Saturday, April 13, 2019

Tentang Toko Buku Bernama Akasa




Namanya Akasa. Toko buku ini milik kawan saya, Ucrit, Bonil, Alfi dan Widay. Hal yang menarik pertama adalah toko buku ini terletak di sebuah pasar tradisional. Memang konsep semacam ini tidak aneh-aneh amat. Di Pasar Palasari misalnya, ada blok yang khusus jual sayuran, daging, bumbu, sembako, dan semacamnya, tapi ada juga blok khusus yang menjual buku-buku saja. Tapi di Pasar Cihapit, tempat Akasa berada, sedikit berbeda. Tidak ada perbedaan blok antara buku dan non-buku. Mereka dilebur begitu saja, sehingga datang ke Akasa adalah sekaligus juga terjun ke tengah suasana pasar tradisional. 

Hal menarik lain, selain menjual buku, yang khas dari Akasa adalah teh. Ini adalah anomali di tengah tren minum kopi. Akasa tidak ada kopi, hanya teh, dan hanya teh panas. Harganya pun sangat aneh, yaitu lima ribu rupiah saja dengan jumlah isi ulang tidak terbatas. Suatu hari saya berkelakar tentang harga super murah ini, "Ini bagus, karena harga tinggi cenderung menuntut pelayanan yang baik. Akasa tidak menganggap perlu biaya pelayanan ini, sehingga keramahan apapun yang hadir dari penjaga Akasa, adalah ketulusan, bukan karena menerima service tax." 

Ucrit setuju, dan ini yang membuat Akasa menarik untuk didatangi, karena para pengunjung berjuang untuk mencari kenyamanannya sendiri. Tidak ada sofa yang empuk, tidak ada tempat yang luas, dan tidak ada suasana cozy dengan musik jazz yang membuat rileks. Maka itu pengunjung yang datang harus dengan sigap merespons ruang. Ini juga mengherankan, karena kenyataannya, Akasa cukup dominan dihadiri oleh mahasiswa yang datang untuk belajar, berdiskusi, dan tidak sedikit yang mengerjakan skripsi. 

Artinya, ada tesis baru yang bisa dikemukakan: bukan fasilitas yang membuat orang tinggal, melainkan tawaran untuk menciptakan kenyamanan sendiri. Dugaan lain adalah kemungkinan bahwa energi sebuah tempat tidak berdasarkan benda-benda yang diletakkan berdasarkan ilmu interior tertentu, melainkan pada ketulusan sang pengelola. Saya kenal Ucrit cukup lama, dan paham betul bahwa Akasa tidak dibangun dengan motif bisnis semata. Akasa dibuat atas kegelisahannya untuk terus bergerak dan berbuat, sebagai bagian dari kerja estetiknya yang mewujud menjadi sebuah kemaslahatan sosial. 

Meski cukup banyak dikunjungi orang-orang yang kritis dan senang diskusi, Ucrit bersikeras untuk tidak membuat Akasa menjadi tempat diskusi formal dengan tema yang spesifik dan pengumuman untuk publik. Biar saja obrolan-obrolan tumbuh secara organik dan massa yang berkumpul tidak dalam suatu rencana. Saya setuju dengan ini, meski sebuah putusan yang tidak populer di tengah semakin kuatnya keterkaitan antara kafe dan restoran dengan kumpul-kumpul komunitas. Sebenarnya komunitas mempunyai efek samping, yaitu berpotensi menciptakan zona nyaman kawanan yang kontraproduktif. Dari awalnya dipersatukan oleh hobi atau pemikiran, lama-lama menjadi persahabatan. Tentu bukan hal yang buruk, hanya saja hal yang menjadi niat awal, yaitu kesamaan hobi dan pemikiran, menjadi kurang diperhatikan lagi dan bertahan di suatu kenyamanan tertentu. 

Akasa ingin dinamis, dan ingin agar tidak ada semacam komunitas yang berkembang menjadi "geng" yang kadang membuat demarkasi antara "orang dalam" dan "orang luar". Cita-cita yang baik, untuk senantiasa menjaga kesan egaliter, walau mustahil seratus persen tercapai. 

Terakhir, soal buku. Bagaimanapun, lapak Akasa tidak terlalu luas jika tidak bisa dikatakan sempit. Namun sang pengelola tidak kehabisan akal, dibuatlah sejumlah rak tambahan dan beberapa diantaranya disimpan di gantungan-gantungan atau bahkan di bawah kursi. Soal buku mungkin variannya cukup luas, dari mulai buku Iqro dan panduan salat, majalah Mangle hingga filsafat ada di sini. Buku-buku di Akasa nampaknya tidak eksklusif untuk kalangan pembaca serius yang memang kutu buku saja, melainkan juga menyediakan bacaan yang praktis dan santai sehingga lebih aksesibel terhadap publik yang lebih luas. Namun apapun itu, sekali lagi, buku fisik belum tergantikan oleh buku elektronik, salah satunya karena itu: dapat menciptakan atmosfer intelektual. Jajaran buku di rak dapat menarik minat untuk orang berdiskusi di hadapannya, ketimbang bergiga-giga buku elektronik di dalam hard disk eksternal. 

Mari mengikuti kiprah Akasa lebih jauh, yang berpotensi menjadi suatu gerakan yang mampu mempersempit jurang antara eksklusivisme intelektualitas dengan publik secara luas. Hal yang mempersatukannya tidak lain oleh ruang apa adanya, teh isi ulang, buku Iqro dan ragamnya, serta sikap "anti komunitas" sebagai cara untuk mempertahankan dinamika dan dialektika.
Continue reading

Friday, April 12, 2019

Uang dan Nilai Keindahan

Uang dan Nilai Keindahan
Perihal uang, kita kurang lebih bisa memahaminya jika dipertukarkan dengan sesuatu yang fungsional. Misalnya, kurang lebih kita bisa paham mengapa kopi harganya sekian, diukur dari biaya produksi, distribusi dan penyajiannya – meski dalam konteks tertentu, kopi bisa sangat mahal ketika masuk suatu pertambahan nilai yang dinamakan “gaya hidup”-. 

Kita bisa mengerti mengapa sebuah mobil harganya sekian, karena misalnya, kenyamanan, dan fasilitasnya dibandingkan dengan mobil yang lain. Kebaruan juga penting, bahwasanya mobil tersebut baru keluar dari pabrik tidak lebih dari setahun terakhir dan belum pernah digunakan oleh orang lain. 

Kita bisa mengerti juga kurang lebih mengapa rumah harganya sekian, karena bahan bangunan, lokasi, akses, dan nilai tanah yang memang punya kecenderungan untuk terus meningkat. 

Namun bagaimana dengan keindahan? 

Keindahan konon sering dikatakan sebagai sesuatu yang subjektif. Ukurannya berbeda-beda bagi setiap orang. Beda dengan mobil atau rumah. Setiap orang kurang lebih setuju bahwa ada rumah yang mewah dan mudah akses, sementara ada juga rumah yang sederhana dengan akses yang sulit. Rasa makanan juga memang subjektif, tapi ada nilai-nilai lain yang menjadikannya objektif, seperti kemewahan dan kenyamanan sebuah restoran, sehingga sebuah makanan menjadi lebih mahal. 

Tapi bagaimana bisa masuk di akal, jika lukisan Salvador Mundi-nya Leonardo Da Vinci, terjual seharga 450 juta dollar atau sekitar 6,4 triliun Rupiah? Apa fungsi lukisan tersebut bagi kehidupan kita? Jika urusannya hanya keindahan, di Jalan Braga juga banyak lukisan-lukisan yang kualitas estetikanya “tidak jauh berbeda”. Tapi coba datang dan cari lukisan terbagus yang dibuat oleh pelukis di Jalan Braga. Tanpa bermaksud merendahkan, mungkin harganya juga tidak ada yang sampai miliaran, atau mendekati ratusan juta sekalipun. 

Pertanyaannya, mengapa? Toh sama-sama lukisan, toh sama-sama bagus. 

Ini baru membahas karya rupa. Yang notabene bisa dilihat dan diraba. Bagaimana dengan musik? Atau karya sastra? Hal ini lebih rumit lagi, dan ada problematikanya sendiri-sendiri. 

Sekarang mari membahas tentang seni rupa terlebih dahulu – yang lebih mudah, tapi paling absurd -. Heru Hikayat, kurator asal Bandung, menyebutkan bahwa otentisitas menjadi kunci harga karya seni rupa yang bisa melambung melampaui akal sehat. Misalnya, Monalisa-nya Leonardo Da Vinci yang otentik hanya ada satu di dunia, yaitu yang dipajang di Museum Louvre, Paris. Kita bisa lihat Monalisa dari beberapa sumber, bisa dari internet, bisa dari lukisan poster yang dipajang di hotel-hotel, tapi bagaimanapun, itu bukanlah Monalisa. Itu semua hanya replikasi saja. 

Beda dengan karya seni lain seperti musik atau sastra, misalnya. Adakah perbedaan antara mendengarkan karya simfoni Beethoven dari piringan hitam dengan dari Spotify? Ada perbedaan kualitas tentu saja. Tapi kita tidak akan meributkan mana yang lebih otentik dan mana yang replikasi. Harga berbeda karena medium berbeda, tapi tidak ada persoalan dengan “nilai intrinsik” dari kekaryaannya. Meski dari dua sumber yang berbeda kualitas, kita tetap akan sama-sama mengaku sudah mendengarkan simfoni Beethoven yang “otentik”. 

Juga dengan karya sastra. Adakah perbedaan antara membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang asli dengan yang fotokopi? Rasanya tidak ada. Seperti halnya musik, tentu saja ada perbedaan antara medium satu dengan yang lain. Tapi baik asli maupun fotokopian, mereka yang sudah membaca, tetap akan mengaku sudah membaca yang “otentik”. Tidak ada masalah dengan konten dan “nilai intrinsik”-nya. 

Intinya, semahal apapun kita punya piringan hitam rekaman simfoni Beethoven atau cetakan pertama buku Pramoedya, secara konten tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada yang punya bajakan atau replikasinya. Beda dengan mereka yang telah melihat atau bahkan memiliki lukisan yang otentik. Marwahnya jelas lebih tinggi daripada penikmat dan pemilik replika karya rupa. 

Dalam sebuah film dokumenter di Youtube, nilai sebuah karya rupa ditentukan oleh sepuluh faktor yaitu authenticity, condition, rarity, provenance, historical importance, size, subject matter, medium, fashion, dan quality. Atau, jika diterjemahkan secara bebas, sepuluh faktor ini terkait dengan hal sebagai berikut: 

1. Keaslian suatu karya. Semakin benar terbukti bahwa karya tersebut otentik dibuat oleh pelukisnya langsung, tentu saja harganya semakin mahal. 

2. Kondisi suatu karya. Jika karyanya masih dalam kondisi bagus dan prima, tentu saja harganya lebih baik ketimbang yang sudah rusak. 

3. Kejarangan suatu karya. Jika karyanya tersebut terbukti adalah karya yang jarang dan tidak dibuat secara masif, maka harganya lebih mahal ketimbang karya yang dibuat banyak. 

4. Kepemilikan suatu karya. Jika karya tersebut pernah dimiliki oleh seseorang dengan reputasi yang tinggi, tentu saja harganya semakin baik. 

5. Konteks kesejarahan suatu karya. Setiap karya tentu bertalian dengan konteks historis dan semangat zamannya. Semakin punya kekuatan historis dan merepresentasikan semangat zaman, semakin tinggi juga harganya. 

6. Ukuran suatu karya. Semakin besar ukurannya, secara langsung mengandaikan bahwa bahan-bahan untuk membuatnya pun semakin banyak, dan maka itu secara otomatis meninggikan harga karyanya. 

7. Topik suatu karya. Terkait ini memang agak sukar untuk dinilai, tapi kira-kira mirip dengan nomor lima, bahwa suatu karya harus punya topik yang menarik, relevan dengan zaman, tapi sekaligus tidak lekang oleh waktu. Jika hal-hal demikian dipenuhi, maka harganya semakin tinggi. 

8. Medium yang digunakan pada suatu karya. Ini agak jelas dan “logis”. Semakin mahal material yang digunakan oleh karya tersebut, tentu saja karyanya juga semakin tinggi harganya. 

9. Bagaimana suatu karya dapat tetap trendi. Maksud dari fashion dalam hal ini adalah bahwa karya tersebut tetap menarik di berbagai situasi yang paling kontemporer sekalipun. 

10. Kualitas suatu karya. Hal terakhir ini tentu saja mencakup banyak faktor, dan nyaris merangkum segala, termasuk yang bersifat material, teknis pembuatan, hingga rekam jejak seniman. 

Penjelasan-penjelasan semacam itu tetap tidak bisa seratus persen dapat dimengerti tentang mengapa suatu karya bisa mencapai triliunan. Apalagi jika penjelasan di atas justru semakin menegaskan bahwa karya seni bukan sekadar urusan estetika saja. Bahkan estetika menjadi hal yang paling nomor sekian dan yang paling penting justru berupa mistifikasi-mistifikasi di sekitarnya. Misalnya: Konteks kesejarahan, sebagaimana disebutkan dalam nomor lima adalah perkara intertekstualitas, termasuk juga rekam jejak seniman. Bagaimana jika aspek sejarah dalam lukisan telah dibesar-besarkan? Bagaimana jika karir seniman juga dituliskan secara hiperbolik? Seniman yang dekat dengan kekuasaan dengan yang tidak tentu akan punya pengaruh yang berbeda terhadap imejnya di masyarakat. 

Seniman asal Bandung, R.E. Hartanto, pernah membagikan kiat-kiat memberi harga untuk pelukis pemula. Menurutnya, harga lukisan (untuk pemula) adalah biaya material ditambah biaya ide (yang jumlahnya tiga sampai lima kali biaya material). Jadi jika biaya material dari lukisan kita adalah Rp. 100.000, maka lukisan bisa dijual dengan harga Rp. 400.000 sampai Rp. 600.000. Nampak mudah, tapi tidak bagi pelukis-pelukis sekaliber Van Gogh, Picasso, atau Warhol, yang meski harga materialnya (misalnya) hanya Rp. 100.000, tapi biaya ide nya, bisa seribu kali lipat, oleh hal-hal yang sifatnya “tidak rasional”. 

Artinya, tidak ada karya seni yang lepas dari konteks ruang dan waktu. Marcel Duchamp, seniman Prancis-Amerika di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pernah memamerkan tempat kencing di sebuah galeri. Duchamp telah membuka cara pandang terhadap seni yang selama ini “retinal” (memuaskan mata), pada sesuatu yang lebih ke arah mengusik pikiran. Dalam arti kata lain, seni adalah tergantung persepsi penikmat itu sendiri. Jika tempat kencing, apa adanya, ditempatkan dalam konteks kesenian, yang dalam hal ini galeri, maka dengan sendirinya ia menjadi karya seni. Dengan demikian, Duchamp telah menambahkan situasi yang lebih rumit dalam kaitannya dengan nilai sebuah karya seni – karena ternyata, apa itu seni, juga berdasarkan pada perspektif yang dibentuk oleh faktor eksternal dan bukan nilai intrinsik suatu karya -. 

Mari kita tutup hal ikhwal harga dalam seni rupa, dan menambah rumit dengan kasus-kasus dari karya seni yang lainnya. Musik adalah contoh yang absurd. Bagaimana kita menghargai sebuah karya musik, sungguh sukar dikaitkan dengan harga materialnya. Apakah orang yang bermain musik dengan harpa senilai dua ratus juta Rupiah, akan lebih pantas dihargai tinggi, ketimbang orang yang bermain gitar dengan harga dua juta Rupiah? Ini tidak bisa dipastikan. Tidak ada harga material yang mendasari, meski musik itu dibuat dengan produksi yang mahal. 

Dulu sempat ada diskusi, terkait dengan musik klasik, ketika membahas: berapa harga yang layak untuk sebuah tiket pertunjukkan? Ada yang menjawab: Tidak ada harga yang pantas untuk membayar kerja keras seorang musisi, dari belasan hingga puluhan tahun dia belajar musik, sampai kemudian ia membeli instrumen seharga belasan, puluhan, bahkan ratusan juta. Pantaskah jika kita membayar tiket seharga Rp. 50.000 untuk menonton dia memainkan sederet lagu klasik bercita rasa tinggi? 

Tentu saja, kita akan mudah menjawab tidak pantas. Tapi jika seluruh musik dihargai semacam itu, tentu tidak ada harga musik yang mampu dijangkau. Bahkan konser John Mayer seharga empat juta Rupiah saja dianggap sebagai sebuah penghinaan. Pada titik ini, musik menjadi karya seni yang paling sukar diukur dengan uang. Konser yang serba otentik, punya nilai historis, punya topik yang relevan di segala zaman, sampai bermuatan kualitas teknis yang tinggi, seperti konser orkestra yang memainkan musik Mozart, bisa kalah harganya dengan musik yang menampilkan bintang pop Korea.

Kasus-kasus tertentu bahkan bisa sangat menarik, seperti musik The Beatles, yang bisa sangat populer dan membuat para personelnya menerima royalti tanpa henti. Hal semacam ini masih berkelindan antara memang musik itu punya nilai pada dirinya sendiri, atau bantuan industri yang secara tanpa henti membuat musik-musik tersebut menjadi diterima oleh masyarakat tanpa perlawanan. 

Bagaimanapun, hal ikhwal hubungan seni dan uang, akan menjadi perkara ketika kita dihadapkan pada keindahan intrinsik dan keindahan ekstrinsik. Ada yang bilang keindahan intrinsik itu ilusi belaka, yang sebenarnya dibentuk oleh mekanisme pasar yang dikuasai segelintir orang. Ada benarnya, dan itu menyebabkan musik-musik yang diproduksi oleh orang yang tidak punya latar belakang musik yang kuat, menjadi bisa laku di pasaran. Namun di sisi lain, apakah keindahan intrinsik itu benar-benar nihil di hadapan pasar? 

Kita bisa berdebat panjang lebar terkait ini. Terutama terkait kepercayaan orang-orang yang masih beriman pada adanya keindahan intrinsik yang seharusnya lebih sejalan jika dinilai dengan uang. Ada musik yang panjang umurnya, ada karya rupa yang panjang umurnya, ada karya sastra yang panjang umurnya – yang oleh Haruki Murakami dikatakan, bahwa ia tidak mau membaca karya yang belum dibaptis oleh waktu -, apakah itu semata-mata karena ada kuasa yang melanggengkan karya tersebut untuk tetap bertahan? Mungkin saja, tidak semata-mata itu. Ada hal bagus dalam diri karya tersebut, yang membuat orang merasa perlu untuk menjaga dan memeliharanya secara turun temurun. Hal yang boleh saja dibilang gaib dan mistik, yang menunjukkan seni punya beda dengan produk kehidupan yang lainnya. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa karya Bach bisa bertahan ratusan tahun dan kita tidak yakin bahwa karya JKT48 bahkan masih dibahas di lima tahun mendatang. Karya film 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick tahun 1968 sinematografinya masih dibahas hingga hari ini secara akademik, tapi yakinlah bahwa karya sinetron Putri yang Tertukar tidak akan terlalu diurai secara intelektual, kecuali yang dibahas hanyalah aspek-aspek dampak sosial yang ditimbulkannya. 

Tentang aspek intrinsik ini, akan selalu jadi persoalan bahwa yang demikian hanya eksklusif di mata orang-orang tertentu (yang dianggap sebagai penganut “seni tinggi”) saja. Biasanya, ada pandangan lain yang menganggap bahwa seni yang baik, justru adalah seni yang “menghasilkan” dan justru populis karena dengan demikian seni tidak berdiri pada ketinggian yang tidak terjangkau, melainkan justru bisa dekat dengan masyarakat dan malah sangat fungsional (dan ini bagus). 

Tegangan-tegangan tentang nilai dalam seni tidak akan bisa selesai dalam waktu dekat dan malah akan terus relevan dibahas sepanjang zaman. Terlebih lagi jika kita juga ingat, bahwa seni adalah sesuatu yang “sakral”, yang seringkali nilai-nilainya lebih subliminal ketimbang uang. Keindahan mampu menggerakkan, keindahan juga mampu mengukuhkan suatu kuasa, dan ini akses-akses yang berharga kemudian.

Bahkan kita bisa curiga, bahwa kerucut dari segala uang, adalah pengalaman melihat dan sentuhan yang membuat segala yang mistik menjadi realistik. Konser John Mayer lebih mahal dari rekaman musiknya, karena kita menonton dan mungkin kalau beruntung, bisa menyentuhnya. Sementara rekaman musik masihlah sesuatu yang "gaib" karena tidak terlihat. Sebuah buku bisa mahal, bukan karena kata-kata sastrawi di dalamnya, tapi karena desain sampul dan bahan book paper yang khas jika diraba. Kata-kata saja, mungkin absurd jika dihargai demikian tinggi. Kata-kata baru bernilai uang, ketika ia mewujud dalam visual dan sentuhan. Mungkin.


Continue reading