Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Lelah karena sampai terminal bis Bandar Tasik Selatan pada jam enam pagi, sementara pesawat baru tinggal landas pukul enam maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk mencari hotel transit. Katanya ada, hotel yang bayarnya jam-jaman.
Memang betul, ada yang namanya Rest & Go Motel. Bayarnya per jam lima belas Ringgit atau sekitar Rp. 55.000. Kami kira ini semacam kamar konvensional dengan kasur dan ruangan yang kita semua paham. Tapi kenyataannya, yang kami tempati adalah semacam kapsul, dengan panjang sekitar tiga meter, lebar satu meter, dan tinggi satu setengah meter (saya kurang baik soal geometri, ini perkiraan saja).
Di dalamnya sudah dilengkapi hal yang diperlukan manusia kontemporer yaitu sambungan listrik untuk menambah daya baterai ponsel atau laptop. Ukuran ranjang cukup untuk satu orang saja, dengan satu bantal dan satu selimut (konon kapsul besar bisa memuat dua orang).
Meski kebutuhan tidur lumayan tercukupi karena berhasil terlelap satu setengah jam dari total sewa dua jam, ada hal yang berulangkali mengganggu benak saya: Sudah sejauh inikah manusia, hingga sudah bisa menyediakan kapsul untuk tidur? Ini sudah menyerupai film-film distopia yang saya tonton sejak kecil, seperti Judge Dredd, 2001: A Space Odyssey, atau Blade Runner. Saya menyaksikan film-film tersebut tidak dalam semangat yang berapi-api menyaksikan masa depan peradaban, tapi dalam perasaan sepi yang mendalam (itu sebabnya disebut distopia dan bukan utopia).
Tapi apa arti yang lebih mendalam, dari keberadaan kapsul-kapsul itu? Bahwa dalam hidupnya yang kian pragmatis, tidur, bagi manusia, hanyalah kebutuhan fisiologis yang seyogianya bisa diatasi dengan singkat. Tidak ada yang serius tentang tidur kecuali sebuah aktivitas yang menjadi "rintangan" dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Maka berdasarkan fenomena manusia kapsul itu, berbahagialah mereka yang masih menjadikan tidur sebagai "ritual suci", yang masih menjadikan tidur sebagai kegiatan yang lebih inti dari seluruh kesibukan.
Namun lebih daripada itu, ada semacam persekongkolan yang membuat kita harus menuju kapsul itu, dan ini saya perhatikan tidak hanya di Bandar Tasik Selatan, tapi juga di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) alias bandara di Kuala Lumpur. Mereka juga punya hotel kapsul yang serupa dan kita, yang menunggu lama, nyaris tidak punya pilihan kecuali menyewa kapsul.
Sesekali perhatikan desain kursinya dan segala macam yang ada di bandara, yang seyogianya bisa digunakan untuk istirahat. Semua dibuat sedemikian rupa agar kita tidak nyaman terlelap. Duduk di sofa pijit tanpa membayar, akan ada alarm berbunyi; tiduran di kursi bandara adalah tidak mungkin nyaman karena antar kursi ada semacam lengan yang membuat kita kesakitan jika berbaring di atasnya; adapun duduk barang sejenak untuk istirahat di teras motel, kita dikenakan lima ringgit atau hampir dua puluh ribu Rupiah per jamnya.
Ini semua konspirasi mengerikan, yang mengarahkan kita menjadi si manusia dalam kapsul!


Comments
Post a Comment