Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Warung


Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012.

Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."

Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia." Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.

Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, common sense saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"?

Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!

Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada trust disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.

Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-training berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.

Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!

Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.

Comments

  1. Superb!
    *sambil seruput kopi "kapitalis" seduhan sendiri*

    ReplyDelete
  2. Syarif, kalau para filsuf lahir dari warung kapitalistik, kira-kira tulisannya bakal seperti apa?

    ReplyDelete
  3. tulisannya bakal kaya Marzuki Alie, ditulisin sama orang lain! hahaha.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...