Friday, December 29, 2017

Anies Baswedan dan Akechi Mitsuhide

Masa kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta memang baru sebentar. Namun kritik tajam yang dialamatkan tidak kunjung berhenti. Anies seperti bingung bagaimana cara memimpin Jakarta, terlebih lagi dibayang-bayangi oleh pemerintahan sebelumnya yang cukup keras, tegas, dan memberikan sejumlah perubahan signifikan. Kebingungan Anies memang sedikit banyak sudah diprediksi dari sebelum naik jabatan. Anies, tanpa punya latar belakang birokrasi yang cukup, tiba-tiba mencalonkan diri menjadi gubernur setelah sebelumnya lebih dikenal berkecimpung di dunia pendidikan. Naiknya Anies juga ditandai oleh sejumlah isu intoleran yang menyerang calon gubernur incumbent, Ahok. Ahok - yang berlatarbelakang Tionghoa dan Kristen -, diserang habis-habisan lewat mobilisasi massa besar-besaran yang lebih terlihat sebagai sebuah aksi politik daripada agama. 

Detail kejadian itu, kita semua sudah tahu. Tidak perlu dipaparkan lebih lanjut. Hanya saja telikung politik semacam ini sebenarnya sangat klasik. Begitu klasiknya hingga saya ingat sebuah bab dalam buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang berjudul Lima Puluh Tahun di Bawah Langit. Novel sejarah yang bercerita tentang Jepang di abad ke-16 ini, salah satunya mengisahkan tentang sosok Oda Nobunaga, daimyo (pemimpin samurai) yang masa itu sangat berkuasa - dikenal dengan karakternya yang tegas sekaligus brutal -. Kematian Nobunaga dapat dikatakan tragis: Ia dikhianati oleh salah seorang anak buah terbaiknya, Akechi Mitsuhide, yang sebelumnya ia andalkan sebagai sosok yang cerdas dan penuh perhitungan. 

Mengapa Mitsuhide membelot? Ada banyak versi. Namun versi yang paling umum adalah alasan sakit hati. Mitsuhide tersinggung oleh kata-kata Nobunaga dalam suatu peristiwa, hingga merasa suatu hari harus membunuhnya. Tidak sulit bagi Mitsuhide untuk menyerang Nobunaga di pagi hari, ketika majikannya tersebut masih tertidur dan tiada seorangpun pengawalnya yang curiga. Singkat cerita, Mitsuhide bersama pasukannya berhasil membunuh Nobunaga dan membuat Kuil Honno - kediaman Nobunaga - terbakar hebat. Keberhasilan ini membuat Mitsuhide dielu-elukan pasukannya. Mereka meneriakkan nama Mitsuhide sebagai suksesor Nobunaga dalam memimpin negeri. Namun puja puji itu ia tanggapi dengan suara hati yang sangat menyedihkan:

"Apa yang kauinginkan? Berkali-kali Mitsuhide mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya. Memimpin negeri! terngiang-ngiang di telinganya, tapi bunyinya sungguh hampa. Ia terpaksa mengakui bahwa ia tak pernah memeluk harapan sedemikian tinggi, karena tidak memiliki ambisi maupun kemampuan untuk itu. Sejak semula ia hanya mempunyai satu tujuan: membunuh Nobunaga. Keinginan Mitsuhide telah terpuaskan oleh kobaran api di Kuil Honno, dan yang tersisa kini hanyalah nafsu tanpa keyakinan."

"... Begitu Nobunaga berubah menjadi abu, kebencian yang membekukan hati Mitsuhide pun larut seperti salju mencair."

Suara hati Mitsuhide mungkin mewakili suara hati Anies (mungkin saja, jika menggali sangat dalam). Ia melakukan telikung politik tidak dalam rangka yakin akan kapabilitas dirinya dalam menjadi gubernur. Motifnya (atau motif partainya) adalah hanya dalam rangka membuat Ahok tidak bisa menang di pemilihan. Saat Ahok tumbang, mungkin ada sebersit nuraninya yang bertanya-tanya: Apakah iya ini keinginan saya? Apakah iya saya pantas menjadi gubernur menggantikan Ahok?  Ada kesamaan cukup penting antara karakter Anies dan Mitsuhide. Keduanya sama-sama orang cakap dan cerdas. Namun itu bukan berarti ia punya karakter memimpin. Terkadang seorang pemimpin bukan perkara ia cakap atau cerdas, tapi juga punya kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tegas. 

Balas dendam dan motif kebencian memang seringkali mengaburkan hubungan antara kompetensi dan posisi. Hal-hal sangat personal semacam ini pada akhirnya dapat merugikan orang banyak.

Previous Post
Next Post

1 comment:

  1. Keren gan artikelnya, memang mirip sih ya. cuma bedanya satu lengser satu dibunuh

    ReplyDelete