Monday, October 12, 2020

Ulas Buku: Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21


Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” 

Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari politik, jika senantiasa membentuk ragam kategori dalam masyarakat, yang kemudian lewat kategori tersebut, kita bisa melihat bahwa masing-masingnya punya kepentingan yang berbeda? Dengan demikian, jelas mengapa Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politikon”. 

Istilah “filsafat politik”, dalam buku ini, diuraikan dengan jelas – termasuk perbedaannya dengan ilmu politik -, yang seolah menjawab pertanyaan, “Politik kan ‘gitu-gitu aja’, untuk apa difilsafatkan lagi?” Filsafat politik menunjukkan bahwa politik tidak “gitu-gitu aja” dalam arti, mengandung kompleksitas yang menyertakan renungan tentang apa itu negara, apa itu kekuasaan, apa itu idelogi, apa itu konstitusi, hingga apa itu hak asasi manusia. Namun di sisi lain, filsafat politik juga ingin memperlihatkan bahwa di sisi lain, politik adalah “gitu-gitu aja” karena dalam rentang sejarah peradaban manusia, yang dibicarakan adalah perkara yang kurang lebih sama, namun dalam konteks historis yang berbeda – bukankah demikian hakikat mempelajari filsafat: mempelajari pemikiran lampau untuk dicari benang merahnya dengan masa sekarang? -. 

Ke-masa-sekarang-an tersebut ditunjukkan penulis dengan tidak hanya berusaha merangkum pemikiran politik dari masa Yunani Kuno hingga masa modern, melainkan juga meletakkan kontekstualisasinya dengan persoalan kontemporer di abad ke-21. Sehingga dengan demikian, buku ini terasa lengkap dan bergizi, oleh sebab kita tidak dibiarkan hidup dalam bayangan romantisme politik di masa silam (yang cukup komprehensif disajikan), melainkan ditarik untuk berdiskusi perihal hakikat masyarakat yang semakin tidak terikat secara spasial dan temporal, kemajuan teknologi informasi yang memberi keuntungan tapi sekaligus juga persoalan baru, serta kemungkinan berakhirnya globalisasi dalam waktu dekat. 

Meski demikian, dengan segala kelengkapan isinya yang memukau, buku yang diterbitkan bulan Agustus 2020 ini (yang dengan begitu, sedang berada di masa pandemi Covid-19), akan lebih dahsyat jika turut menyertakan sebuah analisis tentang kondisi politik dan masyarakat pasca pandemi, yang kemungkinan besar akan mengalami perubahan drastis pada kondisi yang sukar dibayangkan. Penulis beberapa kali menyebut perihal pandemi Covid-19 ini dalam beberapa kesempatan dalam buku, tapi kelihatannya tidak sempat membuat analisis tajam dan serius tentang kondisi yang diakibatkannya. Tentu saja, pemikiran yang bertalian dengan hal tersebut sangat dinanti, meski pada tulisan profesor Budiono yang lain.
Continue reading

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

sontak
Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page.


Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan? 

Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, avant-garde, dengan segala bebunyiannya yang begitu asing di kuping. 

Ada perasaan yang aneh setiap Diecky “berkhotbah” tentang avant-garde-isme ini. Kami kesal karena bebunyian tersebut terasa tidak enak, tapi kami bertahan mendengarkannya dari malam hingga adzan subuh, dan itu berlangsung berbulan-bulan. 

Hingga akhirnya waktu itu datang. Kalau tidak salah di bulan September 2012, Diecky pamit meninggalkan Bandung untuk mengadu nasib di Pontianak. Pertanyaan besar di atas adalah tentang siapa yang bisa menggantikan Diecky perihal militansinya dalam menjadi “misionaris avant-garde-isme” di kota ini, yang kelihatannya masih berputar di wilayah musik dalam konteks nada yang harmonis, performansi yang menghibur, dan soal yang ini, bolehlah, tentang relasinya dengan subkultur dan gaya hidup masyarakat urban. Pertanyaan tersebut benar-benar tidak terjawab, hingga hadirnya kegiatan bernama SONTAK. 
 
SONTAK adalah kegiatan musik yang digelar pada awal September lalu, yang diinisiasi oleh Robi Rusdiana, Dody Satya Ekagustdiman, dan Daniel Hueleflores. Namun kegiatan musik ini bukan kegiatan musik yang tipikal digelar di Kota Bandung. Ini adalah festival “improvisasi bebas” yang masuk hingga ke urusan musik sebagai bunyi, dan tidak melulu urusan nada-nada yang harmonis. 

Jujur, karena selalu bentrok dengan jadwal webinar dan agak khawatir juga berkumpul di keramaian di masa pandemi (karena SONTAK digelar secara luring), saya tidak hadir di satupun acara SONTAK. Meski demikian, saya rajin melihat video-videonya lewat media sosial dan sempat ngobrol-ngobrol dengan Robi dan beberapa pengisi acara yang tampil di sana. Maka dari itu, tulisan ini bukan hendak mendeskripsikan kegiatan secara detail dengan berbagai analisa fenomenologis, melainkan lebih ke melihatnya dari jauh, menempatkannya pada peta besar “perjalanan bebunyian” di Bandung. 

Sebenarnya sebelum ada SONTAK, fenomena sound art juga merebak di kota ini, dengan Bob Edrian sebagai salah satu punggawanya. Sependek pengetahuan saya, Bob bermain musik, tapi ia lebih memposisikan diri sebagai kurator dalam pergerakan sound art. Sound art adalah juga tentang bebunyian, namun inilah yang menarik: genealoginya lebih tepat dikatakan berasal dari jalur seni rupa. Mungkin agak usang juga membicarakan genealogi, karena toh, sejarah bisa diklaim siapa saja (mau seni rupa atau seni musik, sebenarnya tidak jadi soal). Tapi setidaknya begini, bahwa kelihatannya bagi medan sosial seni rupa, sound art bukanlah suatu eksperimen yang mengejutkan, karena dunia seni rupa sering tampak lebih unggul dalam merespons keadaan untuk dituangkan pada medium-medium “baru”. Dalam dunia seni rupa, beralih medium pada tingkat ekstrem itu lebih lumrah – misalnya, menjadikan tubuh sebagai medium, atau merespons kota dan lingkungan hidup dengan menjadikannya juga sebagai medium -. 

Sound art tentu bagian dari peta besar “perjalanan bebunyian” ini, yang masih eksis dan terus diperhitungkan. Tapi dari “jalur” seni musik, sependek pengamatan, kelihatannya memang belum ada terobosan dalam beberapa tahun belakangan. Saya bisa saja salah, karena misalnya, kurang bergaul. Saya akan mencoba berargumentasi sedikit: Sejauh ini ada nama yang bisa ditonjolkan seperti Haryo “Yose” Soejoto, seorang jenius yang punya pengalaman panjang dengan bebunyian dan tinggal di Bandung (dulunya di Yogyakarta, sarangnya musik eksperimental). Kemampuan musiknya tidak usah diragukan lagi, kapasitas mengomposisinya pun luar biasa. Beliau mendirikan dan memimpin sebuah orkestra yang cukup terkenal yaitu Anime String Orchestra. Dalam tahun-tahun belakangan, Anime pasti mengadakan konser rutin, biasanya lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu The Beatles dan sejumlah karya dari band rock progresif 70-an. Bagaimana aransemennya? Dahsyat sekali. Bagi yang paham teori musik dengan segala harmoninya, Yose adalah manusia istimewa. Bagi yang tidak paham teori-teori tersebut pun, musik yang dipresentasikan oleh Anime tetap menawan dan sedap didengarkan.

Persoalannya, jika ini dapat dikatakan persoalan, kemungkinan ada kompromi antara Yose dengan publik Bandung pada umumnya, yang belum tentu dapat menerima idealisme beliau tentang bebunyian. Saya yakin, Yose bisa saja mengeluarkan seluruh pengetahuan dan kemampuannya terkait bebunyian yang eksperimental dan penuh improvisasi bebas, tapi pertanyaannya, apakah pendengar di kota ini, yang notabene lebih sering “cari aman”, mau menerimanya? Selain Yose, tentu saja ada pendekar eksperimental lainnya, sebut saja, Iwan Gunawan dengan ensembel Kyai Fatahillah-nya, Ismet Ruchimat dengan Sambasunda-nya, Dodong Kodir dengan Lungsuran Daur-nya dan tentu saja, Robi Rusdiana sendiri dengan Ensembel Tikoro-nya. Jika melihat ke belakang lagi, pendekar eksperimental itu juga ada, meski tidak banyak, misalnya, dalam sosok Harry Roesli. 

Meski deretan nama besar itu ada, namun SONTAK tetaplah kegiatan monumental yang patut dicatat dalam sejarah “perjalanan bebunyian” di kota ini. Penyelenggaraannya, dengar-dengar, memang mendapat sejumlah hambatan, terutama karena digelar di masa pandemi, yang menjadi rumit karena salah satunya, urusan perizinan. Namun ini bukanlah pokok persoalannya. Kita tidak sedang bicara apakah acara SONTAK itu berhasil atau tidak secara penyelenggaraan, melainkan soal keberanian trio Robi, Dody, dan Daniel, untuk menggelar suatu kegiatan yang aneh, yang bagi penikmat musik pun, belum tentu dapat diterima. Melalui keberadaan SONTAK, para pendekar eksperimental keluar dari laboratorium isolasinya, dan mempresentasikan karyanya dengan gembira – karena selain mendapat panggung, mereka juga punya hal yang tak kalah penting, yaitu jaringan -. Kemungkinannya, dari tadinya para komposer dan pemusik tersebut berjuang masing-masing, lewat SONTAK, mereka dikumpulkan, ditempatkan dalam satu medan sosial, yang bukan tidak mungkin, jika dilakukan secara konsisten, akan menumbuhkan suatu ekosistem penting dalam wacana perbunyian di Indonesia. 

Salut bagi trio penggagas yang menggelar kegiatan yang pastinya asing bagi orang-orang di Bandung. Untuk menggelar SONTAK, tidak hanya memerlukan pengetahuan dan pengalaman berkesenian saja, tapi juga semacam keimanan! Iman ini bukan dibangun dalam satu atau dua tahun, tapi melalui konsistensi berkarya yang tidak sebentar, yang mungkin melalui proses dikritik, digugat, dan dicela, akibat terlalu setia pada sebuah idealisme musik yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk pasar. Orang-orang di Bandung, terutama para apresiator seni, harus disuguhi musik yang sampai pada batas-batas terjauhnya, dan tidak berkutat pada wilayah-wilayah yang nyaman saja. Pada bebunyian eksperimental sebagaimana yang tersaji pada SONTAK, mungkin ada perasaan yang tidak nyaman ketika mengapresiasi, tapi bisa jadi membuat kita bertahan karena penasaran, persis seperti para murid Diecky saat sang guru berkhotbah. Semoga SONTAK dapat digelar secara rutin, untuk memberi wacana tandingan bagi dunia musik yang “itu-itu saja” dan terlalu membuai sampai tidak yakin bahwa di luar sana ada musik yang menjelajah hingga ke area sublim, mempertanyakan hakikat keindahan sampai ke dasar-dasarnya.
Continue reading

Thursday, September 24, 2020

Paku dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Kita Ketahui Tentangnya

(Ditulis sebagai pengantar pameran Ridwan S. Iwonk di Festival Merawat Beda yang diselenggarakan oleh Komuji Indonesia, 22 September – 6 Oktober 2020 di Rumah Komuji, Bandung)




Mari membicarakan paku dari berbagai perspektif. Misalnya, kondisi negeri kita sekarang ini, punya andil benda bernama paku di dalamnya. Iya, kita mencoblos gambar para wakil rakyat, dengan paku yang tajam, seolah-olah kita tancapkan harapan ke dada mereka. Selain itu, jangan lupakan juga dunia klenik di Indonesia, yang menjadikan paku sebagai benda penting untuk dimasukkan pada tubuh orang yang disantet (kelihatannya belum ada perkakas lain yang lebih seram untuk menggantikan paku).

Lebih serius lagi, spiritualitas umat Kristiani dibangun salah satunya oleh benda bernama paku, yang digunakan sedemikian kejamnya, sehingga meneteskan begitu banyak darah Sang Mesias yang bersimbah di sepanjang Via Dolorosa. Darah itu bukan sembarang darah, melainkan darah yang menebus dosa umat manusia. 

Kita paksakan untuk membicarakannya di area yang lebih akademis juga bisa. Pada tahun 1950-an, pemikir dan peneliti asal Rumania, Mircea Eliade, mengajukan ide tentang axis mundi, yaitu semacam “pusat” yang menghubungkan dunia manusia dengan “surga” atau “dunia atas” atau apapun namanya yang sekiranya sepadan dengan wilayah transenden. Axis mundi ini dapat berupa gunung, pohon, atau produk-produk manusia seperti menara, pilar, totem, dan sebagainya. Kebudayaan manapun, kata pemikir lainnya, Claude Lévi-Strauss, selalu punya axis mundi ini, dalam berbagai bentuknya. 

Konsep axis mundi ini terlihat seperti sebuah paku, yang mana gunung dan pohon tidak hanya yang tampak pada permukaannya saja, melainkan juga tentang apa yang “menghujam ke bumi” untuk menghubungkan “dunia sini” dan “dunia sana”. Kapan-kapan bisa coba berselancar mencari kata kunci “Yggdrasil” dan melihat bahwa axis mundi yang dibayangkan oleh mitologi orang-orang Nordik, adalah begitu menyerupai paku. 

Mungkin tidak semua orang senang membicarakan ini, tapi harus dibayangkan bahwa Sigmund Freud pasti akan senang dengan pembicaraan tentang paku. Sebagai seorang psikoanalis yang menganggap bahwa segala tindakan kita dipengaruhi nyaris seluruhnya oleh alam bawah sadar – yang bernuansa hasrat dan insting seksual -, maka ia akan berteriak kencang dan yakin ketika kita berdiskusi tentang paku, “Itu phallus, paku itu phallus!” 

Tapi Ridwan S. Iwonk bukan sedang membicarakan paku seperti Eliade, Lévi-Strauss, Freud, atau pemaknaan kita tentang Yesus di Via Dolorosa. Iwonk – begitu ia biasa dipanggil – sebenarnya sedang mengembalikan paku pada dirinya sendiri, yang jika paku itu disuruh bicara, mungkin akan curhat seperti ini: “Selama ini aku dimaknai begitu mendalam oleh para filsuf, politisi, ahli sejarah, dan bahkan ahli nujum. Aku ingin dipandang sebagai diriku sendiri saja, boleh tidak?” 

Bahasa kerennya, Iwonk tengah melakukan suatu praktik intersubjektif, dengan melihat paku tidak lagi sebagai objek, melainkan subjek. Iwonk memandangi paku-paku itu setiap saat dan berdialog dengan mereka, “Kenapa kok kamu bentuknya agak bengkok?”, “Kenapa kok kamu agak karatan?”, “Kenapa kok kamu kelihatannya lebih kokoh dan tegar dibanding yang lain?”, dan seterusnya, yang mungkin bukan dilakukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, melainkan tahunan! 

Begitu seringnya Iwonk bercengkerama dengan paku-paku ini, hingga ia merasa bahwa kita semua di sini, harus turut merasakan keintiman Iwonk, yang mungkin terasa ganjil tapi juga “sublim”. Untuk memahami kesubliman tersebut, mau tidak mau kita harus pinjam pemikiran orang lain lagi, yaitu Immanuel Kant. Kant, dalam tulisannya yang berjudul Observations on The Feeling of the Beautiful and Sublime, menggambarkan “yang sublim” sebagai sesuatu yang berbeda dengan “yang indah”. Perbedaan yang Kant berikan ini, mungkin bisa membantu kita untuk turut merasakan apa yang sedang dipresentasikan oleh Iwonk, “’Yang indah’ dirasakan sebagai sensasi menyenangkan yang membuat kita gembira dan tersenyum, sementara di sisi lain ‘yang sublim’ adalah sesuatu yang menimbulkan gairah, rangsangan, tapi mengandung semacam horor juga di dalamnya.” 

Iya, bagi yang berharap pameran karya rupa yang ditampilkan Iwonk ini akan menyenangkan hati dan menimbulkan kegembiraan, sebaiknya pergi saja ke taman dan melihat bunga-bunga, atau pergi ke gunung dan melihat kota dari kejauhan (itu juga kalau kotanya tidak tampak kumuh). Sekali lagi, Iwonk tidak mengajak kita pada keindahan, tapi pada kesubliman: Tentang paku yang berbahaya karena ujungnya begitu tajam, yang bentuknya aneh dan sering bengkok-bengkok, yang pada bagian tubuh tertentunya muncul karatan, yang sekaligus perannya begitu besar dalam sejarah, meski kerap dinihilkan, karena itu kan, cuma paku. Iwonk mengajak kita melihat lebih dalam: “Saudara-saudara, tidakkah paku ini indah? Tidakkah ia begitu mengagumkan? Tidakkah ia begitu kecil tapi krusial dalam kehidupan? Perhatikan betapa jeleknya wujud si paku, tapi bisa mengubah peradaban lebih besar daripada kalian yang rajin mematut-matut diri!” 

Kerja kesenian Iwonk tidak berupaya menyenangkan hati dan memanjakan mata kita – seni retinal, jika meminjam kata Marcel Duchamp -, tapi masuk pada upaya membangkitkan kesadaran. Iwonk bekerja di wilayah fenomenologis, dengan membangun konstitusi makna yang baru tentang paku, yang selama ini dianggap orang sebagai “ah, paku doang!”. Karya instalasinya juga tidak diposisikan sebagai altar penyembahan yang seolah mesti steril dari tangan manusia – karena terlalu ilahiah -. Kata Iwonk, “Silakan saja sentuh instalasi ini, jangan ragu-ragu, justru itulah yang diinginkan!” Bahkan jikapun ada orang yang merusak karya Iwonk ini, mungkin Iwonk tidak akan bete-bete amat, karena toh, selama ini, imej tentang paku memang sudah dipandang sebelah mata dalam peradaban, biarkan saja mereka yang masih berpendapat demikian.  

Namun pasti ada suatu maksud mengapa Iwonk berani memajang karya-karya pakunya ini di suatu tema berjudul “Merawat Beda” yang diusung oleh Komuji Indonesia. Memangnya nyambung? Bukankah konsepsi “Merawat Beda” akan lebih indah jika dipadupadankan dengan karya yang harmonis, cenderung matematis, dan menimbulkan perasaan damai? Pada titik ini, Iwonk secara jeli menempatkan “yang sublim” sebagai interpretasi terhadap “Merawat Beda”. Mungkin, hanya mungkin, perbedaan adalah keadaan yang secara bawah sadar, begitu mengerikan (karena harus selalu dimengerti). Tapi melalui paku-paku itu, kita tahu bahwa hal paling buruk rupa dan berbahaya sekalipun, punya bagiannya yang krusial bagi umat manusia.
Continue reading

Saturday, September 5, 2020

Jika Kata "Anjay" Dilarang ...

Beberapa hari belakangan ini, netizen dihebohkan (iya, memang hanya netizen yang sering merasa heboh, orang di luar jaringan, kelihatannya, biasa-biasa saja tuh) oleh larangan kata "anjay" yang dikeluarkan oleh Komnas PA, berdasarkan "aduan masyarakat" - yang jika ditarik, bermula dari aduan Lutfi Agizal (semacam figur publik yang saya tidak tahu karena saya kurang gaul) -. Tentu saja, kritik muncul di mana-mana, karena, mengapa ucapan harus dilarang, meski katanya kasar? Jika ditilik-tilik, apakah memang iya, kata "anjay" itu kasar? Lalu, jika larangan tersebut benar-benar diberlakukan dan sifatnya mengikat secara hukum, kira-kira apa yang bakal terjadi pada masyarakat kita?

Gambar diambil dari sini.
Gambar diambil dari sini.


Saya tiba-tiba ingat film tahun 2010 berjudul The King's Speech yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap. Kegagapannya ini tentu saja menjadi masalah bagi seorang raja yang harus sering bicara di hadapan publik. Apalagi, konteks Raja George VI adalah di masa Perang Dunia II, di mana ucapan-ucapan raja menjadi krusial untuk menenangkan rakyatnya. Raja George VI kemudian merekrut Lionel Logue, semacam pelatih bicara, untuk membantunya. Salah satu hal yang saya ingat dalam film itu adalah bagaimana Logue kemudian menggali masa kecil Raja George VI, untuk berusaha menemukan penyebab kegagapannya. Protokol kerajaan yang dianggap terlalu ketat adalah salah satu sumbernya. Raja George VI sebenarnya kidal, namun dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan atas nama aturan kerajaan dan satu lagi, hampir sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperbolehkan berkata kasar (karena tentu saja, dianggap tidak pantas di lingkungan kerajaan). 

Logue, sebagai seorang pelatih berpengalaman, menganggap hal terakhir tersebut sebagai salah satu penyebab yang cukup krusial, sehingga dalam satu sesi, ia mempersilakan raja untuk berkata-kata kasar sepuasnya. Dalam perkembangannya, sejak raja punya sesi untuk bebas berkata kasar, gagapnya semakin lama semakin berkurang dan ia semakin percaya diri untuk berpidato (gagapnya hanya muncul sesekali saja dan tidak sering seperti sebelumnya).

Berkata kasar mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan, apalagi untuk langsung dilarang-larang. Psikoanalis terkemuka, Sigmund Freud, mengajukan kemungkinan adanya wilayah bawah sadar kita yang gelap, dalam, dan sangat instingtif. Wilayah bawah sadar ini, bagi Freud, mengontrol tindakan kita lebih banyak ketimbang aspek sadar kita sendiri. Setiap orang, tanpa terkecuali, punya sisi bawah sadar yang dipenuhi hasrat ini, yang bedanya adalah ini: Ada yang tersalurkan dan ada yang tidak. Tersalurkan itu kira-kira maksudnya: dapat bertindak sesuai kehendak - meski tidak dalam segala kondisi - sebagai cara untuk menyalurkan keinstingtifan yang keberadaannya tak terhindarkan. Contohnya: ada momen untuk bisa marah-marah, menangis, mengumpat, curhat, dan ekspresi jujur lainnya. Sebaliknya, tidak tersalurkan itu kira-kira adalah ketiadaan kemungkinan untuk mengekspresikan hasrat bawah sadar karena terepresi oleh keadaan. Contohnya: Berlaku terlampau dingin, kaku, dan formal, seolah-olah terlalu ekspresif itu menjadi agak memalukan. 

Terjawab kemudian mengapa ada kaitan antara gagapnya Raja George VI dengan dilarangnya ia berkata kasar dari sejak kecil hingga dewasa. Ada hasrat yang tidak tersalurkan, dan menyebabkan sejumlah "keganjilan" yang mengganggu di masa dewasanya - yang oleh Freud dapat juga berupa perilaku seksual yang tidak wajar seperti senang mengintip (voyeur) atau senang mempertontokan diri (eksibisionis) -. 

Maka itu, bersyukurlah mereka yang masih punya kesempatan berkata-kata seperti "anjing" di berbagai saluran. Seketika kita mengeluarkan kata tersebut, kita bukan saja sedang berkata kasar, tapi mengatakan sesuatu dari dasar batin yang terdalam, tentang kemuakan terhadap segala hal yang normatif. Mengatakan "anjing" adalah kelegaan yang membuat kita merasa hal-hal yang hasrati itu tersalurkan. Mengatakan "anjing" adalah simbol runtuhnya segala yang formal, dan menghadapkan kita pada situasi yang lebih cair, dinamis, dengan relasi personal yang lebih terbuka. 

Namun kata "anjing", dalam kebudayaan tertentu, terlalu berbahaya untuk diungkapkan secara terang-terangan - mungkin karena anjing dianggap hewan yang najis juga oleh ajaran tertentu -. Dengan demikian, kata seperti "anjrit", "anjir", atau "anjay", digunakan sebagai alternatif untuk menengahi antara hasrat individual dan kebudayaan (sungguh ini suatu kecerdasan yang hakiki). Jika kata, yang sudah sengaja dibuat secara kompromistis ini, kemudian tetap dilarang, maka apakah orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal - yang entah siapa itu -, mau bertanggungjawab dengan kemungkinan terjadinya keganjilan dalam masyarakat akibat bawah sadar yang direpresi? Lantas, memangnya, orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal sendiri, dalam kesehariannya, selalu bersikap sesuai norma-norma yang ada, baik di panggung depan (saat berelasi secara formal) maupun panggung belakang (saat berelasi secara lebih personal)? Jika iya, saya merasa kasihan sekali! Jangan-jangan, kalian ini psikopat.  

Continue reading

Thursday, August 20, 2020

Tentang Diharamkannya Ilmu Filsafat dan Hal-Hal yang Mesti Diingat

 

Hampir sebulan yang lalu, seorang kawan tiba-tiba nyolek saya di Instagram, dan menunjukkan konten di atas. Saya tertawa geli saja, karena pemikiran semacam ini tentu saja sudah lumrah. Namun lama kelamaan, tergelitik juga, dan merasa penting untuk menuliskan tentang bagaimana posisi filsafat di abad pertengahan untuk sekadar mengimbangi pendapat tersebut. 

Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, bukanlah di Eropa (karena di Eropa masa itu, beberapa aliran filsafat juga "diharamkan", atau lebih halusnya diistilahkan dengan "philosophia ancilla theologiae" atau "filsafat adalah hamba bagi teologi"). Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, adalah filsafat di abad pertengahan dalam konteksnya dengan dunia Islam, yang terbentang dari sekitar abad ke-8 hingga abad ke-14 masehi. 

Imam Al-Ghazali pernah menulis buku berjudul Tahafut al-Falasifah atau diartikan sebagai Kerancuan Para Filosof, yang ia tujukan bagi para filsuf sebelumnya seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Sekilas, memang tampak Al-Ghazali sedang berusaha "mengharamkan" filsafat lewat bukunya tersebut, sehingga ini kerap dijadikan justifikasi posisi filsafat yang terpinggirkan dalam dunia Islam. Sebelum mengamini pendapat tersebut, mari mengingat hal-hal berikut ini:

1. Imam Al-Ghazali menunjuk "para filosof" dan bukan "ilmu filsafat" sebagai sasaran kritik, yang bisa diartikan bahwa yang bermasalah bisa jadi adalah pandangan orang per orang dan bukan konsep filsafat itu sendiri. Bedakan dengan konten di atas yang langsung mengharamkan ilmu filsafat. 

2. Sebelum menuliskan Tahafut Al-Falasifah, Al-Ghazali menulis karya lainnya yang berjudul Maqasid Al-Falasifah atau diartikan sebagai Maksud Para Filosof. Pada Maqasid, Al-Ghazali mengelompokkan fisika, logika, matematika, dan astronomi, juga sebagai bagian dari ilmu filsafat, dan tidak menemukan masalah sama sekali di dalamnya. Hal yang menurutnya bermasalah hanya bagian metafisika-nya saja, dan itu yang kemudian menjadi sasaran kritiknya di Tahafut. Namun intinya, di Maqasid, Al-Ghazali hendak menunjukkan bahwa sebelum memberikan kritik, seyogianya kita memahami dulu dengan sungguh-sungguh tentang maksud para filosof. 

