Friday, August 10, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Empat): Melihat Bunyi, Mendengar Wujud

10 Agustus 2018

International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta ini, seperti kata Pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, memang tidak semata-mata tentang keriaan. Ada hal-hal lain yang sifatnya edukatif dan sebisa mungkin punya kontribusi terhadap ekosistem kesenian. Misalnya, pagi hari tadi, di Institut Seni Indonesia (ISI), saya menghadiri seminar internasional tentang gamelan. Isinya kurang lebih seputar sejarah gamelan dan bagaimana musik gamelan tetap lestari. Namun tetap, seminar tidak semata-mata mendengarkan si pembicara saja. Ada suguhan musik gamelan sebagai pembuka, juga sebagai musik di kala coffee break. Panitia ingin agar apa yang kita serap senantiasa berimbang: afeksi, kognisi, afeksi, kognisi, dan seterusnya. 

Malam harinya, di Taman Budaya Jawa Tengah, ada pameran seni rupa kontemporer yang mengangkat tema gamelan. Alih-alih ke Benteng Vastenburg yang menghadirkan line-up musik, saya memilih untuk pergi menikmati pameran. Alasannya? Ya, saya ingin mengalami gamelan dengan seluruh penginderaan. Telinga sudah puas dimanjakan - bagaimana tidak, belakangan ini saya hanya mendengarkan gamelan, tidak ada yang lain -, sedangkan mata belum seberapa. 

Pameran tentu saja merupakan bagian dari edukasi dan juga kontribusi terhadap ekosistem kesenian. Hingar bingar pameran seni rupa (apalagi seni rupa kontemporer), bagaimanapun, seringkali kalah dengan keriaan yang muncul dari panggung musik. Namun keberadaan pameran seni rupa adalah bentuk pengenalan pada publik terhadap bagaimana gamelan, saking kaya dan tinggi nilainya, bisa direspon secara lintas wilayah kesenian. Sekaligus juga menjadi penegasan: Gamelan lebih dari sekadar seperangkat alat musik. Keberadaannya telah menciptakan diplomasi kebudayaan yang krusial, menyentuh sendi-sendi politik, ekonomi, hingga sosio-kultural. 

Pameran seni rupa berjudul Serupa Bunyi ini membuka banyak kemungkinan tentang “visualisasi gamelan” dalam balutan yang lebih kontemporer dari lima perupa senior yaitu Edwin Rahardjo, Hajar Satoto, Hanafi, Heri Dono, dan Nindityo Adipurnomo. 

Heri Dono, misalnya, menggunakan gamelan sebagai sarana kritik sosial dalam karyanya yang berjudul Shock Therapy for Global Political Leaders. Pada karya tersebut digambarkan sejumlah wayang mirip Donald Trump, Vladimir Putin, Kim Jong Un, Angela Markel, Benyamin Netanyahu, dan pemimpin dunia lainnya, digantung secara terbalik dengan kaki terikat, dengan diatasnya terdapat gong-gong kecil yang sudah dirangkai sedemikan rupa agar memukul sendiri secara otomatis. 

Shock Therapy for Global Political Leaders. Foto oleh Amalia Prabowo.

Karya yang bagi saya agak mengejutkan adalah dari Hanafi yang berjudul 8 Benih Suara. Dalam tulisan keterangannya (saya mencoba agar asumsi saya lepas dari keterangan ini, tapi sulit), ia menyebut bahwa “pencapaian seni rupa adalah bunyi”. Ini agak senada dengan apa yang pernah saya dengar dari Bapak saya, yaitu, “Seni rupa,” ujarnya, “ujungnya harus musikal.” Musikal di sini belum tentu harus diterjemahkan sebagai penggunaan medium yang menghasilkan bebunyian. Maksud musikal adalah lebih luas: menciptakan suatu imaji yang lintas penginderaan; rupa yang dihasilkan adalah hasil sapuan yang kurang lebih bisa meminjam istilah musik: “harmonis”, “dinamis”, “ritmis”, “melodius”, atau dalam istilah lain kita bisa pinjam dari Bambang Sugiharto yang menyebutkan musik sebagai seni paling “dalam” dan “langsung”. Maka, berdasarkan kata Pak Bambang tersebut, bisa disimpulkan bahwa seni visual yang baik, adalah juga harus “dalam” dan “langsung”. 

Karya abstrak yang ditampilkan secara dua dimensi ini menunjukkan ada delapan lukisan yang agaknya mengekspresikan cara Hanafi dalam “menggambar bunyi”. Kemudian di satu kanvas yang berukuran lebih besar dari yang lain, oleh Hanafi digambar seorang dirijen yang memegang tongkat seolah hendak mengatur bebunyian yang acak itu, menjadi satu harmoni. 

Di pameran yang kita bisa akhiri selama kurang lebih lima belas sampai tiga puluh menit (tergantung kekhusyuan) itu juga memuat sejumlah karya menarik di beberapa sudut galeri yang lain. Misalnya, dari awal masuk, kita langsung disuguhi karya Nindityo Adipurnomo yang berbentuk instalasi. Namun instalasi berjudul Gamelan Toa ini tidak hanya bisa dinikmati secara berjarak. Pada apresiator dapat juga berpartisipasi dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam batu yang ukurannya sudah dipaskan dengan umumnya kepala manusia dewasa. Dengan memasukkan kepalanya ke dalam lubang tersebut, Nindityo hendak menekankan: Mari sejenak mengasingkan diri dari keramaian orkestrasi hidup. Batu-batu itu tidak hanya satu, melainkan beberapa, dan dipisahkan oleh sekat yang terbuat dari instalasi kain batik.

Gamelan Toa. Foto oleh Amalia Prabowo.

Lalu ada karya Hajar Sasto berjudul Gamelan Pamor yang sekilas tampak seperti seperangkat gamelan biasa, tapi jika didekati, mengandung sejumlah motif yang amat menarik. Kemudian ada juga karya Edwin Rahardjo, instalasi berjudul Harmony in Diversity yang di dalamnya terdapat gamelan dan citra wayang, yang kemudian keseluruhannya dirangkai dengan visualisasi yang menarik perhatian karena terang benderang dan seperti kata sang kurator, Suwarno Wisetrotomo: glamour. 

Harmony in Diversity. Foto oleh Amalia Prabowo.
Ruang pameran itu tidak benar-benar sunyi. Beberapa instalasi menciptakan bebunyian gamelan juga. Selesai dari ruang pameran, telinga saya kembali dijejali bunyi gamelan dari grup yang tampil di pendopo. Panitia benar-benar tidak memberi kesempatan bagi saya, untuk sejenak lepas dari gamelan. Seluruh penginderaan saya dikurung, agar pulang ke Bandung, hanya tinggal di benak saya: gamelan.   
Previous Post
Next Post

0 comments: