Saturday, August 17, 2019

Tentang UAS dan Salib

Tentang UAS dan Salib
Ustad Abdul Somad (UAS) sedang ramai dibicarakan oleh sebab pernyataannya di Youtube yang dianggap menista agama lain. Kali ini, UAS berkomentar tentang salib yang di sana, katanya, ada jin kafir bersemayam dan menggoda manusia. Godaan tersebut, lanjut UAS, sangat berbahaya bagi akidah. Ia mencontohkan, jika lambang salib terpampang di rumah sakit yang mana di dalamnya ada seorang muslim yang menjelang ajal, maka segera tutup lambang salib tersebut karena jin kafir yang ada di dalamnya bisa membuat muslim tersebut menjadi su'ul khatimah (mati dalam keadaan tidak baik). Kabar terakhir, UAS dipolisikan karena dianggap memenuhi unsur penistaan agama. Ada beberapa pandangan saya di sini, terkait kasus tersebut. 

Pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagi saya, kesalahan juga ada pada penanya. Memang penanya bermaksud mendapat kejelasan dengan bertanya, "Apa sebabnya Ustad, jika saya melihat salib, menggigil hati saya?" Tapi pertanyaan semacam itu hampir retoris, yang menggiring pada jawaban yang tidak bisa tidak, dalam konteks mimbar keagamaan, harus memihak. Agaknya kurang meyakinkan kalau UAS menjawab dengan misalnya, "Mungkin Ibu sedang capek atau kedinginan, karena dalam salib tidak ada apa-apa kok." 

2. Memang UAS memperagakan beberapa kali pose Yesus yang disalib ketika di waktu bersamaan berbicara soal jin kafir - seolah-olah jin kafir yang dimaksud adalah Yesus -. Tapi bisa jadi ada versi lain, karena UAS juga menyebut soal patung di dalam rumah. Artinya, bukan Yesus sama dengan jin kafir, tapi mungkin saja maksudnya: patunglah yang menyebabkan ada jin kafir hinggap dan bersemayam di dalamnya. Ini berlaku untuk semua patung, dan di dalamnya tentu termasuk patung Yesus. 

3. Apakah lazim jika di hadapan massa sendiri seorang pemuka agama mengagungkan agamanya dengan cara salah satunya membandingkan dengan agama lain? Agaknya lumayan lazim, dan memang demikian cara yang sering dilakukan dari berabad-abad yang lalu. 

Saya tidak mengikuti banyak khotbah dari macam-macam agama, tapi saya asumsikan saja demikian, kecuali dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Misalnya, sukar bagi khotbah agama Buddha yang jumlahnya relatif sedikit di Indonesia (minoritas), untuk mengatakan sesuatu tentang agama Islam, misalnya. Karena posisi agama Buddha dengan demikian jadi agak terancam. 

Jadi, apa yang digembar-gemborkan UAS tentang agama lain adalah praktik lazim di hadapan massa sendiri dan semakin diperkuat oleh posisi agama Islam yang "mayoritas" sehingga punya posisi yang cukup kuat untuk membicarakan agama lain seolah-olah UAS dan jemaatnya ini lebih superior.

Memang pasti menjadi masalah jika hal yang tadinya dibicarakan secara "internal", kemudian jadi konsumsi "eksternal" oleh sebab pemuatannya di Youtube.  

4. Ini tidak bermaksud mensimplifikasi persoalan UAS di atas, tapi agaknya luka akibat polarisasi Pemilu 2019 kemarin masihlah tersisa. Maksudnya, UAS memang mengucap hal yang keliru dan menyinggung, tapi posisi politiknya kemarin mungkin sedikit banyak memengaruhi psikologi banyak orang untuk tidak begitu saja "melepas" UAS. Apalagi komentar warganet juga tidak sedikit yang membandingkan kasus UAS dengan kasus Ahok ketika juga dianggap menista agama. Kasarnya, ada semacam "balas dendam". Namun, sekali lagi, ini bukan dugaan yang mengarah pada reduksionisme, seolah-olah urusan kasus ini "hanya" urusan keberpihakan politik masa lalu. Unsur-unsur penistaan agama tetap ada, dan baiknya tetap dilanjut saja proses pemeriksaanya. 

5. Tapi di sisi lain, perlukah pasal tentang penistaan agama ini? Sekarang urusannya jadi saling melapor dan memenjarakan. Padahal apa yang dilaporkan seringkali "hanya" berupa penistaan terhadap simbol-simbol, yang notabene, semestinya, tidak memberi dampak apa-apa terhadap ketahanan iman dari jemaat suatu agama. Ini hampir mirip dengan pelaporan pada kasus sebelumnya, terhadap ibu yang membawa anjing ke dalam masjid. Pasal penistaan agama jadinya tidak lagi menelaah intensi dari si "penista", tapi hanya lebih berpihak pada aduan dari orang yang agamanya merasa "dinistakan". Artinya, bisa saja si "penista" tidak ada maksud ke arah sana, tapi ujungnya tetap dipenjara juga oleh sebab aduannya terlalu kuat.

Akhirul kata, UAS tetap harus diberi pelajaran. Semoga warganet yang merekamnya, sadar bahwa perbuatan merekam dan mengunggah yang ia lakukan, telah membuat ruang privat (dalam konteks agama dalam sistem tertutup) menjadi "ruang publik" yang ditonton oleh masyarakat secara bebas.  



Continue reading

Catatan Kuliah Filsafat #2: Tentang Bambang Sugiharto



Duduk manis di kelas Pengantar Filsafat yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto, sebagai bagian dari persiapan mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR awal tahun depan. Waktu Pak Bambang bicara di depan tadi itu, pikiran saya melayang-layang karena masih ngantuk. 

Teringat di tahun 2003, kala baru lulus SMA, saya punya cita-cita masuk Fakultas Filsafat UNPAR. Saya sangat serius waktu itu, hingga suatu malam bapak berkata, "De, bapak sudah konsultasi sama teman, namanya Pak Bambang. Katanya jangan masuk situ, karena itu sekolah untuk calon pastur." 

Saya tidak banyak membantah. Karena mungkin, ada benarnya. Saya kubur saja cita-cita menjadi mahasiswa filsafat untuk masuk menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Tapi cinta saya pada filsafat selalu terpendam, sampai akhirnya bertemu dengan Pak Bambang di kelas Extension Course pada sekitar tahun 2006 atau 2007. 

Di pertemuan pertama dengan materi Antropologi Filsafat itu, Pak Bambang sudah mampu mengguncangkan pikiran dan iman saya. Kuliah lebih dari sepuluh tahun lalu itu masih segar dalam ingatan saya: Tentang konsep manusia dalam pandangan filsafat (secara spesifik, soal konsepsi tubuh dan jiwa). Ada kata Plato yang tubuh adalah penjara jiwa, ada kata Foucault yang jiwa adalah penjara tubuh, ada Lacan yang mengatakan tentang keinginan manusia yang selalu bercermin satu sama lain, ada kata Nietzsche yang mengatakan masing-masing anggota tubuh manusia punya kecerdasannya sendiri. Sejak malam itu, hidup saya tidak lagi sama. Filsafat adalah "one way ticket". 

Enam belas tahun sejak saya menerima kenyataan bahwa saya tidak akan menjadi mahasiswa filsafat, ternyata saya masih bisa mengejar cira-cita tersebut. Bersama para calon pastur angkatan 2019, saya ikut kelas secara sit-in, mendengarkan Pak Bambang bicara. 

Selama enam belas tahun itu juga saya membaca filsafat tanpa melalui jalur formal dan sering coba-coba mengajar juga, walau entah benar entah tidak. Namun mendengarkan Pak Bambang bicara, meski sudah keempatpuluhkalinya, tetap terasa baru dan membuat saya malu. Pak Bambang mengajar dengan suatu kecintaan yang aneh, seolah sudah menjadi tugas dia, untuk membuat para calon pastur ini deg-degan dengan iman yang terus dihantam-hantam. 

Tapi dari situlah saya belajar, jadi "filsuf profesional". Jadi filsuf yang tugas utamanya hanya satu: mengguncang apa yang telah mapan, tanpa harus secara terbuka menyebutkan posisinya ada di mana. Jika ia berhadapan dengan orang yang terlalu posmodernis, jadilah sedikit Kantian untuk mengimbangi. Jika ia berhadapan dengan orang agnostik, jadilah sedikit religius untuk mengimbangi. Itulah "profesionalisme filsafat": hal yang menjadi prinsip adalah denyut dan dinamika pemikiran itu sendiri, tanpa harus fanatik pada satu -isme. 

Lalu apa yang saya dapat dari kuliah barusan? Ya, pengantar filsafat. Mata kuliah yang bikin betah, bikin saya tidak mau beranjak: inginnya belajar pengantar saja, selama-lamanya. Karena belajar filsafat, sampai suatu titik, akan kembali tentang pengantar filsafat. Coba saja sendiri!
Continue reading

Thursday, August 15, 2019

Catatan Kuliah Filsafat #1

Sambil nunggu ngajar semester depan, duduk manis dulu di kelas Romo Hadrianus Tedjoworo yang membahas Protestantisme dan Ekumene. 

Ekumene, dari yang saya tangkap barusan, adalah berbagai kegiatan maupun tindakan untuk mencapai kesatuan Gereja-Gereja, yang lebih ke arah emosional dan spiritual, bukan secara liturgi. 
 Artinya, perbedaan tetap ada dan menjadi batasan satu sama lain, tapi tetap diupayakan suatu "bayangan tentang Gereja yang satu". 

Tentu saja, ekumene ini, dalam sejarahnya, tidak pernah seratus persen berhasil. Selalu ada pihak yang tidak terlalu sepakat bahwa segalanya harus ada dalam kesatuan yang serius. Namun sebagai sebuah proses, ekumene mesti dilakukan sebagai sebuah ikhtiar untuk sekurang-kurangnya saling memahami spirit dan cara pandang satu Gereja dengan Gereja lainnya. 

Misalnya, pendirian The World Council of Churces (WCC) tahun 1948 adalah semacam gerakan ekumene yang berpusat di Swiss dan melibatkan 349 gereja dari sekitar 150 negara. Tetap saja, tidak seluruh Gereja menyetujui perhimpunan semacam ini, termasuk umumnya Gereja Katolik. Gereja Katolik, pada versi tertentu, bahkan menganggap sebenar-benarnya ekumene adalah kembalinya Gereja-Gereja non-Katolik ke dalam Gereja Katolik (bisa dirunut ke sejarah reformasi). Tentu saja anggapan tersebut agak sukar diterima dalam perkembangan Gereja dewasa ini, yang kelihatannya semakin berkembang dan bercabang. 

Opini: Itulah sebabnya, dalam konteks Islam, Khilafah mungkin saja tidak akan pernah tegak sempurna (karena bayangannya yang selalu tentang kesatuan Islam dalam satu tatanan yang formal dan serius). Islam bisa dibayangkan satu, mungkin hanya dalam konteks emosional dan spiritual, dalam bahasa ukhuwah islamiyah saja.
Continue reading