Sunday, October 6, 2019

Bidadari Merah Putih: "Brecht Sa-Brecht-Brecht-Na"

Analisis Pertunjukan sebagai Penonton (Padahal aslinya Penata Musik) 


Kita bisa mulai menganalisis teater Bidadari Merah Putih (selanjutnya disebut dengan BMP) dari sudut pandang estetikanya. Pertama, BMP menyajikan cukup banyak adegan, dengan hubungan yang seringkali tidak terlalu linear - atau ada distraksi-distraksi yang membuat penonton bertanya-tanya, untuk apa ada adegan ini? -. Kedua, dalam pertunjukan ini, kita bisa melihat aktor memerankan beberapa peran, mulai dari tokoh utama sampai menjadi properti seperti "bunga" dan "putri malu". Ketiga, BMP juga sering sekali melakukan "breaking the fourth wall" atau teknik berbicara pada penonton seperti dialog tokoh Jaya Mugiri berikut ini: 

"Eh penonton, tingalikeun, maenya rek mabok wae meni Demi Alloh." 

Ketiga hal tersebut merupakan ciri kuat dari bentuk teater Brechtian yang digagas oleh Bertolt Brecht. Misalnya, kaitannya dengan "breaking the fourth wall", gagasannya adalah seperti dituliskan oleh John Willet dalam Brecht on Theatre (1964): 

"The use of direct audience-address is one way of disrupting stage illusion and generating the distancing effect." 

Sementara perubahan-perubahan peran juga adalah sebagai suatu metode dari Brecht untuk menghindari empati berlebihan dari penonton pada tokoh tertentu saja (sebagaimana terjadi pada umumnya pertunjukan yang mengedepankan gaya akting Stanislavskian). Ini dilakukan Brecht sebagai cara untuk menumbuhkan empati-intelektual, bukan empati-emosional, sebagaimana dituliskan oleh Fredric Jameson dalam Brecht and Method (1998): 

"By being thus 'distanced' emotionally from the characters and the action on stage, the audience could be able to reach such an intellectual level of understanding (or intellectual empathy).

Jadi kita bisa katakan bahwa BMP, dalam permainannya di atas panggung, selalu berusaha menjaga jarak dengan penonton lewat teknik-teknik di atas. Misalnya, narator muncul secara bergantian, yang tidak hanya menyapa penonton, tapi juga menyapa sesama aktor. Belum lagi aktor longser, Ari Jon, juga sering dimasukkan secara tiba-tiba oleh sutradara, sebagai cara untuk menginterupsi seluruh pertunjukan, baik dari sudut pandang penonton maupun pemain itu sendiri. Kehadirannya menyeruak begitu saja, dalam momen-momen yang tidak terprediksi, membuat aktor lain harus cukup siap untuk mengantisipasi dan meresponsnya. 

Pertanyaan besarnya, apa yang diharapkan dari sebuah pertunjukan dengan gaya Brecht? Brecht menyatakannya sambil melayangkan kritik pada gaya Stanislavsky, yang menurutnya "mengilusi penonton pada level empati yang seringkali menjadikan mereka lupa pada keadaan sekitar". Brecht ingin agar pertunjukan teater adalah pertunjukan santai seperti halnya menonton tinju. Dengan demikian pesan-pesan moral ataupun kritik sosial justru lebih tersampaikan karena penonton senantiasa dalam kondisi sadar ketika menyaksikan pertunjukan. 

Ini diperlukan tentu saja, dalam konteks BMP karena sang sutradara, Yusef Muldiana, memang begitu kental menyajikan kritik sosial. Ini pertunjukan tentang dua tokoh politisi yang berpoligami, yang satu istrinya dua, satu lagi istrinya empat. Keduanya memperebutkan kursi kekuasaan, dan dalam kapasitasnya yang belum jadi pemimpin pun, mereka digambarkan sudah berani melakukan pemberangusan terhadap kebebasan. Imbasnya jadi meluas pada kisah cinta anak-anak mereka. Cinta jadi terbatas pada aspek-aspek transaksional ekonomi maupun politik yang tidak lepas dari ambisi para orangtua. 

Selain disampaikan melalui komedi yang segar sekaligus satir, bisa jadi dengan suguhan teater yang "Brecht Sa-Brecht-Brecht-na" saja, kritik sosial dalam BMP menjadi lebih mengena.
Previous Post
Next Post

0 comments: