Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mengenang Romo B. Herry Priyono

MENGENANG ROMO B. HERRY PRIYONO

galau

Hari ini hati begitu mendung, mendengar kabar Romo Herry Priyono, dosen saya di STF Driyarkara, meninggal dunia. Segalanya begitu mendadak, karena baru saja delapan hari lalu, saya melihat Romo bicara di Philofest ID dan seperti biasa, tampak sangat sehat dan bergairah. Perkenalan saya dengan Romo Herry mungkin baru sekitar dua tahun, dan tentu saja banyak yang sudah lebih lama kenal dengan beliau, terutama mereka yang kuliah di STF Driyarkara sejak S1 dan S2 (saya sendiri baru masuk tahun ini di program S3, meski sudah diajar beliau sejak program Matrikulasi). Meski perkenalannya relatif singkat, namun saya merasakan suatu kesedihan sekaligus kehilangan yang amat besar. Saya bertanya-tanya: mengapa bisa seperti itu?

Padahal, di sisi lain, ada sejumlah kenangan kurang enak berkaitan dengan beliau. Misalnya, di kelas pengantar filsafat yang diampu beliau di program Matrikulasi, saya pernah datang terlambat. Beliau melarang saya masuk kelas, meski saya jelaskan bahwa keterlambatan disebabkan oleh penundaan jadwal kereta api yang saya tumpangi dari Bandung. Beliau tidak menerima alasan apapun: terlambat ya terlambat. Akibat keterlambatan itulah, saya jadi harus mengulang program Matrikulasi di semester depannya, yang artinya menyia-nyiakan waktu studi sekitar enam bulan.

Ketika saya sudah lulus program Matrikulasi dan masuk ke studi doktoral, usul saya untuk mengangkat tema demotivasi juga kerap ditanggapi dingin oleh Romo. Romo pernah mengatakan kalau tema demotivasi ini seperti "fiksasi" dalam diri saya, seolah-olah semacam ambisi pribadi yang terbawa-bawa hingga ke toilet dan alam mimpi. Kata Romo, "Ide ini cocoknya untuk pamflet, bukan untuk jadi satu disertasi akademik." Dalam e-mailnya yang terakhir, beliau bahkan mengingatkan secara halus, jika saya meneruskan topik ini, saya bisa jadi bahan tertawaan di antara para ahli.

Pertanyaan kemudian muncul lagi: dengan serangkaian kenangan buruk semacam itu, mengapa saya bisa begitu sedih dan kehilangan?

Ternyata kesan-kesan kurang baik di atas, tidak bisa menutupi kekaguman saya pada disiplin dan kecerdasan seorang Romo Herry. Romo Herry punya kedisiplinan soal waktu, itu jelas, tapi tidak hanya itu: beliau juga sangat disiplin dalam hal berpikir. Saat menerangkan suatu gagasan, Romo Herry selalu rapi dalam menyusun premis-premis hingga sampai pada kesimpulan. Ia juga setia pada keketatan teks, yang membuatnya begitu hati-hati untuk mengeluarkan pendapat sendiri. Sungguh suatu sikap yang langka, ketika orang berbondong-bondong mengumbar opini sesuka hati, dan menganggap tidak perlu untuk mengacu pada pemikiran siapapun. Di sinilah saya mendapat pelajaran luar biasa: Belajar filsafat bisa membawa kita pada sikap rendah hati, karena sadar bahwa jangan-jangan segala sesuatunya, sudah pernah dipikirkan oleh orang lain dan kita hanya bisa meneruskan atau mengembangkan saja.

Selain itu, secara personal, saya yakin, Romo Herry juga mengingat saya tidak selalu dalam konteks yang buruk-buruk amat. Saat e-mail saya tidak dibalas lagi oleh beliau, saya curiga Romo sudah bosan berkomunikasi dengan saya yang keras kepala. Ternyata tidak. Di pertemuan kami yang terakhir di kelas Etika Spesialistik, Romo mengatakan begini, "Maaf Syarif, saya tidak membalas e-mail-mu, karena saya memikirkannya sungguh-sungguh. Saya baru mendapatkan insight untuk memberikanmu satu nama pemikir yang mungkin cocok. Namanya, Thomas Lemke, dia orang Jerman dan masih hidup." Saya, yang menggebu-gebu, langsung merespons seperti ini: "Siap, Romo, saya langsung pesan bukunya." Romo langsung mencegah, "Bukan, bukan seperti itu caranya. Silakan baca-baca dulu dari internet secara perlahan, lalu resapi, baru kamu mulai memesan bukunya. Jangan tergesa-gesa."

Meski perjumpaan kami singkat, masih banyak yang bisa saya ceritakan tentang Romo Herry. Misalnya, saya terkesan dengan gairahnya dalam mengajar. Ia tidak hanya berbicara saja dan diam di satu tempat saat di kelas, melainkan terus bergerak sekaligus bercerita dengan gerak tubuhnya. Romo Herry juga dalam beberapa kesempatan selalu menanyakan apakah saya sudah ada di ruangan Microsoft Teams atau belum - "Apakah si Syarif sudah masuk?" -. Saya tidak tahu mengapa Romo menanyakan saya yang kurang signifikan ini. Mungkin menurut Romo, saya adalah orang yang sangat nakal, yang wajib mendapat tempaan ilmu di kelasnya, agar tidak menjadi pemikir yang salah jalan. Sungguh, apapun maksud beliau menanyakan itu, tidak mencegah saya merenungkan ini: Bahwa kematian seorang manusia yang demikian punya kecintaan total terhadap pengetahuan, adalah kehilangan besar untuk seluruh umat manusia.

Terakhir, dengan segala duka, saya menutup tulisan ini dengan perkataan Romo Herry sendiri: "Tidak ada yang sempurna, selama segala sesuatu itu masih ada di dunia."

Maka itu, selamat mencapai kesempurnaan, Romo. Terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...