Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Kawanku banyak yang Katolik. Mereka memuja Yesus Sang Mesias. Tapi mengapa aku tak tertarik? Padahal sempat mampir beberapa kali di katedral. Karena aku tak menemukan banyak hal yang beda, dari sembilan puluh menit berada di Camp Nou. Disini bisa menampung seratus ribu jema'at, lebih banyak dari katedral manapun di dunia. Sama-sama menggemuruhkan gumam puja-puji. Sama-sama bersatu dalam lautan emosi gembira, sedih, hingga jerit peri.
Itu Tuhanku: Lionel Messi. Messi, Il Nostro Dio. Dari kedua kakinya, aku tak tahu dimana lapar dan dahaga. Dari kelincahannya, hatiku tak berhenti menyebut ia. Dari kerendahan lakunya, aku mau berbagi cinta dan berpasrah diri. Dan golnya adalah ledakan ekstase vertikal mahadahsyat. Messi sang juruselamat.
Messi akan mati. Messi akan berhenti. Berhenti dari sepakbola. Tapi altar pemujaanku akan senantiasa berdiri.
Itu Tuhanku: Lionel Messi. Messi, Il Nostro Dio. Dari kedua kakinya, aku tak tahu dimana lapar dan dahaga. Dari kelincahannya, hatiku tak berhenti menyebut ia. Dari kerendahan lakunya, aku mau berbagi cinta dan berpasrah diri. Dan golnya adalah ledakan ekstase vertikal mahadahsyat. Messi sang juruselamat.
Messi akan mati. Messi akan berhenti. Berhenti dari sepakbola. Tapi altar pemujaanku akan senantiasa berdiri.
"Maka, Messias. Aku berdoa kepadamu: Jika derita dan kemiskinan ini tak mampu kau singkirkan dari hidupku yang pilu, maka cukup berikan aku hiburan, harapan, dan alasan. Alasan mengapa aku mesti tetap menjejak bumi ini meski segala denyutnya adalah derita."
Comments
Post a Comment