Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Islam (2)

 

"Semua agama baik, tapi tidak semua agama benar."

Di masa kecil saya, sering terngiang kalimat itu, yang keluar dari mulut tante. Kalimat tersebut mengacu pada agama Islam yang kami anut. Saya pikir itu kalimat keren, bijaksana, dan membuat pelbagai persoalan keagamaan menjadi sangat jelas. Ini adalah kalimat tegas dan anti-pluralisme, membuat asing segala yang liyan. Memicu pandangan untuk menilai the others sebagai sesat dan hina. Rendah.

Beranjak besar, lagi-lagi kalimat itu semakin terfalsifikasikan. Ini terpicu oleh pergaulan saya yang banyak diantaranya adalah non-muslim, terutama dari kalangan musik klasik. Saya melihat budi baiknya, keyakinannya akan agama yang dia anut, serta toleransi antar beragamanya, membuat saya berpikir, "masa sih mereka-mereka ini termasuk orang 'bersalah', dan maka itu masuk ke neraka?"

Saya semakin bulat menyatakan bahwa semua agama juga benar dan membenamkan jauh-jauh kalimat si tante, terutama setelah masuk bangku kuliah yang notabene institusi Katolik, lalu hingga puncaknya, mempelajari filsafat. Dari situlah agama dibedah, dan akhirnya pemahamannya bermuara pada agama juga punya kelemahan. Agama tak lebih dari sekedar salah satu jalan kebenaran, disamping tiga lainnya, yakni seni, sains, dan filsafat. Agama juga jika ditelaah, punya aspek ilusoris yang malah bisa membawa penganutnya pada kekerasan alih-alih perdamaian. Agama juga justru dapat menjadi aspek yang menghancurkan spiritualitas atau semangat keilahian itu sendiri. Aneh bukan?

Tapi segalanya meluntur pelan-pelan setelah saya menemukan bahwa filsafat ini mentok. Pikiran ini terbatas. Ujungnya, kebenaran adalah persoalan apa yang kita percayai. Kelunturan itu menemui puncaknya ketika saya melaksanakan ibadah umrah. Dari situ saya tergetar untuk percaya, bahwa ya, Islam ini adalah kebenaran yang saya anut dan saya yakini. Yang lain benar juga, tapi tak usah diambil pusing. Biarlah mereka benar, dan saya pun benar. Kemudian nanti siapa tahu Tuhan tak perlu memilih mana yang benar, tapi Tuhan akan menampung semuanya jadi satu dan agama itu tak jadi berarti lagi. Tapi jika harus menempuh cara mana yang saya ambil, ya ini, cara Islam ini, saya putuskan.

Apakah selesai disitu, secara prinsipil? Tidak euy, ternyata. Pasca umrah, euforia "temuan kebenaran" saya bertahan cuma sebentar, hingga akhirnya saya berjumpa seorang sahabat bernama Kang T, yang sukses menggalaukan saya hingga kini. Hehehe. Awal mulanya begini, saya menceritakan euforia saya tentang literatur terbaru mengenai para Sahabat, alias khulafaurrasyidin. Dengan pemahaman saya yang baru dimabuk wawasan soal keislaman, saya cerita keteladanan beliau-beliau, seolah-olah Kang T ini tak paham yang begituan. Lalu setelah puas mendengarkan saya berbicara, dia menjawab singkat: "Hati-hati membaca itu. Karena yang teladan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib r.a. Tiga sahabat yang lain (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) berkonspirasi untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah. Padahal jelas Rasul mengamanatkan kekhalifahan Islam pada Ali jika beliau wafat." Mendengar ini, jelas saya tergoncang. Bagaimana mungkin? Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang jelas-jelas dalam literatur (yang saya baca), ditinggikan derajatnya, tapi kemudian dituduh melakukan teori konspirasi mahabesar?

