Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek

Edmund Husserl (1859-1938), seorang matematikawan asal Jerman, suatu hari pernah merumuskan demikian: Bahwa dunia keilmuan masa itu, dengan segala dalil subjek-objeknya, justru telah gagal menjelaskan dunia keseharian (lebenswelt). Ilmu positif telah gagal menjelaskan pernyataan-pernyataan personal seperti, "Hari yang sendu," "Air yang suci," "Cinta yang mendalam," hingga "Tuhan yang dekat denganku." Para saintis lupa bahwa dalam dunia keseharian, apa yang dialami oleh subjek sebagai ada, itu justru yang lebih esensial ketimbang dunia yang dikonstruksi oleh distingsi subjek-objek yang miskin. Pak Bambang pernah mencontohkan pemikiran Edmund Husserl ini dengan sangat baik. Bahwa air, bagi dunia positif dirumuskan dalam H20. Tapi fenomenologi (ilmu yang kemudian dikembangkan oleh Husserl), mengatakan bahwa sah-sah saja jika air kemudian mempunyai makna yang berbeda-beda bagi individu yang berbeda-beda pula. Air bisa sangat luas, bisa sangat personal maknanya, mulai dari berwudhu hingga penyembuhan. Air yang disepahamkan lewat H20 dianggap Husserl sebagai pemiskinan terhadap makna air itu sendiri.

Mari kita menjauh sedikit dari Husserl, dan membahas apa yang kami lakukan di setiap hari Minggu, minggu keempat. Kami berkumpul dalam satu forum, meminta masing-masing orang untuk membawa satu lagu favoritnya dalam format flashdisk. Setelah dikumpulkan lagu-lagu tersebut dalam satu laptop, kami putar satu per satu, didengarkan dengan seksama, dikomentari sekenanya. Selesai.


Adakah yang istimewa? Tergantung dari sudut pandang mana kau memandangnya. Tapi mari kaitkan dengan fenomenologi Husserl di paragraf pertama, dan mari berkaca pada realitas bagaimana musik diperlakukan hari ini. Musik, bagaimanapun telah menjadi salah satu objek akademik yang maju cukup pesat sejak era Romantik Eropa. Ia sukses dipelajari, dibedah, diilmiahkan, diobjektivikasi dan disepahamkan. Sebelumnya, musik hanya digunakan untuk dua kepentingan besar: religi dan hiburan. Seiring perkembangan media massa, musik pun menjadi ikut-ikutan massal. Ia diproduksi dalam piringan dan bit-bit data, disebarluaskan dan dibunyikan dimanapun tempat-tempat yang punya pemutar: mobil, mal, diskotik, bioskop, hingga ruang perkantoran.

Masifikasi memang selalu bertentangan dengan eksklusifitas. Yang massal menenggelamkan keunikan. Musik menjadi sesuatu yang "terlampau biasa". Dalam keseharian, kita bisa mendengarkan mulai dari Bach hingga Justin Bieber tanpa mampu difilter. Ia menubuh dalam gerak rutinitas kita dan terkadang bermukim dalam bawah sadar. Namun kemudian hal itu bukan sesuatu yang buruk. Karena dengan berpadunya musik dan keseharian, artinya ada musik-musik tertentu, bagi individu tertentu, yang begitu lekat dengan hari-harinya. Saya ingat betul masa-masa SMP dan SMA adalah masa dimana Metallica adalah musik pertama yang harus didengarkan sewaktu bangun tidur, dan musik terakhir yang wajib disetel sebelum terlelap. Saya juga tidak bisa begitu saja mengejek lagu-lagu request dari pengantin yang rata-rata seputar From this Moment, I Finally Found Someone, atau Lucky. Karena bagi individu-individu tersebut, barangkali sang lagu punya nilai sejarah yang tak bisa diobjektivikasi dengan cara apapun. Ia berharga tinggi karena sejarahnya itu sendiri. Seperti halnya kaos sepakbola saya yang bernomor punggung 19 waktu SMP. Masih saya simpan dan meskipun kelak saya masuk tim AC Milan, saya tidak akan sekali-kali membuangnya.

Fenomenologi Husserl pada akhirnya berupaya keras meruntuhkan sekat subjek-objek yang telah mendominasi dunia ilmiah Barat sejak era Cartesian. Ia berusaha mengembalikan segala sesuatu pada keseharian, "yang benar adalah yang dekat". Ia berusaha mengritisi bahwa upaya penyepahaman adalah upaya yang sia-sia karena patut kita curigai bahwa ada klaim kekuasaan disana.

Sehingga para pengikut sekte edisi Playlist, tak perlu khawatir kelak ada upaya penyepahaman dari kami. Sesungguhnya musik yang kalian bawa adalah bagaikan baju piyama yang kalian pakai sebelum ke peraduan. Ia milik pribadi, ia bagian dari darah daging kalian sendiri. Datanglah hanya untuk menunjukkan inilah piyama saya yang lusuh. Terserah kalian mau meniru coraknya, mencontoh modelnya, atau bahkan mengatai kotor tentangnya, yang penting piyama ini berarti bagi saya.

Comments

  1. Rif, di KlabKlassik bahas musik industri dong.. kayaknya seru tuh..

    ReplyDelete
  2. 8 Mei ini masih kosong, Nia. Lagi diobrolin nih bagusnya apa.

    ReplyDelete
  3. mantap, fenomenologi musik..contoh yg tepat sasaran :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...