Friday, November 16, 2018

Tentang Pertentangan Jerinx SID versus Via Vallen

Pertama-tama, saya bukan penggemar Superman is Dead. Pun secara umum, saya bukan pendengar musik punk yang intens. Via Vallen apalagi, hanya karena dia populer, maka sering sekali secara tanpa sengaja mendengarkan beberapa lagu yang ia bawakan. Kemudian dari linimasa dua teman yang sering saya jadikan referensi konflik budaya pop terkini, saya mulai mengikuti konflik antara personil grup Superman Is Dead (berikutnya disingkat SID saja) bernama Jerinx (pemain drum) dengan penyanyi Via Vallen. Inti dari konfliknya adalah sebagai berikut:

Via Vallen pada tahun 2013, sebelum ia terkenal seperti sekarang ini, sering sekali membawakan lagu dari SID berjudul Sunset di Tanah Anarki dengan aransemen dangdut koplo. Jerinx tidak mempermasalahkannya saat itu karena mungkin bagian dari promosi gratis bagi SID sendiri. Namun seiring dengan popularitas Via Vallen saat ini, Jerinx kemudian menjadikan hal tersebut masalah oleh sebab pertama, album baru SID, kata Jerinx, berpotensi untuk diaransemen ulang dengan irama dangdut koplo yang menurutnya, menjadi rentan untuk memunculkan Via Vallen-Via Vallen berikutnya yang memainkan lagu tanpa menghormati hak cipta.

Kedua, menilik popularitas (dan kekayaan Via Vallen) saat ini, sudah seyogianya, menurut Jerinx, agar Via Vallen menyumbang bagi aktivisme yang selama ini digaungkan oleh SID, sebagai bentuk "terima kasih" atas lagu Sunset di Tanah Anarki yang ikut menaikkan nama Via Vallen. Ketiga, bahwa dalam "gugatan" Jerinx, lagu tersebut punya makna yang kuat dan mendalam, yang sepertinya menjadi terdegradasi oleh Via Vallen yang menyanyikannya dalam konteks interpretasi yang "tidak seharusnya".

Terkait konflik tersebut, yang sebenarnya tidak penting-penting amat untuk ditanggapi, maka inilah pendapat saya:

1. Problematika album baru SID yang bisa diaransemen ulang menjadi dangdut koplo adalah kekhawatiran yang aneh. Punk, terlepas dari latar belakang ideologisnya, secara musikal bukanlah bentuk musik yang sulit untuk diaransemen jadi apapun. Dangdut koplo juga, atas latar belakangnya yang lebih ditujukan pada "hiburan rakyat", agaknya hal yang lebih penting ada pada aransemennya hanyalah aspek iramanya yang mampu mengajak pendengarnya untuk goyang. Maka itu, musik apapun menjadi sahih untuk di-dangdut-koplo-kan dan agaknya punk, yang secara musikal tidak sulit, menjadi salah satu sasaran empuk - meski tidak dapat dikatakan bahwa dangdut koplo dan punk kerap bertalian secara musikal-.

2. Ini adalah pertentangan klasik tentang idealisme versus pasar, yang juga punya kaitan erat dengan komentar saya untuk sekaligus poin kedua dan poin ketiga dari Jerinx. Pasar, atau dalam hal ini saya sebut dengan kapitalisme, selalu punya tendensi untuk melakukan demistifikasi: upaya pereduksian makna yang tadinya luhur, menjadi dangkal, agar apa? Agar tentu saja, dikonsumsi publik seluasnya, dan menjadi material bernama uang. Inilah titik kontradiksi Jerinx. Bahwa di satu sisi, Via Vallen pada dasarnya telah membantu mengurai musik Jerinx sehingga terpapar ke sebanyak mungkin orang (seperti yang mungkin dicita-citakan SID tentang gerakan komunal), namun di sisi lain, Via Vallen dituduh telah melakukan demistifikasi besar-besaran terhadap makna lagu ini sehingga meski tersebar ke sebanyak mungkin orang, tapi penyebaran itu tidak sama dengan gerakan komunal yang diinginkan SID.

Inilah agaknya yang Jerinx lupa tentang bagaimana kekejaman demistifikasi kapitalisme bekerja dalam sejarah peradaban. Lebaran, misalnya, adalah korban demistifikasi, natal juga, sebagai sesuatu yang tadinya punya nilai luhur, menjadi disempitkan ke dalam konsumerisme yang membabi buta, apalagi ini, "cuma" lagu punk. Apakah lebaran dan natal boleh berterima kasih pada kapitalisme? Boleh. Berkat kapitalisme, aura keagamaan, meski setahun sekali, dapat dirasakan di berbagai ruang non-religius dan hawanya bisa sampai ke umat lain yang bukan pengikutnya. Itu contoh ekstrim soal keagamaan. Ada banyak contoh lain yang lebih terkait dengan budaya pop, seperti bagaimana kaos tye dye digunakan di masa sekarang tanpa paham spirit psikedelik, bagaimana world music menjadi suatu tren baru yang tanpa sadar ada unsur simplifikasi terhadap ragam musik timur, dan sebagainya. 

Menyuruh Via Vallen menyumbangkan uangnya untuk aktivisme SID? Apakah SID rela ada orang kaya yang menyumbang bagi aktivisme (yang objeknya sangat spesifik), tapi orang tersebut tidak paham apa yang dibelanya? Jika Jerinx adalah seorang idealis, harusnya tidak mau. Iya, Jerinx konon dihormati karena idealismenya (atau dalam bahasa di laman Facebooknya: integritas). Kata teman saya, ia seorang anarkis, dan seorang anarkis, dalam pemahaman ideologi yang saya baca, harusnya tidak pusing dengan sebuah karya yang kemudian dikonsumsi secara seluas-luasnya. Karena jika tidak ada negara, harusnya juga tidak ada pengaturan macam hak cipta. Karya adalah dari rakyat dan untuk rakyat. 

Jadi, sudahlah, jadikan seni sebagai rahmat bagi seluruh alam.  

Latest
Next Post

0 comments: