Thursday, April 12, 2018

Teks Musik: Suatu Pengantar

Ditulis sebagai Suplemen "Workshop Penulisan Musik" di Jendela Ide, Sabuga, 20 April 2018 


Mendefinisikan Musik 

Sebelum membahas literasi ataupun penulisan musik, agaknya tidak berlebihan jika kita membahas hal paling mendasar yaitu: apa itu musik? Kita bisa pertama-tama menyepakati hal ini: pada dasarnya, segala sesuatu dalam alam semesta ini bergerak dalam ritmik (orang berjalan, gerak awan, ikan berenang, dan sebagainya). Segala sesuatu juga punya keselarasan atau harmoni dengan lainnya, misalnya: matahari pagi dengan bangun manusia dari tidurnya, kehidupan ikan dan ekosistem di sekitarnya, dan sebagainya. Selain itu, melodi juga dapat kita dengar di alam semesta ini: cuitan burung, bunyi deru knalpot, sampai ke senandung orang di kamar mandi. Sebuah buku tahun 1963 berjudul ABC of Music karya Imogen Holst kira-kira merangkum seluruh deskripsi tersebut dan mendefinisikan musik sebagai "gabungan antara melodi, harmoni, dan ritmik". 

Apakah sudah selesai pendefinisian kita tentang musik? Pada perkembangannya, definisi musik ternyata lebih kompleks dari itu. John Cage, komposer Amerika Serikat awal abad ke-20, menyebutkan bahwa segala bunyi pada dasarnya bisa jadi musik. Artinya, mengacu pada paragraf di atas, maka dalam definisi Cage, deru knalpot saja bisa jadi musik, langkah kaki manusia saja bisa jadi musik, dan cuitan burung saja bisa jadi musik - bahkan, dalam karya Cage berjudul 4'33", diam saja bisa jadi musik -. 

Jika demikian, apa yang membedakan musik dengan bukan musik? Ini mulai rumit. Artinya, tukang nasi goreng yang memukuli ketelnya secara ritmis bisa disebut seorang musisi atau malah komposer? Artinya, suara air ketika dituangkan dari ceret ke gelas, dengan sendirinya adalah musik? 

Edgard Varése, komposer modern lain, mencoba mencari jalan tengah dengan mengatakan bahwa musik adalah "bunyi yang diorganisasikan". Dengan demikian, definisi Varése tersebut mencoba memisahkan antara "bunyi yang diorganisasikan" dengan "bunyi yang tidak diorganisasikan" atau diistilahkan dengan "noise". 

Belum habis. Kita akan bertanya lebih lanjut: lantas, bagaimana "bunyi yang diorganisasikan" itu? Apa batas terorganisasi dengan tidak? Bukankah tukang nasi goreng juga punya "kesadaran ritmis" ketika ia memukul ketel? Akan lebih rumit jika kita tahu bahwa berkembang juga belakangan ini genre yang terdengar mengandung contradictio in terminis yaitu "noise music". Luciano Berio, komposer Italia, kemudian tidak mau ambil pusing. Ia bergerak ke arah pendengar. Katanya: musik adalah apapun yang ingin kamu dengar sebagai musik. 

Jika kita setuju dengan Berio, maka mungkin kita bisa bergerak ke arah seberangnya: musik adalah apapun yang diinginkan musisi atau komposer sebagai musik. Tukang nasi goreng mencipta musik, tapi mungkin ia tidak dalam kesadaran penuh ketika melakukannya. Intensinya lebih ke arah memanggil pembeli, alih-alih membuat suatu komposisi. Mungkin kita bisa akhiri (atau angggap saja untuk sementara berakhir) pada definisi bahwa musik adalah tergantung niat atau intensinya, baik dari arah pendengar maupun produsen bunyi. 

Teks Musik

Demikian sulitnya kita mendefinisikan musik, justru menjadi alasan mengapa literasi dan penulisan musik berkembang. Musik, karena sifatnya yang "abstrak dan dalam", seringkali menimbulkan dorongan untuk diartikulasikan dalam bentuk teks, agar lebih "konkrit dan permukaan". Tentu saja, teks bukan musik itu sendiri. Tapi teks dapat banyak membantu kita untuk memahami kedalaman musik. 

Terkait teks ini, kita bisa mencoba memilah berbagai jenis teks penulisan musik. Pembagian ini sangat mungkin keliru ataupun sempit, karena teks penulisan musik benar-benar nyaris tidak punya batas: 

1. Penulisan notasi 
Penulisan notasi mungkin merupakan bentuk penulisan musik dalam arti yang paling harafiah. Penulisan ini bisa dalam bentuk not balok, not angka, atau sistem apapun yang kira-kira membuat musik, yang sejatinya merupakan pengalaman yang sifatnya "momentum" (tidak seperti seni rupa atau seni patung yang dibuat dalam wujud yang diintensikan untuk abadi) menjadi terdokumentasikan dan dapat diwariskan dari masa ke masa. Selain pendokumentasian, penulisan notasi juga dapat berupa komposisi (penciptaan karya) ataupun aransemen (penggubahan karya). Apapun itu, intinya agar teks yang ditulis, dapat dibunyikan kembali menjadi musik. 

2. Penulisan musikologi 
Bentuk penulisan ini mensyaratkan pengetahuan tentang musik secara "an sich". Maksudnya, bentuk penulisan ini agaknya sekurang-kurangnya mesti punya bekal sejumlah terminologi dan secara umum, disiplin yang khusus mengenai musik sebagai sebuah ilmu. Penulisan ini, sekurang-kurangnya, mesti berbicara musik dari ranah dirinya sendiri. Misalnya: Penulisan tentang bagian tema Donna Lee karya Charlie Parker, penulisan tentang pergerakan akor Watermelon in Easter Hay karya Frank Zappa dan sebagainya. Namun musikologi juga dapat berkembang menjadi tulisan sejarah ataupun sosial budaya, seperti misalnya buku Dangdut Stories yang ditulis oleh musikolog asal Pittsburgh, Andrew Weintraub. Perbedaannya, sebagai musikolog (tepatnya etnomusikolog), Weintraub tetap mengambil titik analisisnya dari musik itu sendiri (instrumentasi, struktur kalimat, progresi, harmoni, dan sebagainya) sebelum meluas membicarakan hal-hal lain. Musikologi sebenarnya bidang yang sangat luas. Kata kuncinya mungkin ada pada riset. Agaknya, setiap penulisan musik, jika disertai riset yang mendalam, dengan sendirinya bisa dikatakan sebagai penulisan musikologi. Termasuk misalnya, menulis tentang sejarah gitar dari masa ke masa, atau sejarah perkembangan musik blues. 

3. Penulisan kritis 
Penulisan kritis biasanya mengaitkan musik dengan aspek-aspek yang lebih luas di luar dirinya sendiri. Misalnya, menulis tentang bagaimana kondisi gedung pertunjukkan hari ini di Bandung, kondisi musik di Indonesia sejak meninggalnya Denny Sakrie, ataupun pengaruh musik nasyid bagi generasi muda. Penulis kritis biasanya memosisikan diri sebagai orang yang memandang fenomena dari kejauhan. Dengan demikian, menjadi mudah bagi dirinya untuk mengaitkan musik tersebut dengan aspek-aspek seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. 

4. Penulisan kuratorial 
Penulisan kuratorial ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai "bingkai intelektual" untuk membantu publik memahami musik. Dalam penulisan kuratorial, biasanya ada unsur pleidoi ataupun pertanggungjawaban terhadap musik yang ditulis. Misalnya, terkait dengan acara festival musik akustik, maka para kurator mengumumkan pada publik mengapa band A, B, dan C yang dipilih melalui sebuah tulisan. Bentuknya, misalnya: "Nissan Fortz ambil bagian dalam festival ini karena konsistensinya yang luar biasa sejak empat atau lima tahun terakhir ini. Ia bermain dengan eksploratif dan tidak kenal takut untuk usianya yang relatif masih muda". Kita juga bisa membaca ini, meski jarang, di bagian kata pengantar buku program musik klasik. Ada semacam pertanggungjawaban tentang mengapa ia konser, apa yang akan dimainkan, dan sebagainya (bisa ditulis orang lain ataupun dirinya sendiri). Meski demikian, bentuk tulisan semacam ini agaknya masih belum umum atau setidaknya, belum banyak tersosialisasikan, kecuali dalam pertunjukan musik yang lebih bersifat kontemporer ataupun "serius". 

5. Penulisan jurnalistik 
Penulisan musik semacam ini memang sekilas tampak seperti peliputan biasa. Kita nampaknya sudah sering membaca liputan konser artis ini, wawancara dengan artis itu, dan sebagainya. Tapi penulisan jurnalistik tertentu kadang juga bersifat feature sehingga punya aspek-aspek yang tidak luntur oleh waktu. Pada titik itu, antara penulisan kritis dan penulisan jurnalistik menjadi agak sulit untuk dibedakan. 

6. Penulisan Multidisiplin 
Bagian ini sebenarnya ditambahkan dalam rangka mencoba mengategorisasi penulisan musik yang kian rumit dan berkembang. Setiap bidang keilmuan, pada dasarnya, sah-sah saja untuk turut bersinggungan dengan wilayah musik. Dengan adanya musik terapi misalnya, musik menjadi bisa dipandang dari ilmu psikologi dan ilmu medis secara umum. Ilmu antropologi juga bisa serius membicarakan musik, seperti halnya Sam Dunn yang meneliti musik metal ke seluruh dunia dengan kacamata keilmuannya. Belum lagi jika kita bicara musik sebagai seni pertunjukan, sehingga pada ranah itu aspek-aspek ilmu komunikasi dan fenomenologi mulai masuk. Ilmu sejarah bahkan bisa masuk, untuk memetakan periodisasi musik dan juga menulis biografi musisi atau kelompok musik. Belum lagi, ilmu sastra kemudian bisa bergabung jika mulai membicarakan lirik. Apakah matematika, ilmu fisika, hingga ilmu manajemen bisa membicarakan musik? Tentu saja. Dalam level riset yang mendalam, hal-hal terkait disiplin yang beragam itu pada akhirnya bisa dilebur bersama musikologi dan membentuk berbagai kemungkinan baru yang menarik.

Dapat dipastikan, di luar tulisan ini, ada banyak jenis penulisan lain yang belum terdeskripsikan. Kita boleh memilih mau menjadi penulis seperti apa, untuk setidaknya membuat musik menjadi tidak hanya momentum, tapi juga penggerak bagi peradaban.
Continue reading

Saturday, April 7, 2018

Membaca (Kembali) Media Baru dan Sangkut Pautnya dengan Etika

Ditulis untuk kegiatan diskusi Moro Referensi di UNISBA, 9 April 2018.





Masifnya perkembangan media baru (new media) dalam satu hingga dua dekade belakangan ini, telah membuat ketergantungan baru bagi kehidupan manusia kontemporer. Demikian tergantungnya, hingga sudah menjadi semacam kebutuhan primer (anak “zaman now” pernah mengibaratkan kebutuhan itu dalam ekspresi “sandang, pangan, colokan” alih-alih ekspresi lama yaitu “sandang, pangan, papan” - menunjukkan bahwa keterhubungan daring lebih penting dari mempunyai tempat tinggal -). 

Demikian tergantungnya, hingga masyarakat hari ini menganggapnya sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai “perpanjangan tubuh” kita sendiri. Misalnya, Kita sudah menganggap media sosial sebagai dunia sosial kita yang hakiki, kita sudah menganggap obrolan melalui Whatsapp sebagai obrolan yang hakiki, kita sudah menganggap menyaksikan representasi pertunjukan via Youtube adalah pengalaman menghadiri live performance secara hakiki. 

Mungkin perasaan-perasaan itu ada benarnya dan menunjukkan suatu fenomena kontemporer yang tak terbantahkan. Namun ada baiknya juga untuk sejenak mengambil jarak dari apa yang sudah terlanjur mundan ini, agar persoalan media baru dapat kembali terpetakan. 

Berikut adalah butir-butir yang dapat penulis sampaikan terkait pembacaan terhadap fenomena media baru. Butir-butir ini merupakan kombinasi dari pengalaman konkrit dan juga abstraksi pemikiran atas apa yang terjadi hari-hari ini: 

1.Youtuber dan “Monetisasi Moral” 

Seiring dengan berkembangnya media baru, telah muncul juga “cita-cita baru” seperti menjadi youtuber atau orang yang menjadi populer dan mempunyai uang dari mengisi konten di Youtube. Di Indonesia, kita bisa menemukan contoh terbaiknya pada sosok Awkarin, Anya Geraldine, dan Younglex yang mencapai popularitasnya lewat konten di Youtube dan Instagram. Persoalannya, Awkarin, Anya Geraldine, dan Younglex mendapat viewers yang banyak tidak melulu lewat konten yang positif dalam ukuran moral masyarakat “kebanyakan” - terutama di Indonesia -. Tiga orang tersebut mencitrakan diri sebagai remaja “apa adanya” yang kemudian mencitrakan diri dalam kebebasan bertindak berupa keterbukaan terhadap seks bebas dan umpatan kasar. 

Ada sejumlah karya musik yang mereka hasilkan (terutama untuk Awkarin dan Young Lex) tapi kira-kira dengan produksi dan kualitas seadanya. Namun hal-hal terkait proses serta luaran tidak terlalu jadi bahan pertimbangan bagi mereka-mereka ini. Hal yang lebih penting adalah total jumlah viewers yang kemudian dapat dimonetisasi - dan ini tidak ada kaitannya dengan jumlah dislike yang lebih besar dari like -. Dapat dikatakan bahwa para youtuber tersebut mendapat puluhan juta (bukan per bulan, konon, per hari!) melalui hal-hal yang sifatnya sensasional, menarik perhatian, dan malah mengundang hujatan. Dalam bahasa yang lebih pragmatik, mereka sukses mengonversi hujatan menjadi uang. 

Pertanyaan: Masih adakah moral baik - buruk yang relevan dalam konteks monetisasi via media sosial? Atau segala sesuatunya akhirnya diukur secara pragmatik saja lewat seberapa besar uang yang bisa diraup lewat jumlah viewers? Tidak adakah semacam upaya untuk mengatur konten agar setidaknya jumlah viewers diperoleh secara “halal”? Atau konten yang “baik” akan selamanya tidak menarik jumlah penonton? 

Dalam bulan-bulan belakangan ini, popularitas Awkarin mulai menarik merk-merk besar untuk dipromosikan. Kemudian terjadi perubahan serius dalam konten media sosial miliknya terutama di instagram. Awkarin menjadi lebih santun dan menjaga sekali sikapnya (berbeda sekali dari tahun-tahun sebelumnya). Hal tersebut diduga disebabkan oleh menempelnya ia dengan merk besar sehingga harus mencitrakan diri secara lebih baik dan tidak demikian bertentangan dengan moral umumnya masyarakat. Apa artinya konten kemudian bisa ditertibkan lewat monetisasi yang lain? 

2.Whatsapp dan Dunia Akademik 

Whatsapp menjadi media percakapan yang cukup marak dalam tiga sampai lima tahun belakangan ini menggantikan era SMS yang juga sempat merajai komunikasi ponsel. Dalam dunia akademik, komunikasi dosen dan mahasiswa melalui Whatsapp menjadi tidak terhindarkan. Komunikasi dengan menggunakan teks, bagaimanapun, kerap menimbulkan tafsir hermeneutik yang beragam. Maka itu, di sebuah kampus, terdapat standing banner yang berisi tentang “etika mengirimkan Whatsapp pada dosen (bagi mahasiswa)” yang fotonya cukup menjadi viral. Beberapa butir dalam banner tersebut antara lain adalah sebagai berikut: ucapkan salam pembuka, ingat waktu dalam mengirim pesan, ucapkan terima kasih, perkenalkan diri kembali, jangan menyingkat kata, dan sebagainya. Akibat keviralan foto tersebut, berbagai reaksi kemudian timbul (terutama di kalangan dosen). Ada yang menganggap hal demikian bagus sekali untuk menjaga kesopanan namun ada juga yang melihat hal tersebut sebagai bentuk “feodalisme digital”. 

Pertanyaan: Jika ditarik ke wilayah yang lebih abstrak, apakah benar etika semacam itu diperlukan dalam menjaga hubungan sosial dalam konteks digital? Apakah pengaturan dalam dunia digital artinya bertentangan dengan prinsip dunia digital itu sendiri yang konon lebih terbuka, egaliter, dan bahkan anonim? Kembali ke konteks akademik di atas, bagaimana jika mahasiswa kemudian menerapkan secara seragam etika tersebut? Tidakkah hubungan sosial kemudian malah menjadi kaku dan menghindarkan hubungan dosen dan mahasiswa dari perkenalan yang lebih natural? Tapi bagaimana jika etika tidak diatur sama sekali, apakah secara “anarki” akan terbentuk etika secara mandiri yang disuling dari dinamika dunia digital itu sendiri? 

3.Instagram dan Kreasi Konten 

Instagram menjadi salah satu media sosial yang digemari belakangan ini. Alasannya mungkin karena fokusnya yang langsung pada visual (baca: foto dan video) sehingga dengan mudah memeroleh atensi. Belakangan pengguna instagram kian menunjukkan kreativitasnya misalnya dengan fitur grids (berbagai foto kecil disambung menjadi besar), pemanfaatan video satu menit dengan berbagai konten yang disesuaikan, sampai fitur instastory untuk kegiatan promosi hingga bisnis. 

Pertanyaan: Apakah para penemu dan tim pengembang Instagram sudah memikirkan tentang kreativitas tersebut atau hal-hal berikut murni merupakan kreasi para pengguna? 

Jika ternyata yang kedua, maka betapa menarik bagaimana para pengguna dapat melakukan sesuatu melebihi dari fungsi yang ditentukan oleh para kreator. Ini menunjukan bahwa ekspresi dari para pengguna pada dasarnya tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat yang disediakan oleh fitur dalam media sosial itu sendiri. Sebagai contoh, pada Twitter yang sudah membatasi diri pada 140 karakter, ternyata terdapat sejumlah pengguna yang dengan kreatif menyampaikan ide melalui “kultwit” atau “kuliah Twitter”. Dengan demikian, Twitter yang semestinya hanya untuk ungkapan-ungkapan singkat, menjadi dapat digunakan untuk ide-ide panjang. 

Sempat terdapat perdebatan kecil apakah hal demikian tersebut dibolehkan atau tidak. Ada kubu yang mengatakan bahwa seyogianya setiap media sosial sudah mempunyai peruntukannya sendiri, misal: Twitter untuk ungkapan singkat, Instagram untuk gambar-gambar, E-mail untuk konten yang agak serius, Blog untuk catatan panjang, dan sebagainya. Namun ada juga kubu yang mengatakan bahwa sekat-sekat itu sama sekali tidak ada. Justru hal yang menarik adalah seluruh media sosial bisa saling tukar peruntukkan secara bebas tanpa ada keharusan. 

4. Fenomena Start-Up 

Penulis sempat mencari apa padanan start-up dalam bahasa Indonesia. Ternyata, tidak bisa begitu saja diterjemahkan dengan kata wirausaha. Start-up berbeda dengan “wirausaha biasa” karena melekat di dalamnya sejumlah stereotip yang terkait dengan fenomena kontemporer. Misalnya, start-up terkait dengan jumlah orang yang sedikit, generasi cenderung dari kalangan milenial, gaya berpakaian yang santai, jam kerja yang fleksibel, modal yang relatif kecil, kantor yang fleksibel dengan dekorasi yang lebih berwarna hingga pola organisasi yang cenderung egaliter. Selain itu, yang paling menjadi kunci adalah kenyataan bahwa start-up umumnya beririsan dengan dunia digital. 

Pertanyaan: Apakah digitalisasi hanya sebatas pergeseran dalam teknologi, atau bahkan lebih daripada itu, juga pergeseran dalam hal kebudayaan sampai ke pandangan dunia (world view)? Benarkah digitalisasi telah menciptakan suatu etika-etika baru dalam bisnis sehingga terjadi diferensiasi serius antara bisnis konvensional dan start-up

5. Tiongkok dan Tembok Besar Digital 

Penulis pernah berkunjung ke Guangzhou, Tiongkok pada akhir tahun 2016 dalam rangka kegiatan seni rupa. Pada kedatangan tersebut, penulis sadar bahwa di Tiongkok, Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Line, dan Google (termasuk Gmail dan Gmap) sama sekali tidak bisa diakses. Begitu sulitnya diakses hingga pertahanan sistem TIongkok dijuluki dengan “The Great Firewall of China”. Namun apakah masyarakatnya menjadi sengsara oleh sebab ketidakmampuan mengakses segala itu? Tidak juga dan bahkan terlihat lebih maju dari masyarakat kita secara umum - setidaknya dari segi ekonomi -. 

Pemerintah Tiongkok sendiri menyediakan sejumlah fitur pengganti seperti Baidu untuk menggantikan Google dan WeChat untuk menggantikan Line. Masyarakat Tiongkok - setidaknya dari yang penulis temui - tampak puas-puas saja dengan aplikasi-aplikasi tersebut dan tidak terlalu kelihatan upaya untuk mencari celah agar bisa mengakses Instagram, Twitter, dan lain-lain. Intinya, kebebasan akses digital dan media baru di Tiongkok jauh di bawah negara kita. Tapi bagaimana kita melihat hasil akhirnya? Tentunya ada perbedaan yang kelihatan jelas oleh mata dari segi pembangunan ekonomi maupun pembangunan manusia. 

Pertanyaannya: Apakah akses digital dan media baru yang terlampau terbuka seperti di Indonesia justru akan menciptakan komparasi tiada henti dan malah menimbulkan dampak inferioritas? Sebaliknya, apakah akses digital dan media baru yang tertutup seperti di Tiongkok justru mampu membuat masyarakatnya fokus saja dalam berkontribusi secara internal? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga bisa jadi membawa kita pada renungan tentang muatan informasi yang berlebihan bisa jadi malah membuat penerimanya tidak mampu memutuskan apa-apa secara krusial. Berkaca dari kasus Tiongkok, pelbagai hakikat tentang media baru dapat kita pertanyakan ulang terutama terkait dengan etika dan kebebasan.
Continue reading