Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Norwegian Wood: Absurd, Erotis, dan Eksistensial

Pertama kali saya mendengar nama Haruki Murakami adalah dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Tidak banyak yang diceritakan Mas Heru soal siapa Murakami ini. Ia cuma bilang bahwa Murakami adalah seorang penulis yang juga rajin mengikuti kompetisi maraton. Pernah Mas Heru mengirimi beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Murakami tapi saya mengabaikannya. Namun entah kenapa, di suatu Sabtu ketika saya sedang berjalan-jalan di toko buku, ada buku Norwegian Wood terpajang di jajaran buku unggulan. Ada energi aneh yang menarik saya untuk membelinya. 

Buku ini memang mempunyai energi yang aneh sekali. Jika kamu ingin tahu apa yang diceritakan dalam Norwegian Wood, maka saya akan mengatakan bahwa buku ini tidak lebih dari sekadar percintaan remaja usia 20-an. Dua orang saling mencintai, lalu terdapat orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sehingga suasana menjadi repot. Namun yang menjadi titik berat Murakami adalah bagaimana ia menceritakan kisah cinta itu. Meski ceritanya sederhana, namun ia fokus pada apa yang bergulat dalam batin tokoh per tokoh mulai dari Watanabe, Naoko, Midori, Nagasawa, Reiko, hingga Hatsumi. Kita akan menemukan bahwa setiap tokoh ternyata merupakan pribadi kompleks yang untuk menjelaskannya dibutuhkan penelusuran historis secara teliti agar tahu bagaimana pemikirannya dapat terbentuk.

Murakami jelas bukan penulis sembarangan. Ia tampak jelas sebagai orang yang berwawasan luas dan membaca banyak hal. Dalam bukunya tersempil nama-nama beken seperti Jim Morrison, Miles Davis, The Beatles, Burt Bacharach, Scott Fitzgerald, Hermann Hesse, Yukio Mishima hingga yang klasik-klasik seperti Sophocles, Euripides, Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Maurice Ravel. Tema ceritanya yang absurd dan eksistensialitik juga menunjukkan bahwa ia sangat mungkin membaca filsafat eksistensialisme dari tokoh-tokoh Barat. Keterasingan, keterlemparan dan pertanyaan akan makna hidup, rajin diletupkan dalam Norwegian Wood agar perasaan kelam ketika membacanya tetap terjaga.

Teknik menulis dari Murakami juga tidak boleh luput dari pujian. Ia menulis dengan gaya yang aneh sekali. Kadang terasa realistis, kadang terasa surealistis dan keduanya tidak bisa dipisahkan secara tegas. Kadang terasa sangat serius hingga membuat kening mengkerut, kadang terasa amat jenaka hingga membuat saya tertawa berderai air mata. Ia juga pandai membuat distraksi-distraksi yang aneh sehingga pembaca merasa terganggu tapi juga terjaga untuk tetap berkonsentrasi. Seperti misalnya ketika Naoko dan Watanabe tengah berbincang mengenai kakak dari Naoko yang meninggal oleh sebab bunuh diri, tiba-tiba Watanabe mengatakan bahwa penisnya tengah mengeras. Naoko dengan seketika membantu Watanabe agar orgasme dengan tangannya dan setelah itu mereka berdua kembali berbincang meneruskan apa yang tertunda.

Apakah dengan demikian Norwegian Wood adalah novel erotis? Jika dikatakan demikian, ada benarnya juga. Murakami dalam novel ini memang rajin sekali menyelipkan cerita-cerita yang membangkitkan imajinasi seks yang liar. Namun sekali lagi, ia membungkusnya dengan gaya penceritaan yang manis dan tidak membawa pada kevulgaran yang berlebihan. Murakami pandai sekali memainkan komposisi sehingga meski ceritanya sederhana, namun tetap terjaga tempo maupun kedalamannya. Jangan lupakan juga kerja dari penerjemah Jonjon Johana yang pastinya turut berandil menjaga kebaikan bahasa dari Murakami. Ini adalah buku yang wajib dibaca di segala jaman. Saya merasa bahwa novel ini salah satu yang terbaik yang pernah saya baca. Hidup saya murung untuk beberapa waktu dan mungkin juga untuk waktu yang lama setelah membacanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...