Monday, October 12, 2020

Ulas Buku: Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21


Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” 

Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari politik, jika senantiasa membentuk ragam kategori dalam masyarakat, yang kemudian lewat kategori tersebut, kita bisa melihat bahwa masing-masingnya punya kepentingan yang berbeda? Dengan demikian, jelas mengapa Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politikon”. 

Istilah “filsafat politik”, dalam buku ini, diuraikan dengan jelas – termasuk perbedaannya dengan ilmu politik -, yang seolah menjawab pertanyaan, “Politik kan ‘gitu-gitu aja’, untuk apa difilsafatkan lagi?” Filsafat politik menunjukkan bahwa politik tidak “gitu-gitu aja” dalam arti, mengandung kompleksitas yang menyertakan renungan tentang apa itu negara, apa itu kekuasaan, apa itu idelogi, apa itu konstitusi, hingga apa itu hak asasi manusia. Namun di sisi lain, filsafat politik juga ingin memperlihatkan bahwa di sisi lain, politik adalah “gitu-gitu aja” karena dalam rentang sejarah peradaban manusia, yang dibicarakan adalah perkara yang kurang lebih sama, namun dalam konteks historis yang berbeda – bukankah demikian hakikat mempelajari filsafat: mempelajari pemikiran lampau untuk dicari benang merahnya dengan masa sekarang? -. 

Ke-masa-sekarang-an tersebut ditunjukkan penulis dengan tidak hanya berusaha merangkum pemikiran politik dari masa Yunani Kuno hingga masa modern, melainkan juga meletakkan kontekstualisasinya dengan persoalan kontemporer di abad ke-21. Sehingga dengan demikian, buku ini terasa lengkap dan bergizi, oleh sebab kita tidak dibiarkan hidup dalam bayangan romantisme politik di masa silam (yang cukup komprehensif disajikan), melainkan ditarik untuk berdiskusi perihal hakikat masyarakat yang semakin tidak terikat secara spasial dan temporal, kemajuan teknologi informasi yang memberi keuntungan tapi sekaligus juga persoalan baru, serta kemungkinan berakhirnya globalisasi dalam waktu dekat. 

Meski demikian, dengan segala kelengkapan isinya yang memukau, buku yang diterbitkan bulan Agustus 2020 ini (yang dengan begitu, sedang berada di masa pandemi Covid-19), akan lebih dahsyat jika turut menyertakan sebuah analisis tentang kondisi politik dan masyarakat pasca pandemi, yang kemungkinan besar akan mengalami perubahan drastis pada kondisi yang sukar dibayangkan. Penulis beberapa kali menyebut perihal pandemi Covid-19 ini dalam beberapa kesempatan dalam buku, tapi kelihatannya tidak sempat membuat analisis tajam dan serius tentang kondisi yang diakibatkannya. Tentu saja, pemikiran yang bertalian dengan hal tersebut sangat dinanti, meski pada tulisan profesor Budiono yang lain.
Continue reading

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

sontak
Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page.


Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan? 

Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, avant-garde, dengan segala bebunyiannya yang begitu asing di kuping. 

Ada perasaan yang aneh setiap Diecky “berkhotbah” tentang avant-garde-isme ini. Kami kesal karena bebunyian tersebut terasa tidak enak, tapi kami bertahan mendengarkannya dari malam hingga adzan subuh, dan itu berlangsung berbulan-bulan. 

Hingga akhirnya waktu itu datang. Kalau tidak salah di bulan September 2012, Diecky pamit meninggalkan Bandung untuk mengadu nasib di Pontianak. Pertanyaan besar di atas adalah tentang siapa yang bisa menggantikan Diecky perihal militansinya dalam menjadi “misionaris avant-garde-isme” di kota ini, yang kelihatannya masih berputar di wilayah musik dalam konteks nada yang harmonis, performansi yang menghibur, dan soal yang ini, bolehlah, tentang relasinya dengan subkultur dan gaya hidup masyarakat urban. Pertanyaan tersebut benar-benar tidak terjawab, hingga hadirnya kegiatan bernama SONTAK. 
 
SONTAK adalah kegiatan musik yang digelar pada awal September lalu, yang diinisiasi oleh Robi Rusdiana, Dody Satya Ekagustdiman, dan Daniel Hueleflores. Namun kegiatan musik ini bukan kegiatan musik yang tipikal digelar di Kota Bandung. Ini adalah festival “improvisasi bebas” yang masuk hingga ke urusan musik sebagai bunyi, dan tidak melulu urusan nada-nada yang harmonis. 

Jujur, karena selalu bentrok dengan jadwal webinar dan agak khawatir juga berkumpul di keramaian di masa pandemi (karena SONTAK digelar secara luring), saya tidak hadir di satupun acara SONTAK. Meski demikian, saya rajin melihat video-videonya lewat media sosial dan sempat ngobrol-ngobrol dengan Robi dan beberapa pengisi acara yang tampil di sana. Maka dari itu, tulisan ini bukan hendak mendeskripsikan kegiatan secara detail dengan berbagai analisa fenomenologis, melainkan lebih ke melihatnya dari jauh, menempatkannya pada peta besar “perjalanan bebunyian” di Bandung. 

Sebenarnya sebelum ada SONTAK, fenomena sound art juga merebak di kota ini, dengan Bob Edrian sebagai salah satu punggawanya. Sependek pengetahuan saya, Bob bermain musik, tapi ia lebih memposisikan diri sebagai kurator dalam pergerakan sound art. Sound art adalah juga tentang bebunyian, namun inilah yang menarik: genealoginya lebih tepat dikatakan berasal dari jalur seni rupa. Mungkin agak usang juga membicarakan genealogi, karena toh, sejarah bisa diklaim siapa saja (mau seni rupa atau seni musik, sebenarnya tidak jadi soal). Tapi setidaknya begini, bahwa kelihatannya bagi medan sosial seni rupa, sound art bukanlah suatu eksperimen yang mengejutkan, karena dunia seni rupa sering tampak lebih unggul dalam merespons keadaan untuk dituangkan pada medium-medium “baru”. Dalam dunia seni rupa, beralih medium pada tingkat ekstrem itu lebih lumrah – misalnya, menjadikan tubuh sebagai medium, atau merespons kota dan lingkungan hidup dengan menjadikannya juga sebagai medium -. 

Sound art tentu bagian dari peta besar “perjalanan bebunyian” ini, yang masih eksis dan terus diperhitungkan. Tapi dari “jalur” seni musik, sependek pengamatan, kelihatannya memang belum ada terobosan dalam beberapa tahun belakangan. Saya bisa saja salah, karena misalnya, kurang bergaul. Saya akan mencoba berargumentasi sedikit: Sejauh ini ada nama yang bisa ditonjolkan seperti Haryo “Yose” Soejoto, seorang jenius yang punya pengalaman panjang dengan bebunyian dan tinggal di Bandung (dulunya di Yogyakarta, sarangnya musik eksperimental). Kemampuan musiknya tidak usah diragukan lagi, kapasitas mengomposisinya pun luar biasa. Beliau mendirikan dan memimpin sebuah orkestra yang cukup terkenal yaitu Anime String Orchestra. Dalam tahun-tahun belakangan, Anime pasti mengadakan konser rutin, biasanya lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu The Beatles dan sejumlah karya dari band rock progresif 70-an. Bagaimana aransemennya? Dahsyat sekali. Bagi yang paham teori musik dengan segala harmoninya, Yose adalah manusia istimewa. Bagi yang tidak paham teori-teori tersebut pun, musik yang dipresentasikan oleh Anime tetap menawan dan sedap didengarkan.

Persoalannya, jika ini dapat dikatakan persoalan, kemungkinan ada kompromi antara Yose dengan publik Bandung pada umumnya, yang belum tentu dapat menerima idealisme beliau tentang bebunyian. Saya yakin, Yose bisa saja mengeluarkan seluruh pengetahuan dan kemampuannya terkait bebunyian yang eksperimental dan penuh improvisasi bebas, tapi pertanyaannya, apakah pendengar di kota ini, yang notabene lebih sering “cari aman”, mau menerimanya? Selain Yose, tentu saja ada pendekar eksperimental lainnya, sebut saja, Iwan Gunawan dengan ensembel Kyai Fatahillah-nya, Ismet Ruchimat dengan Sambasunda-nya, Dodong Kodir dengan Lungsuran Daur-nya dan tentu saja, Robi Rusdiana sendiri dengan Ensembel Tikoro-nya. Jika melihat ke belakang lagi, pendekar eksperimental itu juga ada, meski tidak banyak, misalnya, dalam sosok Harry Roesli. 

Meski deretan nama besar itu ada, namun SONTAK tetaplah kegiatan monumental yang patut dicatat dalam sejarah “perjalanan bebunyian” di kota ini. Penyelenggaraannya, dengar-dengar, memang mendapat sejumlah hambatan, terutama karena digelar di masa pandemi, yang menjadi rumit karena salah satunya, urusan perizinan. Namun ini bukanlah pokok persoalannya. Kita tidak sedang bicara apakah acara SONTAK itu berhasil atau tidak secara penyelenggaraan, melainkan soal keberanian trio Robi, Dody, dan Daniel, untuk menggelar suatu kegiatan yang aneh, yang bagi penikmat musik pun, belum tentu dapat diterima. Melalui keberadaan SONTAK, para pendekar eksperimental keluar dari laboratorium isolasinya, dan mempresentasikan karyanya dengan gembira – karena selain mendapat panggung, mereka juga punya hal yang tak kalah penting, yaitu jaringan -. Kemungkinannya, dari tadinya para komposer dan pemusik tersebut berjuang masing-masing, lewat SONTAK, mereka dikumpulkan, ditempatkan dalam satu medan sosial, yang bukan tidak mungkin, jika dilakukan secara konsisten, akan menumbuhkan suatu ekosistem penting dalam wacana perbunyian di Indonesia. 

Salut bagi trio penggagas yang menggelar kegiatan yang pastinya asing bagi orang-orang di Bandung. Untuk menggelar SONTAK, tidak hanya memerlukan pengetahuan dan pengalaman berkesenian saja, tapi juga semacam keimanan! Iman ini bukan dibangun dalam satu atau dua tahun, tapi melalui konsistensi berkarya yang tidak sebentar, yang mungkin melalui proses dikritik, digugat, dan dicela, akibat terlalu setia pada sebuah idealisme musik yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk pasar. Orang-orang di Bandung, terutama para apresiator seni, harus disuguhi musik yang sampai pada batas-batas terjauhnya, dan tidak berkutat pada wilayah-wilayah yang nyaman saja. Pada bebunyian eksperimental sebagaimana yang tersaji pada SONTAK, mungkin ada perasaan yang tidak nyaman ketika mengapresiasi, tapi bisa jadi membuat kita bertahan karena penasaran, persis seperti para murid Diecky saat sang guru berkhotbah. Semoga SONTAK dapat digelar secara rutin, untuk memberi wacana tandingan bagi dunia musik yang “itu-itu saja” dan terlalu membuai sampai tidak yakin bahwa di luar sana ada musik yang menjelajah hingga ke area sublim, mempertanyakan hakikat keindahan sampai ke dasar-dasarnya.
Continue reading