3. Pada Tahafut, Al-Ghazali mengritik para filosof dalam beberapa poin. Namun ada tiga poin yang dititikberatkan karena menurut Al-Ghazali, poin-poin tersebut dapat membawa para filosof pada kekufuran. Poin yang dimaksud adalah terkait hal-hal berikut:

a. Tentang hubungan Tuhan dan alam semesta. Para filosof (yang dimaksud Al-Ghazali) memandang bahwa alam semesta ini qadim (tidak diciptakan) dan keberadaannya ada bersama Tuhan. Alasannya, jika Tuhan ada duluan lalu menciptakan alam semesta, berarti ada jarak antara pra-penciptaan dan penciptaan (vacuum), yang menurut para filosof, tidak mungkin. Karena kemudian kemungkinannya menjadi dua: Tuhan menciptakan alam semesta dengan suatu maksud (ini bermasalah, karena artinya Tuhan tunduk pada suatu kehendak) atau Tuhan menciptakan alam semesta tanpa maksud (ini juga bermasalah, karena artinya Tuhan menciptakan sesuatu atas dasar "keisengan"). Al-Ghazali menganggap argumentasi tersebut dapat membawa filosof pada kekufuran. Dalam pandangan Al-Ghazali, hanya Tuhan lah yang bersifat qadim dan Ia menciptakan alam semesta dan sekaligus mengakhirinya. Sementara Tuhan sendiri selalu abadi.

b. Tentang Tuhan yang hanya mengurusi hal-hal yang universal saja. Para filosof menganggap bahwa Tuhan hanya mengurusi hal-hal yang universal saja dan tidak sampai pada hal-hal yang partikular. Argumennya, jika Tuhan mengurusi hal-hal partikular, maka Tuhan tunduk pada ruang dan waktu yang diciptakan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan dunia dengan hukum-hukumnya, lalu Ia tidak lagi terlibat di dalamnya, begitu menurut para filosof. Al-Ghazali tidak sepakat, dan menganggap bahwa Tuhan mengetahui dan terlibat dalam segala sesuatu, sampai hal terkecil sekalipun.  

c. Tentang jasad dan ruh yang dibangkitkan di hari kiamat. Menurut para filosof, yang dibangkitkan di hari kiamat hanya ruh saja karena jasad sudah rusak. Al-Ghazali tidak setuju dan berpendapat bahwa yang dibangkitkan adalah keseluruhan wujud kita sekarang, termasuk jasad dan ruhnya. 

Kritik Al-Ghazali tersebut ternyata cukup fatal dan mempengaruhi pandangan dunia Islam terhadap filsafat. Meski dikritik balik oleh Ibn Rusyd sesudahnya, namun karya Al-Ghazali lebih dikenal secara luas ketimbang sanggahan Ibn Rusyd. Sering disinggung, bahwa Al-Ghazali dianggap "bertanggungjawab" terhadap kemandegan ilmu filsafat di dunia Islam, yang sangat mungkin menjadi landasan bagi konten di atas (meski tidak menyebut Al-Ghazali). Namun kembali pada poin-poin di atas, penting untuk mengingat hal-hal berikut: Pertama, Al-Ghazali mengritik filosof dan bukan ilmu filsafat. Kedua, Al-Ghazali menunjuk sisi baik filsafat dan mencoba menelusuri maksudnya, sebelum mencari celah yang dianggap bermasalah. Ketiga, dalam Tahafut, Al-Ghazali terlihat mengritik filsafat dengan filsafat. Keempat, meski ini berbau ad hominem, tapi bisa juga dijadikan acuan: Al-Ghazali menuliskan Tahafut pada usia yang relatif muda, dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengritik. Pada perkembangannya, Al-Ghazali tidak lagi terlalu "keras" terhadap filsafat dan malah menjadikannya penting sebagai jalan untuk mencapai makrifat. 

Sebelum mengharamkan filsafat dan menyetujui bahwa filsafat itu haram, ada baiknya mengingat bahwa dunia Islam pernah begitu dekat dengan filsafat dan para filosof itu berdialektika dengan indah.        

Continue reading

Friday, July 31, 2020

Tentang Ta'aruf

Lewat sejumlah postingan teman-teman di postingan di FB, saya tertarik untuk membaca lebih jauh berita tentang pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Siapakah mereka? Saya sama sekali tidak tahu siapa mereka, namanya pun baru dengar - padahal mereka ini katanya orang sangat terkenal -. Apa yang menarik? Mereka (dan juga media, tentu saja) melabeli pernikahannya dilakukan dalam format ta'aruf, yang kira-kira menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuai syari'at Islam, yaitu "pacaran setelah menikah". 

Sumber gambar: Instagram @dindahw

Artinya, Rey dan Dinda, tidak seperti muda-mudi pada umumnya, yang terlebih dahulu menjalin hubungan dalam rangka saling mengenal - yang biasa disebut pacaran -. Mereka langsung menikah, bermodalkan pengetahuan satu sama lain yang "sedikit", dan lebih banyak berlandaskan keimanan. Pengenalan satu sama lain secara mendalam dilakukan dalam domain pernikahan, dan menjadi sesuai syari'at Islam karena sejalan dengan ajaran untuk "menghindari zina".

Pada sekitar bulan Februari lalu, saya menjadi moderator di acara berjudul Buka Tutup Kepala yang diadakan oleh Komuji Indonesia. Acara tersebut kebetulan mengangkat tema tentang ta'aruf dan narasumber yang dihadirkan merepresentasikan dua perspektif yang berbeda, yaitu Dian Siti Nurjannah (dosen, praktisi terapi) yang mengambil posisi pro ta'aruf dan Dede Muhammad Multazam (pengelola Yayasan Santri Progresif) yang mengambil posisi kontra ta'aruf. Dari diskusi tersebut saya mendapat pencerahan. Pertama, dari argumentasi Dian yang melihat bahwa pacaran itu lebih banyak menimbulkan masalah, dari mulai kemungkinan timbulnya kekerasan, potensi hubungan seksual yang kurang sehat, hingga menyebabkan konsentrasi terpecah dalam studi dan pekerjaan. Dian melihat bahwa dengan ta'aruf, hubungan menjadi lebih sehat dan "terlindungi", baik dari sisi negara maupun agama.

Dede punya pandangan yang berbeda, meski juga setuju bahwa agama memang menyuruh kita untuk menghindari zina. Namun, menurut Dede, sebagai dasar, Al-Qur'an sendiri menyebutkan istilah li-ta'arofu dalam konteks "saling mengenal", yang lengkapnya adalah sebagai berikut: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." Jadi, tidak ada anjuran atau suruhan secara tegas untuk melakukan ta'aruf, setidaknya dari segi istilah, hal tersebut tidak disebutkan di Al-Qur'an dalam konteks yang dimaksud hari ini. Dede hendak mengatakan, ta'aruf mungkin baik, tapi dasar keagamaannya kurang kuat. Atau, bisa jadi, ta'aruf lebih erat kaitannya dengan kebudayaan tertentu saja, yang memang melihat pernikahan bukan berdasarkan kehendak pasangan yang menjalani saja, melainkan unsur-unsur eksternal lain yang dianggap "lebih paham" (dalam hal ini, misalnya, orangtua atau pemuka agama).

Pertanyaan yang lebih besar, terlepas dari dua pandangan yang berbeda di atas itu tadi, adalah ini: Apakah ta'aruf selalu menghasilkan pernikahan yang baik? Baik dalam artian, langgeng dan bahagia (meski soal bahagia, tentu sulit mengukurnya). Karena jikapun ada diantara pernikahan dengan format ta'aruf ini yang ternyata kurang bahagia dan malah berujung perceraian, apakah data atau informasinya akan kita publikasikan? Mungkin bisa jadi ada hambatan (untuk mempublikasikannya), karena jika sebuah pernikahan dengan format ta'aruf ini gagal, maka yang tercoreng bukan terkait pada pasangan yang mengalami perceraian, melainkan pada ideologi agama itu sendiri.

Selain itu juga, faktor psikologis menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan atas dasar hasrat yang menggebu-gebu, dan tidak lewat pertimbangan yang lebih rasional? Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan dalam usia yang masih sangat muda, ketika masih dipenuhi ambisi terhadap suatu cita-cita, serta masih kurang matang dalam soal pengalaman hidup secara keseluruhan? Pada titik ini, ta'aruf juga mesti mempertimbangkan aspek-aspek keilmuan lainnya, yang ada di luar agama. Bisa saja, menikah dengan format ta'aruf, tapi kemudian mengalami ketidakbahagiaan karena masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sebab kekurangmatangan berpikir dan hasrat-hasrat yang belum selesai. Menghindari zina, dengan menikah muda, di sisi lain, bisa jadi bumerang.

Jadi, kembali ke soal pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Itu urusan mereka untuk berta'aruf, meski kemudian berimplikasi pada konten Instagram yang menggelikan karena mengumbar adaptasi mereka satu sama lain (yang seolah-olah hendak mengatakan pada warganet: "Ta'aruf itu asyik loh! saling menyingkap misteri pelan-pelan!"). Tapi jika oleh sebab perilaku selebgram semacam itu, kemudian ta'aruf menjadi populer di kalangan anak muda, mohon pertimbangkan dulu tulisan singkat ini, karena ada bahaya mengintip di balik ta'aruf.


Continue reading

Sunday, July 12, 2020

Tekad Menyebarkan Demotivasi

Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi, dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai.

Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan bahwa tidak ada satupun yang baru di dunia ini).

Tapi mungkin ini benar, bahwa konsep demotivasi harus disebarluaskan. Kelihatannya porsi sinisme, pesimisme, skeptisisme, absurdisme, dan lain-lain filsafat "kurang antusias" yang ada dalam keranjang demotivasi, bagi saya, tidaklah terlalu besar di dalam buku tipis tersebut. Namun, meskipun sedikit-sedikit, demotivasi kelihatannya menjadi suatu jalan tersendiri menuju kebahagiaan (karena dari sejumlah pengakuan, buku ini malah menyenangkan untuk dibaca, meskipun isinya didominasi oleh ajakan menyelami kepahitan hidup). Tentu saja, ini bukan klaim pribadi, melainkan dari beberapa review yang sudah dibaca (mungkin yang tidak berkomentar, tidak merasa bahwa buku ini penting, jadi ya tidak apa-apa).

Jadi, intinya, saya akan coba untuk mengembangkan buku ini ke arah lain. Instagram sudah ada, mungkin ditambah lagi dengan Podcast, Youtube, dan kegiatan-kegiatan darat (tentu jika pandemi sudah selesai). Eh sebentar, malah kelihatan motivasional sekali ya? Sudah saya jelaskan di buku tersebut, bahwa paradoks semantik akan terus terjadi dalam konteks bahasa, sama halnya dengan kaum eksistensialis yang mengatakan bahwa hidup ini tidak ada nilainya. Tapi dengan mereka mengatakan hal tersebut, maka mereka sendiri telah menyebut bahwa sebenarnya ada nilai dalam hidup ini (yaitu bahwa hidup ini tidak ada nilainya). Sama halnya dengan saya yang ingin menyebarkan ide demotivasi, tentu dengan sendirinya saya perlu motivasi untuk melakukannya.

Perkara semantik ini tidak perlu kita larut pada perdebatan di dalamnya. Hal yang lebih penting, ke depannya, adalah istilah demotivasi tidak lagi dianggap sebagai musuh dari motivasi - seolah-olah orang yang terdemotivasi adalah orang beracun yang patut dijauhi -. Hal yang lebih penting adalah istilah demotivasi menjadi penyeimbang bagi motivasi berlebihan (atau kata Romo Setyo di kata pengantar: inflasi motivasi). Sekali lagi, ini bukan pemikiran yang sama sekali baru. Demotivasi, sebagaimana sudah disinggung di atas, adalah ramuan yang terdiri dari bahan dasar sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain, yang dimasukkan dalam brand baru bernama demotivasi, yang mungkin terdengar lebih populer, karena dihadapkan dengan konsep motivasi yang begitu dominan di dunia kontemporer ini.

Motivasi menjadi agama baru, spiritualitas baru, dan para motivator menjadi nabi baru, spiritualis baru, yang kita tahu, selama mereka ini adalah manusia biasa, tentu saja bisa didekonstruksi dengan segala pendekatan. Tapi banyak dari kita khawatir mengritik mereka, karena ya itu, pengikutnya terlalu banyak, terlalu militan, terlalu fanatik, dan belum apa-apa muncul vonis bagi diri kita, yaitu minimal, sebutan "toxic" . Tentu sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain itu, bukan pemikiran yang hanya jadi jargon semata. Pemikiran mereka hadir atas suatu renungan panjang atas dunia yang tidak bisa disikapi dengan cara terlalu antusias dan motivasional. Pemikiran mereka, bagaimanapun, tetap bertujuan mulia, yaitu, sekali lagi, kebahagiaan.

Dengan demikian, saya akan terus mengabari dan menyebarkan ide ini, dengan segala cara, dan mungkin akan jadi proyek filsafat saya yang dominan. Saya sudah siapkan ide untuk tulisan mendatang, semacam sekuel dari Kumpulan Kalimat Demotivasi ini, yaitu Sop Kikil, sebagai pelesetan dari buku motivasi yang berjilid-jilid dengan judul Chicken Soup for the Soul. Mungkin banyak orang sukar menerima ide ini pada awalnya, karena terdengar memuakkan. Percayalah, ini memang pahit, tapi mungkin obat manjur abad ke-21, bagi jiwamu yang kering kerontang (penulis harus pede!).
 

Continue reading

Kelas Isolasi, Kiprahnya Sejauh Ini



Kelas Isolasi adalah proyek yang dibuat oleh Al Nino Utomo, mahasiswa semester tujuh di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, dengan saya, yang diinisiasi di sebuah tempat di wilayah BKR, Bandung, pada 19 Maret 2020. Waktu itu idenya adalah kelas filsafat daring sebagai respons terhadap situasi pandemi yang mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2020. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, selain bahwa proyek ini harus segera dimulai, karena di tengah kepanikan orang di masa pandemi, kami harus membuat suatu kelas yang mungkin dapat mengalihkan orang dari kepanikan itu. 

Kebetulan, saya memang sudah lama berpikir tentang kelas filsafat daring. Bahkan sudah pernah dengan lengkap membuat skemanya, hingga terpikir dinamai dengan "kelas insom". Mengapa "kelas insom"? Karena waktu belajarnya yang di atas jam sembilan, yang sedemikian rupa sehingga mereka yang mahasiswa kemudian menjadi telat untuk bangun pagi dan masuk kuliah. Tapi mereka tidak ketinggalan pelajaran, mereka tidak menjadi bodoh, karena sebenarnya mereka telat bangun pagi karena belajar di "kelas insom" di malam sebelumnya.

Sehingga memang, ide untuk membuat kelas daring ini bukan ide baru, meski eksekusinya terkesan buru-buru. Namun karena pernah dipikirkan sebelumnya, Kelas Isolasi, bagi saya, berjalan cukup baik, setidaknya sampai waktu saya menulis tulisan ini, yang sedang akan memasuki edisi ke-74 dan masih bertahan dalam hampir empat bulan. Dalam catatan data kami, Kelas Isolasi bahkan punya data hingga hampir tiga ribu peserta (per Juni, sekitar 2800-an) dari seluruh propinsi di Indonesia dan belasan negara lainnya. Bagi saya, dan mungkin juga bagi kami, ini kurang lebih menunjukkan bahwa sistem pengajaran ini berjalan dan peminat filsafat di luar sana banyak sekali - membuat kami bertanya-tanya, bahwa jangan-jangan selama ini memang banyak, tapi mereka tidak punya akses saja -.

Hingga hari ini, Kelas Isolasi didominasi oleh kelas yang diampu oleh Nino dan saya, dari mulai filsafat Yunani, epistemologi, eksistensialisme, metafisika, etika, sampai psikoanalisis. Namun dalam perjalanannya, Kelas Isolasi juga berhasil mengundang pembicara luar, yang beberapa diantaranya sudah memiliki reputasi tinggi seperti Budiman Sudjatmiko, Martin Suryajaya, Reza A. Wattimena, Soe Tjen Marching, Bhima Yudhistira, Erie Setiawan dan teman-teman yang juga sudah malang melintang berkiprah di bidangnya, seperti Deni Rachman (perbukuan), Adrian Benn (teknologi), Maradita Sutantio (fesyen), Jasiaman Damanik (logika), dan banyak lagi.

Kelas Isolasi, sebagaimana terlihat dari awal pembentukannya, tidak didanai oleh siapapun di luar dan hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan materi berupa artikel, power point, dan audio rekaman kelas, serta sertifikat elektronik. Semua itu dijual di kisaran 10 - 25 ribu saja per materi. Kelasnya sendiri gratis dan kelihatannya akan selalu begitu. Diantara materi tersebut, paling sulit tentu saja membuat artikel. Nino dan saya cukup disibukkan dengan penulisan artikel sekitar dua sampai tiga halaman yang walaupun sedikit, tapi kami lakukan hampir setiap hari. Memang kalaupun tanpa artikel, para peserta sudah diuntungkan dengan kelas gratis dan materi dalam bentuk power point serta audio. Tapi saya katakan pada Nino, kalau tanpa artikel, maka kelas ini akan jadi kelas "bicara bebas" dan "ngalor ngidul" yang tidak ada beda dengan kelas pada umumnya yang mengatasnamakan "bincang santai". Untuk pembicaraan filsafat begini, diharapkan ada pertanggungjawaban ilmiah dan referensialnya, meski kecil-kecilan.

Lantas, bagaimana Kelas Isolasi ini ke depannya? Dengan hampir 2500 followers di Instagram dalam waktu kurang dari empat bulan, kelihatannya animo terhadap kelas ini masih baik - meskipun di beberapa tempat, aktivitas sudah mulai berjalan normal dan maka demikian jumlah peserta tidak sebanyak dulu, saat masih serba dikarantina -.  Maka dari itu, kelihatannya kelas ini juga akan dilanjutkan sampai entah kapan, dengan frekuensi yang mungkin sedikit disesuaikan (jika pandemi sudah selesai, mungkin dua atau tiga kali seminggu saja cukup). Terpikir juga untuk melakukan lintas kanal seperti siaran di Youtube dan Podcast, tapi masih belum terealisasi karena sibuk menulis artikel :p.

Pandemi masih akan berlangsung lama di republik ini, dan maka itu kelihatannya Kelas Isolasi masih akan dilanjutkan. Menarik karena kami mengamati, bahwa kelas daring menciptakan kebebasan tertentu yang tidak ada di kelas filsafat luring. Misalnya, di kelas luring, ada semacam sikap malu, segan, khawatir pertanyaan kita konyol, pernyataan kita kurang berbobot, sementara itu, di kelas daring, hal-hal semacam itu luntur karena kita mengakses dari ruang masing-masing, bisa anonim, dan bisa melempar pertanyaan begitu saja tanpa khawatir (bisa saja pertanyaan tersebut konyol, tapi video bisa dimatikan, agar tidak malu). Dengan gerakan ini, semoga semakin banyak orang gemar berfilsafat, yang kemudian berdampak pada berkurangnya pernyataan konyol dan medioker di negeri ini. Amin. 
Continue reading

Tuesday, June 23, 2020

Kala Tuhan Memvisualisasikan Dirinya

Visualisasi Kalamullah adalah buku, namun bukan buku yang dipasarkan secara bebas di toko-toko buku - setidaknya belum -. Penulisnya, kawan saya, Arden Swandjaja, adalah orang yang nampak kurang percaya diri untuk mempublikasikan karya-karyanya (berbeda dengan saya, yang berbasiskan kepercayaan diri, meski tulisan ala kadarnya). Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku Arden. Sebelumnya, buku berjudul Buka Tutup Botol, adalah buku yang karakteristiknya sama: Dibaca oleh kalangan terbatas saja.



Apa sebenarnya yang ditulis oleh Arden? Topik yang dipilih Arden, memang, jika disebarluaskan, besar kemungkinan publik kita, yang ingin serba praktis dan langsung mencari apa manfaatnya, akan kesulitan mencerna. Arden dapat dikatakan menulis tema-tema sufistik. Tapi, bukankah tema-tema sufistik disukai oleh pembaca kita? Ya, jika sufisme terbatas pada puisi cinta, atau "spiritualitas awam", tentu banyak penggemarnya - meski kemudian hanya dibaca dan tidak diselami, tidak merasa harus mencapainya secara makrifat -. Inilah yang menjadi perbedaan pada Arden, yang membuat saya memahami kekhawatirannya: Arden mungkin sudah "sampai" pada apa yang dinamakan kemakrifatan itu. Pada ketinggian pemahamannya itu, ia gelisah ingin membagikan renungannya, tapi takut sekali orang gagal paham tentang apa yang ia pikirkan dan rasakan. 

Padahal, sejarah mencatat bagaimana ketinggian spiritual seseorang, selalu membuatnya gagal dipahami oleh banyak orang, dan bahkan dituduh sesat. Al Hallaj misalnya, sufi dari abad ke-9, pada akhirnya dihukum mati, salah duanya karena ungkapan "Ana Al Haqq" (aku adalah kebenaran) dan menempatkan iblis sebagai tauhid sejati, sejajar dengan Muhammad, karena menolak untuk bersujud pada selain Allah. Pada abad ke-12, Ibn Tufail menulis karya fiksi berjudul Hayy Ibn Yaqzhan atau dalam bahasa Latin disebut juga sebagai Philosophus Autodidactus. Dalam novel itu, dikisahkan seorang anak bernama Hayy yang tumbuh sendirian di pulau terpencil. Ia belajar dari alam sekitar dan akhirnya memahami Tuhan serta menemukan spiritualitasnya sendiri. Singkat cerita, renungan Hayy tersebut sampai ke pulau lain yang berpenghuni. Hayy menjelaskan spiritualitasnya di hadapan khalayak, tapi tiada satupun yang mengerti. Satu per satu pulang dari forum dan menganggap Hayy sebagai "orang aneh". 

Cerita tentang Al-Hallaj dan Hayy Ibn Yaqzhan itu adalah representasi ekstrim dari kegelisahan Arden. Ia tahu ia ada dalam sebuah posisi tertentu dalam spiritualitas, dan ia berusaha sebisa mungkin menyampaikannya dalam bentuk buku, agar orang lain juga dapat turut memahami apa yang dipikirkannya. Iya, sekali lagi, ia khawatir bukunya sukar dipahami, dan maka itu meminta beberapa orang dulu untuk membacanya, memberi masukan, dan mungkin suatu saat ia akan berani untuk mempublikasikan buku ini secara luas.

Visualisasi Kalamullah adalah tafsir Arden tentang ayat-ayat dalam Al-Qur'an, yang menurutnya punya simbolisasi tertentu. Al-Qur'an, bagi Arden, bukanlah "book of science" atau buku berisi penjelasan ilmiah, tapi lebih pada "book of sign" atau buku berisi kumpulan tanda. Arden melihat bahwa ekspresi tertentu dalam ayat-ayat Allah ini, seringkali terasosiasikan dalam gambar, yang menurutnya merupakan hasil leburan antara pengalaman subjektifnya sebagai pegiat di bidang rupa, dan renungannya tentang universalitas bahasa Al-Qur'an.

Arden juga, dalam buku ini, melengkapi penafsirannya melalui pembacaan lintas teks seperti fisika Newtonian, Tao Te Ching, hingga Masaru Emoto dan Eckhart Tolle. Buku ini juga, tentu saja, berisi gambar-gambar, dari mulai yang sederhana hingga yang kompleks. Misalnya, ayat yang potongannya berbunyi, ".. maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam..", oleh Arden, ungkapan "empat puluh" tidak dibaca dalam konteks bilangan, melainkan bahasa rupa, yaitu empat bulatan. Empat bulatan ini ditafsirkan sebagai empat kekosongan, yang dalam budaya Sunda disebut "papat kalima pancer". Arden memahaminya dengan sangat menarik: "Ketika empat persepsi dikosongkan, barulah akan muncul 'kesadaran kelima', yaitu 'kesadaran akan Yang Ilahi' itu." 

Buku ini memang agak rentan dengan tuduhan "cocoklogi" dan "over-analysis". Pembaca yang menuduh demikian, kemungkinan adalah pembaca yang sama dengan yang juga menuduh Zakir Naik, Agus Mustofa, hingga Deepak Chopra. Memang, pembahasan antara kitab suci yang dikaitkan dengan keilmiahan, masih dianggap alergi oleh pihak tertentu, yang secara fanatik memandang kedua hal tersebut harus dipisahkan dalam kerangka berpikirnya masing-masing. Kita boleh setuju, boleh juga tidak. Saya pribadi menganggap bahwa pada mulanya, sains, agama, seni, dan filsafat, tidak ada bedanya sama sekali dan keseluruhannya bergerak dalam satu kesadaran - sampai dunia modern memisahkannya secara ketat dan malah membuat keempatnya sering berkelahi satu sama lain -. Sehingga bagi saya, apa yang dipikirkan oleh Arden, tentu sah-sah saja, dan bahkan sangat menarik: kian menunjukkan kekayaan Al-Qur'an, yang justru menarik dibahas dari berbagai perspektif. 

Namun kembali ke premis awal mengapa tulisan Arden adalah juga tulisan yang bersifat sufistik. Ada hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa Arden, dalam buku ini, juga mengajukan permohonan maaf bahwa apa yang ia tulis bukan berdasarkan pada pemahaman agamanya (yang ia sebut sendiri sebagai dangkal). Tulisannya ini adalah bentuk kecintaannya pada Allah dan ayat-ayatnya. Apa yang mendasari Arden lebih dari sekadar keilmuan, melainkan sebentuk kerinduan yang sangat besar, yang mewujud menjadi sebuah tulisan yang bersahaja dan terbuka terhadap berbagai pendapat, termasuk ketidaksetujuan (terlihat dari bagaimana Arden membuat 10 halaman kosong di bab 5 untuk menampung berbagai makna yang mungkin). Di sinilah sufisirme Arden terasa, yaitu nuansa cinta, rindu, dan sekaligus kekaguman yang luar biasa terhadap kalam Tuhan, yang baginya, merupakan wajah yang dualistik: antara transenden dan imanen, antara dapat dibaca secara literal dan alegoris, dan antara tidak tervisualkan dan tervisualkan. 

Akhirul kata, Visualisasi Kalamullah ini kelihatannya tidak masalah untuk dikonsumsi lebih luas. Hanya saja, di tengah kepungan informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, diperlukan kemasan yang lebih akrab dengan pembaca awam. Soal kemasan, tentu saja, Arden, sebagai pegiat visual, seharusnya lebih paham. 
Continue reading

Wednesday, March 25, 2020

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak)

Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini.

Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi di Kota Oran yang diserang oleh wabah pes. 

Dalam kondisi ancaman wabah mengerikan tersebut, Camus dapat melihat bagaimana reaksi yang beragam, yang dalam novel digambarkan sebagai berikut: ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang rasional – persoalan medis semata -, dan ada juga yang menganggapnya sebagai berkah – karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya -. 

Camus kemudian mengajukan pertanyaan yang barangkali menantang kita semua: Pada titik di mana manusia ada di bawah situasi yang mematikan seperti wabah, apa yang kira-kira akan kita lakukan? Di sini lah pemikiran Camus tujuh puluh tahun silam dan situasi kita hari ini menemukan hubungannya. Pada situasi semacam ini, insting dasar manusia untuk bertahan hidup kemudian ditampakkan, dengan misalnya, memborong bahan makanan, dan melihat orang lain sebagai ancaman. 

Berdasarkan dua premis di atas yang diambil dari novel La Peste karya Albert Camus tersebut, maka pandemi dalam hal ini, pertama, mencerabut kita untuk sementara dari rutinitas keseharian yang normal dan tertib, untuk kemudian sejenak merenungkan keseluruhan kehidupan. Kedua, kita, di sisi lain, diajak untuk mengenali insting purba yang oleh Thomas Hobbes disinggung sebagai homo homini lupus atau diartikan sebagai “manusia adalah serigala bagi sesamanya”. 

Teodise 

Sebagaimana ditulis oleh Camus di atas, perkembangan virus Corona menimbulkan reaksi juga dari kalangan agamawan. Sebelum virus ini mewabah di Indonesia seperti sekarang ini, ada yang sempat menyebut virus ini sebagai tentara Tuhan untuk menghukum suatu kaum (maksudnya, orang-orang Tiongkok), dan ada juga yang mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin terjangkiti Corona karena banyaknya orang yang berwudhu.

Pernyataan-pernyataan semacam itu menjadi semacam ditantang, ketika fakta yang terjadi justru tidak sesuai. Masalah ini, dalam tradisi filsafat disebut dengan teodise – sebuah istilah yang diangkat pertama kali oleh pemikir asal Jerman, Gottfried Leibniz (1646 – 1716) -.

Pada teodise, dibahas masalah terkait hubungan antara Tuhan yang Maha Sempurna, dengan kenyataan dunia yang serba tidak sempurna. Pertanyaannya, jika Tuhan Maha Sempurna, bagaimana bisa, di dunia ini ada kejahatan dan penderitaan – termasuk juga, wabah -? Mengapa Tuhan, dengan segala kuasanya, tidak menghentikannya? Apalagi, melihat korelasinya dengan contoh di atas, Tuhan ternyata juga membiarkan wabah tersebut menyerang orang-orang beragama.

Terhadap pertanyaan tersebut, berbagai respons diajukan dalam sejarah pemikiran, yang mungkin dapat menjadi acuan dalam bagaimana kita melihat virus Corona ini, dalam kacamata yang lebih filosofis. John Hick (1922 – 2012), teolog asal Inggris, mencoba menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa pada dasarnya, Tuhan menciptakan dunia ini tanpa kejahatan dan penderitaan. Iblis kemudian masuk ke dunia melalui “dosa asal” Adam dan Hawa. Ini hampir senada dengan pernyataan ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu Imam Al-Ghazali (1058 – 1111) yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan dan terjadi di dunia, merupakan hal yang sudah demikian sempurna adanya (perfect world).

Tentu tidak ada jawaban yang bisa benar-benar memuaskan kita, terlebih dari bagaimana karakter pertanyaan filosofis memang bukan untuk dijawab secara pasti. Hal yang lebih penting adalah kegiatan mengajukan pertanyaan itu sendiri, yang menimbulkan refleksi dan kesadaran yang lebih mendalam pada cara kita memandang sesuatu.

Bagaimanapun, situasi pandemi adalah situasi yang serba tidak pasti. Kita bahkan juga tidak tahu kapan wabah ini berakhir dan akan berkembang hingga seberapa luas. Selain tetap menjaga kesehatan, kita bisa memilih untuk tetap hidup tenang dan berbahagia, tanpa harus larut dalam ledakan kepanikan.

Camus memberi contoh dengan baik, masih dari novelnya berjudul La Peste. Melalui tokoh dr. Bernard Rieux, Camus mengajak kita untuk mementahkan beragam tafsir yang berseliweran. Di tengah wabah yang mematikan sekaligus membingungkan, ia berpendapat bahwa sikap yang benar adalah menerima dengan lapang dada segala ketidakmampuan manusia untuk memaknai kejadian tersebut, dan mencoba hidup berbahagia saja. Pada akhirnya, virus ini menyadarkan kita, bahwa realitas selalu lebih besar dari pikiran kita, dan bahkan dari tafsir agama sekalipun.

Sampul buku La Peste karya Albert Camus

Continue reading

Friday, February 28, 2020

Demotivasi, Obat Pahit Abad Ke-21

Sudah lama saya merasa ada yang salah dengan berbagai acara motivasional di televisi ataupun kutipan motivasi yang bertebaran di media sosial ataupun Whatsapp group. Perasaan itu kira-kira begini: Mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut? Dibaca tentu dibaca, diamini tentu diamini, dan kadang-kadang, harus diakui, ungkapan-ungkapan motivasional itu lumayan ada yang bagus juga. Tapi sekali lagi, mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut?

Ilustrasi oleh M. Rico Wicaksono (Instagram: @matjan_ningratz)
Tapi kita sepertinya tidak hidup di era di mana sikap anti-motivasional dipandang sebagai sikap yang mesti dihargai. Kurang dari itu, malah sikap anti-motivasional lebih baik dianggap sebagai sikap yang tidak populer, tidak terpuji, dan bahkan penyakit menular yang harus dijauhi. Iya, para motivator terkenal itu sering mengatakan, jangan dekat-dekat orang yang berpikiran negatif, nanti kita yang berpikiran positif ikut terbawa. 

Namun gelagat anti-motivasional sebenarnya mulai menggeliat, terutama sejak media sosial mulai akrab dengan meme. Iya, meme kelihatannya menunjukkan suatu ekspresi yang cenderung ke arah humor yang gelap, satir, sinis, dan cenderung menertawakan diri sendiri. Meme, yang cenderung anonim, kelihatan lari dari tanggung jawab dari upaya-upayanya dalam mengingatkan para warganet tentang hidup kita yang absurd. Tapi anonimitas itulah yang justru menarik: jangan-jangan, sebagian manusia memang sudah berpikir anti-motivasional. Hanya saja, tidak semua dari mereka mau menampakkan diri dengan identitas aslinya - karena mungkin, khawatir dianggap sebagai penyakit masyarakat, sebagaimana sudah diungkap di atas -. 

Bandingkan dengan para motivator yang selalu bangga dengan kalimat motivasi atas nama dirinya, seolah ingin dicatat sebagai sosok yang berjasa dalam mengangkat mereka yang batinnya hampa, dari lubang yang gelap.

Suatu hari, kira-kira empat atau lima tahun yang lalu, saya menulis status di Facebook kira-kira seperti ini (persisnya saya lupa): "Ingin rasanya saya duduk berdua dengan motivator, dan mengatakan, Pak, cari rejeki yang halal aja, jangan mengambil keuntungan dari kekosongan batin orang lain." Responsnya lumayan. Kelihatannya ada belasan atau beberapa puluh orang yang setuju (dilihat dari jumlah likes dan comments) terkait pemikiran ini, yang mungkin merepresentasikan kegelisahan mereka. Bisa saja sudah sejak lama mereka berpikiran yang sama, bahwa apa yang dikatakan pada para motivator itu, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat sederhana dan klise. Namun banyak dari peserta yang datang dalam keadaan limbung, batin kosong, dan maka itu meminta pendapat tentang sesuatu yang mereka harusnya juga tahu. Saya tidak menyalahkan para peserta acara motivasi. Hanya saja, masyarakat kita seolah sudah dibentuk seperti itu. Motivator menjadi "nabi abad ke-21", yang pengikutnya adalah mereka yang cemas bagaimana menata hidup di tengah modernitas yang serba cepat dan tidak pasti. 

Apakah yang dikatakan oleh para motivator itu, sesuatu yang keliru? Tidak sama sekali, bahkan bisa jadi, sesuatu yang benar. Namun ada permasalahan yang bisa diangkat: Motivator tersebut, cenderung menganggap pola pikir sebagai panacea atau obat bagi segala. Mau kaya? Berpikirlah ke arah sana. Mau sukses? Berpikirlah ke arah sana. Mereka yang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, pasti karena pikirannya tidak fokus ke sana! Itulah mengapa sikap anti-motivasional kemudian dianggap penyakit masyarakat, karena bertentangan dengan kredo menuju kesuksesan dan kekayaan. Padahal kita bisa kritisi, bahwa orang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, tidak selalu tentang pola pikirnya yang negatif, melainkan juga karena masalah sistemik yang ada di luar kuasa mereka. 

Itulah sebabnya kata-kata motivasional harus kita kritisi sebagai suatu metode yang mengilusi, bahwa seolah-olah semua orang bisa jadi apapun asal pikirannya ke arah sana. Pada titik ilusi yang akut ini, motivator sering menjadi orang yang dimanfaatkan untuk kepentingan eksploitasi dan konsumerisme. Mereka "dipesan" oleh perusahaan agar karyawan lebih rajin dan kadang, religius, atas nama kemajuan korporasi, tanpa bisa bersikap kritis karena pemikirannya sudah dikepung oleh kredo-kredo motivasional. Kalimat motivasional juga ada pada dorongan kita untuk mengonsumsi, seolah-olah membeli ada kaitannya dengan moralitas, dan itu mengepung kita juga, di mana-mana (contohnya, slogan-slogan pada iklan komersial). Apakah sikap kritis bisa mengeluarkan tajinya dalam kondisi semacam itu? Bisa, tapi tidak bisa secara langsung menunjuk sikap motivasional sebagai biang keladi dari persoalan. Sekali lagi, karena secara sistemik sikap anti-motivasional dianggap sebagai penyakit masyarakat. 

Maka mari kita coba tawarkan suatu pemikiran yang sebenarnya tidak baru sama sekali, tapi mungkin menarik karena dimunculkan di tengah masyarakat yang alergi dengan sikap anti-motivasional. Kita punya ruang dan momentum, yaitu kehidupan internet dengan segala meme-nya, yang merayakan dengan tragis segala bentuk sinisme dan absurditas. Namanya sederhana dan istilahnya sudah sering digunakan: demotivasi. Dalam demotivasi ini, kita bisa membangkitkan kembali pemikiran yang tenggelam dalam masyarakat yang terkena "inflasi motivasi", seperti skeptisisme, stoisisme, sinisme, absurdisme, pesimisme, dan bahkan nihilisme. Pemikiran-pemikiran yang muncul di era mulai dari Yunani Kuno, Hellenisme, sampai Abad ke-20 tersebut, pasti bukan muncul tanpa alasan. -Isme -isme itu hadir untuk mengimbangi suatu pemikiran yang terlampau positif dan antusias, yang bisa jadi menyebabkan masalah tersendiri bagi masyarakat. 

Paling mudah tentu menunjuk Perang Dunia I dan II, sebagai konsekuensi dari pemikiran masa Romantik, yang erat dengan patriotisme yang sangat optimistik dan melihat negara sebagai instrumen untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang luhur. Sejumlah pemikir, seperti kaum eksistensialisme kemudian menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang omong kosong: "Beginikah hasil pemikiran yang 'super motivasional' yang muncul dari gagasan Romantik itu? Perang besar yang mengorbankan jutaan manusia atas nama patriotisme dan apalah itu terkait negara dan cita-cita kemanusiaannya?" 

Demotivasi adalah pemikiran yang tidak rumit-rumit amat, namun mesti dipahami sebagai antitesis dari kondisi masyarakat yang serba motivasional. Lewat demotivasi, kita diajak untuk memahami kembali hidup secara kritis dan realistis. Skeptis itu boleh, sinis itu perlu, tanpa harus takut dicap sebagai pesakitan. Demotivasi bukan artinya hidup malas-malasan, melainkan hidup dengan berpegang pada tanggung jawab dan panggilan dari dalam, berupa suara hati atau gairah, tanpa perlu menalikan diri pada suara-suara motivasional yang bisa jadi tidak ada kaitannya dengan keinginan kita yang terdalam. Motivasi seringkali mengajarkan kita untuk menjadi homogen, dalam arti menuju kekayaan dan kesuksesan - yang bisa jadi, sangat utopis -, sementara demotivasi membawa kita untuk merayakan heterogenitas, bahwa dalam hidup ada juga "orang biasa dengan pekerjaan biasa" yang bisa jadi lebih bergairah daripada mereka yang mengejar kekayaan dan kesuksesan, tapi bingung dengan apa yang dipijaknya. 

Demotivasi juga mengingatkan kita lebih sering terkait kematian, yang menghantui kita setiap saat, sebagai batas dari segala tindakan yang paling mulia sekalipun. Motivasi berlebihan memang berbahaya, karena menepikan kematian sebagai kenyataan eksistensial yang tidak penting. Padahal, tidakkah umumnya agama-agama, sebenarnya menyuarakan demotivasi lebih sering, bahwa hidup di dunia ini tidak lebih dari persinggahan yang penuh senda gurau? Kenapa harus terlalu serius terhadap segala sesuatu? 

Demotivasi mengandung sisi bahaya, yang tidak bisa begitu saja diterapkan bagi anak-anak hingga remaja, yang memerlukan harapan dan cita-cita dalam tindak-tanduk mereka. Demotivasi juga mengandung sisi bahaya, bagi mereka yang sakit dan berharap kesembuhan melalui harapan sesedikit apapun. Tidak semua orang dapat menerima demotivasi sebagai obat yang sangat pahit ini. Tapi setidaknya, mari mulai pelan-pelan mempromosikan konsep ini, bukan lagi sebagai racun yang berbahaya, namun sebagai obat penawar bagi berbagai ilusi memabukkan yang ditebar oleh kalimat-kalimat motivasional. 


Continue reading

Tuesday, February 25, 2020

Dari Diskusi Literasi "Road to Bandung Writers Festival"

Saya diajak oleh teman, Deni "Kochun" Ramdani untuk menjadi project officer untuk acara bertajuk Bandung Writers Festival. Saya iyakan meski tahu bahwa ini adalah tugas yang tidak ringan, apalagi akan berlangsung nyaris sepanjang tahun. Rangkaian acara Bandung Writers Festival dimulai pada tanggal 21 - 23 Februari yang diberi judul Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban. Acaranya macam-macam dan detailnya bisa dicek di instagram @bandungwritersfestival. Tulisan di bawah ini adalah rangkuman dari salah satu mata acaranya yaitu Diskusi Literasi. Diskusi Literasi berlangsung sebanyak lima kali dalam tiga hari. 

Diskusi Literasi #1 
Sastra Masa Kini
Narasumber: Zulfa Nasrulloh

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Masa kini adalah masa ketika ukuran kebenaran menjadi serba nisbi. Tidak terkecuali di wilayah sastra, yang mana setiap orang tiba-riba menciptakan ukuran sendiri untuk menilai mana sastra yang bagus dan mana yang kurang bagus. Ini memang semacam konsekuensi dari zaman, yang memungkinkan sastra paling adiluhung sekalipun, dapat bersanding dengan sastra populer yang mungkin tidak sesuai dengan “kaidah” dari “kanon sastra”. Sastra masa kini juga adalah sastra yang membuka kemungkinan lebih besar terhadap metode alih wahana, yang membuat sastra dapat diterima dalam bentuk teater, film, musik, dan bahkan kutipan-kutipan di instagram. 

Diskusi Literasi #2 
Sastra Sunda di Era Digital
Narasumber: Deri Hudaya

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival


Digitalisasi ternyata tidak serta merta memberangus sastra Sunda, terutama kaitannya dengan semakin masuknya pengaruh-pengaruh dari luar budaya lokal. Justru digitalisasi adalah peluang bagi kita untuk mempopulerkan bahasa-bahasa “yang nyaris terpinggirkan”, tentunya dengan gaya dan ekspresi baru. Tidak terkecuali dengan sastra Sunda, yang sekarang justru semakin mudah diakses, dan dapat tersebar melalui teknologi baru, seperti misalnya Keblueks: Kumpulan Sajak Sunda Digital dari Wahyu Heriyadi yang dapat diperoleh dengan cara memindai QR Code. 

Diskusi Literasi #3 
Dunia Digital: Kabar Baik bagi Literasi Anak?
Santi Indra Astuti

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Dunia digital bukanlah hal yang mesti dijauhi secara berlebihan. Hal yang mesti dilakukan adalah justru mengakrabinya, sambil memahami bagaimana bentuk digitalisasi yang justru dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dan berwawasan. Pada dasarnya, literasi digital justru harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Orangtua mesti menjadi lingkaran terdalam pertama yang memahami nilai-nilai dalam dunia digital, sebelum meluas perlahan ke ruang lingkup sekolah, komunitas, hingga negara. Digitalisasi baru akan menjadi kabar baik bagi literasi anak, jika ada kerjasama dan koordinasi yang kuat antara unsur-unsur di atas. 

Diskusi Literasi #4
Sastra dan Ruang Publik
Narasumber: Rosihan Fahmi


Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Bagi sebagian orang, sastra selama ini dipandang sebagai wilayah yang eksklusif. Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, terutama karena tidak adanya upaya untuk menghadirkannya di tengah publik. Rindu Menanti adalah gerakan yang menghadirkan sastra di ruang publik, terutama dengan program Halte Sastra, yang menempatkan berbagai kutipan sastra beserta siluet para sastrawan di belasan halte di Kota Bandung. Sebagian dari hasil kerja tersebut masih bertahan hingga hari ini, tapi sebagian besar sudah rusak atau lebih tepatnya, dirusak. Pengrusakan tersebut dapat dinilai sebagai bagian dari respons publik terhadap sastra, selain dari bentuk respons lain yang melegakan, yaitu perlindungan menyeluruh dari tukang parkir, preman, tukang jualan, dan masyarakat sekitar, demi tetap tegaknya Halte Sastra.


Diskusi Literasi #5 
Sastra dan Kritisisme
Narasumber: Herry “Ucok” Sutresna

Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival

Sastra yang kritis bisa ada hubungannya dengan perubahan, bisa juga tidak ada hubungannya sama sekali. Namun setidaknya, sastra yang kritis, meski disampaikan lewat budaya yang paling massal dan populer sekalipun, tetap dapat diterima sebagai gerbang menuju literatur kritis selanjutnya, dan diharapkan timbul menjadi kesadaran baru yang kuat. Meski demikian, budaya massa tetap mengandung dua sisi mata uang. Sisi pertama, dapat menjadi “gerbong” bagi pemikiran kritis agar dapat diterima masyarakat secara lebih luas – walau tetap harus ditindaklanjuti dengan gerakan aktivasi yang konkrit -. Namun di sisi yang lain, budaya massa menciptakan desakralisasi dan sekaligus menghilangkan “transendensi” dari apa yang dikritiknya. Bisa jadi, pembaca sastra kritis ini menjadi kritis, tapi tidak benar-benar menghayati karena apa yang diterimanya hanya bagian dari histeria massal yang tidak berujung apa-apa.
Continue reading