Thursday, December 21, 2017

Karena Agama, Perlu Manusia

Mengapa saya baca buku ini? Karena teringat dulu waktu zaman masih twitteran, ada akun bigot yang mengaku-ngaku kristolog, namanya @hafidz_ary. Dia sering mensimplifikasi Kristen dengan pemahamannya yang sangat menghakimi. Saya baca ini, karena tidak yakin sejarah Gereja, yang telah bertahan ribuan tahun ini, sesimpel apa yang dipikirkan oleh sebuah akun kemarin sore.

Agama dan manusia adalah hal yang saling bertautan. Agama kerap bermuatan "kata-kata Tuhan" yang seringkali multitafsir dan bahkan paradoks. Tapi itulah cara Tuhan berbicara: agar kita semua, manusia, kemudian berpikir dengan keras tentang bagaimana mengurai hal-hal yang multitafsir dan paradoks itu. Harus diakui, betapa besar dan tegarnya, peradaban yang dibangun atas "kata-kata Tuhan". Manusia tidak pernah berhenti untuk merindukan Tuhan yang "turun ke dunia". Itu sebabnya muncul berbagai aliran pemikiran, rumah ibadah, kidung pujian, seni visual, dan lain-lainnya sebagai bentuk pengejawantahan "kata-kata Tuhan".

Setelah baca buku ini, saya kian menyadari: pelbagai tuduhan akan Gereja yang segala-gala yang tumbuh darinya tidak melulu datang dari kitab sucinya (baik PL maupun PB) - dan maka itu kerap dituding terlalu banyak campur tangan manusia -, adalah tuduhan yang menafikan pertautan antara agama dan manusia itu sendiri. Agama tidak bisa dibiarkan melangit terus menerus, ia harus dibumikan oleh manusia yang alam pikirannya secara otomatis diwarnai oleh konteks dan semangat zaman - bahkan sikap puritan sendiri bisa jadi adalah bentuk pembacaan atas zaman yang sedang dialami -.

Misal, dalam buku tersebut: Tahun 1891, Paus Leo XIII mengumumkan surat edaran yang isinya adalah dukungan terhadap buruh agar mendapat upah yang cukup dan mereka juga berhak membentuk serikat buruh - kebijakan ini ditengarai punya kait-kelindan dengan ide marxisme yang tengah marak -. Lalu pada Konsili Vatikan II, terdapat dekrit yang mengumumkan bahwa Gereja memberikan dukungan penuh terhadap kebebasan beragama sekaligus pepatah kuno yang berbunyi extra ecclesiam nulla salus ("di luar Gereja tidak ada keselamatan") tidak lagi berlaku.

Mengapa saya baca buku ini? Karena sadar, berasumsi sebenarnya menuntut pembuktian - kecuali jika asumsi ingin selamanya jadi asumsi -. Apa yang saya pikirkan tentang Gereja, seyogianya tidak diungkapkan semena-mena, sebelum membaca dan memahami secara "cukup". Namun setelah (merasa) membaca dan memahami pun, kata "cukup" itu sebenarnya tidak pernah lega untuk diucapkan.

Terima kasih, Romo Magnis, atas tulisannya yang mencerahkan. Pasti habis ini, saya dituduh liberal dan pluralis. Harusnya label itu tidak mengkhawatirkan, bagi saya, yang sudah biasa dituduh komunis.

Previous Post
Next Post

0 comments: