Friday, February 28, 2020

Demotivasi, Obat Pahit Abad Ke-21

Sudah lama saya merasa ada yang salah dengan berbagai acara motivasional di televisi ataupun kutipan motivasi yang bertebaran di media sosial ataupun Whatsapp group. Perasaan itu kira-kira begini: Mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut? Dibaca tentu dibaca, diamini tentu diamini, dan kadang-kadang, harus diakui, ungkapan-ungkapan motivasional itu lumayan ada yang bagus juga. Tapi sekali lagi, mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut?

Ilustrasi oleh M. Rico Wicaksono (Instagram: @matjan_ningratz)
Tapi kita sepertinya tidak hidup di era di mana sikap anti-motivasional dipandang sebagai sikap yang mesti dihargai. Kurang dari itu, malah sikap anti-motivasional lebih baik dianggap sebagai sikap yang tidak populer, tidak terpuji, dan bahkan penyakit menular yang harus dijauhi. Iya, para motivator terkenal itu sering mengatakan, jangan dekat-dekat orang yang berpikiran negatif, nanti kita yang berpikiran positif ikut terbawa. 

Namun gelagat anti-motivasional sebenarnya mulai menggeliat, terutama sejak media sosial mulai akrab dengan meme. Iya, meme kelihatannya menunjukkan suatu ekspresi yang cenderung ke arah humor yang gelap, satir, sinis, dan cenderung menertawakan diri sendiri. Meme, yang cenderung anonim, kelihatan lari dari tanggung jawab dari upaya-upayanya dalam mengingatkan para warganet tentang hidup kita yang absurd. Tapi anonimitas itulah yang justru menarik: jangan-jangan, sebagian manusia memang sudah berpikir anti-motivasional. Hanya saja, tidak semua dari mereka mau menampakkan diri dengan identitas aslinya - karena mungkin, khawatir dianggap sebagai penyakit masyarakat, sebagaimana sudah diungkap di atas -. 

Bandingkan dengan para motivator yang selalu bangga dengan kalimat motivasi atas nama dirinya, seolah ingin dicatat sebagai sosok yang berjasa dalam mengangkat mereka yang batinnya hampa, dari lubang yang gelap.

Suatu hari, kira-kira empat atau lima tahun yang lalu, saya menulis status di Facebook kira-kira seperti ini (persisnya saya lupa): "Ingin rasanya saya duduk berdua dengan motivator, dan mengatakan, Pak, cari rejeki yang halal aja, jangan mengambil keuntungan dari kekosongan batin orang lain." Responsnya lumayan. Kelihatannya ada belasan atau beberapa puluh orang yang setuju (dilihat dari jumlah likes dan comments) terkait pemikiran ini, yang mungkin merepresentasikan kegelisahan mereka. Bisa saja sudah sejak lama mereka berpikiran yang sama, bahwa apa yang dikatakan pada para motivator itu, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat sederhana dan klise. Namun banyak dari peserta yang datang dalam keadaan limbung, batin kosong, dan maka itu meminta pendapat tentang sesuatu yang mereka harusnya juga tahu. Saya tidak menyalahkan para peserta acara motivasi. Hanya saja, masyarakat kita seolah sudah dibentuk seperti itu. Motivator menjadi "nabi abad ke-21", yang pengikutnya adalah mereka yang cemas bagaimana menata hidup di tengah modernitas yang serba cepat dan tidak pasti. 

Apakah yang dikatakan oleh para motivator itu, sesuatu yang keliru? Tidak sama sekali, bahkan bisa jadi, sesuatu yang benar. Namun ada permasalahan yang bisa diangkat: Motivator tersebut, cenderung menganggap pola pikir sebagai panacea atau obat bagi segala. Mau kaya? Berpikirlah ke arah sana. Mau sukses? Berpikirlah ke arah sana. Mereka yang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, pasti karena pikirannya tidak fokus ke sana! Itulah mengapa sikap anti-motivasional kemudian dianggap penyakit masyarakat, karena bertentangan dengan kredo menuju kesuksesan dan kekayaan. Padahal kita bisa kritisi, bahwa orang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, tidak selalu tentang pola pikirnya yang negatif, melainkan juga karena masalah sistemik yang ada di luar kuasa mereka. 

Itulah sebabnya kata-kata motivasional harus kita kritisi sebagai suatu metode yang mengilusi, bahwa seolah-olah semua orang bisa jadi apapun asal pikirannya ke arah sana. Pada titik ilusi yang akut ini, motivator sering menjadi orang yang dimanfaatkan untuk kepentingan eksploitasi dan konsumerisme. Mereka "dipesan" oleh perusahaan agar karyawan lebih rajin dan kadang, religius, atas nama kemajuan korporasi, tanpa bisa bersikap kritis karena pemikirannya sudah dikepung oleh kredo-kredo motivasional. Kalimat motivasional juga ada pada dorongan kita untuk mengonsumsi, seolah-olah membeli ada kaitannya dengan moralitas, dan itu mengepung kita juga, di mana-mana (contohnya, slogan-slogan pada iklan komersial). Apakah sikap kritis bisa mengeluarkan tajinya dalam kondisi semacam itu? Bisa, tapi tidak bisa secara langsung menunjuk sikap motivasional sebagai biang keladi dari persoalan. Sekali lagi, karena secara sistemik sikap anti-motivasional dianggap sebagai penyakit masyarakat. 

Maka mari kita coba tawarkan suatu pemikiran yang sebenarnya tidak baru sama sekali, tapi mungkin menarik karena dimunculkan di tengah masyarakat yang alergi dengan sikap anti-motivasional. Kita punya ruang dan momentum, yaitu kehidupan internet dengan segala meme-nya, yang merayakan dengan tragis segala bentuk sinisme dan absurditas. Namanya sederhana dan istilahnya sudah sering digunakan: demotivasi. Dalam demotivasi ini, kita bisa membangkitkan kembali pemikiran yang tenggelam dalam masyarakat yang terkena "inflasi motivasi", seperti skeptisisme, stoisisme, sinisme, absurdisme, pesimisme, dan bahkan nihilisme. Pemikiran-pemikiran yang muncul di era mulai dari Yunani Kuno, Hellenisme, sampai Abad ke-20 tersebut, pasti bukan muncul tanpa alasan. -Isme -isme itu hadir untuk mengimbangi suatu pemikiran yang terlampau positif dan antusias, yang bisa jadi menyebabkan masalah tersendiri bagi masyarakat. 

Paling mudah tentu menunjuk Perang Dunia I dan II, sebagai konsekuensi dari pemikiran masa Romantik, yang erat dengan patriotisme yang sangat optimistik dan melihat negara sebagai instrumen untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang luhur. Sejumlah pemikir, seperti kaum eksistensialisme kemudian menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang omong kosong: "Beginikah hasil pemikiran yang 'super motivasional' yang muncul dari gagasan Romantik itu? Perang besar yang mengorbankan jutaan manusia atas nama patriotisme dan apalah itu terkait negara dan cita-cita kemanusiaannya?" 

Demotivasi adalah pemikiran yang tidak rumit-rumit amat, namun mesti dipahami sebagai antitesis dari kondisi masyarakat yang serba motivasional. Lewat demotivasi, kita diajak untuk memahami kembali hidup secara kritis dan realistis. Skeptis itu boleh, sinis itu perlu, tanpa harus takut dicap sebagai pesakitan. Demotivasi bukan artinya hidup malas-malasan, melainkan hidup dengan berpegang pada tanggung jawab dan panggilan dari dalam, berupa suara hati atau gairah, tanpa perlu menalikan diri pada suara-suara motivasional yang bisa jadi tidak ada kaitannya dengan keinginan kita yang terdalam. Motivasi seringkali mengajarkan kita untuk menjadi homogen, dalam arti menuju kekayaan dan kesuksesan - yang bisa jadi, sangat utopis -, sementara demotivasi membawa kita untuk merayakan heterogenitas, bahwa dalam hidup ada juga "orang biasa dengan pekerjaan biasa" yang bisa jadi lebih bergairah daripada mereka yang mengejar kekayaan dan kesuksesan, tapi bingung dengan apa yang dipijaknya. 

Demotivasi juga mengingatkan kita lebih sering terkait kematian, yang menghantui kita setiap saat, sebagai batas dari segala tindakan yang paling mulia sekalipun. Motivasi berlebihan memang berbahaya, karena menepikan kematian sebagai kenyataan eksistensial yang tidak penting. Padahal, tidakkah umumnya agama-agama, sebenarnya menyuarakan demotivasi lebih sering, bahwa hidup di dunia ini tidak lebih dari persinggahan yang penuh senda gurau? Kenapa harus terlalu serius terhadap segala sesuatu? 

Demotivasi mengandung sisi bahaya, yang tidak bisa begitu saja diterapkan bagi anak-anak hingga remaja, yang memerlukan harapan dan cita-cita dalam tindak-tanduk mereka. Demotivasi juga mengandung sisi bahaya, bagi mereka yang sakit dan berharap kesembuhan melalui harapan sesedikit apapun. Tidak semua orang dapat menerima demotivasi sebagai obat yang sangat pahit ini. Tapi setidaknya, mari mulai pelan-pelan mempromosikan konsep ini, bukan lagi sebagai racun yang berbahaya, namun sebagai obat penawar bagi berbagai ilusi memabukkan yang ditebar oleh kalimat-kalimat motivasional. 


Continue reading

Tuesday, February 25, 2020

Dari Diskusi Literasi "Road to Bandung Writers Festival"

Saya diajak oleh teman, Deni "Kochun" Ramdani untuk menjadi project officer untuk acara bertajuk Bandung Writers Festival. Saya iyakan meski tahu bahwa ini adalah tugas yang tidak ringan, apalagi akan berlangsung nyaris sepanjang tahun. Rangkaian acara Bandung Writers Festival dimulai pada tanggal 21 - 23 Februari yang diberi judul Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban. Acaranya macam-macam dan detailnya bisa dicek di instagram @bandungwritersfestival. Tulisan di bawah ini adalah rangkuman dari salah satu mata acaranya yaitu Diskusi Literasi. Diskusi Literasi berlangsung sebanyak lima kali dalam tiga hari. 

Diskusi Literasi #1 
Sastra Masa Kini
Narasumber: Zulfa Nasrulloh

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Masa kini adalah masa ketika ukuran kebenaran menjadi serba nisbi. Tidak terkecuali di wilayah sastra, yang mana setiap orang tiba-riba menciptakan ukuran sendiri untuk menilai mana sastra yang bagus dan mana yang kurang bagus. Ini memang semacam konsekuensi dari zaman, yang memungkinkan sastra paling adiluhung sekalipun, dapat bersanding dengan sastra populer yang mungkin tidak sesuai dengan “kaidah” dari “kanon sastra”. Sastra masa kini juga adalah sastra yang membuka kemungkinan lebih besar terhadap metode alih wahana, yang membuat sastra dapat diterima dalam bentuk teater, film, musik, dan bahkan kutipan-kutipan di instagram. 

Diskusi Literasi #2 
Sastra Sunda di Era Digital
Narasumber: Deri Hudaya

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival


Digitalisasi ternyata tidak serta merta memberangus sastra Sunda, terutama kaitannya dengan semakin masuknya pengaruh-pengaruh dari luar budaya lokal. Justru digitalisasi adalah peluang bagi kita untuk mempopulerkan bahasa-bahasa “yang nyaris terpinggirkan”, tentunya dengan gaya dan ekspresi baru. Tidak terkecuali dengan sastra Sunda, yang sekarang justru semakin mudah diakses, dan dapat tersebar melalui teknologi baru, seperti misalnya Keblueks: Kumpulan Sajak Sunda Digital dari Wahyu Heriyadi yang dapat diperoleh dengan cara memindai QR Code. 

Diskusi Literasi #3 
Dunia Digital: Kabar Baik bagi Literasi Anak?
Santi Indra Astuti

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Dunia digital bukanlah hal yang mesti dijauhi secara berlebihan. Hal yang mesti dilakukan adalah justru mengakrabinya, sambil memahami bagaimana bentuk digitalisasi yang justru dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dan berwawasan. Pada dasarnya, literasi digital justru harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Orangtua mesti menjadi lingkaran terdalam pertama yang memahami nilai-nilai dalam dunia digital, sebelum meluas perlahan ke ruang lingkup sekolah, komunitas, hingga negara. Digitalisasi baru akan menjadi kabar baik bagi literasi anak, jika ada kerjasama dan koordinasi yang kuat antara unsur-unsur di atas. 

Diskusi Literasi #4
Sastra dan Ruang Publik
Narasumber: Rosihan Fahmi


Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Bagi sebagian orang, sastra selama ini dipandang sebagai wilayah yang eksklusif. Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, terutama karena tidak adanya upaya untuk menghadirkannya di tengah publik. Rindu Menanti adalah gerakan yang menghadirkan sastra di ruang publik, terutama dengan program Halte Sastra, yang menempatkan berbagai kutipan sastra beserta siluet para sastrawan di belasan halte di Kota Bandung. Sebagian dari hasil kerja tersebut masih bertahan hingga hari ini, tapi sebagian besar sudah rusak atau lebih tepatnya, dirusak. Pengrusakan tersebut dapat dinilai sebagai bagian dari respons publik terhadap sastra, selain dari bentuk respons lain yang melegakan, yaitu perlindungan menyeluruh dari tukang parkir, preman, tukang jualan, dan masyarakat sekitar, demi tetap tegaknya Halte Sastra.


Diskusi Literasi #5 
Sastra dan Kritisisme
Narasumber: Herry “Ucok” Sutresna

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Sastra yang kritis bisa ada hubungannya dengan perubahan, bisa juga tidak ada hubungannya sama sekali. Namun setidaknya, sastra yang kritis, meski disampaikan lewat budaya yang paling massal dan populer sekalipun, tetap dapat diterima sebagai gerbang menuju literatur kritis selanjutnya, dan diharapkan timbul menjadi kesadaran baru yang kuat. Meski demikian, budaya massa tetap mengandung dua sisi mata uang. Sisi pertama, dapat menjadi “gerbong” bagi pemikiran kritis agar dapat diterima masyarakat secara lebih luas – walau tetap harus ditindaklanjuti dengan gerakan aktivasi yang konkrit -. Namun di sisi yang lain, budaya massa menciptakan desakralisasi dan sekaligus menghilangkan “transendensi” dari apa yang dikritiknya. Bisa jadi, pembaca sastra kritis ini menjadi kritis, tapi tidak benar-benar menghayati karena apa yang diterimanya hanya bagian dari histeria massal yang tidak berujung apa-apa.
Continue reading