Saturday, August 25, 2018

Notasi Musik, Persoalan Kontemporer dan Kemerdekaan Bunyi

Ditulis dalam perjalanan di kereta, sebagai suplemen bedah buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 karya Septian Dwi Cahyo, Sabtu, 25 Agustus 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta




Buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 ini sudah lama saya lihat pengumumannya di linimasa media sosial teman-teman saya. Selintas, saya pikir buku ini menarik dan keren karena saya tiba-tiba teringat ucapan Dieter Mack pada sebuah seminar berjudul Komposer Masa Kini di Universitas Pendidikan Indonesia pada 11 Oktober 2016. Begini kira-kira ucapannya, "Meski cara memainkan musik sudah sangat beragam, tapi komposer tetap harus punya cara agar pemain dapat memainkan komposisinya dengan seratus persen sama (dengan apa yang dimaksud)." Lalu Dieter berjalan ke papan tulis dan menggambar notasi yang, saya yakin, nyaris sebagian besar audiens tidak mengenalnya.

Bagi saya yang bukan komposer, saya baru mengerti secara yakin: inilah notasi musik "masa kini", yang oleh Septian Dwi Cahyo dikategorikan ke masa abad 20 dan 21. Sebelumnya, saya pernah diperkenalkan secara sekilas oleh seorang kawan, Diecky Kurniawan Indrapradja, berbagai bentuk penulisan partitur kontemporer, dalam sebuah kelas komposisi. Dikesempatan lain, komposer Hery Budiawan juga pernah membuatkan saya sebuah komposisi dengan gaya penulisan yang sangat tidak lazim dengan judul Naon?  untuk solo gitar yang hingga sekarang belum sempat saya mainkan (dan saya masih merasa bersalah karenanya).

Artinya, meski tidak secara getol menggeluti dunia penulisan partitur ini (apalagi yang kontemporer), ada beberapa fragmen memori yang melekat, yang bisa jadi landasan untuk saya berbicara dalam forum ini.

Pertama, ini buku yang penting. Sangat penting. Memang Septian sudah sangat hati-hati dengan mengatakan bahwa ini bukanlah upaya standardisasi notasi seolah-olah semuanya mutlak seperti yang ia tuliskan. Bagaimanapun, Dieter sendiri yang mengatakan: bahwa sejak abad ke-20, ekspresi musik para komposer sudah semakin individual dan tidak bisa dikelompokkan dalam suatu gaya yang serupa seperti halnya di zaman-zaman sebelumnya (e.g.: Barok, Klasik, Romantik).

Jadi, Septian telah melakukan sedikit keberanian yang penuh nuansa perjudian: Ia mendokumentasikan sesuatu yang spektrumnya sangat luas dan tidak terbatas. Yang ia sendiri sadari bahwa upaya ini cukup rumit karena komposer tertentu sangat senang bermain mana-suka dengan tanda-tanda dan mungkin hanya dipahami oleh pemain yang pernah bekerjasama dengannya.

Namun kenapa penting? Karena pertama, buku ini bukan untuk diikuti sedemikian rupa tanda-tandanya oleh komposer manapun yang membaca. Tapi untuk memberi inspirasi bahwa notasi merupakan sebentuk kendaraan atas gagasan musik kita dan itu artinya ikatan-ikatannya sebenarnya tidak baku selama musisi bisa paham apa yang diinginkan. Artinya, komposer yang membaca buku ini bisa terbebaskan dan bahkan tercerahkan dari belenggu aturan konvensional dan mungkin segera bisa menuliskan gagasan-gagasan baru yang sudah lama terpendam.

Kedua, ini bukan buku yang mendeskripsikan ragam notasi masa kini saja. Lebih daripada itu, ini adalah buku yang kurang lebih menceritakan tentang situasi musik kontemporer. Membaca ini, saya merasa miskin sekali. Bahwa ternyata musik sudah sejauh ini, estetika sudah sangat jauh beragam dan apa yang saya dengarkan belakangan, ekplorasinya ternyata masih di situ-situ juga.

Perasaan miskin ini mungkin bukan hanya jadi milik saya secara pribadi, tapi juga umumnya komposer, musisi, dan apresiator di kota tempat saya tinggal, Kota Bandung. Panitia menuliskan nama saya sebagai " founder KlabKlassik Bandung" dan itu punya banyak makna bagi saya.

Sejak KlabKlassik Bandung berdiri tahun 2005, saya merasa bahwa komunitas ini mungkin sedikit banyak punya peran dalam mendorong gairah musik klasik di Kota Bandung (dengan kontribusi kelompok lainnya tentu, semisal Classicorp Indonesia dan Bandung Philharmonic). Tapi kami juga sedih karena perkembangan musik klasik di Bandung ini pada titik tertentu menjadi semacam klangenan belaka. Jarang sekali ada satu sikap bermusik yang kuat seperti yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta (atau sekarang mulai berkembang di Pontianak) yang menunjukkan kepekaan terhadap situasi kontemporer. Memang ada komposer garda depan yang baik sekali seperti Iwan Gunawan, Haryo Yose Sujoto, Dedy Satya Hadianda, atau Fauzie Wiriadisastra, tapi lain daripada itu, sangatlah minim. Pernah ada komposer berani sekali, yang sudah saya sebut di paragraf sebelumnya, Diecky. Tapi ia pindah domisili, setelah sebelumnya sukses meracuni sejumlah orang untuk mengikuti "jalan sunyi"-nya (para pengikutnya itu, macam Adrian Benn dan Bilawa Ade Respati, sekarang berkiprah di Eropa).

Memang, Bandung belakangan ini mulai menggeliat "gerakan bunyi" yang diinisiasi salah satunya oleh seorang kawan, namanya Bob Edrian, lulusan Seni Rupa ITB. Dia getol sekali berkampanye tentang sound art, sonic philosophy , dan yang menarik adalah dia ini bukan orang musik, melainkan orang seni rupa. Beberapa komposer musik sempat berang dengan Bob yang secara serampangan mencatut nama Cage dan Xenakis menjadi bagian dari perkembangan seni rupa. Tapi saya pribadi tidak peduli dengan catut mencatut sejarah karena sejarah ya sejarah, tidak ada istilah catut mencatut. Justru Bob (mudah-mudahan) telah membangunkan komposer musik di Bandung dari tidur panjangnya akibat keasyikan memelihara musik klasik sebagai sebuah klangenan belaka. Orang-orang di seni rupa telah memasuki wilayah bunyi sebagai "medium rupa yang baru" dan mungkin banyak diantara mereka sama sekali tidak menguasai (atau tidak merasakan pentingnya) notasi masa kini.

Jadi, kembali lagi ke buku Septian. Buku ini begitu punya banyak arti bagi saya khususnya, dan berharap bagi para pegiat musik di Kota Bandung juga pada umumnya. Kawan saya, Ismet Ruchimat, komposer grup fusion ethnic Sambasunda, titip satu eksemplar buku ini. Lalu sebuah kafe bernama Kaka Café yang sering mengadakan kegiatan filsafat dan kebudayaan, juga minta saya membawa beberapa eksemplar untuk dipajang. Artinya, memang buku ini lebih dari sekadar tentang notasi. Ini buku tentang situasi kekinian yang kerap dilupakan orang. Nigel Spivey pernah mengatakan bahwa memang seni disukai karena membawa kita pada situasi yang tidak realistis. Musik kontemporer sukar untuk disukai, karena mungkin bebunyiannya terlalu mengingatkan kita pada situasi "sekarang" dan itu terasa memilukan karena begitulah fakta yang terhadirkan setiap hari yang dicandrai oleh kita.

Jika (umumnya) publik Kota Bandung tidak bisa langsung dijejali musik kontemporer, maka buku Septian akan menjadi menu pembuka yang asyik. Kita harus senantiasa mendiskusikan dan membicarakannya, agar semakin terbiasalah kita dengan musik masa kini, dan terbebaslah telinga kita dari apa yang disebut Jacques Ranciére sebagai "rezim estetik". Adakah kebebasan yang lebih luhur dari kebebasan sensori pendengaran?
Continue reading

Sunday, August 12, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Sembilan - Habis): Mencari Oleh-Oleh yang Tepat untuk Dibawa ke Bandung

12 Agustus 2018

Hari keempat di Surakarta, adalah artinya hari terakhir saya berada di sini. Festival masih akan berlangsung hingga tanggal 16 Agustus, tapi apa daya saya hanya ditugaskan hingga tanggal 12. Panitia sudah menyiapkan tiket pesawat kepulangan untuk jam 14.15 dan itu artinya saya punya cukup waktu dari pagi hingga siang hari untuk mencari oleh-oleh. 

Membawa pulang oleh-oleh memang seolah sudah menjadi budaya kita. Setiap kita akan pergi ke suatu tempat, kita sering diteriaki, "Jangan lupa oleh-olehnya, ya!" Padahal, kita semua juga tahu, tidak semua kepergian ke luar kota atau luar negeri, punya cukup waktu dan uang untuk membeli oleh-oleh. Namun demi keharmonisan dengan semesta, kadang kita harus memaksakan diri untuk mencari oleh-oleh, agar setidaknya tidak dicap sombong, mentang-mentang, dan sebagainya. 

Meski waktu sempit, saya menyempatkan diri untuk mampir di tempat menjual Serabi Notosuman yang terkenal itu. Saya membeli tiga dus untuk teman-teman di kostan dan dua instansi Perguruan Tinggi tempat saya bekerja. Setelah itu, saya mencari sosis Solo untuk beberapa kawan dan tidak menemukan dimana-mana (dalam perjalanan ke Bandara) kecuali di Bandara Adi Sumarmo itu sendiri. Walhasil, satu gulung sosis berukuran dua kali gigit itu harus ditebus dengan harga sepuluh ribu Rupiah. Ini tentu saja, kita tahu, akibat dari membeli di Bandara. 

Namun inti artikel ini ternyata bukan tentang oleh-oleh makanan yang saya tulis di atas. Oleh-oleh bisa saja bermakna luas, bisa berupa makanan dan cenderamata, bisa juga terkait pengetahuan dan pengalaman. Saya tidak mampu membawa pulang makanan dan cenderamata yang banyak oleh sebab keterbatasan waktu dan uang, tapi saya punya oleh-oleh lebih besar dalam seluruh tubuh saya, untuk diceritakan dan diaplikasikan di kota kelahiran saya, Bandung. 

International Gamelan Festival (IGF) 2018 adalah festival yang sangat luar biasa. Tentu saya melontarkan pujian ini bukan karena saya diundang oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan RI sebagai payung penyelenggara. Bukan. Kalaupun memang iya begitu, saya hadir sebagai blogger yang tidak menginduk pada media manapun. Saya hadir sebagai orang bebas, yang bisa berkomentar apapun karena saya hanya akan mengunggahnya di kanal milik pribadi. 

Ini alasan mengapa saya memuji IGF 2018 sebagai festival yang bagus: 

1. Festival ini dengan cantik melibatkan banyak pihak untuk berkolaborasi, dari mulai Kemendikbud, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Indonesiana (tentang ini, akan dijelaskan di poin berikutnya), Pemerintah Kota Surakarta, swasta, seniman, hingga ke pedagang kaki lima. Festival ini membuat segala sesuatunya menjadi milik bersama. 

2. Sistem informasi begitu rapi dan memadai. Meski festival berlangsung di banyak titik, tapi informasi tersedia secara komprehensif baik lewat situs, media sosial, hingga dibagi lewat selebaran, umbul-umbul dan terpampang di reklame. Sehingga para pengunjung tidak merasa tersesat untuk memilih mana kegiatan yang mereka sukai dari IGF 2018 ini. Sistem informasi yang bagus ini juga membuat IGF 2018 terasa mengubah atmosfer kota Solo. 

3. Keterlibatan para ahli di festival seperti Rahayu Supanggah dan Garin Nugroho, menambah bobot kegiatan ini. Tidak semua festival mempunyai aktor intelektual dan kultural di belakang penyelenggaraannya. Dengan keberadaan sosok-sosok itu, terasa sekali IGF 2018 tidak hanya festival hura-hura, tapi juga punya dasar filosofis yang kuat. 

4. Kelompok gamelan yang tampil sangat beragam, dari mulai para pemain mancanegara hingga siswa SD, dari pemain profesional hingga amatir. Kegiatan yang dimunculkan juga sangat bervariasi dari mulai panggung musik (tentunya), konferensi akademik, pameran hingga pasar makanan. Keterlibatan pedagang kaki lima di festival juga menjadi pertimbangan yang luar biasa. 

5. Ini saya baru ketahui. Di festival ini ada kepanitiaan yang unik bernama knowledge management. Bagian ini khusus mengurusi hal ikhwal pengetahuan dan sejarah tentang gamelan. Ini adalah ide luar biasa karena selama ini festival cenderung terjebak pada keriaan (saja) dan minim aspek edukasi. Ternyata hasilnya lain jika aspek edukasi ini memang diniatkan ada dan diurusi secara independen. 

6. Keberadaan Indonesiana selaku perpanjangan tangan Dirjen Kebudayaan dalam hal penyelenggaraan dan pendampingan, berfungsi sangat baik. Tugas Indonesiana secara umum adalah berkoordinasi dengan pihak panitia lokal dan terus memberi masukan serta mengawasi jalannya festival agar luarannya tetap berada dalam jalur UU no. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ada sembilan festival inti dan empat festival pendukung di Indonesia tahun ini dan Indonesiana berupaya menjadikan seluruh festival tersebut lebih terintegrasi sehingga dampaknya menjadi terasa bagi masyarakat secara luas. Indonesiana, sejauh ini, berhasil mengisi "jurang" yang selama ini menganga antara panitia lokal dengan pemerintah pusat. 

Kesan mendalam saya tentang IGF 2018 seyogianya menjadi oleh-oleh paling nikmat bagi warga Bandung yang tidak kunjung punya festival yang membanggakan. Saya tentu tidak berharap oleh-oleh ini tersimpan hanya sebagai pengetahuan dan pengalaman saja. Semoga suatu saat bisa teraplikasikan entah dengan cara bagaimana, bisa kecil maupun besar. 

Akhirul kata, pesawat pulang sudah menunggu. Bandung, kota tempat saya lahir dan besar, sudah menanti untuk dicumbui. Terima kasih, IGF 2018, Indonesiana, dan Dirjen Kebudayaan, sampai jumpa di lain kesempatan. Salam budaya!



Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Delapan): Gema Swaratyagita dan Musik Masa Kini

Hari itu, entah kenapa, saya sedang tidak semangat untuk bepergian. Tentu saja, sikap semacam itu tidak diperbolehkan di tengah kewajiban untuk meliput ini itu. Hanya saja, saya harus berpikir lebih strategis: saya akan beristirahat seharian, sebelum pergi mengunjungi Balai Soedjatmoko di waktu malam yang jaraknya hanya satu kilometer saja dari hotel tempat saya tinggal. Artinya, hari itu, saya tidak menghadiri panggung utama di Benteng Vastenburg, yang secara jarak, memang lebih jauh. 

Datang ke Balai Soedjatmoko dengan biaya transportasi empat ribu Rupiah saja (saking dekatnya), seperti sudah ditulis di surat sebelumnya, saya menyaksikan dan mewawancarai terlebih dahulu Peter Szilagyi, pentolan dari grup Surya Kencana A. Setelah itu, kemudian, saya menyaksikan dengan khusyu penampilan dari komposer asal Jakarta, Gema Swaratyagita dan Laring Project, bersama dalang muda, Woro Mustika Siwi. 

Saya katakan khusyu karena pertama, saya sudah menyelesaikan makan malam angkringan saya dan sekarang bisa fokus ke pertunjukkan dan yang kedua, penampilan Gema, sejauh yang saya lihat di sepanjang festival ini, termasuk yang berbeda. 

Penonton memadati pertunjukkan dari Gema Swaratyagita. Foto oleh Resti Noelya.
Berbeda yang dimaksud adalah dari segi estetika: Gema tidak menggunakan set alat gamelan konvensional, melainkan hanya instrumen gong ageng dan gong kempul yang dimainkan oleh Didit Alamsyah dan Ronal Lisand. Bunyi lainnya kemudian dihasilkan dari tiga suara manusia yang diproduksi oleh Tessa Prianka, Monica Dyah, dan Yanthi Rumian, serta “monolog” Semar yang ditirukan oleh Woro Mustiko Siwi sebagai dalang (yang baru berusia enam belas tahun!). 

Deskripsi tentang musik yang diusung Gema, mungkin akan langsung terbayang jika menyebut Slamet Abdul Syukur (SAS) sebagai sumber inspirasi terbesarnya. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1984 itu memang pernah berguru pada maestro musik kontemporer Indonesia tersebut sejak sekitar tahun 2007. Gema mengaku, sebelum “diracuni” SAS, ia begitu asing dengan nama musisi-musisi garda depan seperti Igor Stravinsky, John Cage, hingga Frank Zappa. “Namun,” ujar Gema, saat diwawancarai pasca pertunjukkan, “SAS tidak hanya menjadi guru komposisi semata, ia merangsang saya untuk membuka cakrawala lebih lebar tentang dunia musik.” 

Sekarang, Gema tak tertahankan. Di usianya yang relatif muda, ia telah menjadi salah satu komposer muda yang diperhitungkan di Indonesia jika berbicara tentang “musik masa kini”. Istilah “musik masa kini” tentu saja mengundang pertanyaan, jika mengasosiasikan musik masa kini sebagai “musik kekinian” atau “musik pop industri”. “Masa kini” yang diusung Gema adalah terjemahan dari musik kontemporer yang secara literal diartikan sebagai “bersama waktu” atau bisa juga artinya “sedang terjadi sekarang”. 

Maksudnya, Gema adalah komposer yang menggunakan segala sensibilitasnya untuk menangkap estetika yang hadir hari ini, namun lepas dari godaan estetika musik yang sudah hadir sebelumnya, atau mainstream. Masa kini yang dimaksud, adalah kebaruan yang membuka jalan bagi estetika lain, agar juga turut terprovokasi untuk meperbarui dirinya. 

Sikap semacam itu tercermin dari karyanya kemarin, yang menciptakan ruang apresiasi yang bisa jadi baru bagi publik Internasional Gamelan Festival (IGF) 2018, yang hingga hari ketiga terbiasa disuguhi musik gamelan yang memang indah dan estetis, tapi masih dalam pakem estetika yang “dalam jalur”. 

Sebagai komposer musik kontemporer, tentu saja Gema sudah lebih tahan banting. “Saya sudah biasa, merasakan aura penonton yang mulai bosan atau tidak fokus, saat sedang menyaksikan pertunjukkan saya. Hal yang lebih ekstrem adalah ketika saya dituduh merusak pita suara para penyanyi akibat komposisi saya yang barangkali terlalu menantang,” tambahnya sembari tersenyum. 

Ini memang sudah jalur yang dipilih oleh Gema. Estetika “musik masa kini” akan selalu mendapat macam-macam reaksi. “Saya sempat khawatir ketika memasukkan komposisi ini di IGF 2018. Tapi sudah kebiasaan saya, menjadikan riset sebagai bagian dari proses kerja. Sebelum saya mulai latihan, saya menghubungi kawan-kawan yang sudah lebih paham soal gamelan dan pedalangan, agar bisa setidaknya memberi masukan,” ujar Gema. Artinya, Gema tidak benar-benar nekat. Di balik keberaniannya menampilkan komposisi yang berbeda, ia telah melakukan sejumlah riset yang dapat dikatakan cukup mendalam. 

Pada komposisinya kemarin, “kenakalan” khas SAS muncul dalam sajiannya. Meski terdengar seperti rapalan teks Jawa kuno, namun yang sebenarnya disampaikan oleh dalang maupun vokal diambil dari teks yang bermuatan perkataan SAS sendiri yang dicuplik Gema dari berbagai sumber. Tiga puluh menit penampilan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah karya. Namun Gema kemarin berhasil menyudahinya dalam keadaan penonton yang tetap bertahan. Tentang ini, ia kembali berbagi tips dari sang guru, “SAS berpesan, untuk terus memberikan sesuatu yang baru dalam sebuah komposisi yang panjang. Apresiator harus diberi kejutan senantiasa, hingga ia kemudian menunggu-nunggu apa yang akan muncul berikutnya.” 

Gema, selain aktif sebagai komposer, juga turut mengorganisasi Pertemuan Musik yang rutin berlangsung di Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, dan Bogor. Pertemuan Musik adalah semacam organisasi nirlaba yang fokus pada komunitas dan edukasi musik. 

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Saya memilih pulang dengan berjalan kaki untuk merasakan udara malam Surakarta sebelum keesokan harinya pulang ke Bandung. Di benak saya masih terngiang, suara magis Woro Mustiko Siwi.
Continue reading

Saturday, August 11, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Tujuh): Jumpa Ligeti di Slamet Riyadi

11 Agustus 2018

"Waktu, itulah bedanya," ujar Peter Szilagyi ketika ditanya kesulitannya ketika awal memainkan gamelan. Dalam gamelan, cara pandang para pemain terhadap waktu sangat berbeda dan cenderung fleksibel ketimbang di musik Barat. "Pada musik Barat, kami mempunyai ukuran-ukuran yang kurang lebih pasti sehingga kami punya bayangan berapa lama lagu ini akan dimainkan," kata pimpinan kelompok gamelan Surya Kencana A tersebut. 

Surya Kencana A adalah kelompok asal Budapest, Hungaria, yang didirikan sejak tahun 2006. Kehadiran kelompok ini adalah bentuk kerinduan Szilagyi terhadap gamelan, ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 1996 hingga 2002 sebagai penerima beasiswa Darmasiswa. Atas dasar itu, bersama kawan-kawan yang juga pernah belajar gamelan (terutama sesama jebolan Darmasiswa), ia membentuk kelompok tersebut.

Surya Kencana A. Foto oleh Bekti Sunyoto

Szilagyi sendiri "nekat" pergi ke Surakarta semata-mata ketertarikannya dengan bebunyian baru. Padahal, tahun 1996 itu, dia baru saja lulus SMA di Budapest. Namun sebenarnya, ia sebelumnya sudah punya dasar bermusik karena sudah tekun memainkan musik tradisional Hungaria. Tidak ada kesulitan serius ketika pindah memainkan gamelan kecuali yang ia sebutkan tadi itu: tentang waktu. 

Malam itu memang saya tidak memilih untuk larut dalam keriaan di Benteng Vastenburg - yang notabene panggung utama -. Saya memilih untuk menyaksikan pertunjukkan yang berlangsung di Balai Soedjatmoko (Jalan Slamet Riyadi), yang kebetulan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempat saya tinggal. Di gedung dengan kapasitas sekitar lima puluh orang itu, tampil dua kelompok yaitu Surya Kencana A dan Gema Swaratyagita bersama Laring Project. 

Karena terlalu penuh, saya memilih untuk menyaksikan Surya Kencana A dari luar gedung. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 seperti biasa, cukup sigap dengan memasang layar dan speaker di pelataran parkir, sehingga para pengunjung tetap dapat mendengar dan melihat, sembari nongkrong di angkringan (gratis loh!). 

Apa yang dimainkan oleh Surya Kencana A tampak seperti musik gamelan Jawa pada umumnya. Namun sebenarnya mereka melakukan transkripsi terhadap komposisi karya György Ligeti (1923 - 2006) yang berjudul Musica Ricertata. Musica Ricertata sendiri merupakan karya untuk piano yang terdiri dari sebelas bagian. Pada penampilannya kemarin, Surya Kencana A memainkan bagian dua dan tiga yang berjudul Mesto, Rigudo e Ceremoniale dan Allegro con Spirito. 

Meski berbasis di Hungaria, para penampil yang kemarin tampil tidak ada yang didatangkan khusus dari Hungaria. Semua yang tampil adalah musisi yang memang sedang atau sudah berada di Indonesia. Szilagyi sendiri menikah dengan orang Indonesia dan menetap (kembali) sejak tahun 2014. 

"A," potong Szilagyi, "Jangan lupa, Surya Kencana A, bukan Surya Kencana saja." Ini membuat saya heran dan otomatis bertanya, kenapa? Memang ada Surya Kencana B? Szilagyi, yang fasih berbahasa Indonesia ini, menjawab, "Itu adalah nama angkutan kota yang kami gunakan selama menjadi mahasiswa di Solo. Peran angkutan tersebut mungkin terasa sentimentil bagi kami, sehingga kami mengabadikannya." 

Sewaktu mereka tampil, saya sambil makan nasi kucing di angkringan. Saya mendengar dengan seksama, bagaimana mereka memainkan karya komposer favorit saya, Ligeti. Saya membayangkan, Ligeti, sang penulis musik avant garde tersebut, di hadapan saya, mencoba meredakan pedas karena membuka nasi kucing yang isinya rica.

Bersama Surya Kencana A. Foto oleh Resti Noelya.
Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Enam): Sambasunda, Bukan Sekadar Kelompok Musik


10 Agustus 2018 

Sebagai orang Bandung yang lebih dari tiga puluh tahun hanya tinggal di sana, maka baru dua hari di Surakarta saja, rasanya sudah rindu pada tempat kelahiran. Namun saya tidak sedang ingin melankolik, apalagi di Surakarta ini, saya, seperti berulang kali diekspresikan, sangat kerasan dengan suasana International Gamelan Festival (IGF) 2018 yang hangat tapi sekaligus juga gempita ini.

Namun memang, ketika memilih siapa yang ingin disaksikan di Benteng Vastenburg pada perhelatan hari pertama, saya menunjuk Sambasunda, kelompok musik asal Bandung yang dibesut oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat. Ini cara untuk sedikit mengobati kerinduan pada Bandung, dengan minimal berbicara bahasa Sunda. 

Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan. Sudah sejak lama, jauh sebelum mengenal Kang Ismet, saya memang diam-diam menikmati musik Sambasunda. Ketika mengenal Kang Ismet pada pertengahan tahun 2017, malah ada perasaan bias yang sukar dihindarkan: Bahwa kekaguman saya pada figur Kang Ismet, membuat saya sukar untuk memandang musik dari kelompok yang berdiri tahun 1993 tersebut, secara “objektif” (diberi kutip karena objektif bukanlah kata yang tepat dalam apresiasi musik). 

Sambasunda. Foto oleh Adjie Dunston Iriana.

Sambasunda naik panggung sekitar pukul setengah sebelas malam, atau terlambat satu setengah jam dari jadwal semula. Urutan mereka ditukar dengan Sanggar Manik Galih (Amerika Serikat) dan Gamelan Group Lambangsari (Jepang) entah oleh pertimbangan apa. Tapi, tanpa mengecilkan dua kelompok luar negeri tersebut, penampilan Sambasunda memang tepat ketika disimpan sebagai puncak. Penampilannya, seperti biasa, kompak, progresif, dan bergairah. Mengusung fusion - etnik, Sambasunda kuat oleh sebab roh bermusiknya yang “sampai” - Kang Ismet menyebutkan bahwa ini adalah pengaruh latihan yang rutin setiap minggu selama berpuluh tahun, serta kunci lain, yaitu bermain tanpa membaca partitur -. Sambasunda, seperti biasa, sukses menyihir penonton - setidaknya, penonton dibuat menari dengan gembira -. 

Lagu-lagu yang menjadi andalannya, seperti Bangbung Hideung dan Taraja, secara umum mengubah atmosfer Benteng Vastenburg, dari yang tadinya mistis dan khusyu, menjadi tampak membumi dan merakyat. Sambasunda menampilkan formasi yang ramai, dari mulai kendang, saron, bonang, angklung, hingga instrumen modern Barat seperti keyboard, drum, bas, gitar akustik, gitar elektrik, dan flute. Kelompok musik yang sebagian besar personilnya berasal dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini, juga menampilkan vokalis Mayang Krismayanti yang sangat baik dalam memprovokasi penonton untuk terus berinteraksi. 

Sambasunda memang fenomenal. Mereka besar oleh sebab pertama, keberaniannya mengawinkan gaya musik Barat dan kesenian tradisional, yang pada masa itu, tahun 1990-an, belum seberapa marak (sekarang mungkin yang seperti ini sudah sering kita lihat). Kang Ismet mengaku bahwa pada mulanya, ide tersebut menuai kecaman terutama dari para pegiat tradisi yang sudah senior. Kira-kira, menurut mereka, Kang Ismet telah mengobrak-abrik tradisi yang sudah luhur dan sakral, dengan meleburkannya bersama musik yang “asing”. 

Namun konsistensinya membuahkan hasil. Sambasunda kian dikenal publik secara luas, yang tidak terbatas pada apresiator dalam negeri saja, melainkan juga luar negeri. Penampilan di Amerika dan Eropa sudah dilakoninya hingga berkali-kali. Kang Ismet sendiri, yang bergelar Doktor ini, beberapa kali diundang untuk memberikan kuliah tamu tentang musik tradisi di Pittsburgh, Amerika Serikat dan Oslo, Norwegia. 

Ismet Ruchimat. Foto oleh Adjie Dunston Iriana. 

Namun di samping musiknya yang memang dipenuhi “silaturahmi budaya”, apa yang saya kagumi dari Kang Ismet adalah kebesaran hatinya untuk terus melakukan regenerasi. Iya, Sambasunda sekarang mempunyai “Sambasunda junior” yang diisi oleh anak-anak yang lebih muda. Beberapa diantaranya mulai juga ikut tampil bersama pemain senior, hingga sesekali, dalam kesempatan tertentu, Kang Ismet mempercayakan seluruh panggung untuk para penerus. 

Sambasunda telah berkembang lebih dari sekadar kelompok musik. Mereka adalah komunitas yang merawat musik tradisi dalam konstelasi permusikan dunia. Mereka punya caranya sendiri: Dengan tidak henti-henti melakukan fusi, agar terus sesuai dengan derap perkembangan zaman. Kang Ismet sendiri patut ditiru oleh sebab kebesaran hatinya untuk sedikit demi sedikit melunturkan patronase. Ia ingin agar Sambasunda tidak terus menerus bergantung pada dirinya. 

Kiprah Kang Ismet ini, membuat saya tiba-tiba ingat pepatah Bapak, “Jika ingin jadi orang besar, besarkanlah orang lain.”
Continue reading

Friday, August 10, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Lima): Soto Grabah, Wedang Uwuh, dan Gamelan Group Lambangsari

10 Agustus 2018

Kenapa musik, yang notabene ditangkap oleh indra pendengaran, masih tetap menarik jika dipertontonkan? Mungkin ini jawabannya: Karena manusia, tidak selalu puas dengan satu penginderaan saja. Ada kalanya, yang kita namai sebagai pengalaman langsung, adalah berarti menceburkan diri pada fenomena secara keseluruhan. Mengalami sesuatu secara langsung, bisa jadi artinya: membuat sebanyak mungkin penginderaan jadi terlibat. 

Ini yang saya lakukan ketika datang untuk meliput berbagai pertunjukkan di Benteng Vastenburg pada hari kedua penyelenggaraan International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta. Setelah menghadiri pameran seni rupa kontemporer di Taman Budaya Jawa Tengah, saya tetap menyempatkan diri ke Benteng Vastenburg meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Motif saya awalnya sebenarnya sederhana, yaitu ingin menyaksikan penampilan dari Sambasunda, yang notabene dipimpin oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat.

Namun kemudian saya mendapat kabar dari panitia bahwa Sambasunda, yang seyogianya tampil pada pukul sembilan malam, ternyata mundur menjadi penampil puncak atau sekitar jam setengah sebelas malam. Saya beruntung. Dengan demikian, tidak hanya saya menjadi tidak kehilangan momen menyaksikan penampilan kelompok asal Bandung yang berdiri tahun 1993 tersebut, melainkan lebih daripada itu, saya bisa menonton dua penampil lain, yaitu kelompok gamelan dari Amerika Serikat dan Jepang. 

Tentang kelompok dari Amerika Serikat, namanya Sanggar Manik Galih yang berpusat di Colorado. Kelompok gamelan ini dipimpin oleh I Made Lasmawan dan Ni Ketut Marni, serta berdiri sejak tahun 2011. Personil dari kelompok tersebut beragam dari mulai orang asing (khususnya Amerika Serikat), orang Bali, dan orang Indonesia yang berdiaspora. 

Setelah Sanggar Manik Galih, kemudian naik ke atas panggung, kelompok gamelan dari Jepang yang bernama Lambangsari. Lambangsari bukan satu-satunya kelompok gamelan di Jepang. Hanya saja, kelompok yang berpusat di Tokyo ini merupakan kelompok gamelan yang paling tua (didirikan tahun 1985). Pendirinya adalah Profesor Fumi Tamura dari Tokyo National University of Fine Art and Music. Pada IGF 2018, mereka memainkan karya yang katanya sudah sangat dikenal di Jepang, yaitu musik (yang dipadukan dengan tari) Gambyong Pareanom. 

Alih-alih duduk di depan panggung untuk menikmati sajian pertunjukkan, saya memilih untuk melipir ke gerai makanan di area pinggir. Saya duduk bersama Mbak Amalia Prabowo sembari bertanya tentang makanan apa yang sebaiknya saya santap malam ini. Ia menjawab dengan jelas, “Paling enak ya soto grabah dan wedang uwuh, Mas.” Kebetulan sekali, gerai yang menjual item tersebut berada di sebelah meja kami duduk. 

Tidak sampai lima menit, keduanya dihidangkan di meja tempat saya duduk. Sekarang artinya, sedang tersaji: soto grabah, wedang uwuh, dan kelompok gamelan Lambangsari, yang seluruhnya berada di hadapan sekaligus. Ini adalah pengalaman eksistensial yang komplit, yang oleh filsuf Prancis, Jean Paul Sartre, disebut sebagai “kehadiran yang tanpa tedeng aling-aling”. 

Foto oleh Amalia Prabowo
Seni kadang direduksi menjadi sekadar esensi belaka - bahwa seni hanya semata-mata urusan kedalaman batin -. Padahal, perangkat menuju kedalaman itu memerlukan elemen-elemen yang sangat inderawi. Kita lihat betapa banyaknya musisi yang mengeluh oleh sebab sound system yang buruk; perupa kurang sreg dengan merk cat dan kuas tertentu; dan di sisi lain, apresiator kecewa karena kualitas headset yang tidak mutakhir sehingga mereka gagal mendengarkan detail dari musik John Coltrane, misalnya. 

Hal-hal seperti itu tampak tidak relevan dengan seni sebagai sesuatu yang luhur dan transenden. Tapi kita tidak bisa abaikan bagaimana kehidupan di sekitar yang kita jalani, masih memerlukan tubuh sebagai sarana menggapai seluruh pengalamannya. Maka manjakan tubuh, sebelum menggapai “pesona estetis”. 

Di setiap suapan soto grabah, saya mendengar bunyi gamelan lebih sempurna dari biasanya. Di setiap tegukan wedang uwuh, saya melihat penari, yang saya tahu, salah satunya bernama Kaori, lebih indah dari biasanya.

Bersama Kaori, penari jebolan ISI Surakarta. Foto oleh panitia IGF 2018.
Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Empat): Melihat Bunyi, Mendengar Wujud

10 Agustus 2018

International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta ini, seperti kata Pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, memang tidak semata-mata tentang keriaan. Ada hal-hal lain yang sifatnya edukatif dan sebisa mungkin punya kontribusi terhadap ekosistem kesenian. Misalnya, pagi hari tadi, di Institut Seni Indonesia (ISI), saya menghadiri seminar internasional tentang gamelan. Isinya kurang lebih seputar sejarah gamelan dan bagaimana musik gamelan tetap lestari. Namun tetap, seminar tidak semata-mata mendengarkan si pembicara saja. Ada suguhan musik gamelan sebagai pembuka, juga sebagai musik di kala coffee break. Panitia ingin agar apa yang kita serap senantiasa berimbang: afeksi, kognisi, afeksi, kognisi, dan seterusnya. 

Malam harinya, di Taman Budaya Jawa Tengah, ada pameran seni rupa kontemporer yang mengangkat tema gamelan. Alih-alih ke Benteng Vastenburg yang menghadirkan line-up musik, saya memilih untuk pergi menikmati pameran. Alasannya? Ya, saya ingin mengalami gamelan dengan seluruh penginderaan. Telinga sudah puas dimanjakan - bagaimana tidak, belakangan ini saya hanya mendengarkan gamelan, tidak ada yang lain -, sedangkan mata belum seberapa. 

Pameran tentu saja merupakan bagian dari edukasi dan juga kontribusi terhadap ekosistem kesenian. Hingar bingar pameran seni rupa (apalagi seni rupa kontemporer), bagaimanapun, seringkali kalah dengan keriaan yang muncul dari panggung musik. Namun keberadaan pameran seni rupa adalah bentuk pengenalan pada publik terhadap bagaimana gamelan, saking kaya dan tinggi nilainya, bisa direspon secara lintas wilayah kesenian. Sekaligus juga menjadi penegasan: Gamelan lebih dari sekadar seperangkat alat musik. Keberadaannya telah menciptakan diplomasi kebudayaan yang krusial, menyentuh sendi-sendi politik, ekonomi, hingga sosio-kultural. 

Pameran seni rupa berjudul Serupa Bunyi ini membuka banyak kemungkinan tentang “visualisasi gamelan” dalam balutan yang lebih kontemporer dari lima perupa senior yaitu Edwin Rahardjo, Hajar Satoto, Hanafi, Heri Dono, dan Nindityo Adipurnomo. 

Heri Dono, misalnya, menggunakan gamelan sebagai sarana kritik sosial dalam karyanya yang berjudul Shock Therapy for Global Political Leaders. Pada karya tersebut digambarkan sejumlah wayang mirip Donald Trump, Vladimir Putin, Kim Jong Un, Angela Markel, Benyamin Netanyahu, dan pemimpin dunia lainnya, digantung secara terbalik dengan kaki terikat, dengan diatasnya terdapat gong-gong kecil yang sudah dirangkai sedemikan rupa agar memukul sendiri secara otomatis. 

Shock Therapy for Global Political Leaders. Foto oleh Amalia Prabowo.

Karya yang bagi saya agak mengejutkan adalah dari Hanafi yang berjudul 8 Benih Suara. Dalam tulisan keterangannya (saya mencoba agar asumsi saya lepas dari keterangan ini, tapi sulit), ia menyebut bahwa “pencapaian seni rupa adalah bunyi”. Ini agak senada dengan apa yang pernah saya dengar dari Bapak saya, yaitu, “Seni rupa,” ujarnya, “ujungnya harus musikal.” Musikal di sini belum tentu harus diterjemahkan sebagai penggunaan medium yang menghasilkan bebunyian. Maksud musikal adalah lebih luas: menciptakan suatu imaji yang lintas penginderaan; rupa yang dihasilkan adalah hasil sapuan yang kurang lebih bisa meminjam istilah musik: “harmonis”, “dinamis”, “ritmis”, “melodius”, atau dalam istilah lain kita bisa pinjam dari Bambang Sugiharto yang menyebutkan musik sebagai seni paling “dalam” dan “langsung”. Maka, berdasarkan kata Pak Bambang tersebut, bisa disimpulkan bahwa seni visual yang baik, adalah juga harus “dalam” dan “langsung”. 

Karya abstrak yang ditampilkan secara dua dimensi ini menunjukkan ada delapan lukisan yang agaknya mengekspresikan cara Hanafi dalam “menggambar bunyi”. Kemudian di satu kanvas yang berukuran lebih besar dari yang lain, oleh Hanafi digambar seorang dirijen yang memegang tongkat seolah hendak mengatur bebunyian yang acak itu, menjadi satu harmoni. 

Di pameran yang kita bisa akhiri selama kurang lebih lima belas sampai tiga puluh menit (tergantung kekhusyuan) itu juga memuat sejumlah karya menarik di beberapa sudut galeri yang lain. Misalnya, dari awal masuk, kita langsung disuguhi karya Nindityo Adipurnomo yang berbentuk instalasi. Namun instalasi berjudul Gamelan Toa ini tidak hanya bisa dinikmati secara berjarak. Pada apresiator dapat juga berpartisipasi dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam batu yang ukurannya sudah dipaskan dengan umumnya kepala manusia dewasa. Dengan memasukkan kepalanya ke dalam lubang tersebut, Nindityo hendak menekankan: Mari sejenak mengasingkan diri dari keramaian orkestrasi hidup. Batu-batu itu tidak hanya satu, melainkan beberapa, dan dipisahkan oleh sekat yang terbuat dari instalasi kain batik.

Gamelan Toa. Foto oleh Amalia Prabowo.

Lalu ada karya Hajar Sasto berjudul Gamelan Pamor yang sekilas tampak seperti seperangkat gamelan biasa, tapi jika didekati, mengandung sejumlah motif yang amat menarik. Kemudian ada juga karya Edwin Rahardjo, instalasi berjudul Harmony in Diversity yang di dalamnya terdapat gamelan dan citra wayang, yang kemudian keseluruhannya dirangkai dengan visualisasi yang menarik perhatian karena terang benderang dan seperti kata sang kurator, Suwarno Wisetrotomo: glamour. 

Harmony in Diversity. Foto oleh Amalia Prabowo.
Ruang pameran itu tidak benar-benar sunyi. Beberapa instalasi menciptakan bebunyian gamelan juga. Selesai dari ruang pameran, telinga saya kembali dijejali bunyi gamelan dari grup yang tampil di pendopo. Panitia benar-benar tidak memberi kesempatan bagi saya, untuk sejenak lepas dari gamelan. Seluruh penginderaan saya dikurung, agar pulang ke Bandung, hanya tinggal di benak saya: gamelan.   
Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Tiga): Komposisi Kontemporer, Gerai Jajanan, dan Leburnya yang Sakral dan yang Profan

9 Agustus 2018 

Dengan soft opening yang begitu menjanjikan, saya yakin banyak orang tidak sabar untuk menantikan bagaimana gerangan pembukaan akbar (grand opening) yang dilakukan malam harinya di Benteng Vastenburg. Gembar-gembornya, ada permainan gamelan yang dikomposisi oleh para maestro. 

Setelah makan malam di sebuah food court bernama Galabo, saya, bersama peliput lainnya, berjalan kaki memasuki Benteng Vastenburg yang dibangun pada tahun 1745 tersebut. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 sungguh punya perhatian khusus terhadap edukasi. Di pintu masuk, kami sudah disambut oleh infografis yang berisi tentang tokoh-tokoh gamelan seperti Ki Nartasabda, Ki Sunardi, Lili Suparli, Mang Koko, hingga Rahayu Supanggah beserta lukisan wajah dan profil singkatnya.

Di balik infografis yang berukuran cukup besar itu, terbujur panggung megah yang digunakan untuk pembukaan akbar dan sejumlah penampilan di hari-hari berikutnya. Kursi-kursi yang berjumlah mungkin sekitar seribu, disiapkan bagi para audiens yang ingin menyaksikan grand opening.

Foto: Ismet Ruchimat
Pembukaan, ya, sesuai ekspektasi, berjalan dengan epik. Setelah sambutan dari Direktur Festival, Rahayu Supanggah dan pembukaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, karya-karya gamelan bernuansa kontemporer pun ditampilkan. Komposisi-komposisi dari Rahayu Supanggah, I Wayan Gde Yudane, dan Taufik Adam, tampil mengalir dengan matang sekaligus berani, memaksa para penonton untuk tetap bertahan menikmati suasana yang intens. 

Foto: Ismet Ruchimat
Namun nyaris sepanjang acara pembukaan, saya tidak duduk di kursi yang disediakan panitia di area depan panggung. Saya memilih untuk duduk di area lain bersama Kang Ismet Ruchimat, musisi sekaligus pendiri kelompok fusion - etnik Sambasunda. Di mana saya duduk? Tentu saja, di tempat yang masih bisa mendengarkan musik sekaligus melihat jalannya acara, meski dari kejauhan. 

Ternyata, panitia menyediakan stand makanan, lengkap beserta kursi dan meja untuk bersantai. Kita bisa sambil merokok, minum kopi, makan malam, yang mana beberapa stand diantaranya menyediakan lesehan

Foto: Ismet Ruchimat

Pembagian area ini agak sedikit berbeda dengan kegiatan bazaar, misalnya. Di bazaar, biasanya memang ada unsur musik dan stand makanan, tapi para pengunjung biasanya menganggap musik sebagai periuh suasana saja untuk menemani kerumunan. Di grand opening kemarin sedikit berbeda. Suasana panggung dan sekitarnya tampak begitu sakral, sementara stand makanan di sekeliling tampak seperti acara yang begitu “duniawi”, profan, dan terpisah dari kekhusyuan di area stage

Namun saya menduga, penempatan ini bukannya tanpa pertimbangan. Panitia ingin menjadikan suasana pagelaran lebih seperti menonton wayang, yang mana penonton tidak harus secara fokus berada di area panggung. Sarah Andrieu, antropolog Prancis yang meneliti wayang golek selama belasan tahun mengatakan, “Wayang bukanlah semata-mata boneka yang dimainkan oleh dalang, melainkan seluruh kegiatan berkumpulnya. Menonton wayang tidak harus fokus pada apa yang ada di panggung, melainkan bisa juga sambil mengobrol dan bercanda, sambil sesekali menoleh untuk menyaksikan adegan yang penting.” 

Pertimbangan ini sungguh menarik. Sungguh sudah biasa, jika ada gerai makanan di dekat panggung, namun yang disuguhkannya notabene adalah musik hiburan. Namun pada grand opening IGF kemarin, di atas panggung adalah “seni tinggi” dengan segala keseriusan apresiasinya. Seolah paradoks, di sekeliling terdapat gerai jajanan yang membuat orang berkumpul membicarakan hal yang mungkin remeh temeh. 

Kita bisa katakan bahwa secara umum, beginilah kita seyogianya memperlakukan kesenian: Seharusnya tidak ada beda, antara seni yang bernilai tinggi, dengan derap ekonomi kerakyatan yang bertalian dengan kegiatan sosial yang teramat mundan. Pada jalinan kehidupan, semuanya saling terikat dan tak bisa dipisahkan. 

Foto: Ismet Ruchimat

Lalu saya pulang, dengan memori akan bebunyian yang muncul dari karya Rahayu Supanggah, yang begitu mistis, yang siap terus bergaung hingga saya ke peraduan.
Continue reading

Thursday, August 9, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Dua): Ketika Berjalan di Trotoar Tidak Lagi untuk Melihat Merk Dagang

9 Agustus 2018

Setidaknya di Bandung, tempat saya tinggal, berjalan di trotoar adalah hal yang sangat asing. Pertama, trotoar seringkali kurang nyaman bagi pejalan kaki, oleh sebab kurang luas dan banyak diserobot oleh pedagang kaki lima (meski hal-hal demikian sudah banyak diperbaiki di masa pemerintahan Ridwan Kamil). Kedua, berjalan di trotoar adalah identik juga dengan menyempitkan pandangan kita, hanya pada toko-toko dan merk dagang yang ada di sisi jalan. Dalam arti kata lain, memilih jalur trotoar berarti juga siap dibujuk secara halus untuk membeli dan membeli. 

Namun trotoar di Surakarta kala soft opening International Gamelan Festival (IGF) 2018 kemarin, membuat saya merasa sedih dengan keadaan di Bandung. Pada acara yang dimulai sekitar jam setengah empat tersebut, tidak ada toko (yang buka) dan merk dagang (yang terpampang terang-terangan) di sepanjang trotoar di Jalan Slamet Riyadi, karena “disingkirkan” oleh 73 set gamelan. 

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Setelah pembukaan melalui seremoni singkat di Taman Sriwedari oleh Walikota Surakarta, Pak F.X. Hadi Rudyatmo bersama Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Pak Hilmar Farid, mulailah satu per satu gamelan dibunyikan. Para penonton langsung berjalan mengikuti sumber bunyi, dan menemukan berbagai macam kelompok gamelan dari anak-anak sekolah hingga berbagai komunitas. Kelompok yang banyak itu bukannya tanpa koordinasi. Mereka didirijeni oleh para panitia yang rata-rata merupakan mahasiswa seni dari ISI - Surakarta. Pendirijenan tersebut dilakukan salah satunya demi menjaga agar suara satu kelompok tetap harmonis atau tidak menabrak dengan kelompok lainnya - yang secara jarak cukup dekat -. 

Jalan Slamet Riyadi bukanlah jalan yang dapat dikatakan pendek. Lebih dari satu kilometer saya susuri untuk menyaksikan seluruh kelompok gamelan yang bermain di trotoar. Semakin lama, didasari oleh ketertarikan, warga kian merapat sehingga menciptakan kerumunan yang membuat saya susah mendapatkan ruang gerak dalam berjalan kaki. Namun sekali lagi, berjalan jauh dan berdesakan tidak terlalu menjadi soal, ketika trotoar kali ini tidak sedang untuk menjajakan merk dagang, melainkan menampilkan nilai-nilai luhur dari kesenian. 

Apa yang ditampilkan pada soft opening IGF 2018, kemungkinan mengacu pada konsep meleburnya jarak antara pemain dan apresiator. Para pemain duduk di trotoar dan para apresiator bisa siapa saja, tidak selalu orang-orang yang awalnya punya intensi untuk menyaksikan pertunjukkan. Konsep semacam ini menempatkan seni sebagai sesuatu yang inklusif dan mau turun dari menara gading untuk bersentuhan dengan masyarakat. 

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Penampilan semacam ini bukannya tanpa risiko. Apa yang ditampilkan secara tiba-tiba di ruang publik (kesenian apapun, tidak hanya gamelan, tapi bisa juga musik jazz atau musik klasik, misalnya), harus berhadapan dengan reaksi yang beragam. Tidak menjadi masalah jika reaksi tersebut berupa atensi yang positif. Namun bisa juga terjadi ketika penampilan yang mengejutkan semacam itu, malah ditanggapi secara dingin dan malah sinis. Bisa disebabkan oleh kepentingannya yang terganggu (jalan menjadi macet, trotoar menjadi sempit), atau sesederhana memang tidak suka terhadap musiknya. 

Namun upaya flash mob (penampilan kejutan di tengah kerumunan) tetap merupakan satu percobaan yang berani, terutama dalam konteks kesenian. Kendatipun upaya tersebut menemui caci maki, misalnya, tetap saja publik menjadi mengenalnya. Bukan tidak mungkin, lama-lama orang-orang menjadi terbiasa, dan pelan-pelan mulai menyukai. 

Penampilan 73 kelompok gamelan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada jam lima, bebunyian mulai surut. Penonton pun berangsur-angsur mulai mengurai diri dari kerumunan. Tidak semua penonton ini segera pulang ke tempatnya masing-masing. Mereka bisa jadi bersiap, untuk pembukaan akbar (grand opening) di Benteng Vastenburg, malam harinya. 

Sementara itu, romantisme saya akan selalu tinggal, tentang bagaimana trotoar, untuk sekejap saja, tidak bermuatan merk dagang.

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan
Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Satu): Pak Hilmar, "IGF 2018 Tidak Ingin Menjadi Sekadar Pesta Semata!"

9 Agustus 2018

Tiba di Bandara Adi Sumarmo, Surakarta, pada pukul sepuluh pagi, penerbangan 55 menit dari Jakarta nyaris tak terasa oleh sebab saya terlelap sembari mendengarkan musik Beethoven yang disediakan oleh fasilitas audio dari maskapai. Selesai mengambil bagasi, panitia yang bertugas mengumpulkan awak media telah setia menunggu di luar. Dengan ramah, perempuan bernama Mbak Amalia tersebut menggiring kami ke mobil dengan kapasitas besar, agar awak media yang ia jemput - yang terdapat enam orang lainnya - merasa nyaman dan tidak berdesakan. Kami langsung dibawa ke hotel Royal Heritage, sebuah hotel yang saya perkirakan mempunyai fasilitas bintang lima, dimana kami akan makan siang bersama Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. 

Pak Hilmar, dengan wajah yang terlihat lelah, tak lama kemudian datang dan tetap mencoba menebar senyumnya. Setelah berbasa-basi sedikit, ia mulai memaparkan secara garis besar hal ikhwal International Gamelan Festival (IGF) 2018 yang diselenggarakan di Surakarta ini. “Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari IGF sebelumnya yang digelar di London dan Glasgow. Setelah penyelenggaraan di sana, kemudian timbul pertanyaan, mengapa tidak diselenggarakan di kita saja untuk tahun berikutnya? Akhirnya diputuskan Surakarta menjadi tuan rumah dan ‘kembali pulang’ atau home coming menjadi tema IGF kali ini,” ujar Pak Hilmar, yang dilantik menjadi direktur sejak akhir tahun 2015. 

Foto oleh Amalia Prabowo

“Kepulangan ini,” lanjut Pak Hilmar, “adalah kepulangan yang menarik, karena tidak banyak diantara masyarakat kita yang tahu bahwa gamelan sudah begitu berkembang di luar sana, melebihi apa yang kita bayangkan.” Pak Hilmar seolah hendak mengatakan, bahwa gamelan telah berdiaspora, menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berakulturasi dengan kebudayaan setempat. 

Sebagai contoh, di IGF kali ini, terdapat sejumlah kelompok gamelan dari mancanegara seperti dari Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Irlandia, Australia, Inggris, Hungaria, dan Belanda. Di masing-masing negara tersebut, musik gamelan bisa jadi tidak diaransemen dengan seratus persen sama dengan yang dilakukan di kita. Ada penyesuaian dan peleburan yang menciptakan kekayaan khazanah bagi dinamika perkembangan musik gamelan itu sendiri. 

IGF merupakan salah satu saja dari sejumlah festival di Indonesia yang digelar di tahun 2018 dan berada di bawah koordinasi Indonesiana. Pertanyaannya, apakah itu Indonesiana? Tentang ini, Pak Hilmar memberi penjelasan cukup komplit, terutama terkait dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, “Ya, dalam menindaklanjuti undang-undang tersebut, kami merasa perlu untuk mendirikan Indonesiana sebagai platform. Apa artinya platform ini? Ya, semacam badan yang membantu tata kelola kegiatan seni sehingga berbagai festival yang ada di Indonesia menjadi lebih berkelanjutan, berjejaring, dan tentu saja, berkembang.” 

Penjelasan demi penjelasan Pak Hilmar, yang santai tapi berbobot, membuat mata saya kian berbinar, membayangkan momen pembukaan kegiatan yang waktu itu akan dimulai sekitar dua jam lagi. Dari arah hotel, di seberang jalan, sudah terpasang sejumlah set gamelan. “Siapa yang akan memainkan gamelan itu?” tanya saya pada Mbak Amalia, yang saya lakukan sebelum bertemu Pak Hilmar. “Oh, banyak sekali, sekitar tujuh puluh lebih kelompok gamelan di Surakarta, dari mulai siswa SD, SMP, SMA, hingga umum, akan membunyikan gamelan ini secara bersamaan nanti di saat pembukaan,” jawabnya. Rupanya saya baru sadar, bahwa alat gamelan itu tidak hanya satu set saja, melainkan banyak sekali, dipasang di trotoar sepanjang jalan Slamet Riyadi. 

“Sebuah festival,” Pak Hilmar kemudian melanjutkan, dan membuyarkan bayangan saya yang sedang mengobrol dengan Mbak Amalia, “bagaimanapun, harus mempunyai aspek pesta, hiburan, dan mengajak banyak orang untuk berbahagia. Namun kami mencoba agar IGF ini tidak hanya tentang aspek festivity saja, melainkan juga tentang pembangunan ekosistem kesenian. Misalnya, pemerintah daerah Surakarta, pada even ini, juga membagikan sejumlah set gamelan ke kelurahan-kelurahan. Lalu dalam IGF ini, banyak sekolah-sekolah dan sanggar kesenian dilibatkan. Even ini juga mengadakan workshop, diskusi, dan pameran, sehingga punya nilai edukasi.” 

Foto oleh Amalia Prabowo

Pelayanan panitia yang baik dan berkelas, penjelasan yang ramah namun mendalam dari Pak Hilmar membuat kesan saya tentang acara ini sudah sangat positif sejak awal. Meski lelah mendera - akibat pergi sejak dini hari dari Bandung -, namun ada harapan yang terbit dari dalam benak, yang membuat badan tiba-tiba segar senantiasa: Bahwa pemerintah ternyata bisa begitu peduli terhadap pengembangan kebudayaaan. 

Tadinya, jujur saja, saya agak skeptis. Wilayah kebudayaan, secara stereotip, adalah wilayah yang sering diperlakukan asal-asalan oleh sebab barometernya yang tidak jelas. Kebudayaan kemudian direduksi menjadi hanya sebagai pemuas kebutuhan pariwisata, dan pada akhirnya luput dari penggalian nilai-nilai luhur sekaligus kedalamannya. Kita bisa berharap, di tangan Pak Hilmar, Indonesiana, dan IGF 2018, mulai ada kesadaran dari semua pihak, tentang pentingnya pelestarian budaya, tanpa harus melulu punya orientasi pasar dan komersialisme. 

Setelah itu, saya meminta berfoto berdua saja dengan Pak Hilmar. Ia mengiyakan dengan santai (meski matanya tetap tampak sayu akibat lelah) dan merangkul pundak saya sebelum gambar diambil melalui kamera ponsel.


Foto oleh Amalia Prabowo





Continue reading

Monday, August 6, 2018

Warteg dan Masyarakat

Warteg dan Masyarakat
Hampir setiap pagi, saya punya ritual yang sukar ditinggalkan, yaitu sarapan di warteg Pak Imron. Awalnya, hubungan kami ya transaksional saja. Saya pembeli dan beliau penjual. Namun lama kelamaan, sekitar di hari keempat, Pak Imron mulai bertanya-tanya kegiatan saya, dan saya pun bertanya seputar apa-apa yang dialaminya selama mengelola warteg. Lalu ia cerita, tentang orang-orang yang datang ke warungnya, dari mulai orang gila, gelandangan, mahasiswa belum dapat kiriman uang, orang dengan kemeja rapi tapi enggan bayar, dan ragam lainnya. Di sisi lain, Pak Imron juga berinisiatif, jika kebetulan melihat orang yang belum makan (karena tampak sedang mengais atau menggelandang, misalnya) untuk turun membungkuskan nasi beserta lauk pauk. 

Ini saya tidak sedang mengumbar cerita kemanusiaan dalam rangka mempromosikan Pak Imron dan wartegnya. Hal yang lebih pokok adalah ini: tentang warteg sendiri, sebagai suatu tempat yang menjadi solusi paling mendasar bagi persoalan umat manusia yaitu perut. Demikian mengapa Pak Imron didatangi oleh banyak orang dengan beragam latar belakang, karena apapun latar belakangnya, perut, kata Nietzsche, adalah selalu ayah dari segala persoalan. 

Tentu saja, bertebaran di hampir setiap jengkal kita melangkah, tempat makan dari mulai kaki lima hingga restoran mewah. Namun warteg menjajakan makanannya seolah telanjang bulat. Etalasenya tidak dihalangi moral yang ketat dan orang bisa begitu saja datang untuk minta makan tanpa bisa benar-benar dicegah kecuali sang pemilik benar-benar galak. Pemilik warteg bukan filantropis. Ia harus dengan jeli melihat mana yang patut diberi makan dan mana yang harus ketat ditagih bayaran. 

Maka pada etalase yang telanjang bulat, seorang pemilik warteg adalah satu-satunya benteng terakhir dengan segala akal budi dan hati nuraninya. Pak Imron harus tahu kapan berbagi nasi, kapan memberi harga secara serampangan dan kapan memberi harga secara ketat. Ini adalah cara beliau menjaga harmoni, antara kelangsungan bisnis dan perut warga sekitar. 

Pada warteg, masih tersisa semacam kepercayaan, bahwa memberi adalah berkah, bahwa mengampuni adalah perbuatan mulia. Keselamatan datang, dari seberapa banyak kita bisa membuat kenyang perut orang lain. Ini tidak ada urusan dengan kebudayaan, yang membuat kegiatan makan menjadi penuh ritual dan tetek bengek. Pak Imron masuk ke inti persoalan peradaban, melampaui filsafat, seni, agama, dan ilmu pengetahuan: seolah Sokrates, Descartes, Dawkins, hingga Modigliani, di masa-masa kantongnya sedang tidak cukup membeli makan, akan mendatangi warteg dengan memelas, untuk sekali ini saja, dipiringi nasi dengan usus, agar bisa berfilsafat dan berkesenian kembali. 






Continue reading