Saturday, December 23, 2017

Pertaruhan dan Hukuman Seumur Hidup

Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup memang kerap pelik. Ada versi yang mengatakan bahwa hukuman mati lebih manusiawi karena tidak memperlama penderitaan dan menimbulkan efek jera bagi yang mengetahuinya. Sementara itu hukuman seumur hidup, di sisi lain, dianggap lebih baik karena negara sebenarnya tidak mempunyai wewenang mencabut nyawa warga negara. Akhirnya saya cukup tercerahkan tentang perdebatan ini setelah membaca cerpen Anton Chekhov yang berjudul Pertaruhan

Cerpen yang ditulis tahun 1889 tersebut berkisah tentang perdebatan antara bankir dan yuris (ahli hukum). Kata bankir, "Hukuman mati langsung membunuh, sedangkan hukuman kurungan selama hidup membunuh secara perlahan-lahan. Manakah algojo yang lebih berperikemanusiaan? Yang membunuh dalam beberapa menit, atau yang menarik-ulur nyawa Tuan selama bertahun-tahun?" Yuris berpendapat lain, "Hukuman mati dan hukuman kurungan seumur hidup sama-sama tidak bermoral, tapi bila saya disuruh memilih antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup, tentu saya memilih yang kedua. Hidup, bagaimanapun, lebih baik daripada tidak sama sekali."

Lalu atas perdebatan itu, mereka bertaruh dua juta Rubel: Yuris limas belas tahun akan tinggal di dalam penjara dari pukul 12 tanggal 14 November 1870 sampai pukul 12 tanggal 14 November 1885. Kalaupun yuris keluar dua menit sebelum waktu yang ditentukan, maka ia tetap kalah dan bankir tidak perlu membayar uang dua juta Rubel. Di dalam penjara, yuris masih boleh surat menyurat lewat jendela kecil. Ia juga disediakan buku, partitur, anggur, dan piano. 

Awalnya, yuris merasa bosan dan menderita. Namun di tahun-tahun berikutnya, yuris mengisi waktu dengan membaca. Bacaannya terus bertambah dan ia selalu memesan buku-buku baru lewat sipir. Berbagai jenis pengetahuan dilahap oleh yuris, mulai dari bahasa, filsafat, sejarah, roman, kedokteran, ilmu-ilmu alam, hingga Injil. 

Singkat cerita, yuris menikmati kegiatannya tersebut hingga tak terasa lima belas tahun hampir berlalu. Bankir mulai panik dan yakin ia akan kalah dalam waktu dekat. Bankir tidak punya uang sebanyak dua juta Rubel dan ia mulai menyusun rencana jahat untuk membunuh yuris diam-diam. Di tengah perwujudan rencana tersebut, bankir menemukan secarik surat yang ditulis oleh yuris. Penggalan isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

"Besok pukul 12 saya memperoleh kebebasan saya dan hak untuk bergaul dengan orang banyak. Tapi sebelum meninggalkan kamar ini dan melihat matahari, saya anggap perlu untuk mengatakan beberapa patah kata kepada Tuan. Sesuai hati nurani yang bersih dan di hadapan Tuhan yang melihat diri saya, saya nyatakan kepada Tuan bahwa saya memandang rendah kebebasan, hidup, kesehatan, dan semua yang di dalam buku-buku Tuan dinamakan maslahat dunia."

".. di dalam buku-buku Tuan saya membubung ke puncak Elbrus dan Mont Blanc, dan dari sana memandang bagaimana saban pagi terbit matahari dan saban petang ia mewarnai langit, samudra, dan puncak gunung dengan emas merah jingga; dari sana saya melihat bagaimana di atas saya kilat menyambar menembus awan; saya melihat bentangan hutan yang hijau, sungai-sungai, danau-danau, kota-kota, mendengar kicau burung sirene dan permainan seruling penggembala, meraba sayap-sayap setan indah yang terbang mendatangi saya untuk bertukar pikiran tentang Tuhan... Dengan buku-buku Tuan saya menceburkan diri ke jurang tanpa dasar, menciptakan keajaiban, membunuh, membakari kota-kota, mengkhotbahkan agama-agama baru. menaklukkan kerajaan-kerajaan besar.."

"Buku-buku Tuan memberikan kepada saya kebijaksanaan. Semua yang selama berabad-abad diciptakan oleh akal manusia yang tidak kenal lelah, di dalam tengkorak saya menggumpal dalam satu gumpalan kecil. Saya tahu bahwa saya lebih pandai dari tuan-tuan sekalian."

"Untuk menunjukkan secara nyata bahwa saya memandang rendah cara hidup Tuan-Tuan, saya menolak menerima uang dua juta yang dahulu pernah saya impikan sebagai surga, yang kini saya anggap rendah. Untuk meniadakan hak atas uang itu, saya akan keluar dari sini lima jam sebelum jangka waktu yang disyaratkan dan dengan demikian saya melanggar persetujuan.."

Bankir menangis dan merasa kalah. Digambarkan, "Belum pernah, bahkan sesudah mengalami kekalahan besar di pasar bursa, dia merasa demikian benci kepada diri sendiri seperti sekarang." 

Bagaimana melihat cerita tersebut sebagai pernyataan bahwa hukuman seumur hidup lebih baik dari hukuman mati? Pak Awal Uzhara adalah orang yang menjelaskan saya tentang ini. Katanya, "Hukuman seumur hidup memberi peluang seseorang untuk berubah. Dalam perjalanannya menuju kematian, orang diberi kesempatan untuk bermakna, setidaknya bagi dirinya sendiri." 

Previous Post
Next Post

0 comments: