Sunday, February 25, 2018

Jumat Apresiasi Musik: Bereksplorasi Bersama Tesla Manaf


Pada hari Jumat, 16 Februari itu, saya diminta oleh Kang Djaelani untuk mengisi forum bernama Jurasik atau Jumat Apresiasi Musik. Acara yang katanya diadakan setiap bulan di minggu ketiga tersebut diadakan di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesha. Secara umum, Jurasik merupakan forum yang menampilkan berbagai musisi atau kelompok musik untuk kemudian diapresiasi sekaligus ditanggapi. 

Pada Jurasik kemarin itu, yang tampil adalah musisi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz, Tesla Manaf. Acara dimulai cukup ngaret karena seperti biasa, menunggu lebih banyak audiens untuk hadir. Setelah acara dibuka oleh Kang Djaelani selaku inisiator dan juga salah satu penanggap, Tesla langsung tampil memainkan bebunyian, berduet dengan pemain drum Rio Abror. 

Iya, Tesla tidak bermain gitar. Ia memainkan seperangkat alat yang menghasilkan bunyi-bunyi yang jauh dari kenyamanan. Kita bisa katakan, Tesla tengah memainkan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Dari seperangkat alat yang diletakkan di atas meja tersebut, Tesla mengotak-atiknya seperti seorang Disc Jockey. Namun bukan musik diskotek yang muncul, melainkan ragam bunyi raungan, tangisan, jeritan, dentuman, erangan, desahan, dan macam-macam lainnya. Suara-suara tersebut kemudian ditingkahi oleh permainan drum Rio Abror yang begitu responsif terhadap berbagai kejutan yang muncul. 

Dari pengakuannya sendiri, kita tahu, memang dia sedang memasuki tahap ekplorasi terhadap bebunyian. “Di kepala saya ini penuh dengan suara, dan gitar tidak cukup untuk menyalurkannya. Maka itu saya berusaha mengumpulkan alat-alat ini, demi menghasilkan bunyi yang lebih sesuai keinginan,” ucapnya. 

Tesla, yang saya pribadi kenal dari sekitar dua belas tahun silam, memang tidak pernah merasa nyaman dengan keadaan. Memulai karir sebagai gitaris klasik, Tesla kemudian merambah musik jazz. Namun jazz yang ia presentasikan bukan jazz yang standar, umum, dan bertendensi menghibur (catatan: sebagai barometer, sependek pengetahuan saya, Tesla tidak pernah menerima tawaran main di kawinan atau kafe). Jazz yang ia hadirkan acapkali mengacu pada sikap Methenian yang amat luas, eksploratif, dan tidak tabu dengan persilangan berbagai kemungkinan. 

Itu sebabnya, ketika ia tiba-tiba meletakkan gitarnya dan bermain dengan alat-alat yang “aneh”, saya pribadi tidak kaget. Itu memang sudah sikapnya dari dulu, untuk “konsisten di inkonsistensi”. Tentu saja inkonsistensi di sini tidak bersifat peyoratif. Inkonsistensi Tesla adalah terkait dengan medium dan eksplorasi yang berupaya jujur dengan perkembangan jiwa maupun pendengarannya. Sikap semacam ini bisa dituding “tidak jelas” pada mereka yang hanya mampu bersikap sinis. Tapi diam-diam di kedalaman batinnya, ada sebersit rasa iri pada setiap seniman yang teguh pada idealismenya.
Continue reading

Sunday, February 4, 2018

Definisi Seni yang Kubaca dan Kudengar

Definisi Seni yang Kubaca dan Kudengar

Kata manusia yang tinggal di gua, seni adalah gambaran dan harapan tentang cuaca dan hewan buruan.

Kata dramawan Yunani, seni adalah ketika orang kaya memainkan tragedi, dan orang miskin memainkan komedi.

Kata Plato, seni adalah ekspresi yang diturunkan dari dunia ide, tempat kita pernah hidup, sebelum lahir ke alam eksistensi ini.

Kata Aristoteles, seni adalah segala yang simetris, yang bentuk-bentuknya bisa diukur secara matematis.

Kata orang-orang Persia, seni adalah cara untuk mengagungkan kekuasaan sang raja.

Kata peradaban Islam, seni adalah kerendahan hati agar ciptaanmu tidak menandingi ciptaan-Nya.

Kata Gian Lorenzo Bernini, seni adalah bagaimana kamu bisa memuaskan selera keluarga Medici.

Kata Immanuel Kant, seni adalah segala sesuatu yang tidak punya fungsi dan kepentingan.

Kata Arthur Schopenhauer, seni adalah cara untuk menyadari, bahwa eksistensi manusia adalah begitu menyedihkan.

Kata Friedrich Nietzsche, seni adalah gejolak Dyonisian, yang dalam mabuknya itu, manusia menemukan kedalaman.

Kata Martin Heidegger, seni adalah kegelisahan manusia yang takut akan mati.

Kata Joseph Goebbels, seni adalah propaganda agar bangsa Aria semakin bangga akan dirinya.

Kata Vladimir Lenin, seni adalah sesuatu yang harus kita arahkan kepentingannya pada rakyat, dan tidak malah menjadi ilusi bagi kesadaran mereka.

Kata Andrei Zdhanov, seni adalah glorifikasi bagi ideologi. Pemujaan terhadap komunisme yang pasti akan jaya.

Kata Pablo Picasso, seni adalah segala yang tertanam pada diri anak-anak, sebelum hilang pelan-pelan ketika masuk fase kedewasaan.

Kata Vincent Van Gogh, seni itu barang tidak laku. Bikin frustrasi sampai harus potong kuping sendiri.

Kata Jean Michel Basquiat, seni adalah ketika Andy Warhol mengatakan itu adalah seni.

Kata Andy Warhol, seni bisa jadi adalah makanan kalengmu sendiri

Kata Museum Louvre, seni adalah Monalisa yang dipajang, yang membuatmu merasa terhormat berdiri di depannya.

Kata Oscar Wilde, bukan seni yang mengimitasi hidup, tapi hiduplah yang mengimitasi seni.

Kata Marcel Duchamp, seni adalah apapun yang dipajang di galeri, termasuk tempat kencingmu sendiri.

Kata Bertolt Brecht, seni tidak mungkin terjadi, tanpa sebelumnya kenyang oleh roti.

Kata Augusto Boal, seni adalah forum tempat rakyat menyuarakan pendapatnya.

Kata Jackson Pollock, seni adalah coretan ngasal yang harganya bisa bermiliar-miliar.

Kata Arthur Danto, seni sudah mati.

Kata pelukis Mooi Indie, seni adalah kemolekan alam nusantara, untuk kita jual itu pada pihak kolonial.

Kata Sudjojono, seni adalah jiwa kethok.

Kata Fabianus Heatubun, seni adalah produk seniman yang posisinya dalam masyarakat adalah selayaknya begawan.

Kata Arief Yudi, seni adalah partisipasi warga Jatiwangi, yang jikapun partisipasi ini menjadi masalah, maka ia tinggal pulang ke rumah ibunya sendiri.

Kata Mohamad Sonjaya, seni adalah cara untuk menghaluskan perasaan.

Kata Tisna Sanjaya, seni adalah doa.

Kata tim sukses pilwalkot, seni adalah bagaimana membuat warga ingat wajah dan nomor mana yang harus dicoblos di kemudian hari.

Kata Jalu Rohanda, seni adalah bukan main di televisi di acara Uya Kuya.

Kata Opik Bape, seni adalah segala harmoni yang ditimbulkan dari keakraban di Ruang Putih.

Kata Dwi Cahya Yuniman, seni adalah jazz.

Kata Yampan, pegawai di rumah, seni adalah membantu Bapak mengerjakan karya.

Kata Bapakku, seni adalah tai.

Tapi tanpa tai, manusia tidak dapat hidup.

Continue reading