Wednesday, December 18, 2019

Belajar dari Hidup Seneca: Bolehkah Filsuf Sekaligus Orang Kaya?

Bunuh Diri Seneca (1871) karya Manuel Dominguez Sanchez diambil dari sini.

Seneca (4 SM - 65) adalah pemikir Romawi yang juga sekaligus penasihat dari Nero, kaisar Romawi yang terkenal tiran dan kejam. Seneca menulis sejumlah karya termasuk tragedi Medea, Thyestes, dan Phaedra, serta pemikiran filosofi yang beberapa diantaranya dituangkan ke dalam buku berjudul Naturales Quaestiones dan surat-surat berjudul Epistulae Morales ad Lucilium. Secara garis besar, pemikiran Seneca adalah tentang stoisisme, suatu aliran pemikiran yang mengajarkan untuk berjarak dari "keinginan", "kehendak", dan "kecenderungan" sebagai cara untuk mencapai ketenangan batin dalam tujuannya mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Orang-orang stoik biasanya cenderung tenang, bahkan dingin - seperti tidak memiliki emosi - sebagai cara mereka untuk tidak terlalu terlibat secara berlebihan dengan hidup.

Namun di sisi lain, Seneca adalah orang dengan kekayaan berlimpah. Ia mempunyai lima ratus meja dengan kaki yang terbuat dari gading, suka meminjamkan uang dengan bunga besar, dan berinvestasi pada sejumlah tanah. Seneca sering disebut sebagai salah satu orang paling kaya di generasinya, dan ini dimungkinkan sebagai upahnya menjadi penasihat Nero selama delapan tahun.

Selama hidupnya, Seneca dianggap sebagai orang dengan hidup paradoks. Filsafat-filsafatnya mengajarkan kesederhanaan cara berpikir dengan menekan berbagai keinginan, tapi di sisi lain, pemikirannya ditujukan untuk melanggengkan tirani. Bagaimana Seneca menyikapi paradoks ini?

Seneca sendiri akhirnya mati atas titah Nero. Ia dianggap sebagai bagian dari komplotan yang hendak menjatuhkan Nero, sehingga dihukum mati dengan cara memotong nadinya sendiri sampai kehabisan darah. Sebelum mati, Nero menuliskan pertentangan batinnya, dalam surat kepada sahabatnya Lucilius Junior. Beberapa potong kalimatnya isinya adalah sebagai berikut, "Hanya orang bijak yang bisa memainkan satu karakter ke karakter yang lain. Orang bijak seyogianya mengembangkan kebajikan, baik dalam kekayaan maupun kemiskinan. Dalam kondisi apapun, orang bijak akan selalu meninggalkan sesuatu yang berkesan."

Tulisan Seneca memang terdengar hanya apologia bagi pembaca yang sinis. Sikap Seneca merupakan sikap yang berbahaya dan selalu relevan terkait dengan cara berpikir yang pro-kekuasaan (terlebih yang tiran). Namun tetap masih bisa dipertanyakan: Apakah kebijaksanaan mesti identik dengan kemiskinan?

Apakah Nero tanpa Seneca (atau siapapun yang relevan dengan kehidupan sekarang), akan lebih baik perangainya, atau malah lebih buruk? Bolehkah filsuf adalah sekaligus orang kaya dan masih bisa tetap disebut sebagai orang bijak, sebagaimana Seneca mengatakan: hanya orang bijak yang bisa memainkan satu karakter ke karakter lainnya? Seneca mengajarkan kita, bahwa tidak selalu benar tentang hidup yang seperti kata WS Rendra: "Gagah dalam kemiskinan". Meski demikian, tidak semua dari kita bisa kuat berada dalam permainan macam Seneca. Beruntunglah Seneca masih ada yang mengharumkan namanya. Kebanyakan dari kita, jika bersikap seperti Seneca, akan hilang ditelan penghakiman sejarah.
Previous Post
Next Post

0 comments: