Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Kawanku banyak yang Katolik. Mereka memuja Yesus Sang Mesias. Tapi mengapa aku tak tertarik? Padahal sempat mampir beberapa kali di katedral. Karena aku tak menemukan banyak hal yang beda, dari sembilan puluh menit berada di Camp Nou. Disini bisa menampung seratus ribu jema'at, lebih banyak dari katedral manapun di dunia. Sama-sama menggemuruhkan gumam puja-puji. Sama-sama bersatu dalam lautan emosi gembira, sedih, hingga jerit peri.
Itu Tuhanku: Lionel Messi. Messi, Il Nostro Dio. Dari kedua kakinya, aku tak tahu dimana lapar dan dahaga. Dari kelincahannya, hatiku tak berhenti menyebut ia. Dari kerendahan lakunya, aku mau berbagi cinta dan berpasrah diri. Dan golnya adalah ledakan ekstase vertikal mahadahsyat. Messi sang juruselamat.
Messi akan mati. Messi akan berhenti. Berhenti dari sepakbola. Tapi altar pemujaanku akan senantiasa berdiri.
Itu Tuhanku: Lionel Messi. Messi, Il Nostro Dio. Dari kedua kakinya, aku tak tahu dimana lapar dan dahaga. Dari kelincahannya, hatiku tak berhenti menyebut ia. Dari kerendahan lakunya, aku mau berbagi cinta dan berpasrah diri. Dan golnya adalah ledakan ekstase vertikal mahadahsyat. Messi sang juruselamat.
Messi akan mati. Messi akan berhenti. Berhenti dari sepakbola. Tapi altar pemujaanku akan senantiasa berdiri.
"Maka, Messias. Aku berdoa kepadamu: Jika derita dan kemiskinan ini tak mampu kau singkirkan dari hidupku yang pilu, maka cukup berikan aku hiburan, harapan, dan alasan. Alasan mengapa aku mesti tetap menjejak bumi ini meski segala denyutnya adalah derita."
Comments
Post a Comment