Friday, July 27, 2018

Jangan Tumbuh: Musik Sureal yang Menyakitkan

Ditulis dalam rangka acara TAWURAN (Tanya Jawab Ulas Rancangan) Jangan Tumbuh tentang peluncuran video klip Dhira Bongs di The Silk Hotel, Kamis, 26 Juli 2018.



Membicarakan musik adalah sesuatu yang mudah sekaligus sukar. Mudah karena musik amat kuat menimbulkan suatu kesan - Bambang Sugiharto menyebut musik sebagai seni yang paling “langsung” dan “dalam” -. Musik tertentu dapat membuat kita ingat pantai, berduaan bersama kekasih, galau mengenang kematian, marah terhadap otoritas, dan lain sebagainya. Sehingga membicarakan musik menjadi mudah karena hanya tinggal membicarakan impresi-impresi apa yang terbangkitkan dari rangsangan audial itu sendiri.

Membicarakan musik tapi juga sesuatu yang sukar. Alasannya, jika musik menimbulkan suatu impresi dan kemudian kita malah membicarakan impresi itu, lantas apakah kita menjadi membicarakan sesuatu di luar musik? Sebaliknya, jika kita membicarakan musik dalam konteks dirinya sendiri - dalam hal ini, misal, progresi akor, harmoni, tema - improvisasi, kadensa, dan sebagainya -, tidakkah musik malah terkesan menjadi entitas yang kaku, beku, dan malah bertentangan dengan hakikat musik itu sendiri sebagai sesuatu yang dikatakan Nietzsche sebagai “prosesi penting menuju gelegak dan kemabukan hidup”?

Musik karya Dhira Bongs yang berjudul Jangan Tumbuh bisa kita baca dari dua pendekatan di atas. Pertama, secara impresi, lagu Jangan Tumbuh, mengingatkan saya pada lagu yang ditulis tahun 1950 oleh Bernie Wayne dan Lee Morris berjudul Blue Velvet. Blue Velvet kemudian populer ketika dinyanyikan oleh Bobby Vinton pada tahun 1963 - meski sebelumnya juga pernah dibawakan oleh Tony Bennett -.


Blue Velvet kemudian menjadi soundtrack bagi film dengan judul yang sama tahun 1986 karya sutradara David Lynch (yang memang filmnya didominasi warna biru). Tapi agaknya, dari nuansa musiknya - dan pengalaman saya menyaksikan Blue Velvet-nya Lynch -, kemungkinan ada kesamaan kuat antara keduanya: nuansa neo-noir, psikologis, sureal, sekaligus “horor” yang dibalut citra sensualitas yang kuat. Kata-kata yang terakhir ini mungkin bisa mencerminkan impresi saya tentang musik Jangan Tumbuh.


Sekarang tentang musik sebagai dirinya sendiri. Musik ini, jika ingin punya nuansa sureal, tentu saja, secara umum, harus memiliki repetisi - dengan asumsi, seperti halnya house music dan pada sisi yang lain, zikir serta meditasi, mesti mengandung unsur yang repetitif agar mencapai suatu “ketinggian” tertentu -. Namun Jangan Tumbuh, yang mengagetkan, tidak memberikan repetisi. Lagu berdurasi 02:31 ini, jika dibedah berdasarkan perubahan progresi akornya, terdiri dari tiga bagian. Uniknya, tiga bagian itu tidak diulangi lagi sehingga pendengar kemungkinan agak sukar menemukan bagian “inti” yang “singalongable”. Titik ini membuat musik Dhira dan Blue Velvet-nya Wayne dan Morris menjadi sangat berbeda. Pada Blue Velvet, ada tendensi sureal yang kuat lewat tempo yang mendayu, suara Bobby Vinton yang punya unsur reverb, dan tentu saja, bagian yang diulang-ulang - kita pasti akan ingat selalu: “she wore blue velvet…” -.

Mengapa Dhira melakukan ini, saya tidak yakin motifnya apa. Mungkin ada semacam pemikiran jauh tentang bagaimana agar kesan sureal dipotong dengan tanggung dan menyakitkan, agar sesuai dengan “pesan moral” yang tertuang dalam liriknya yaitu tentang cinta yang jangan tumbuh.
Continue reading

Monday, July 23, 2018

Guriang di Cijaringao

Pada hari Rabu malam tanggal 19 Juli 2018, Kang Ismet Ruchimat, sang pendiri kelompok musik Sambasunda, mengontak saya tepat pukul sembilan. Sambil mengajar kelas filsafat ilmu di Kaka Cafe, saya mengangkatnya dengan terlebih dahulu meminta maaf pada peserta kelas. “Rif,” kata Kang Ismet di seberang telepon, “Ke sini, sekarang juga. Ke Saung Angklung Udjo. Ada hal penting.” Jika Kang Ismet mengatakan itu penting, maka itu benar-benar penting. Saya bergegas menyelesaikan kelas dan meminta maaf untuk kedua kalinya pada para peserta. Tepat pukul sepuluh, saya sampai di Padasuka, tempat Saung Angklung Udjo yang legendaris itu. 

Di sebuah meja, telah duduk beberapa orang yaitu Kang Ismet Ruchimat, Kang Galih Sedayu dari Ruang Kolaborassa, Kang Taufik Hidayat dari Saung Angklung Udjo, Kang Adjie Dunston Iriana, dan beberapa staf Kang Galih maupun Kang Taufik. Inti pembicaraannya adalah ini: Bahwa festival musik internasional bernama Matasora World Music Festival, terancam gagal penyelenggaraannya oleh sebab seorang produser yang kurang bertanggungjawab, sehingga kita adalah orang yang harus tetap membereskannya demi reputasi kegiatan itu sendiri, dan demi dipertahannya Matasora di mata anggaran Kementerian Pariwisata. 

Suasana rapat. Foto oleh Adjie Dunston Iriana.

Pertanyaanku sederhana: Kapan acaranya? Kang Ismet menjawab dengan getir: “Lusa!” Kepala saya langsung berputar. Iya, Matasora World Music Festival akan diselenggarakan seyogianya pada tanggal 21 dan 22 Juli 2018. Tapi apa yang terjadi? Hingga H-3, belum ada satupun hal yang disiapkan. Kalaupun kami mengiyakan, acara ini harus dimulai dari nol dan itu berarti kerja yang tidak hanya keras, tapi nyaris mustahil! Kami menyebut ini seperti kerja Sangkuriang yang harus membuat perahu besar dalam semalam. Tapi Kang Taufik mencoba menenangkan. Katanya, “Jangan samakan kerja kita dengan Sangkuriang. Sangkuriang gagal. Ia tidak selesai. Tapi kita harus selesai, dan kita diberi waktu lebih panjang dari Sangkuriang.” 

Namun kami tidak berlama-lama meratapi keadaan ini. Keesokan paginya, Kang Ismet dan saya langsung berkoordinasi tentang siapa pengisi acara yang akan tampil di Matasora World Music Festival. Sambasunda, Patrick Shaw Iversen, Malire, Ethno-Progressive, Doel Sumbang, Mangule Project, Babenjo, Trio BiGiBas, Mary Jane (mewakili Ruang Putih), West Java Syndicate (mewakili Jazzuality), dan Mirna (mewakili KlabJazz) bersedia untuk tampil di acara yang akhirnya kami putuskan untuk dilangsungkan di tanggal 22 Juli saja (tidak jadi dua hari). 

Kang Galih, di sisi lain, secara sigap sudah langsung menghubungi vendor untuk sound system, panggung, dan tata cahaya. Oh iya, kegiatan tanggal 22 Juli itu akan berlangsung di Cijaringao Hejo Udjo, Kabupaten Bandung, yang jaraknya sekitar dua kilometer dari Saung Angklung Udjo. Tempat tersebut merupakan tempat yang asri, dipenuhi pohon bambu, dan nyaris tidak ada jarak dengan warga sekitar. Namun itu juga artinya, para panitia harus punya cukup waktu untuk berkoordinasi dengan warga lokal agar kegiatan dengan kekuatan tata suara sepuluh ribu watt nanti, menjadi tidak mengganggu dan bahkan bisa dinikmati bersama. Untungnya, Kang Galih bersama timnya, juga cukup sigap menangani hal tersebut. 

West Java Syndicate. Foto oleh Mia Sjahir.
Selain itu, kami juga tetap menyelenggarakan pertemuan teknis (technical meeting) dengan seluruh pengisi acara. Kegiatan pertemuan tersebut langsung dilakukan di Cijaringao Hejo Udjo dengan harapan pengisi acara dapat mengenal lokasi kegiatan yang notabene belum terlalu dikenal dan mempunyai medan yang relatif cukup terjal (karena jalan yang relatif sempit dan beberapa diantaranya masih berbatu). Dalam pertemuan teknis tersebut dijelaskan panjang lebar tentang mengapa acara ini dilangsungkan dengan mendadak (meski tidak diceritakan detail) dan meminta agar para pengisi acara saling bekerjasama mensukseskan kegiatan ini. 

Hari H acara, tampaknya semua sudah siap. Secara mendadak (lagi-lagi), Kang Galih menghubungi seniman Rosyid untuk mendekorasi secara spontan panggung dan sekitarnya. Upaya itu berhasil, panggung menjadi tampak lebih artistik di tangan seniman yang sehari-hari berkarya di Cigadung tersebut. Kemudian sekitar pukul dua, acara dimulai dengan secara simbolik membunyikan angklung bersama dengan pihak panitia, para penonton, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata. 

Cijaringao Hejo Udjo memang tempat yang menarik. Area panggungnya luas dan yang menarik, tata ruangnya berbentuk amphiteater yang undaknya terbuat dari tanah dan rumput yang dibentuk secara alamiah. Untuk mencapai tempat yang dikelola salah satunya oleh Saung Angklung Udjo itu memang tidak mudah. Namun siapapun yang berhasil menjangkaunya, tidak akan menyesal dengan tempat yang asri ini. Kemudian berturut-turut pengisi acara naik panggung selama masing-masing tiga puluh menit (kecuali Sambasunda di akhir yang mencapai hampir satu jam). Penampilan seluruh pengisi acara ini tergolong lancar kecuali Trio BiGiBas yang tertunda sedikit karena hujan. Di tengah-tengah kegiatan juga terdapat talkshow bersama Dewan Kesenian Kota Bandung yang diwakili oleh Rahmat Jabaril dan Djaelani. 

Acara ditutup dengan gembira karena hampir seluruh penonton berjoged bersama Sambasunda dan Rita Tila, sang penyanyi, yang menjadi provokator bagi keriuhan ini. Seperti biasa, lagu Bangbung Hideung tidak pernah gagal dalam melarutkan penonton untuk menari bersama. Di tengah-tengah, Patrick Shaw Iversen, pemain flute asal Norwegia, turut bergabung bersama Sambasunda untuk lebih menghidupkan suasana.

Keriuhan selesai, kami semua termangu tak percaya. Tiga hari menyiapkan acara, rupanya berhasil juga. Apakah acara itu bagus atau jelek, tentu saja relatif. Tapi yang pasti, kami menyelesaikannya. Kami langsung teringat cerita Sangkuriang. Ketika ia diberi persyaratan untuk membuat perahu besar dalam semalam oleh Dayang Sumbi, Sangkuriang meminta bantuan para guriang (makhluk halus) untuk membantu pekerjaannya. Perahu sudah hampir selesai sebelum Dayang Sumbi berhasil mengakali seolah-olah fajar merekah di ufuk timur dan itu berarti tugas Sangkuriang gagal. Kemarin kami merasa dibantu oleh para guriang di Cijaringao. Mereka hadir, sampai selesai.

Mary Jane. Foto oleh Mia Sjahir.
Continue reading