Wednesday, March 25, 2020

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak)

Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini.

Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi di Kota Oran yang diserang oleh wabah pes. 

Dalam kondisi ancaman wabah mengerikan tersebut, Camus dapat melihat bagaimana reaksi yang beragam, yang dalam novel digambarkan sebagai berikut: ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang rasional – persoalan medis semata -, dan ada juga yang menganggapnya sebagai berkah – karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya -. 

Camus kemudian mengajukan pertanyaan yang barangkali menantang kita semua: Pada titik di mana manusia ada di bawah situasi yang mematikan seperti wabah, apa yang kira-kira akan kita lakukan? Di sini lah pemikiran Camus tujuh puluh tahun silam dan situasi kita hari ini menemukan hubungannya. Pada situasi semacam ini, insting dasar manusia untuk bertahan hidup kemudian ditampakkan, dengan misalnya, memborong bahan makanan, dan melihat orang lain sebagai ancaman. 

Berdasarkan dua premis di atas yang diambil dari novel La Peste karya Albert Camus tersebut, maka pandemi dalam hal ini, pertama, mencerabut kita untuk sementara dari rutinitas keseharian yang normal dan tertib, untuk kemudian sejenak merenungkan keseluruhan kehidupan. Kedua, kita, di sisi lain, diajak untuk mengenali insting purba yang oleh Thomas Hobbes disinggung sebagai homo homini lupus atau diartikan sebagai “manusia adalah serigala bagi sesamanya”. 

Teodise 

Sebagaimana ditulis oleh Camus di atas, perkembangan virus Corona menimbulkan reaksi juga dari kalangan agamawan. Sebelum virus ini mewabah di Indonesia seperti sekarang ini, ada yang sempat menyebut virus ini sebagai tentara Tuhan untuk menghukum suatu kaum (maksudnya, orang-orang Tiongkok), dan ada juga yang mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin terjangkiti Corona karena banyaknya orang yang berwudhu.

Pernyataan-pernyataan semacam itu menjadi semacam ditantang, ketika fakta yang terjadi justru tidak sesuai. Masalah ini, dalam tradisi filsafat disebut dengan teodise – sebuah istilah yang diangkat pertama kali oleh pemikir asal Jerman, Gottfried Leibniz (1646 – 1716) -.

Pada teodise, dibahas masalah terkait hubungan antara Tuhan yang Maha Sempurna, dengan kenyataan dunia yang serba tidak sempurna. Pertanyaannya, jika Tuhan Maha Sempurna, bagaimana bisa, di dunia ini ada kejahatan dan penderitaan – termasuk juga, wabah -? Mengapa Tuhan, dengan segala kuasanya, tidak menghentikannya? Apalagi, melihat korelasinya dengan contoh di atas, Tuhan ternyata juga membiarkan wabah tersebut menyerang orang-orang beragama.

Terhadap pertanyaan tersebut, berbagai respons diajukan dalam sejarah pemikiran, yang mungkin dapat menjadi acuan dalam bagaimana kita melihat virus Corona ini, dalam kacamata yang lebih filosofis. John Hick (1922 – 2012), teolog asal Inggris, mencoba menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa pada dasarnya, Tuhan menciptakan dunia ini tanpa kejahatan dan penderitaan. Iblis kemudian masuk ke dunia melalui “dosa asal” Adam dan Hawa. Ini hampir senada dengan pernyataan ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu Imam Al-Ghazali (1058 – 1111) yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan dan terjadi di dunia, merupakan hal yang sudah demikian sempurna adanya (perfect world).

Tentu tidak ada jawaban yang bisa benar-benar memuaskan kita, terlebih dari bagaimana karakter pertanyaan filosofis memang bukan untuk dijawab secara pasti. Hal yang lebih penting adalah kegiatan mengajukan pertanyaan itu sendiri, yang menimbulkan refleksi dan kesadaran yang lebih mendalam pada cara kita memandang sesuatu.

Bagaimanapun, situasi pandemi adalah situasi yang serba tidak pasti. Kita bahkan juga tidak tahu kapan wabah ini berakhir dan akan berkembang hingga seberapa luas. Selain tetap menjaga kesehatan, kita bisa memilih untuk tetap hidup tenang dan berbahagia, tanpa harus larut dalam ledakan kepanikan.

Camus memberi contoh dengan baik, masih dari novelnya berjudul La Peste. Melalui tokoh dr. Bernard Rieux, Camus mengajak kita untuk mementahkan beragam tafsir yang berseliweran. Di tengah wabah yang mematikan sekaligus membingungkan, ia berpendapat bahwa sikap yang benar adalah menerima dengan lapang dada segala ketidakmampuan manusia untuk memaknai kejadian tersebut, dan mencoba hidup berbahagia saja. Pada akhirnya, virus ini menyadarkan kita, bahwa realitas selalu lebih besar dari pikiran kita, dan bahkan dari tafsir agama sekalipun.

Sampul buku La Peste karya Albert Camus

Previous Post
Next Post

0 comments: