Wednesday, January 10, 2018

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018.



Nietzsche dan Eksistensialisme 

Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-. 

Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam sekali teguk. Harus sering berhenti untuk menghela napas panjang dan istirahat-. Agaknya, tidak ada filsuf yang lebih emosional dari Nietzsche dalam menuliskan rasa jijiknya dalam sejarah pemikiran Barat - setidaknya, sependek pengalaman saya-. 

Kedua, saya akan ungkapkan dalam bahasa yang lebih gamblang: Nietzsche memang seorang jenius, tapi ia juga sekaligus “gila”. Mengapa gila? Mungkin kita bisa baca sedikit tulisan ini yang diambil dari bukunya yang berjudul Ecce Homo (asli tahun 1888, diterjemahkan tahun 1995): 

Dalam tulisan-tulisanku Zarathustra tegak sendiri. Aku telah, dengan menuliskan buku ini, memberi umat manusia hadiah terbesar yang pernah diberikan kepadanya. Dengan sebuah suara yang berbicara melintasi milenia, ia bukan hanya buku teragung yang ada, buku aktual tentang udara ketinggian - keseluruhan fakta yang ditaruh manusia dalam jarak yang luar biasa di baliknya- ia juga merupakan buku yang paling dalam, lahir dari kumpulan kebenaran yang paling dalam, sebuah sumur yang tak pernah kering, dari dalamnya tidak ada timba yang ditarik ke atas tanpa dipenuhi emas dan kebaikan.” (hlm. 5) 

Tidakkah tulisannya nampak seperti seorang megalomaniak yang sedang mengaku-aku sebagai nabi? Memang, secara medis, Nietzsche divonis tidak waras dalam sebelas tahun terakhir hidupnya, sebelum meninggal di tahun 1900. Tapi dari sebelum vonis tersebut, Nietzsche sudah dikenal sebagai dosen yang aneh bagi para mahasiswanya. Bagi kolega dan umumnya pemikir pada masa itu, Nietzsche juga dianggap tidak keren, mungkin juga oleh sebab sikap dan filsafatnya yang tidak lazim. Perjalanan pemikirannya begitu berliku hingga dapat kita katakan ia tidak konsisten, kontradiktif, dan menunjukkan instabilitas serius. 

Namun seluruh alasan itu juga yang membuat Nietzsche mempunyai peran penting dalam sejarah pemikiran Barat. Amukannya begitu kuat hingga banyak fondasi peradaban yang goyah, dari mulai agama, sejarah, sains, politik, sampai filsafat itu sendiri. Tulisannya, meski menjijikan, harus diakui: punya nilai sastra yang tinggi. Penerjemahan Also Sprach Zarathustra (1883 - 1881), misalnya, salah satunya, harus dilakukan oleh HB Jassin yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”. Franz Magnis Suseno dalam sebuah ceramah tentang bukunya yang berjudul Menalar Tuhan (2010) pernah menyebut Nietzsche sebagai ateis yang kerap terlampau meremehkan iman. Namun, lanjutnya, tidak ada keraguan soal kualitas sastranya yang adiluhung. 

Nietzsche membuka fajar baru hubungan antara sastra dan filsafat. Selama ini, tentu saja, karya sastra kerap mengandung sebuah pesan filosofis tertentu. Namun tidak semua karya filsafat, mengandung nilai kesusasteraan yang kuat. Kita bisa menggolongkan Nietzsche pada yang kedua, setelah tradisi pemikiran Barat terlalu banyak diwarnai oleh metoda yang ketat dan baku - macam Immanuel Kant, yang pemikirannya, oleh Nietzsche digolongkan sebagai gaya berpikir yang terlalu “Apollonian”-. 

Pertanyaannya kembali: Mengapa Nietzsche bisa “terpaksa” kita golongkan pada pemikir eksistensialisme? Tentunya sebelum menjawab itu, kita harus mengetahui dulu apa itu eksistensialisme. Eksistensialisme, secara garis besar, adalah aliran pemikiran yang lahir di akhir abad ke-19 dan populer hingga pertengahan abad ke-20. Inti pemikirannya bisa dirumuskan dalam kalimat yang diungkapkan oleh Jean Paul Sartre: eksistensi mendahului esensi. Artinya, eksistensi manusia harus dihayati terlebih dahulu, sebelum kemudian memaknai segala sesuatunya. Manusia sebagai pusat, iya, tapi bukan manusia sebagai pusat sebagaimana yang dipahami oleh antroposentrisme Renaisans (yang cenderung optimistik dan bergairah). Manusia di sini dipahami dalam konteks kegalauannya yang paling otentik, seperti rasa cemas, putus asa, ketakutan akan mati, mengapa kita lahir, tumbuhnya rasa cinta, dan sebagainya. 

Eksistensialisme diawali dari pemikiran Søren Kierkegaard yang mempertanyakan filsafat GWF Hegel yang terlalu membicarakan hal-hal yang besar seperti sejarah, negara, dan pencerahan. Mengapa tidak hal-hal yang paling mendasar saja, misalnya: tentang hakikat dari keberadaan manusia itu sendiri? Nietzsche dapat digolongkan pada pemikir eksistensialisme karena keberpihakannya pada manusia. Keberpihakannya itu seringkali malah terlalu angkuh - misal, dengan mengatakan, “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya”-. Ia juga menyarankan suatu transvaluasi nilai pada moralitas sehingga manusia tidak lagi menjadi manusia, tapi naik setahap menjadi adimanusia (übermensch). Dorongan-dorongannya untuk hidup dalam bahaya (“berlayarlah ke samudera luas dan bakar dermaga di belakangmu”) dan “mabuk” dalam segala tindak tanduk (menjadi seperti Dionysius, Dewa Anggur) adalah semacam jalan keluar bagi kegelisahan dan kekosongan batin manusia modern yang ia tuduh telah bangkrut, akibat terlampau tunduk pada peradaban. Tentang garis besar pemikiran Nietzsche ini, akan dibahas di bagian berikutnya. 

Garis Besar Pemikiran Nietzsche 

Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, sebenarnya agak sulit menuliskan garis besar pemikiran Nietzsche mengingat tulisan-tulisannya yang tidak konsisten, cenderung kontradiktif, dan menunjukan suatu gejala instabilitas yang serius. 

Misalnya, ia seorang filolog (ahli naskah kuno) yang juga sekaligus merelatifkan kebenaran sejarah; Ia menghancurkan (jika tidak bisa dibilang, menihilkan) segala klaim kebenaran tapi juga secara tidak langsung menunjuk literatur Yunani Kuno sebagai sebuah “kebenaran” yang stabil dan tetap - maklum, Nietzsche adalah seorang penghapal mitologi Yunani yang luar biasa-, dan meski ini berbau argumentum ad hominem, tapi Magnis Suseno memukulnya dengan telak: Nietzsche mengajak kita menyingkirkan Tuhan dengan gembira, tapi ia sendiri mengakhiri hidupnya dalam keadaan murung dan gila - tidak gembira seperti yang dicontohkannya-. 

Selain itu, kesulitan lain berasal dari kenyataan bahwa Nietzsche mengungkapkan pikirannya dalam gaya bahasa yang lebih seperti “letupan”. Kadang sukar membedakan, apakah kalimat yang ditulisnya merupakan filsafat atau hanya ada demi kepentingan estetika semata - misal, “Pesona adalah prasyarat bagi semua seni dramatis. Dalam pesona ini orang Dionysian yang berpesta pora melihat dirinya sebagai seorang satir, dan sebagai seorang satirlah ia menatap pada sang dewa”-. Artinya, kemungkinan multitafsir begitu besar - bandingkan dengan Kant atau Sartre yang menuliskan pemikirannya dengan demikian runut sehingga pemahaman pembaca lebih mungkin untuk seragam-. Namun lepas dari segala kesulitannya, mungkin itu adalah sebuah ciri khas: Nietzsche ya Nietzsche. 

Beberapa sari pemikiran yang bisa kita ambil, misalnya, tentang konsep Apollonian dan Dionysian yang ia tuangkan dalam buku pertamanya yang berjudul Lahirnya Tragedi (1886, 2015). Apollo adalah dewa kebenaran, matahari, pencerahan, musik, dan penyembuhan, yang menjadi simbol bagi rasionalitas Barat yang diserang habis oleh Nietzsche. Menurutnya, lebih penting jika peradaban lebih bercermin pada Dionysus, dewa anggur, pesta, ritual, dan kesuburan, yang menghasilkan daya kreatif, estetik, memabukkan, alamiah, dan sedikit anarkis. Secara keseluruhan, sikap Apollonian dan Dionysian ini lebih tepat dinamakan sebagai “manifestasi daya hidup”. Tapi Nietzsche mengungkapkan semangat Dionysian sebagai yang mesti diutamakan karena berkaitan dengan keadaan di mana masing-masing perspektif dari setiap orang adalah unik, atau tidak ada peraturan yang membatasi pikiran dan tindakan (bayangkan sebuah pesta di mana setiap orangnya mengalami mabuk berat). 


Moralitas, dalam pandangan Nietzsche, digambarkan dalam polarisasi tuan dan budak. Moralitas budak adalah satu kritiknya pada Kristianitas yang demikian fatalis dan bersandar pada Tuhan, sehingga dituduh gagal menciptakan sikap berdikari yang seharusnya menjadi elemen dasar moralitas tuan. Namun berhenti pada satu ketetapan moral adalah juga sebuah kegagalan, sebagaimana yang ia gambarkan dalam transformasi ruh: dari unta, menjadi singa, lalu menjadi anak. Awalnya, manusia menanggung nilai kehidupan sebagaimana unta, ditempatkan di punuknya dan ia hanya bisa menerima tanpa kuasa. Lebih tinggi daripada itu, ia harus menjadi singa: melawan dan menerkam pada setiap nilai, dalam pemberontakan besar-besaran. Namun itu belum ada di tahap teratas, sebelum mampu melihat kehidupan sebagaimana cara pandang seorang anak: melihat segalanya sebagai sebuah nilai yang selalu baru, segar, dinamis, dan tidak bertendensi untuk menjadi “rasional”.  
Jargonnya yang terkenal, yang dituangkan dalam bukunya, Sabda Zarathustra (1883 - 1891, 2010), adalah manifestasi dari segala moralitas yang ia serang: “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya.” Mungkin ia tidak sedang benar-benar mengungkapkan kredo ateisme sebagaimana umumnya kalimat tersebut ditafsirkan. Justru ia tengah mengumumkan suatu seruan paling eksistensial: Karena Tuhan telah mati, maka tinggal manusia yang mampu merumuskan nilai-nilai baru secara kreatif, dengan segala manifestasi daya hidup yang Dionysian dan “kekanak-kanakan”. Bahkan, kalimat “kita semua yang membunuhnya” juga mengacu pada segala bentuk moralitas yang tetap, seperti agama dan sains, misalnya. Dalam tahap kesadaran itulah, manusia akan sukses melakukan transvaluasi nilai, memenuhi nalurinya yang paling dasar yaitu kehendak untuk berkuasa (will to power), dan bertransformasi menjadi adimanusia (übermensch). Sebelum mulai bertualang bersama pemikiran Nietzsche yang liar dan ganas, izinkan saya menuliskan sebuah apa ya, mungkin cocok dikatakan: “letupan” tentang pemikiran beliau: 

Apakah kamu berani, melepas beban di punuk untamu, dan melawan segala nilai sebagai singa yang lapar? 

Apakah kamu berani, menjadi anak kecil yang melihat segala peristiwa, sebagai senda gurau belaka? 

Apakah kamu berani, menjauhkan diri dari terangnya nalar, menuju pandangan buram hasil tegukan anggur kehidupan? 

Apakah kamu berani, meneriakkan "Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya", sambil tutup hidung karena bau busuknya tercium? 

Apakah kamu berani, menekankan "kita semua yang membunuhnya", pada mereka, yang juga beragama? 

Apakah kamu berani, menertawakan moral dunia, meledakannya hingga menjadi puing tak bernama? 

Apakah kamu berani, membaca Nietzsche, dengan risiko perutmu mual, dan dadamu dihantam di sepanjang kata? 

Tidak ada jalan pulang. Ingat. Dermaga sudah dibakar.

Sumber Referensi

- Levine, Peter. (2012). Nietzsche, Potret Besar Sang Filsuf . Yogyakarta: IRCiSoD.
- Nietzche, Friedrich. (1995). Ecce Homo/ Lihatlah Dia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 - Nietzsche, Friedrich. (2001). Genealogi Moral. Yogyakarta: Jalasutra.
- Nietzsche, Friedrich. (2010). Sabda Zarathustra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Nietzsche, Friedrich. (2015). Lahirnya Tragedi. Yogyakarta: Narasi.
- Friedrich Nietzsche dari http://www.iep.utm.edu/nietzsch/
- Friedrich Netzsche: God is Dead dari http://www.philosophy-index.com/nietzsche/god-is-dead/
Previous Post
Next Post

0 comments: