Saturday, July 27, 2019

Manusia Paripurna dalam Perspektif Nietzsche

(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) 



Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. 

Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. 

 Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep ├╝bermensch atau adimanusia. Gaya menulis Nietzsche sangat sastrawi, tapi bukan sastra yang nyaman dibaca dengan berbagai bunga-bunganya. Nietzsche menulis dengan gaya yang menghantam kita setiap saat, sehingga tulisannya sering dijuluki sebagai "martil". 

Bagi Nietzsche, manusia ada pada tegangan, antara hewan dan adimanusia. Berkelindan kita diantara keduanya, apakah tindak tanduk kita membawa kita menjadi budak atau menjadi tuan. Nietzsche menekankan bahwa bermental tuan adalah syarat utama menjadi adimanusia. Memang motif awal Nietzsche adalah mengritisi ajaran umat Nasrani, yang terlampau fatalis dan kurang berani. 

Nietzsche mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjalani hidup dengan gagah berani, dan berdiri di atas kaki sendiri. Okelah Nietzsche tidak melibatkan Tuhan dalam hal ini. Memang ia dikenal sebagai filsuf "pembunuh Tuhan" (lewat pernyatannya yang terkenal: Tuhan telah mati) tapi bukan artinya secara literal konsepsi Tuhan ia tiadakan. Yang hendak ia maksudkan adalah untuk menjadi manusia paripurna, hal yang terpenting adalah membunuh segala dogma dan berhala yang mengekang kita. 

Dalam tafsir lain, dogma dan berhala itu tidak melulu agama, melainkan juga sains dan malah filsafat. Kemudian, pada bab lain ia mengatakan tentang tiga metamorfosa ruh, yaitu menjadi unta, singa, dan anak. Unta dianggap sebagai hewan yang menanggung beban. Manusia semacam ini menerima dan patuh saja pada apapun yang diberikan padanya. Sementara tahapan berikutnya adalah singa. Singa kerap memberontak, menginginkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Manusia semacam ini kerap dinamis dan menginginkan perubahan. Namun metamorfosa final bukanlah menjadi singa, kata Nietzsche, melainkan menjadi anak. Mengapa anak? Mereka sangat imajinatif memandang dunia, dan hanya pikiran sendirinya saja yang menjadi tuan. Bagi seorang anak, bebas saja untuk membayangkan banjir sebagai arena bermain, atau orang terjatuh sebagai bahan tertawaan. Seorang anak menganggap hidup adalah "senda gurau belaka" dan ini dapat diterima dalam banyak konsepsi filosofi yang terdapat dalam agama-agama. 

Masih senada dengan pikiran Nietzsche tentang metamorfosa roh, satu lagi, ia menganggap bahwa ada dua cara memandang hidup, yaitu dengan gaya Apollonian atau Dyonisian. Apollonian berarti bertindak seperti Dewa Apollo, mengandalkan rasionalitas dan pencerahan. Sementara Dyonisian berasal dari Dewa Dyonisus yang bertanggung jawab pada anggur dan pesta perayaan. Hiduplah dengan gaya Dyonisian, kata Nietzsche, agar hidup terasa gelegaknya. Manusia paripurna adalah manusia yang hidup dengan gairah dan "mabuk"-nya, bukan pada akal pikirannya yang seringkali kurang luwes dan malah membosankan. 

Jadi terbayang kurang lebih bagaimana Nietzsche melihat konsep manusia paripurna. Tentu saja ada sejumlah kritik terhadap apa yang ia rumuskan. Misalnya, Nietzsche sendiri sebelas tahun terakhir dalam hidupnya, mengalami kegilaan secara harfiah. Artinya, dapat diasumsikan ia gagal menjadi manusia paripurna sebagaimana yang ia telah pikirkan (walau mungkin bisa jadi, kegilaan adalah bentuk paripurna?). 

Selain itu, pemikiran Nietzsche sering disalahtafsirkan sebagai bentuk arogansi karena terus menerus mengajak kita untuk hanya percaya pada diri sendiri. Padahal, ini sama sekali tidak bertentangan dengan konsep-konsep spiritualitas yang menjadikan Tuhan dan diri sebagai satu kesatuan. Nietzsche justru jengah dengan cara mengonsepsikan Tuhan yang selama ini terjadi, yang meminimalkan potensi dan gairah hidup kita sebagai manusia - itu sebabnya Nietzsche mengatakan bahwa ia hanya akan menyembah pada Tuhan yang bisa menari -. 

Artinya, dapat kita simpulkan bahwa konsepsi manusia paripurna menurut Nietzsche adalah manusia yang bermental tuan, mampu menjadikan hidup ini arena bermain layaknya seorang anak, punya sikap yang kuat terhadap gairah dan "kemabukan", serta membebaskan diri dari dogma dan berhala. 

 Mari membahasnya secara kritis.
Continue reading