Friday, July 31, 2020

Tentang Ta'aruf

Lewat sejumlah postingan teman-teman di postingan di FB, saya tertarik untuk membaca lebih jauh berita tentang pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Siapakah mereka? Saya sama sekali tidak tahu siapa mereka, namanya pun baru dengar - padahal mereka ini katanya orang sangat terkenal -. Apa yang menarik? Mereka (dan juga media, tentu saja) melabeli pernikahannya dilakukan dalam format ta'aruf, yang kira-kira menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuai syari'at Islam, yaitu "pacaran setelah menikah". 

Sumber gambar: Instagram @dindahw

Artinya, Rey dan Dinda, tidak seperti muda-mudi pada umumnya, yang terlebih dahulu menjalin hubungan dalam rangka saling mengenal - yang biasa disebut pacaran -. Mereka langsung menikah, bermodalkan pengetahuan satu sama lain yang "sedikit", dan lebih banyak berlandaskan keimanan. Pengenalan satu sama lain secara mendalam dilakukan dalam domain pernikahan, dan menjadi sesuai syari'at Islam karena sejalan dengan ajaran untuk "menghindari zina".

Pada sekitar bulan Februari lalu, saya menjadi moderator di acara berjudul Buka Tutup Kepala yang diadakan oleh Komuji Indonesia. Acara tersebut kebetulan mengangkat tema tentang ta'aruf dan narasumber yang dihadirkan merepresentasikan dua perspektif yang berbeda, yaitu Dian Siti Nurjannah (dosen, praktisi terapi) yang mengambil posisi pro ta'aruf dan Dede Muhammad Multazam (pengelola Yayasan Santri Progresif) yang mengambil posisi kontra ta'aruf. Dari diskusi tersebut saya mendapat pencerahan. Pertama, dari argumentasi Dian yang melihat bahwa pacaran itu lebih banyak menimbulkan masalah, dari mulai kemungkinan timbulnya kekerasan, potensi hubungan seksual yang kurang sehat, hingga menyebabkan konsentrasi terpecah dalam studi dan pekerjaan. Dian melihat bahwa dengan ta'aruf, hubungan menjadi lebih sehat dan "terlindungi", baik dari sisi negara maupun agama.

Dede punya pandangan yang berbeda, meski juga setuju bahwa agama memang menyuruh kita untuk menghindari zina. Namun, menurut Dede, sebagai dasar, Al-Qur'an sendiri menyebutkan istilah li-ta'arofu dalam konteks "saling mengenal", yang lengkapnya adalah sebagai berikut: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." Jadi, tidak ada anjuran atau suruhan secara tegas untuk melakukan ta'aruf, setidaknya dari segi istilah, hal tersebut tidak disebutkan di Al-Qur'an dalam konteks yang dimaksud hari ini. Dede hendak mengatakan, ta'aruf mungkin baik, tapi dasar keagamaannya kurang kuat. Atau, bisa jadi, ta'aruf lebih erat kaitannya dengan kebudayaan tertentu saja, yang memang melihat pernikahan bukan berdasarkan kehendak pasangan yang menjalani saja, melainkan unsur-unsur eksternal lain yang dianggap "lebih paham" (dalam hal ini, misalnya, orangtua atau pemuka agama).

Pertanyaan yang lebih besar, terlepas dari dua pandangan yang berbeda di atas itu tadi, adalah ini: Apakah ta'aruf selalu menghasilkan pernikahan yang baik? Baik dalam artian, langgeng dan bahagia (meski soal bahagia, tentu sulit mengukurnya). Karena jikapun ada diantara pernikahan dengan format ta'aruf ini yang ternyata kurang bahagia dan malah berujung perceraian, apakah data atau informasinya akan kita publikasikan? Mungkin bisa jadi ada hambatan (untuk mempublikasikannya), karena jika sebuah pernikahan dengan format ta'aruf ini gagal, maka yang tercoreng bukan terkait pada pasangan yang mengalami perceraian, melainkan pada ideologi agama itu sendiri.

Selain itu juga, faktor psikologis menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan atas dasar hasrat yang menggebu-gebu, dan tidak lewat pertimbangan yang lebih rasional? Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan dalam usia yang masih sangat muda, ketika masih dipenuhi ambisi terhadap suatu cita-cita, serta masih kurang matang dalam soal pengalaman hidup secara keseluruhan? Pada titik ini, ta'aruf juga mesti mempertimbangkan aspek-aspek keilmuan lainnya, yang ada di luar agama. Bisa saja, menikah dengan format ta'aruf, tapi kemudian mengalami ketidakbahagiaan karena masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sebab kekurangmatangan berpikir dan hasrat-hasrat yang belum selesai. Menghindari zina, dengan menikah muda, di sisi lain, bisa jadi bumerang.

Jadi, kembali ke soal pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Itu urusan mereka untuk berta'aruf, meski kemudian berimplikasi pada konten Instagram yang menggelikan karena mengumbar adaptasi mereka satu sama lain (yang seolah-olah hendak mengatakan pada warganet: "Ta'aruf itu asyik loh! saling menyingkap misteri pelan-pelan!"). Tapi jika oleh sebab perilaku selebgram semacam itu, kemudian ta'aruf menjadi populer di kalangan anak muda, mohon pertimbangkan dulu tulisan singkat ini, karena ada bahaya mengintip di balik ta'aruf.



Continue reading

Sunday, July 12, 2020

Tekad Menyebarkan Demotivasi

Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi, dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai.

Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan bahwa tidak ada satupun yang baru di dunia ini).

Tapi mungkin ini benar, bahwa konsep demotivasi harus disebarluaskan. Kelihatannya porsi sinisme, pesimisme, skeptisisme, absurdisme, dan lain-lain filsafat "kurang antusias" yang ada dalam keranjang demotivasi, bagi saya, tidaklah terlalu besar di dalam buku tipis tersebut. Namun, meskipun sedikit-sedikit, demotivasi kelihatannya menjadi suatu jalan tersendiri menuju kebahagiaan (karena dari sejumlah pengakuan, buku ini malah menyenangkan untuk dibaca, meskipun isinya didominasi oleh ajakan menyelami kepahitan hidup). Tentu saja, ini bukan klaim pribadi, melainkan dari beberapa review yang sudah dibaca (mungkin yang tidak berkomentar, tidak merasa bahwa buku ini penting, jadi ya tidak apa-apa).

Jadi, intinya, saya akan coba untuk mengembangkan buku ini ke arah lain. Instagram sudah ada, mungkin ditambah lagi dengan Podcast, Youtube, dan kegiatan-kegiatan darat (tentu jika pandemi sudah selesai). Eh sebentar, malah kelihatan motivasional sekali ya? Sudah saya jelaskan di buku tersebut, bahwa paradoks semantik akan terus terjadi dalam konteks bahasa, sama halnya dengan kaum eksistensialis yang mengatakan bahwa hidup ini tidak ada nilainya. Tapi dengan mereka mengatakan hal tersebut, maka mereka sendiri telah menyebut bahwa sebenarnya ada nilai dalam hidup ini (yaitu bahwa hidup ini tidak ada nilainya). Sama halnya dengan saya yang ingin menyebarkan ide demotivasi, tentu dengan sendirinya saya perlu motivasi untuk melakukannya.

Perkara semantik ini tidak perlu kita larut pada perdebatan di dalamnya. Hal yang lebih penting, ke depannya, adalah istilah demotivasi tidak lagi dianggap sebagai musuh dari motivasi - seolah-olah orang yang terdemotivasi adalah orang beracun yang patut dijauhi -. Hal yang lebih penting adalah istilah demotivasi menjadi penyeimbang bagi motivasi berlebihan (atau kata Romo Setyo di kata pengantar: inflasi motivasi). Sekali lagi, ini bukan pemikiran yang sama sekali baru. Demotivasi, sebagaimana sudah disinggung di atas, adalah ramuan yang terdiri dari bahan dasar sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain, yang dimasukkan dalam brand baru bernama demotivasi, yang mungkin terdengar lebih populer, karena dihadapkan dengan konsep motivasi yang begitu dominan di dunia kontemporer ini.

Motivasi menjadi agama baru, spiritualitas baru, dan para motivator menjadi nabi baru, spiritualis baru, yang kita tahu, selama mereka ini adalah manusia biasa, tentu saja bisa didekonstruksi dengan segala pendekatan. Tapi banyak dari kita khawatir mengritik mereka, karena ya itu, pengikutnya terlalu banyak, terlalu militan, terlalu fanatik, dan belum apa-apa muncul vonis bagi diri kita, yaitu minimal, sebutan "toxic" . Tentu sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain itu, bukan pemikiran yang hanya jadi jargon semata. Pemikiran mereka hadir atas suatu renungan panjang atas dunia yang tidak bisa disikapi dengan cara terlalu antusias dan motivasional. Pemikiran mereka, bagaimanapun, tetap bertujuan mulia, yaitu, sekali lagi, kebahagiaan.

Dengan demikian, saya akan terus mengabari dan menyebarkan ide ini, dengan segala cara, dan mungkin akan jadi proyek filsafat saya yang dominan. Saya sudah siapkan ide untuk tulisan mendatang, semacam sekuel dari Kumpulan Kalimat Demotivasi ini, yaitu Sop Kikil, sebagai pelesetan dari buku motivasi yang berjilid-jilid dengan judul Chicken Soup for the Soul. Mungkin banyak orang sukar menerima ide ini pada awalnya, karena terdengar memuakkan. Percayalah, ini memang pahit, tapi mungkin obat manjur abad ke-21, bagi jiwamu yang kering kerontang (penulis harus pede!).
 

Continue reading

Kelas Isolasi, Kiprahnya Sejauh Ini



Kelas Isolasi adalah proyek yang dibuat oleh Al Nino Utomo, mahasiswa semester tujuh di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, dengan saya, yang diinisiasi di sebuah tempat di wilayah BKR, Bandung, pada 19 Maret 2020. Waktu itu idenya adalah kelas filsafat daring sebagai respons terhadap situasi pandemi yang mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2020. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, selain bahwa proyek ini harus segera dimulai, karena di tengah kepanikan orang di masa pandemi, kami harus membuat suatu kelas yang mungkin dapat mengalihkan orang dari kepanikan itu. 

Kebetulan, saya memang sudah lama berpikir tentang kelas filsafat daring. Bahkan sudah pernah dengan lengkap membuat skemanya, hingga terpikir dinamai dengan "kelas insom". Mengapa "kelas insom"? Karena waktu belajarnya yang di atas jam sembilan, yang sedemikian rupa sehingga mereka yang mahasiswa kemudian menjadi telat untuk bangun pagi dan masuk kuliah. Tapi mereka tidak ketinggalan pelajaran, mereka tidak menjadi bodoh, karena sebenarnya mereka telat bangun pagi karena belajar di "kelas insom" di malam sebelumnya.

Sehingga memang, ide untuk membuat kelas daring ini bukan ide baru, meski eksekusinya terkesan buru-buru. Namun karena pernah dipikirkan sebelumnya, Kelas Isolasi, bagi saya, berjalan cukup baik, setidaknya sampai waktu saya menulis tulisan ini, yang sedang akan memasuki edisi ke-74 dan masih bertahan dalam hampir empat bulan. Dalam catatan data kami, Kelas Isolasi bahkan punya data hingga hampir tiga ribu peserta (per Juni, sekitar 2800-an) dari seluruh propinsi di Indonesia dan belasan negara lainnya. Bagi saya, dan mungkin juga bagi kami, ini kurang lebih menunjukkan bahwa sistem pengajaran ini berjalan dan peminat filsafat di luar sana banyak sekali - membuat kami bertanya-tanya, bahwa jangan-jangan selama ini memang banyak, tapi mereka tidak punya akses saja -.

Hingga hari ini, Kelas Isolasi didominasi oleh kelas yang diampu oleh Nino dan saya, dari mulai filsafat Yunani, epistemologi, eksistensialisme, metafisika, etika, sampai psikoanalisis. Namun dalam perjalanannya, Kelas Isolasi juga berhasil mengundang pembicara luar, yang beberapa diantaranya sudah memiliki reputasi tinggi seperti Budiman Sudjatmiko, Martin Suryajaya, Reza A. Wattimena, Soe Tjen Marching, Bhima Yudhistira, Erie Setiawan dan teman-teman yang juga sudah malang melintang berkiprah di bidangnya, seperti Deni Rachman (perbukuan), Adrian Benn (teknologi), Maradita Sutantio (fesyen), Jasiaman Damanik (logika), dan banyak lagi.

Kelas Isolasi, sebagaimana terlihat dari awal pembentukannya, tidak didanai oleh siapapun di luar dan hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan materi berupa artikel, power point, dan audio rekaman kelas, serta sertifikat elektronik. Semua itu dijual di kisaran 10 - 25 ribu saja per materi. Kelasnya sendiri gratis dan kelihatannya akan selalu begitu. Diantara materi tersebut, paling sulit tentu saja membuat artikel. Nino dan saya cukup disibukkan dengan penulisan artikel sekitar dua sampai tiga halaman yang walaupun sedikit, tapi kami lakukan hampir setiap hari. Memang kalaupun tanpa artikel, para peserta sudah diuntungkan dengan kelas gratis dan materi dalam bentuk power point serta audio. Tapi saya katakan pada Nino, kalau tanpa artikel, maka kelas ini akan jadi kelas "bicara bebas" dan "ngalor ngidul" yang tidak ada beda dengan kelas pada umumnya yang mengatasnamakan "bincang santai". Untuk pembicaraan filsafat begini, diharapkan ada pertanggungjawaban ilmiah dan referensialnya, meski kecil-kecilan.

Lantas, bagaimana Kelas Isolasi ini ke depannya? Dengan hampir 2500 followers di Instagram dalam waktu kurang dari empat bulan, kelihatannya animo terhadap kelas ini masih baik - meskipun di beberapa tempat, aktivitas sudah mulai berjalan normal dan maka demikian jumlah peserta tidak sebanyak dulu, saat masih serba dikarantina -.  Maka dari itu, kelihatannya kelas ini juga akan dilanjutkan sampai entah kapan, dengan frekuensi yang mungkin sedikit disesuaikan (jika pandemi sudah selesai, mungkin dua atau tiga kali seminggu saja cukup). Terpikir juga untuk melakukan lintas kanal seperti siaran di Youtube dan Podcast, tapi masih belum terealisasi karena sibuk menulis artikel :p.

Pandemi masih akan berlangsung lama di republik ini, dan maka itu kelihatannya Kelas Isolasi masih akan dilanjutkan. Menarik karena kami mengamati, bahwa kelas daring menciptakan kebebasan tertentu yang tidak ada di kelas filsafat luring. Misalnya, di kelas luring, ada semacam sikap malu, segan, khawatir pertanyaan kita konyol, pernyataan kita kurang berbobot, sementara itu, di kelas daring, hal-hal semacam itu luntur karena kita mengakses dari ruang masing-masing, bisa anonim, dan bisa melempar pertanyaan begitu saja tanpa khawatir (bisa saja pertanyaan tersebut konyol, tapi video bisa dimatikan, agar tidak malu). Dengan gerakan ini, semoga semakin banyak orang gemar berfilsafat, yang kemudian berdampak pada berkurangnya pernyataan konyol dan medioker di negeri ini. Amin. 
Continue reading