Tuesday, February 25, 2020

Dari Diskusi Literasi "Road to Bandung Writers Festival"

Saya diajak oleh teman, Deni "Kochun" Ramdani untuk menjadi project officer untuk acara bertajuk Bandung Writers Festival. Saya iyakan meski tahu bahwa ini adalah tugas yang tidak ringan, apalagi akan berlangsung nyaris sepanjang tahun. Rangkaian acara Bandung Writers Festival dimulai pada tanggal 21 - 23 Februari yang diberi judul Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban. Acaranya macam-macam dan detailnya bisa dicek di instagram @bandungwritersfestival. Tulisan di bawah ini adalah rangkuman dari salah satu mata acaranya yaitu Diskusi Literasi. Diskusi Literasi berlangsung sebanyak lima kali dalam tiga hari. 

Diskusi Literasi #1 
Sastra Masa Kini
Narasumber: Zulfa Nasrulloh

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Masa kini adalah masa ketika ukuran kebenaran menjadi serba nisbi. Tidak terkecuali di wilayah sastra, yang mana setiap orang tiba-riba menciptakan ukuran sendiri untuk menilai mana sastra yang bagus dan mana yang kurang bagus. Ini memang semacam konsekuensi dari zaman, yang memungkinkan sastra paling adiluhung sekalipun, dapat bersanding dengan sastra populer yang mungkin tidak sesuai dengan “kaidah” dari “kanon sastra”. Sastra masa kini juga adalah sastra yang membuka kemungkinan lebih besar terhadap metode alih wahana, yang membuat sastra dapat diterima dalam bentuk teater, film, musik, dan bahkan kutipan-kutipan di instagram. 

Diskusi Literasi #2 
Sastra Sunda di Era Digital
Narasumber: Deri Hudaya

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival


Digitalisasi ternyata tidak serta merta memberangus sastra Sunda, terutama kaitannya dengan semakin masuknya pengaruh-pengaruh dari luar budaya lokal. Justru digitalisasi adalah peluang bagi kita untuk mempopulerkan bahasa-bahasa “yang nyaris terpinggirkan”, tentunya dengan gaya dan ekspresi baru. Tidak terkecuali dengan sastra Sunda, yang sekarang justru semakin mudah diakses, dan dapat tersebar melalui teknologi baru, seperti misalnya Keblueks: Kumpulan Sajak Sunda Digital dari Wahyu Heriyadi yang dapat diperoleh dengan cara memindai QR Code. 

Diskusi Literasi #3 
Dunia Digital: Kabar Baik bagi Literasi Anak?
Santi Indra Astuti

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Dunia digital bukanlah hal yang mesti dijauhi secara berlebihan. Hal yang mesti dilakukan adalah justru mengakrabinya, sambil memahami bagaimana bentuk digitalisasi yang justru dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dan berwawasan. Pada dasarnya, literasi digital justru harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Orangtua mesti menjadi lingkaran terdalam pertama yang memahami nilai-nilai dalam dunia digital, sebelum meluas perlahan ke ruang lingkup sekolah, komunitas, hingga negara. Digitalisasi baru akan menjadi kabar baik bagi literasi anak, jika ada kerjasama dan koordinasi yang kuat antara unsur-unsur di atas. 

Diskusi Literasi #4
Sastra dan Ruang Publik
Narasumber: Rosihan Fahmi


Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Bagi sebagian orang, sastra selama ini dipandang sebagai wilayah yang eksklusif. Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, terutama karena tidak adanya upaya untuk menghadirkannya di tengah publik. Rindu Menanti adalah gerakan yang menghadirkan sastra di ruang publik, terutama dengan program Halte Sastra, yang menempatkan berbagai kutipan sastra beserta siluet para sastrawan di belasan halte di Kota Bandung. Sebagian dari hasil kerja tersebut masih bertahan hingga hari ini, tapi sebagian besar sudah rusak atau lebih tepatnya, dirusak. Pengrusakan tersebut dapat dinilai sebagai bagian dari respons publik terhadap sastra, selain dari bentuk respons lain yang melegakan, yaitu perlindungan menyeluruh dari tukang parkir, preman, tukang jualan, dan masyarakat sekitar, demi tetap tegaknya Halte Sastra.


Diskusi Literasi #5 
Sastra dan Kritisisme
Narasumber: Herry “Ucok” Sutresna

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Sastra yang kritis bisa ada hubungannya dengan perubahan, bisa juga tidak ada hubungannya sama sekali. Namun setidaknya, sastra yang kritis, meski disampaikan lewat budaya yang paling massal dan populer sekalipun, tetap dapat diterima sebagai gerbang menuju literatur kritis selanjutnya, dan diharapkan timbul menjadi kesadaran baru yang kuat. Meski demikian, budaya massa tetap mengandung dua sisi mata uang. Sisi pertama, dapat menjadi “gerbong” bagi pemikiran kritis agar dapat diterima masyarakat secara lebih luas – walau tetap harus ditindaklanjuti dengan gerakan aktivasi yang konkrit -. Namun di sisi yang lain, budaya massa menciptakan desakralisasi dan sekaligus menghilangkan “transendensi” dari apa yang dikritiknya. Bisa jadi, pembaca sastra kritis ini menjadi kritis, tapi tidak benar-benar menghayati karena apa yang diterimanya hanya bagian dari histeria massal yang tidak berujung apa-apa.
Previous Post
Next Post

0 comments: