Thursday, September 24, 2020

Paku dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Kita Ketahui Tentangnya

(Ditulis sebagai pengantar pameran Ridwan S. Iwonk di Festival Merawat Beda yang diselenggarakan oleh Komuji Indonesia, 22 September – 6 Oktober 2020 di Rumah Komuji, Bandung)




Mari membicarakan paku dari berbagai perspektif. Misalnya, kondisi negeri kita sekarang ini, punya andil benda bernama paku di dalamnya. Iya, kita mencoblos gambar para wakil rakyat, dengan paku yang tajam, seolah-olah kita tancapkan harapan ke dada mereka. Selain itu, jangan lupakan juga dunia klenik di Indonesia, yang menjadikan paku sebagai benda penting untuk dimasukkan pada tubuh orang yang disantet (kelihatannya belum ada perkakas lain yang lebih seram untuk menggantikan paku).

Lebih serius lagi, spiritualitas umat Kristiani dibangun salah satunya oleh benda bernama paku, yang digunakan sedemikian kejamnya, sehingga meneteskan begitu banyak darah Sang Mesias yang bersimbah di sepanjang Via Dolorosa. Darah itu bukan sembarang darah, melainkan darah yang menebus dosa umat manusia. 

Kita paksakan untuk membicarakannya di area yang lebih akademis juga bisa. Pada tahun 1950-an, pemikir dan peneliti asal Rumania, Mircea Eliade, mengajukan ide tentang axis mundi, yaitu semacam “pusat” yang menghubungkan dunia manusia dengan “surga” atau “dunia atas” atau apapun namanya yang sekiranya sepadan dengan wilayah transenden. Axis mundi ini dapat berupa gunung, pohon, atau produk-produk manusia seperti menara, pilar, totem, dan sebagainya. Kebudayaan manapun, kata pemikir lainnya, Claude Lévi-Strauss, selalu punya axis mundi ini, dalam berbagai bentuknya. 

Konsep axis mundi ini terlihat seperti sebuah paku, yang mana gunung dan pohon tidak hanya yang tampak pada permukaannya saja, melainkan juga tentang apa yang “menghujam ke bumi” untuk menghubungkan “dunia sini” dan “dunia sana”. Kapan-kapan bisa coba berselancar mencari kata kunci “Yggdrasil” dan melihat bahwa axis mundi yang dibayangkan oleh mitologi orang-orang Nordik, adalah begitu menyerupai paku. 

Mungkin tidak semua orang senang membicarakan ini, tapi harus dibayangkan bahwa Sigmund Freud pasti akan senang dengan pembicaraan tentang paku. Sebagai seorang psikoanalis yang menganggap bahwa segala tindakan kita dipengaruhi nyaris seluruhnya oleh alam bawah sadar – yang bernuansa hasrat dan insting seksual -, maka ia akan berteriak kencang dan yakin ketika kita berdiskusi tentang paku, “Itu phallus, paku itu phallus!” 

Tapi Ridwan S. Iwonk bukan sedang membicarakan paku seperti Eliade, Lévi-Strauss, Freud, atau pemaknaan kita tentang Yesus di Via Dolorosa. Iwonk – begitu ia biasa dipanggil – sebenarnya sedang mengembalikan paku pada dirinya sendiri, yang jika paku itu disuruh bicara, mungkin akan curhat seperti ini: “Selama ini aku dimaknai begitu mendalam oleh para filsuf, politisi, ahli sejarah, dan bahkan ahli nujum. Aku ingin dipandang sebagai diriku sendiri saja, boleh tidak?” 

Bahasa kerennya, Iwonk tengah melakukan suatu praktik intersubjektif, dengan melihat paku tidak lagi sebagai objek, melainkan subjek. Iwonk memandangi paku-paku itu setiap saat dan berdialog dengan mereka, “Kenapa kok kamu bentuknya agak bengkok?”, “Kenapa kok kamu agak karatan?”, “Kenapa kok kamu kelihatannya lebih kokoh dan tegar dibanding yang lain?”, dan seterusnya, yang mungkin bukan dilakukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, melainkan tahunan! 

Begitu seringnya Iwonk bercengkerama dengan paku-paku ini, hingga ia merasa bahwa kita semua di sini, harus turut merasakan keintiman Iwonk, yang mungkin terasa ganjil tapi juga “sublim”. Untuk memahami kesubliman tersebut, mau tidak mau kita harus pinjam pemikiran orang lain lagi, yaitu Immanuel Kant. Kant, dalam tulisannya yang berjudul Observations on The Feeling of the Beautiful and Sublime, menggambarkan “yang sublim” sebagai sesuatu yang berbeda dengan “yang indah”. Perbedaan yang Kant berikan ini, mungkin bisa membantu kita untuk turut merasakan apa yang sedang dipresentasikan oleh Iwonk, “’Yang indah’ dirasakan sebagai sensasi menyenangkan yang membuat kita gembira dan tersenyum, sementara di sisi lain ‘yang sublim’ adalah sesuatu yang menimbulkan gairah, rangsangan, tapi mengandung semacam horor juga di dalamnya.” 

Iya, bagi yang berharap pameran karya rupa yang ditampilkan Iwonk ini akan menyenangkan hati dan menimbulkan kegembiraan, sebaiknya pergi saja ke taman dan melihat bunga-bunga, atau pergi ke gunung dan melihat kota dari kejauhan (itu juga kalau kotanya tidak tampak kumuh). Sekali lagi, Iwonk tidak mengajak kita pada keindahan, tapi pada kesubliman: Tentang paku yang berbahaya karena ujungnya begitu tajam, yang bentuknya aneh dan sering bengkok-bengkok, yang pada bagian tubuh tertentunya muncul karatan, yang sekaligus perannya begitu besar dalam sejarah, meski kerap dinihilkan, karena itu kan, cuma paku. Iwonk mengajak kita melihat lebih dalam: “Saudara-saudara, tidakkah paku ini indah? Tidakkah ia begitu mengagumkan? Tidakkah ia begitu kecil tapi krusial dalam kehidupan? Perhatikan betapa jeleknya wujud si paku, tapi bisa mengubah peradaban lebih besar daripada kalian yang rajin mematut-matut diri!” 

Kerja kesenian Iwonk tidak berupaya menyenangkan hati dan memanjakan mata kita – seni retinal, jika meminjam kata Marcel Duchamp -, tapi masuk pada upaya membangkitkan kesadaran. Iwonk bekerja di wilayah fenomenologis, dengan membangun konstitusi makna yang baru tentang paku, yang selama ini dianggap orang sebagai “ah, paku doang!”. Karya instalasinya juga tidak diposisikan sebagai altar penyembahan yang seolah mesti steril dari tangan manusia – karena terlalu ilahiah -. Kata Iwonk, “Silakan saja sentuh instalasi ini, jangan ragu-ragu, justru itulah yang diinginkan!” Bahkan jikapun ada orang yang merusak karya Iwonk ini, mungkin Iwonk tidak akan bete-bete amat, karena toh, selama ini, imej tentang paku memang sudah dipandang sebelah mata dalam peradaban, biarkan saja mereka yang masih berpendapat demikian.  

Namun pasti ada suatu maksud mengapa Iwonk berani memajang karya-karya pakunya ini di suatu tema berjudul “Merawat Beda” yang diusung oleh Komuji Indonesia. Memangnya nyambung? Bukankah konsepsi “Merawat Beda” akan lebih indah jika dipadupadankan dengan karya yang harmonis, cenderung matematis, dan menimbulkan perasaan damai? Pada titik ini, Iwonk secara jeli menempatkan “yang sublim” sebagai interpretasi terhadap “Merawat Beda”. Mungkin, hanya mungkin, perbedaan adalah keadaan yang secara bawah sadar, begitu mengerikan (karena harus selalu dimengerti). Tapi melalui paku-paku itu, kita tahu bahwa hal paling buruk rupa dan berbahaya sekalipun, punya bagiannya yang krusial bagi umat manusia.
Continue reading

Saturday, September 5, 2020

Jika Kata "Anjay" Dilarang ...

Beberapa hari belakangan ini, netizen dihebohkan (iya, memang hanya netizen yang sering merasa heboh, orang di luar jaringan, kelihatannya, biasa-biasa saja tuh) oleh larangan kata "anjay" yang dikeluarkan oleh Komnas PA, berdasarkan "aduan masyarakat" - yang jika ditarik, bermula dari aduan Lutfi Agizal (semacam figur publik yang saya tidak tahu karena saya kurang gaul) -. Tentu saja, kritik muncul di mana-mana, karena, mengapa ucapan harus dilarang, meski katanya kasar? Jika ditilik-tilik, apakah memang iya, kata "anjay" itu kasar? Lalu, jika larangan tersebut benar-benar diberlakukan dan sifatnya mengikat secara hukum, kira-kira apa yang bakal terjadi pada masyarakat kita?

Gambar diambil dari sini.
Gambar diambil dari sini.


Saya tiba-tiba ingat film tahun 2010 berjudul The King's Speech yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap. Kegagapannya ini tentu saja menjadi masalah bagi seorang raja yang harus sering bicara di hadapan publik. Apalagi, konteks Raja George VI adalah di masa Perang Dunia II, di mana ucapan-ucapan raja menjadi krusial untuk menenangkan rakyatnya. Raja George VI kemudian merekrut Lionel Logue, semacam pelatih bicara, untuk membantunya. Salah satu hal yang saya ingat dalam film itu adalah bagaimana Logue kemudian menggali masa kecil Raja George VI, untuk berusaha menemukan penyebab kegagapannya. Protokol kerajaan yang dianggap terlalu ketat adalah salah satu sumbernya. Raja George VI sebenarnya kidal, namun dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan atas nama aturan kerajaan dan satu lagi, hampir sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperbolehkan berkata kasar (karena tentu saja, dianggap tidak pantas di lingkungan kerajaan). 

Logue, sebagai seorang pelatih berpengalaman, menganggap hal terakhir tersebut sebagai salah satu penyebab yang cukup krusial, sehingga dalam satu sesi, ia mempersilakan raja untuk berkata-kata kasar sepuasnya. Dalam perkembangannya, sejak raja punya sesi untuk bebas berkata kasar, gagapnya semakin lama semakin berkurang dan ia semakin percaya diri untuk berpidato (gagapnya hanya muncul sesekali saja dan tidak sering seperti sebelumnya).

Berkata kasar mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan, apalagi untuk langsung dilarang-larang. Psikoanalis terkemuka, Sigmund Freud, mengajukan kemungkinan adanya wilayah bawah sadar kita yang gelap, dalam, dan sangat instingtif. Wilayah bawah sadar ini, bagi Freud, mengontrol tindakan kita lebih banyak ketimbang aspek sadar kita sendiri. Setiap orang, tanpa terkecuali, punya sisi bawah sadar yang dipenuhi hasrat ini, yang bedanya adalah ini: Ada yang tersalurkan dan ada yang tidak. Tersalurkan itu kira-kira maksudnya: dapat bertindak sesuai kehendak - meski tidak dalam segala kondisi - sebagai cara untuk menyalurkan keinstingtifan yang keberadaannya tak terhindarkan. Contohnya: ada momen untuk bisa marah-marah, menangis, mengumpat, curhat, dan ekspresi jujur lainnya. Sebaliknya, tidak tersalurkan itu kira-kira adalah ketiadaan kemungkinan untuk mengekspresikan hasrat bawah sadar karena terepresi oleh keadaan. Contohnya: Berlaku terlampau dingin, kaku, dan formal, seolah-olah terlalu ekspresif itu menjadi agak memalukan. 

Terjawab kemudian mengapa ada kaitan antara gagapnya Raja George VI dengan dilarangnya ia berkata kasar dari sejak kecil hingga dewasa. Ada hasrat yang tidak tersalurkan, dan menyebabkan sejumlah "keganjilan" yang mengganggu di masa dewasanya - yang oleh Freud dapat juga berupa perilaku seksual yang tidak wajar seperti senang mengintip (voyeur) atau senang mempertontokan diri (eksibisionis) -. 

Maka itu, bersyukurlah mereka yang masih punya kesempatan berkata-kata seperti "anjing" di berbagai saluran. Seketika kita mengeluarkan kata tersebut, kita bukan saja sedang berkata kasar, tapi mengatakan sesuatu dari dasar batin yang terdalam, tentang kemuakan terhadap segala hal yang normatif. Mengatakan "anjing" adalah kelegaan yang membuat kita merasa hal-hal yang hasrati itu tersalurkan. Mengatakan "anjing" adalah simbol runtuhnya segala yang formal, dan menghadapkan kita pada situasi yang lebih cair, dinamis, dengan relasi personal yang lebih terbuka. 

Namun kata "anjing", dalam kebudayaan tertentu, terlalu berbahaya untuk diungkapkan secara terang-terangan - mungkin karena anjing dianggap hewan yang najis juga oleh ajaran tertentu -. Dengan demikian, kata seperti "anjrit", "anjir", atau "anjay", digunakan sebagai alternatif untuk menengahi antara hasrat individual dan kebudayaan (sungguh ini suatu kecerdasan yang hakiki). Jika kata, yang sudah sengaja dibuat secara kompromistis ini, kemudian tetap dilarang, maka apakah orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal - yang entah siapa itu -, mau bertanggungjawab dengan kemungkinan terjadinya keganjilan dalam masyarakat akibat bawah sadar yang direpresi? Lantas, memangnya, orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal sendiri, dalam kesehariannya, selalu bersikap sesuai norma-norma yang ada, baik di panggung depan (saat berelasi secara formal) maupun panggung belakang (saat berelasi secara lebih personal)? Jika iya, saya merasa kasihan sekali! Jangan-jangan, kalian ini psikopat.  

Continue reading