Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Merayakan Tubuh



Resital yang digalaukan berakhir jua. Saya takkan membahas hasil atau review si acara, apalagi analisis. Ini tulisan tentang bagaimana keadaan tubuh saya pra dan pasca konser, yang mana terasa bedanya. Mulai dari sebulan sebelum acara, saya bersikap keras pada tubuh. Ia didisiplinkan terus menerus lewat jadwal latihan nan ketat. Tidur malam seringkali kurang akibat latihan, dan esoknya mesti bangun pagi sekali, juga untuk latihan. Oh, saya sedang membicarakan latihan dalam format trio dan kuartet, ini belum latihan sendiri sebelum latihan. Ah pokoknya latihan dan latihan. Pada titik kelelahan yang amat sangat, tersadar ada benarnya mensana in corporesano: Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat, atau jika dibalik: Kala tubuh luluh lantak, jiwa kehilangan tempat berpijak.

Dalam konteks tertentu, tetek bengek dualisme (Cartesian terutama), bahwa tubuh dan jiwa adalah berbeda, bisa benar juga. Namun, bagi saya, itu semata-mata untuk keperluan praktis. Ketika saya sakit demam, maka mudah untuk mengatakan tubuhku sakit. Ketika saya diputus cinta, maka akan mudah mengatakan jiwaku yang sakit. Memudahkan pergaulan bukan? Padahal, saya setuju pada Marleau-Ponty, bahwa manusia adalah tubuh yang merruh (beliau tak memakai istilah jiwa) dan sekaligus ruh yang menubuh. Dalam satu artikel Bambang Sugiharto, saya pun setuju, ketika ia bilang, bahwa filsafat seolah memenuhi keingintahuan nalar, padahal ia mencoba memuaskan dahaga batin yang terdalam. Nietzsche menambahkan, bahwa setiap organ tubuh punya kecerdasannya masing-masing, otak hanya salah satunya saja. Jari punya, mata punya, hidung punya, dan lain-lainnya, juga punya. Foucault mengkritik Plato yang mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Terbalik, Plato: jiwalah penjara tubuh.

Argumen saya sepertinya kacau dan comot sana-sini sembarangan, tapi intinya begini: demarkasi tubuh-jiwa, jangan-jangan cuma soal bahasa. Aslinya tak ada beda antara keduanya. Kau makan, masuk ke tubuh, hatimu senang. Kau lapar, tubuh tak bernutrisi, kau mudah marah. Kau berdzikir mengingat Tuhan, agar jiwamu tenang, sadar tak sadar jantung dan nadimu pun ikut tenang. Kau memberikan sebagian jiwa untuk seseorang, mendadak tubuh menjelma jadi sebagian jiwamu yang lain. Kau kehilangan sebagian tubuhmu, jiwamu sejenak meratapi, tapi jadilah ia menubuh di kemudian hari. Kau menahan lapar dan haus kala puasa, maka cuma jiwa yang mampu jadi pemuas dahaga.

Hari ini kubiarkan ia, tubuhku, begadang semalaman, untuk kemudian bangun agak siang. Ia layak mendapat perayaan, karena sukses mengatasi disiplin dan tempaan. Kau layak mendapat apapun sesuka hasrat. Amor Fati: Cintailah kehidupan. Tenggak anggur Dyonisus, dan mabuklah bersama malam dan bintang. Kala kau terbangun kemudian, berkacalah ke air di danau, seperti Narsissus memandangi dirinya. Disana akan kau dapati, oh tubuh, bahwa bayanganmu tak lain adalah jiwamu jua.

Terima kasih untuk yang telah sengaja datang dan mendukung resital kami, semoga Bach memberkati.

Comments

  1. terkadang kita selalu merasa memiliki dan mengetahui tubuh yang serba bodoh ini, yang rentan oleh sakit kepala, perut, gigi, pegal, linu, nyeri otot...ahhhh....
    untung uda ada apotik ma obat warung :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih untuk yang telah sengaja datang dan mendukung resital kami, semoga Bach memberkati.

    aing mah teu sengaja datang. tapi dipaksa jadi MC. hohoho.

    ReplyDelete
  3. pan geus badminton.. emang eweuh epekna nya? mun di pikir-pikir, para musisi klasik itu, hidupnya rock n roll pisan, tapi kok ya punya stamina yang oke buat bikin karya-karya jenius macam itu.. tah mun kitu kumaha? walaupun akhirnya mati juga dengan kebobrokan badannya masing-masing..

    ReplyDelete
  4. @Artcoholic: enya, untung ada quran dan hadits untuk mengobati jiwa yang serba galau ini.
    @Pirhot Nababan: Ah maneh sengaja datang untuk mengobati galau kronis maneh pan.
    @vitarlenology: Menurut sejarah, komposer sih nu rada rock n roll mah, terutama nu jaman klasik dan romantik. Mun Bach mah gaya hidupna masih sehat dan "wajar". Mun musisi klasik mah sepertinya mesti prima sebelum tampil. Tapi, ya itu tadi, pas kita mengalami sesuatu pada tubuh, maka jiwa yang pertama nge-back-up. Teuing bener teuing henteu nya, nu penting keren heula we. Hahahaha.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...