Saya memutuskan untuk tidak berkesimpulan apa-apa, kecuali setelah membaca literatur lebih lanjut. Akhirnya saya tahu ini adalah bentuk pemahaman dari kelompok Syi'ah. Kalau ditanya, dimanakah saya berpijak? Saya konon bernama Sunni, atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, yakni mereka yang berprinsip bahwa khulafaurrasyidin ya begitu adanya, sesuai urutan: Abu Bakar - Umar - Utsman - lalu Ali. Sialan, saya pikir Islam ini satu adanya. Memang saya pernah dengar soal perbedaan prinsip NU, Muhammadiyah, dan Persis, tapi tidak terlalu ambil pusing. Yang ini, entah kenapa, kok mengganggu saya ya? Akhirnya saya memutuskan untuk bertemu Kang T dan mengobrol lebih jauh dengan ditemani cilok. Sebagai informasi, Kang T ini orang yang saya kagumi karena budinya yang luhur. Membuat saya merasa tak segan bertanya apa pun, termasuk soal prinsip. Akhirnya saya dipinjami satu buku yang membuat saya tambah galau, yakni Dahulukan Akhlak di Atas Fikih karya Jalaluddin Rakhmat.

Dari buku itu saya ketahui, bahwa pertentangan dalam Islam lebih parah dari apa yang saya perkirakan. Ternyata tak cuma antar Sunni - Syi'ah, tapi juga antar mazhab. Ya, ada empat mazhab besar katanya, Maliki, Syafi'i, Hanafi dan Hanbali. Lagi-lagi saya bertanya, dimanakah posisi saya? Katanya sih, Asia Tenggara konon banyak didominasi oleh Syafi'i. Dan apa yang kemudian bikin saya tercengang? Antar mazhab itu, bisa bermusuhan juga, dan menajiskan satu sama lain. Contohnya, ada yang solatnya diulang karena merasa imamnya berbeda aliran. Adapun pengalaman Kang T sendiri, yang diusir dari suatu masjid karena solatnya berbeda masjid, dan bekas solatnya itu dicuci. Dan banyak sekali yang dipaparkan buku itu yang bikin saya terheran-heran. Kok bisa ya?

Ini bentuk kebodohan saya saja sebenarnya, sebagai seorang pemula di dunia keislaman. Yang sepertinya baru tahu dan mungkin menutup mata terhadap berbagai perbedaan dalam agama saya sendiri. Dan sekarang, setelah saya cukup membuka diri dan bahkan terbelalak karenanya, saya jadi berpikir-pikir, apakah kebenaran itu sesungguhnya? Siapakah Sang Kebenaran itu? Jika memang orang betul-betul mengejarnya hingga mau menyikut dan merendahkan yang lain? Dan yang saya anut sekarang ini, apalah itu, Islam Sunni dengan aliran Syafi'i, betul-betul yang paling benar dibanding mazhab lainnya? Ataukah saya berpijak pada ini, karena saya tak tahu kebenaran yang lain? Semata-mata karena saya tak paham adanya pilihan yang lain?

Lalu omongan bapak saya terngiang di telinga, bahwa "Kebenaran sesungguhnya, adalah pencarian kebenaran itu sendiri." Betul juga, atau dalam bahasa lain, tidak ada surga, surga itu, ya jalan menuju surga itu sendiri. Jika demikian, ekstrimnya, atheis bisa saja masuk surga. Karena usaha dia mencari Tuhan faktanya lebih keras daripada kita-kita yang sudah nyaman beragama. Pada akhirnya, berhubung sedang bersemangat hendak Piala Dunia, bolehlah saya merumuskan ini:

"Orang-orang beragama itu seperti sepakbola. Sesungguhnya masalah selesai jika masing-masing pemain diberi bola seorang satu. Tak ada yang rebutan. Tapi buat mereka kurang seru, maka dibiarkanlah bola hanya satu untuk semua. Berebut semua, demi cantiknya permainan."

Comments

  1. hahhahahah....like this pokoknya.....ayo rif kita main bola lagi....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...