggu-nunggu kapan aksi koboi Django mencapai puncaknya. Terakhir adalah cerita yang brilian dan terasa pantas mengapa Tarantino masuk nominasi Oscar untuk best original screenplay. Tidak ada yang lebih gila dari ide mengangkat seorang Django yang berasal kulit hitam. Ia datang sebagai pembebas, sebagai mesias, sebagai seorang yang menantang hegemoni.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...